Membaca Tanpa Memahami Makna

donkeyMengapa kita tetap membaca kitab suci meskipun terkadang kita tidak mengerti artinya dengan benar? Jawaban atas pertanyaan ini dapat dipelajari dari kisah berikut.

Seorang tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca kitab suci di meja makan didapurnya. Cucu lelakinya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya.

Suatu hari sang cucu nya bertanya, “Kakek! Aku mencoba untuk membaca kitab suci seperti yang kamu lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca kitab suci?” Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di tungku pemanas sambil berkata, “Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air.”

Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya. Kakek tertawa dan berkata, “Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi,” maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah bolong, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya.

Sang kakek berkata, ” Aku tidak mau satu ember air, aku hanya mau satu keranjang air. Ayolah, usaha kamu kurang cukup,” maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakeknya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah. Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, ” Lihat Kek, percuma!”

Kakek berkata, “Jadi kamu pikir percuma? Lihatlah keranjangnya.” Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda.. Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara yang tua kotor dan kini menjadi bersih, luar dalam.

“Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca kitab suci. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi, kamu akan berubah, di dalam dan di luar dirimu …”

Clipping oleh: Lambang (http://LambangMH.wordpress.com)
Sumber: Outlook Inbox

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Clipping, Islam, Pencerahan, Renungan and tagged . Bookmark the permalink.

33 Responses to Membaca Tanpa Memahami Makna

  1. Yudi says:

    Putra/i mas Lambang ada yang masih sekolah dasar? Saya tidak tahu pola pikir penyusun kurikulum agama. Anak kelas 2 SD sudah harus bisa baca tulisan arab yang sudah nyambung. Bisa dibayangkan kalang kabutnya anak anak, mending kalau cara baca huruf hijaiyahnya diajarin, hehehe..silahkan investigasi mas Lambang. Waktu jemput anak pulang sekolah saya pernah mendengar keluhan seorang anak SD Klas 5 pada ayahnya, memangnya hafal qur’an kecil itu ada gunanya yah? Kali-kali si anak setres mendapat hukuman dari guru agamanya karena tidak hafal ayat-ayat pendek. Sambil main-mata ke saya, si ayah menjawab sambil nyengir, “oh bermanfaat sekali untuk cari kerja di arab”. Nah ini khan celakanya kalau kurikulumnya tidak jelas. Anak sekolahan jadi setres, tur ndak jelas yang mau disasar apa, atau disengajakan buat bunyi-bunyian masuk telinga kanan-keluar telinga kiri.

  2. Lambang says:

    Menurut saya pribadi, disitulah salahnya pendidikan di negara kita. Sejak kecil mereka sudah diajarkan tentang imbalan dan hukuman. Bukan diajarkan tentang kreativitas, cinta kasih, empati dan tanggung jawab. Telat masuk disetrap. Tidak mengerjakan PR tangannya dipukul penggaris. Baju tidak seragam disuruh lari keliling lapangan.
    Pola imbalan dan hukuman ini telah terpateri dalam alam bawah sadar sejak dini. Sehingga ketika sudah bekerja, ada kecenderungan jika berbuat sesuatu lalu mengharapkan imbalan ekstra di luar gaji. Akibatnya korupsi merajalela. Selain itu ada kecenderungan untuk menghukum orang lain yang tidak sepaham dan dianggap bersalah. Akibatnya ada Satpol PP semena-mena, ada praja memukuli siswa, ada tawuran pelajar dan mahasiswa, ada pembakaran dan pembunuhan atas nama keadilan, dsb.
    Sebagian besar terjadi karena kesalahan pendidikan sejak dini, dan sayangnya tidak ada pejabat negeri ini yang berusaha memperbaiki masalah mendasar itu. Mungkin takut dibawain golok.😎

  3. KangBoed says:

    Tasteeeeeeeeee nyaaaaaa manaaaaaa.. nyang penting TASTEEEEEEnya getu looooo.. apa yang diperbuat jika tiada tasteeeeeenya.. hambar dan sia sia..
    Salam Sayang
    Salam Kangen..😆

    *ciumciuman*wueeeekzz**..:mrgreen:

    ==========================
    Lambang:
    Taste-nya getu yak… taste mah boleh pilih sendiri. Mau dikasih sambel, atau dituang kecap atau ditambah garam…
    Beda lidah beda rasa, beda guru beda pemahaman…:mrgreen:

