Pengemis Favorit

duckTahun 2008. Seperti biasa saya berangkat pagi-pagi naik PPD 213 Kp. Melayu – Grogol. Naik bis ini saya jadi ingat pendekar Wiro Sableng. Kapak Naga Geni 212. Sayang angkanya beda satu. Bis ini menjadi bis favorit untuk jurusan Jakarta Barat karena menyusuri Jl. Sudirman, bukan menyusuri Cawang-Pancoran yang macetnya luar biasa.

Saya turun di halte dekat jembatan penyeberangan di sekitar Jakarta Barat. Di halte sudah berkumpul para pekerja yang sedang menunggu bis. Menunggu dengan wajah yang gelisah dan dingin. Wajah yang sering dijumpai di Jakarta. Gelisah, dingin, keras dan kadang kasar.

Baru naik beberapa langkah, terdengar klakson motor yang merasa bagian jalan yang ada di tengah jembatan tersebut adalah khusus untuknya. Sering saya melihat pertengkaran mereka dengan pejalan kaki yang merasa terganggu karena tersenggol atau di-klakson panjang. Jelas salah pemerintah, sok-sokan memberi jalan bagi pada penyandang cacat, tetapi malah dimanfaatkan oleh pengendara motor yang pongah. Saya belum pernah melihat ada pengendara kursi roda yang lewat disitu. Kemiringannya terlalu curam untuk dilalui dengan kayuhan roda yang mengandalkan kekuatan tangan.

Di bagian atas jembatan sudah berjajar beberapa pengemis yang mengharapkan sedekah dari orang-orang yang lewat. Ada satu pengemis favorit saya, yaitu yang paling ujung sebelum turun jembatan. Bapak ini kakinya hilang satu. Wajahnya sangat damai dan selalu tersenyum kepada setiap orang yang lewat, baik diberi sedekah atau tidak.

Terkadang saya memberi lebih kepada Bapak ini. Sebelum memberi, biasanya saya menoleh ke belakang dulu, mencari apakah ada orang lain atau teman yang berjalan dekat di belakang. Kalau ada ya terpaksa pura-pura lihat casing HP, kaos kaki atau apa saja yang dijual di sepanjang jembatan itu. Setelah jarak orang di belakang agak jauh, baru saya mendekati dan memberi sedekah ala kadarnya kepada Bapak itu. Ucapan terima kasihnya yang demikian tulus tidak pernah saya lupakan sampai saat ini.

Kenapa saya harus menoleh kebelakang untuk memeriksa apakah ada orang di belakang saya ? Karena saya ngga mau riya’ dan ngga mau dituduh sok bermurah hati, sok beramal dan lain-lain. Ada dua makna tatkala seseorang itu memperlihatkan amal-amalnya. Yang satu dalam rangka memberi contoh kepada orang lain, yang satu lagi dalam rangka menunjukkan keikhlasan dan keimanannya kepada orang lain. Untungnya saya belum termasuk salah satu di antaranya. Dan saya juga bukan ustadz atau politikus.

Pernah beberapa hari Bapak itu tidak ada di tempat.” Kemana dia, “pikir saya. “Jangan-jangan dia sakit. Ya Allah, tolong bantulah Bapak itu, dia sudah mengalami masa-masa yang sangat sulit dalam kehidupannya”.

Pada saat dia muncul kembali, saya tanya “Kemana saja pak beberapa hari yang lalu ?.” Dia menjawab dengan keramahan yang tulus “Saya harus pulang kampung Pak, karena ada tetangga yang meninggal.” Jawaban yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Dengan kondisi fisik yang sudah tidak normal, dia masih rela untuk melayat tetangganya yang meninggal di kampung. Luar biasa. Jelas perbuatan yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai hati ekstra bersih.

Menjelang akhir masa kontrak kerja saya, saya bilang ke Bapak itu, “Pak, minggu depan saya sudah tidak lewat sini lagi. Saya mau pindah kerja. “Kemana pak ?” tanya Bapak itu. “Saya mau kerja di Kalimantan” jawab saya. “Saya doakan mudah-mudahan bapak mendapatkan rejeki yang berlimpah disana.” “Terima kasih pak”. Sama seperti biasanya, Bapak ini mengatakan itu dengan wajah yang tetap ramah dan tulus, walaupun sebenarnya dia akan kehilangan satu pelanggan.

Pada hari terakhir, amplop untuk Bapak itu sudah saya siapkan, jumlahnya agak besar menurut ukuran saya. “Pak, ini yang terakhir dari saya. Mudah-mudahan kita akan ketemu lagi di lain kesempatan” kata saya pada saat terakhir bertemu dengan Bapak itu. “Wah, terima kasih banyak pak, semoga Bapak……” Saya segera berlalu sambil mengatakan “Mari pak, sampai ketemu lagi”. Kalimat Bapak itu yang terakhir terpaksa tidak saya dengarkan lagi, karena orang yang berjalan di belakang sudah semakin dekat dengan tempat saya berjongkok.

Selesai menuruni tangga, mata saya terasa agak panas, dan kaca mata saya menjadi basah. Saya merasa telah kehilangan satu pelanggan. Pelanggan yang selalu menjadi cerminan bagi diri saya. Mudah-mudahan Bapak itu akan segera mendapatkan pelanggan lain yang jauh lebih baik dari saya.

Dalam perjalanan masuk ke kantor, saya jadi teringat akan firman Allah, “Seandainya mereka mengetahui apa imbalan di sorga bagi orang-orang yang cacat di dunia, tentulah mereka akan membuat diri mereka yang paling cacat diantara orang-orang lainnya.”

Saya hanya berharap akan mendapatkan cermin pengganti di tempat yang baru, cermin yang dapat memacu agar saya lebih mementingkan kearifan sosial dibandingkan egoisme spiritual.

Dikemas oleh : Lambang (http://LambangMH.wordpress.com)

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Pencerahan, Renungan and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s