Di Balik Pengeboman – Sebuah Introspeksi

Beyond The Bombing: An introspection
Anand Krishna, Jakarta | Tue, 07/21/2009 2:28 PM | Opinion

Beberapa saat setelah pengeboman di JW Marriott dan Ritz-Carlton hari Jumat lalu, juru bicara kepresidenan Andi Malarangeng menyampaikan keprihatinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui televisi, dan mengatakan bahwa Presiden ingin segera mengunjungi lokasi, tetapi karena hari itu adalah hari Jum’at dan sudah mendekati waktu sholat, maka kunjungan akan ditunda sampai dengan selesai sholat Jum’at.

Some time after the JW Marriott and Ritz-Carlton hotels were bombed last Friday, presidential spokesman Andi Malarangeng conveyed President Susilo Bambang Yudhoyono’s concerns on television, and said the President intended to visit the site immediately, but since it was “Friday, and almost prayer time”, the visit would be postponed until after the prayers.

Kunjungan akhirnya ditunda pada hari berikutnya, berhubung adanya pertimbangan keamanan, seperti telah dinyatakan sendiri oleh Presiden Yudhoyono melalui konferensi pers yang ditayang ulang di televisi.

The visit was eventually postponed to the next day, due to “security considerations”, as stated by President Yudhoyono himself in his televised press conference.

Saya tidak membahas agama di sini, saya hanya melakukan sedikit introspeksi: Apa yang akan saya lakukan pada kejadian yang sama?
Bagamana jika seseorang yang saya sayangi berada di salah satu hotel itu?

I am not talking religion here, I am just doing a little introspection: what would I do in a similar situation? What if someone I loved was staying in one of the hotels?

Semua pertimbangan akan saya kesampingkan, dan saya akan bergegas menuju lokasi kejadian. Saya tidak memerlukan dukungan kitab suci yang membolehkan saya untuk meninggalkan sholat dan melakukan hal itu. Jawaban saya bukan hipotesis, tetapi berdasarkan pengalaman pribadi pada masa lalu yang masih belum terlalu lama.

All considerations aside, I would have rushed to the site. I would not need any scriptural sanction to prompt me to leave my prayers and do so. My answer is not hypothetical, but based on a personal experience in a not too distant past.

Kita telah membuat kesalahan dan ketololan yang sangat besar dengan menganggap ritual sebagai agama, dan mengutamakan hal ini di atas pelaksanaan pekerjaan sehari-hari kita. Ritual adalah alat untuk membangkitkan semangat keagamaan kita, bukan akhir dari agama. Dengan menjalankan ritual, saya tidak perlu menjadi menjadi relijius. Tangan yang menolong adalah lebih baik daripada mulut yang berdoa.

We have made a serious blunder by defining ritual as religion, and prioritizing it over the performance of our duties. Rituals are means of awakening the spirit of religiosity within us, not the end of religion. By becoming ritualistic, I do not necessarily become religious. Hands that help are better than lips that pray.

Saya dapat beribadah ketika bekerja, dan berdoa ketika menjalankan pekerjaan sehari-hari saya bukan hanya kepada kerabat dekat, tetapi juga kepada negara saya, bangsa saya dan keluarga dunia.

I can worship while working, and pray while performing my duties not only toward my immediate family, but also toward my country, my nation and the world family.

Tentu saja saya dapat melakukan tugas saya dengan selalu dijiwai oleh ketaatan dan peribadatan. Tugas dan ketaatan beragama, ibadah dan dunia, sholat dan kinerja – semua ini dapat berjalan beriringan. Agama harus dibebaskan dari kurungannya, dan dibawa ke pasaran.

Indeed, I can perform my duties in the spirit of devotion and prayerfulness. Duty and devotion, worship and the world, prayer and performance of duties – all these can go together. Religion must be freed from its long confinement to manmade closets, and brought to the marketplace.

Masih pada hari Jumat yang sama, seorang pembaca berita muda di televisi salah mengucapkan “Syailendra“, nama restoran di Marriott. “Syailendra” bukan bahasa Perancis. Salah mengucapkan “Syailendra”, salah satu dinasti terbesar di nusantara ini, membuktikan bagaimana sedikitnya rasa hormat dan perhatian yang kita miliki terhadap sejarah dan kebudayaan.

Still on the same Friday evening, a young newsreader on television kept mispronouncing “Syailendra” , the name of a restaurant at the Marriott. “Syailendra” is not French. Mispronouncing “Syailendra”, one of the great dynasties of the archipelago, proves how little respect and regard we have for our history and culture.

Untuk pembaca berita muda, barangkali strong>mandala dari Borobudur tidak berarti apa-apa. Barangkali dia adalah salah satu dari sekian banyak yang masih menganggap Borobudur sebagai candi, dan tidak mengerti arti dari kata mandala.