    Salam Persahabatan.
    ==========================

  4. Yudi says:

    Okay dech itu sekedar bagi-info sebagian anak kecil yang stress menghadapi pelajaran Agama Islam yang kurang tepat penyajiannya. Semoga ini menjadi renungan para guru agama. Nah sekarang kembali ke topik. Saya belum melihat esensi alasan sang kakek muslim atas pertanyaan cucuknya yang terengah-engah kecapean membersihkan keranjang batubara itu. Andai kisah itu terjadi di Suriname dan karena kakek itu penganut taat Dharmogandul maka ia mengkomatkamitkan kitab gatholoco yang sama sekali tidak dimengerti arti dan pesannya oleh sang cucu. Saya yakin si cucu itu tidak akan pernah berhasil membawa air dari sungai dengan keranjang bolong itu selain hanya membuat keranjang itu tampak bersih, persis ketika mereka masih muslim.

  5. Lambang says:

    Ada kemungkinan di episode selanjutnya si kakek akan memberikan tas kresek ukuran besar untuk diletakkan dalam keranjang tersebut sebagai penghalang kebocoran. Nanti kalau si cucu protes, sang kakek dengan santai akan menjawab, “Minimal engkau sudah tahu karena sudah mencobanya, dan ada manfaat lain yang muncul. Dalam diskusi di alam kehidupan nanti, bagaimana engkau bisa adu argumen kalau belum pernah mencobanya?”

    Kalau mas Yudi ada usulan isi episode lanjutannya dalam versi lain, silahkan…🙂

  6. Yudi says:

    Oh tidak, narasi itu sebenarnya sangat mencerahkan, hanya saja ada yang yudi pesankan hehehe maaf bukan nyuruh bacain kitab gatholoco buat gemukin mr.p lho ya. Kitab suatu ajaran itu hakikatnya khan menyampaikan sesuatu yang benar, jadi harus disampaikan secara lurus. Sebab kalau salah cara nyampaikan pada umat, bisa-bisa kayak yang di blog ariaturns.wordpress.com, yudi baca-baca di artikel gradien garis mendatar dan tegak, ternyata menurut diskusi mereka, walaupun sama-sama lurus tapi kemiringan garis tegak dan mendatar itu beda, yang satu nol sedang yang lain tak hingga. Hehehe rupanya nursatria kewalat esq yang sebelumnya ia tuding ESQ ngaco karena 1/0 =tak hingga. Saya ini kan cuma sopir, jadi bisanya cuman ngingatkan, hanya itu mas Lambang harapan yudi.

    ==========================
    Lambang:
    Hehehe… ngga masalah koq. Kita kan cuma diskusi saja. Saya juga masih banyak belajar, jadi mungkin saja salah. Tapi nanti kalau saya sudah bisa membuktikan kepada orang lain, baru saya yakin benar 100%.

    Kalau debat matematika itu males ngikutin, ngga terlalu bermanfaat buat saya, kecuali sekedar menuruti ego.

    Saya pernah baca dua kitab itu, Gatho dan Dharmo, tapi itu ternyata bacaan tingkat tinggi. Saya masih belum nyampai dengan pemahaman yang ada sekarang. Masih perlu pembuktian.

    Ada sebagian orang yang puas dengan pemahaman yang ada. Ada yang tidak puas dan selalu mencari. Semuanya sah-sah saja.

    Saya ngga tahu apakah di Indonesia ini sudah ada standarisasi dakwah atau buku panduan dakwah Islam. Pernah saya dengar khutbah sholat jum’at di salah satu masjid besar, disampaikan oleh imam bahwa setelah meninggal nanti, malaikat akan menginterogasi kita dalam bahasa Arab. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un!
    Hehehe… gimana kalau ada muslim dari Perancis yang ngomong bahasanya sendiri saja lidahnya sudah melintir-melintir. Jangan-jangan nanti si Perancis menjawab A tapi disangka B karena spelling-nya ngga jelas.:mrgreen:

    ==========================

  7. Hmmm…….
    Allooowwwwwwww kang Lambang, entuh kakekmu yah yg suruh???…Hiiiiiiiiks..kiks,,kiks,,

    Secara literal memang terkesan sebuah AJARAN yg penuh KESIA-SIAAN memang. Al Quran adalah HUDALLINNAS..bagaimana bisa bermanfaat jika sebuah PETUNJUK sama sekali tidak bisa dipahami pengertiannya??? Dan secara TEKSTUAL sang Kakek memberikan DOKTRIN yang MENINA BOBOKKAN buat sang cucu. Namun akan lain jika kita mencermati dari sudut pandang ke dalem, bahwa Al Quran yang dimaksud adalah KITAB BASAH yg ada di dalam DIRI bukan teks book Al Quran yg berupa tulisan itu. Maka paragraf akhir berupa pesan sang Kakek seperti ini :
    ” “Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Al Qur’an. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi, kamu akan berubah, didalam dan diluar dirimu ” akan betul betul memberikan hasil yang sungguh2 memuaskan.

    IKRO’ BISMIROBBIKAL LADZII KHOLAQ….
    Bacalah KITAB BASAHMU….Bacalah KRENTEG HATIMU setiap saat, setiap tarikan nafasmu….!!!.

    Salam…salim…Rahayu

    ==============================
    Lambang:
    Betul kang. Yang jadi masalah sekarang ini adalah sulit mencari guru yang mampu mengajarkan konsep ketuhanan dan konsep agama dengan benar.
    Untuk bisa tahu guru mana yang mampu atau tidak, ya terpaksa trial and error, cobain berguru ke sini, kalau gagal coba lagi berguru ke situ dan seterusnya.
    Kalau sedang beruntung, pasti ketemu dengan guru sejati yang bisa mengajarkan cara untuk mati dengan sukses. Kalau apes ya sudah, matinya ngga sukses dan mungkin akan terlahir kembali dengan status yang lebih buruk.🙂

    Salam Persahabatan.
    ==============================

    • KangBoed says:

      hehehe.. mudah mudahan engga aaaah.. cape deeeeeh.. mendingan pijatin si mBaaaah berdua sambil nyiapin kopi pahit sama kemenyan..
      Salam Sayang
      Salam Rindu untukmu mBaaaaah..😆

      ==========================
      Lambang:
      Hehehe… cape yaaaa…:mrgreen:

      Salam Persahabatan.
      ==========================

  8. yang-kung says:

    ya…ya…ya..,anak2 membutuhkan kekuatan untuk bersandar,membutuhkan pundak untuk menangis dan membutuhkan contoh untuk mempelajari sesuatu dari seseorang.Marilah kita bantu dengan penuh kasih,karena merekalah masa depan bangsa.LET!S Make A Sweet MEMORIES.

    salam kanugrahan sabrayat agung.

    ==========================
    Lambang:
    Setuju sekali Yang-Kung.

    Salam.
    ==========================

  9. Yudi says:

    Saya pikir kesalahan kakek itu menyuruh mengangkut air dengan keranjang bolong untuk menjawab pertanyaan sang cucu apa manfaat AQ padahal beliau tidak mengerti arti dan maksud yang dibacanya. Mestinya sang kakek menjawab dengan jujur kalau ia berharap pahala dengan membaca kalamullah itu, terlebih lagi bagi kek kakek yang cuman Islam Abangan. Itu menurut saya sih mas Lambang. Andai muballig sejuta umat dan muballig penoladan poligami di indonesia kejebak membaca artikel ini asyik juga yah, bagaimana tanggapan mereka terhadap bacapan parno semisal “ENNY ARROW” yang sedari halaman pertama para pembacanya langsung dirikan tenda, hihihi.

  10. Intan says:

    Hahhhh Enny Arrow, hihihihihi….., itu kitab kesukaan suami Intan bung Yudi. Sampai sekarang pun dia masih rajin membacanya. Papanya anak-anak paling demen yang edisi “Menantu nyikat mertua perempuannya di atas langit-langit rumahnya. Keren kok ceritanya, walau Intan tak bisa diriin tenda, tapi ……Pak Lambang pernah baca kitab itu?

  11. Lambang says:

    Weleh… weleh…
    Sepertinya Mbak Intan dan Mas Yudi ini memang sealiran. Dulu pernah tahu ada buku Enny Arrow itu yang sering dibawa oleh temen-temen yang biyayakan. Sempet baca sekali terus istighfar berkali-kali.
    Saya sih alim banget waktu itu *haiyah*, ngga seperti sekarang yang semakin nggilani.
    Sampai sekarang saya masih belum tahu apa hubungan antara baca dengan diriin tenda? Maksudnya buat leyeh-leyeh dalam tenda sambil baca buku gitu?🙄

  12. Presiden AS says:

    Mmm…

    *siyul-siyul*

    ==========================
    Lambang:
    *Ssst, ada calon presiden Aris S****** lewat*
    ==========================

    • KangBoed says:

      ssst.. presidennya agak sensiiie.. *pletaaaaaak*.. tuh khan mas Lambang dilempar tahu goreng..
      Salam Sayang
      Salam Kangen
      Salam Rindu.. untukmu my brathaaaar..