For the young newsreader, perhaps the mandala of Borobudur means nothing. Perhaps he is one of those who still mistakenly refers to Borobudur as a temple or candi, and does not understand the meaning of mandala.

Seseorang mungkin menganggap bahwa bahwa hal ini adalah sesuatu yang tidak terlalu penting. Tidak demikian. Suatu bangsa yang hanya sedikit menghargai nilai kebudayaannya, warisan dan sejarah masa lalu, adalah negara yang tidak memiliki akar. Negara yang tidak memiliki identitas atau jati diri. Dan ini adalah kasus yang ada sekarang. Kita lebih senang dan lebih nyaman dengan identitas yang di-impor, dari Arab, India, Barat atau Cina, dibandingkan dengan identitas kita sendiri.

One may brush this off as something of very little significance. It is not. A nation that has a little regard for its cultural values, heritage and past history is a nation without roots. Such a nation has no self-identity. And this is the case with us today. We are happier and more comfortable with an imported identity, be it Arab, Indian, Western or Chinese, than with our own identity.

Pelaku bom bunuh diri, teroris, radikal, ekstrimis di negara kita menderita krisis identitas. Dan sistim pendidikan kita bertanggung
jawab terhadap hal ini. Apa yang kita perlukan sekarang adalah sistim pendidikan yang berdasarkan keagamaan universal berbasis nilai (universal religious values-based), dan bukan berdasarkan keagamaan berbasis ritual (religious rituals-based). Buku sejarah kita harus ditulis ulang untuk membuat agar anak-anak kita bangga dengan kebudayaan mereka dan bangga terhadap sejarah yang telah berusia lebih dari 5000 tahun.

The suicide bombers, terrorists, radicals and extremists in our country suffer from an identity crisis. And our education system is responsible for this. What we need today is a “universal religious values-based” education system, and not a “religious rituals-based” one. Our history books must be rewritten to make our children proud of their culture and at least 5,000 years of history.

Kita harus membentuk kembali bangsa ini di atas landasan yang kuat berdasarkan warisan kebudayaan masa lalu, kebijaksanaan, dan nilai-nilai spiritual dan kebudayaan. Kita menghormati kebijaksanaan dan nilai-nilai dari kebudayaan lain. Kita dapat belajar dari mereka. Tetapi kita tidak memiliki alasan apapun untuk membangun di atas landasan nilai-nilai i
mpor.

We have to rebuild our nation upon the solid ground of our ancient heritage, indigenous wisdom and cultural and spiritual values. We honor the wisdom and the values of other cultures. We can learn from them. But we have no reason whatsoever to build upon such imported values.

Masih menatap televisi, saya melihat dengan muak dan kaget sebuah rekaman video amatir yang disiarkan. Itu sangat menyakitkan dan meyedihkan karena melihat “orang kita” sedang sibuk mengambil foto daripada segera membawa korban ke rumah sakit. Barangkali foto yang ditunjukkan adalah President Director PT Holcim Indonesia Timothy David Mackay, yang meninggal di rumah sakit, atau bisa juga salah satu dari yang selamat.

Still glued to the television, I watched with disgust and dismay the first amateur video recording to be broadcast. It was very hurting to see “our people” busy taking pictures rather than rushing the victims to the hospital. Perhaps the pictures shown were those of PT Holcim Indonesia president director Timothy David Mackay, who died in the hospital, or of one of the survivors.

Saya ingin meyakini bahwa itu bukanlah Mackay. Saya ingin meyakini bahwa orang yang ada dalam video itu bisa selamat. Tetapi bagaimana jika dia adalah Mackay? Bagaimana menyakitkannya hal itu bagi orang-orang yang mengenalnya?

I would like to believe it was not Mackay. I would like to believe the person on the video survived. But what if he was Mackay? How hurtful it must have been to those who knew him?

Seolah masih belum cukup, salah satu stasiun TV mengundang dua orang yang merekam video tersebut. Sangat mengherankan ketika melihat mereka tergeli-geli selama beberapa menit mereka muncul dalam “pertunjukan” itu.

As if that was not enough, one of the TV stations invited the two who filmed it. It was very surprising to see them giggle so many times throughout the few minutes they were on the “show”.

Mereka adalah orang biasa seperti saya, rakyat jelata. Tetapi mereka tidak sendirian. Pada suatu sore, ketika seorang menteri muncul di TV, mereka bahkan tertawa-tawa geli lebih parah. Pejabat pemerintah menegaskan memiliki hubungan yang baik dengan sekretaris jendral WTO, dan dengan gembira berbagi informasi bahwa pengeboman ini tidak “terlalu parah” mengganggu perindustrian dan kegiatan perekonomian.