      ==========================
      Lambang:
      Ooooo gitu ya, agak sensi sekarang…:mrgreen:
      ==========================

  13. nug adhit says:

    ass. kalo membaca tulisannya bang lambang, ngeri, kalem, tenang tapi dalam penuh makna..

    ==========================
    Lambang:
    Walaikum salam, selamat berkunjung mas Nug Adhit,
    Pasa dasarnya sih saya memang ngga banyak tahu tentang al-quran, hadist, fiqih, tauhid dll, makanya jawaban diskusi dibuat agak diplomatis gitu biar terkesan lain… hehehe… padahal aslinya mah oon banget.
    BTW, saya memang tidak berniat memperdalam pengetahuan tersebut di atas karena sekarang sudah ada pemahaman baru yang bisa menggantikan semua pemahaman keliru selama ini termasuk berbagai permasalahan klasik tentang konsepsi agama dan ketuhanan, iman dan kafir, jabariyah dan qodoriyah, pahala dan dosa, surga dan neraka, malaikat dan jin, syariat dan hakikat, otak dan hati, jiwa dan raga, dsb. Sayangnya pemahaman tersebut masih belum dapat dibuka untuk umum.🙂
    Salam.

    ==========================

  14. akmalhasan says:

    Sambil nunggu soft opening pemahaman yang masih belum dapat dibuka untuk umumnya mas, mohon ijin komen walau mungkin gak nyambung ya🙂

    Sebenarnya jawaban kakek kepada cucunya nyambung dengan artikel “Jiwa dan Ruh Manusia” yang ada di blog ini juga. Bahwa setiap membaca ulang ayat-ayat Al-Quran, ada tambahan makna tersirat dan tersurat yang dapat lebih dipahami semakin dalam dan semakin jernih. Karena makna dari ayat (bahkan huruf) Al-Qur’an bisa berlapis-lapis.

    Makanya ada yang bilang, pencarian akan kebenaran itu tiada mengenal kata akhir, ditambah 70.000 hijab yang harus dilewati si pengembara🙂

    Adalah ide yang sangat baik untuk membuat kurikulum pendidikan anak sedini mungkin yang dapat memperkenalkan dienul-islam yang menurut saya bisa diawali dengan awaluddin makrifatullah, kurang lebih bahwa permulaan agama adalah mengenal Allah.

    Salam kenal,
    Akmal

    ==========================
    Lambang:
    Salam kenal kembali Mas Akmal,
    Memang perlu sekali membenahi pendidikan agama kepada anak sejak dini. Khususnya pendidikan empati, kasih dan dasar agama. Kalau ma’rifatullah sepertinya terlalu advanced ya untuk anak-anak.
    Sampai sekarang saya masih heran kenapa saya masih belum bisa menemukan website resmi Al-Quran dan Hadist versi Indonesia (milik Indonesia yang legal dan sah). Yang ada malah di Kerajaan Arab dan beberapa produk swasta. Adakah permainan politik di sini? Adakah kepentingan agar hadist biar saja dalam bahasa Arab yang multi tafsir? (kalau ada yang dianggap bertentangan tinggal disalahkan tafsirnya saja). Ataukah masih berprinsip “kalau bisa dipersulit untuk apa dipermudah”?
    Ah sudahlah, itu bukan urusan saya, itu mungkin urusannya Dept. Agama, Dewah Da’wah Islamiyah, MUI, NU, Muhammadiyah atau FPI.🙄

    Salam Persahabatan.
    ==========================

  15. adi isa says:

    ada benarnya, jika membaca tanpa mengerti makna akan hambar, tetapi ingat, dalam islam, punya ilmu yang dinamakan ilmu ma’rifat dan hakekat adalah jalan dari ilmu tersebut. sebuah kata “bismillah” sangat sarat akan makna, jika dibaca begitu saja tanpa dipahami dan dimaknai(dimengerti), maka tidak ada beda dengan orang kristen yang mengucapkan kata tersebut. hambar…
    kayak sayur tanpa garam….🙂

    ==========================
    Lambang:
    Iya mas Adi Isa, sayangnya ada satu karung ilmu lagi yang tidak dijelaskan oleh Abu Hurairah kepada umum. Seandainya ada wireless connection kepada beliau di alam baka…

    Ternyata sangat sulit mempelajari agama yang multi persepsi… salah-salah bisa jadi militan, bomber suicider atau terjebak dalam egoisme spiritual…🙄

    Salam Persahabatan.
    ==========================

    • adi isa says:

      sebenarnya nggak juga, cuman banyak yang nggak peduli.
      soal mereka yang salah persepsi dalam beragama, itu karena mereka belum kenal islam aja secara ilmu, cuman tau sedikit langsung merasa hebat dan pintar.

      ==========================
      Lambang:
      Harapan saya memang seperti itu. Sayangnya di beberapa blog masih sering djumpai adanya debat kusir antara segolongan Islam dengan segolongan Islam lainnya. Fundamental dengan Liberal. Syiah dengan Sunni, dan lain-lain. Tentang takdir saja sudah ada dua kubu yang berseberangan, Jabariyyah dan Qadariyyah. Masing-masing membawa ayat-ayat andalannya.

      Mudah-mudahan sumber penyebab perdebatan itu hanyalah karena keterbatasan pengetahuan mereka tentang Islam, seperti yang mas Adi sampaikan di atas.

      Salam Persahabatan.
      ==========================

  16. Yudi says:

    Setelah bergumul panjang dengan hakikat metamorfosis erecsi menjadi erecsian yang kemudian mencirikan Pythecantropus penghuni Jawa dari penghuni daratan lainnya, diskusi komentar artikel ini akhirnya menemukan jati dirinya. Baik mas Lambang, saya akan himbau mas Enny Arrow dalam merangsang pengomentator untuk berbondong-bondong datang ke wordpress islam abangan ini stop sampai di sini. Saya akan ajak mas Enny mempelajari ilmu makrifat dulu.

  17. Lambang says:

    Apakah mau istirahat dulu atau ada kesibukan yang lain? Atau ada sesuatu yang mengganjal perasaan mas Yudi?

    BTW, kalau boleh tahu emailnya, tolong di-emailkan ke islamabangan@gmail.com, supaya saya ngga kehilangan contact address. Kalau mbak Intan sudah ada emailnya. Podo arek Suroboyo-ne.🙂

    Salam.

  18. Intan says:

    Kali-kali bung Yudi merasa bersalah Pak Lambang, masyak artikel religi bagus-bagus digiring ke wilayah selangkangan semua. Sampai-sampai yang mau berkomentar pada takut OOT, hehehe…..Atau jangan-jangan beliau mau bertobat? Kita tunggu aza yah….Jujur tadinya Intan nyangka Pak Lambang sedang menjajal kepiawayan bermonolog, itu ketahuan dari nama di facebooknya si Yudi Herlambang, hehehehehe, hayo ngaku bener tidak nih.

    ==========================
    Lambang:
    Iya mbak, sempat sih ada yang kasih masukan kenapa diskusinya seperti diskusi di terminal. Sempat saya tanya kembali, terminal bandara I atau terminal II? Ternyata saya salah, jawabannya terminal Kalideres.
    Hehehe… saya memang lagi uji kasus, kalau diskusinya nggladrah dan ngeres gimana hasilnya. Ternyata memang ada penurunan pengunjung secara drastis. Mungkin ada yang merasa “Ah, itu bukan level saya, saya kan levelnya di Auditorium, Planetarium dan Aquarium, bukan level Kalideres seperti itu…”. Hihi… oke-oke sajah, saya tidak akan memaksakan kehendak.
    Mungkin ada sebagian orang yang merasa risih, tetapi tidak mau berterus terang seperti mbak Intan ini. Salut mbak, kalau ada yang salah bilang saja salah, ngga usah ragu-ragu. Mbak Intan ini terkesan seperti mantan aktivis kampus ya mbak…. maaf kalau salah…

    Berhubung Mas Yudi mau hiatus, dan kebetulan saya juga akan mengembalikan topik diskusi ke ke jalan yang lurus dan benar sesuai dengan yang diridhoi oleh Allah SWT, maka terpaksa sempritan sensor dipakai lagi.

    Oh iya mbak, soal monolog itu salah lho, Yudi Herlambang itu bukan saya. Saya ngaku bahwa itu tidak benar, hehehe…

    Salam Persahabatan.
    ==========================

  19. KangBoed says:

    Salam Sayang my brathaaaaaaaaaaaaaaaaar
    Salam Kangen
    Salam Rindu

    ==========================
    Lambang:
    Ayam Ayang, Ayam Angen, Ayam Indu…:mrgreen:
    ==========================

  20. Filarbiru says:

    Ajaran si kakek pada sang cucu penuh dgn filsafah hidup. Intinya sedikit teori banyak praktek.
    Tidak dijelaskanpun sang cucu akan mengerti nantinya.

    Permasalahannya sekarang adalah bagaimana cara kita hidup beralquran?!

    ======================
    Lambang:

    Mengenai cara hidup ber Al-Quran, bisa mengikuti ajaran guru, kyai, ustadz atau mursyid. Cara hidup ber Al-Quran ini bisa menghasilkan muslim sejati, atau muslim egois, atau muslim emosional, atau pengikut Islam garis keras seperti dicontohkan dengan hukum di Iran maupun teroris di Indonesia.
    Tetapi kalau hanya ingin mengetahui cara hidup yang baik dan benar, bisa mengikuti metode yang memang sudah default ada dalam diri manusia, yaitu dengan meditasi dan kontemplasi. Sejenis dengan yang dilakukan oleh para pengikut kejawen maupun yang dilakukan oleh Muhammad sebelum menjadi rasul.
    Mengikuti dua-duanya jelas akan lebih bagus, tetapi ada keterbatasan kemampuan dan waktu.
    Jadi yah tergantung masing-masing saja, hidup ini kan pilihan. Mudah-mudahan bisa memilih mana yang terbaik. Kalau gagal toh ada kehidupan berikutnya untuk perbaikan. Entah masih dalam bentuk sebagai manusia atau sudah menurun tingkatannya.
    (Note: dua kalimat terakhir ini debatable, dan tidak akan dibahas dalam forum publik semacam ini).

    Salam Persahabatan.
    ======================

  21. Filarbiru says:

    @lambang

    Anda benar … itulah hidup penuh berkah

    Salam juga

  22. alfa says:

    sy kira tdk ush berdebat berkepanjangan, yang pnting bgm ki berbuat utk kebaikan dalam rangka kejayaan islam…

    ===========================
    Lambang:
    😯 Oh…. begitukah?
    ===========================

  23. lovepassword says:

    Artikelmu yang ini keren amat ya. Atau jangan-jangan malah semuanya keren. Memang ada sisi yang terlihat tetapi ada juga sisi yang tidak terlihat. Sip Markusip

    ==========================
    Lambang:

    Hmm…. ngga tahu ya…
    Mudah-mudahan memang seperti itu… hehe…

    ==========================

  24. Presiden AS says:

    *baru sempat berkunjung lagi*

    .
    .
    .

    Menurut saya pribadi, disitulah salahnya pendidikan di negara kita. Sejak kecil mereka sudah diajarkan tentang imbalan dan hukuman. Bukan diajarkan tentang kreativitas, cinta kasih, empati dan tanggung jawab. Telat masuk disetrap. Tidak mengerjakan PR tangannya dipukul penggaris. Baju tidak seragam disuruh lari keliling lapangan.
    Pola imbalan dan hukuman ini telah terpateri dalam alam bawah sadar sejak dini. Sehingga ketika sudah bekerja, ada kecenderungan jika berbuat sesuatu lalu mengharapkan imbalan ekstra di luar gaji. Akibatnya korupsi merajalela. Selain itu ada kecenderungan untuk menghukum orang lain yang tidak sepaham dan dianggap bersalah. Akibatnya ada Satpol PP semena-mena, ada praja memukuli siswa, ada tawuran pelajar dan mahasiswa, ada pembakaran dan pembunuhan atas nama keadilan, dsb.

    Idem 100%
    .
    .
    .

    Sebagian besar terjadi karena kesalahan pendidikan sejak dini, dan sayangnya tidak ada pejabat negeri ini yang berusaha memperbaiki masalah mendasar itu.

    Mas Lambang, nanti kalau saya jadi presiden, sampeyan saya angkat jadi Menteri Pendidikan merangkap Menteri Agama.

    /sekian

    • Lambang says:

      Wah udah lama Pak Presiden ngga muncul. Bahkan istananya sendiri terbengkalai.
      Ayo dik Aris, buat posting lagi… masak blog bagus gitu koq dibiarkan ngga keurus…🙂

      Soal Menteri Pendidikan itu? Gampang, bisa dibahas nanti…🙂

      Salam Persahabatan.

  25. KangBoed says:

    semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Jiwa yang Tenang

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

  26. Lambang says:

    Betul Kang, semoga menjadi momentum…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s