They were commoners like me, rakyat jelata in Indonesian. But they were not alone. In the evening, when a minister appeared on TV, he had even more giggles. The state official claimed to have good relations with the secretary-general of the World Trade Organization (WTO) and was rather pleased to share with the viewers that the bombing would not “so much” affect the industry and the economy at home.

Dimanakah rasa empati kita? Saya mohon maaf. Saya mohon maaf atas ketidakmampuan saya untuk menjadi tuan rumah yang baik bagi beberapa orang asing yang tinggal di negara saya. Saya mohon maaf karena saya harus beribadah dulu sebelum terburu-buru menuju lokasi atau ke rumah sakit tempat mereka dirawat. Saya menyadari sekarang bahwa saya menjadi tidak sensitif lagi terhadap tangisan sanak keluarga almarhum maupun korban selamat yang masih dirawat. Saya mohon maaf karena saya merasa bahwa lebih penting untuk mengambil foto, daripada menolong Timothy Mackay. Secara tidak langsung, atau langsung, saya ada kaitan tanggung jawab atas kematiannya. Saya mohon maaf karena menampilkan foto itu di televisi dan dibarengi dengan cekikikan kami.

Where is our sense of empathy? I am sorry. I apologize for my inability to be a good host to foreigners living in my country. I am sorry I could still find time to say my prayers before rushing to the scene or to the hospital where the wounded were being treated. I realize now that I was being insensitive to the cries and tears of the bereaved family members of the deceased and the injured victims in the hospital. I apologize for finding it more important to take pictures, rather than help Holcim’s Timothy Mackay. Indirectly, or directly, I stand responsible for his death. I am sorry for sharing those pictures on television amid giggles.

Saya mohon maaf karena mengijinkan anak-anak kami untuk dicuci-otak dan dilatih sebagai pengebom bunuh diri. Saya mohon maaf karena tidak cukup mewaspadai orang-orang yang menyebarkan rasa kebencian atas nama agama dan pendidikan.

I am sorry for allowing our children to be brainwashed and trained as suicide bombers. I apologize for not being vigilant enough toward people spreading hatred in the name of religion and education.

Saya mohon maaf dengan ucapan saya yang tidak bijaksana, mencari kambing hitam atas kejadian tersebut, daripada menyalahkan ketidak-mampuan saya untuk mengamankan lingkungan. Saya sekarang menyadari bahwa kejadian ini telah direncanakan dengan hati-hati, dan barangkali sudah berbulan-bulan. Saya dapat melihat pola yang jelas yang menghubungkan ini dengan kejadian sejenis di masa lalu.

I also apologize for my unwise remarks, finding scapegoats for the incident, rather than blaming my own incapability in securing my neighborhood. I now realize this incident was very carefully planned, and perhaps for months. I can see a clear pattern connecting this with similar attacks in the past.

–ooOoo–

The writer is a spiritual activist and author of more than 120 books.

Translated by Lambang (http://LambangMH.wordpress.com).
If you have any translation suggestion or correction, please post a comment in this blog.

===========================================

Komen Lambang:

Artikel yang sangat menarik dari Anand Krishna, lepas dari kontroversi tentang pemahaman keagamaan yang dianut oleh beliau. Artikel ini terasa menampar. Masih diperlukan artikel lain lagi yang lebih menghunjam dan lebih membenamkan kita ke dasar bumi. Diharapkan setelah mengalami pembenaman jati diri yang hebat, maka kesadaran tinggi akan muncul dan bangsa kita akan bangkit kembali dengan semangat kebersamaan dan empati yang luar biasa.

Kejadian pengabaian empati semacam ini sudah ratusan kali saya jumpai. Mulai dari bagaimana mobil pemadam kebakaran yang tidak bisa masuk jalan kecil karena padatnya penduduk yang menonton sambil ngoceh ngga jelas, sampai dengan korban Tsunama Aceh, Lumpur Sidoarjo dan Gempa Jogya yang semuanya hanya dianggap sebagai deretan angka statistik.

Sudah kehilangan empatikah bangsa kita ini? Jelas masih ada yang memiliki empati tetapi saya yakin populasinya sudah semakin menipis. Ada kesalahan di agama mayoritas yang dianut? Ngga juga. Agama ngga ada yang salah. Yang salah adalah materi pengajaran yang dipilih, metode pengajarannya dan pola pikir para pengikutnya. Ada kesalahan di pendidikan? Ya, dan memang di sinilah sumber permasalahannya. Masalah pendidikan inilah yang menyebabkan munculnya tudingan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang bodoh, bangsa yang korup, bangsa yang tidak berempati, bangsa yang munafik, bangsa yang egois, dan bangsa yang pemarah.

Terlalu panjang untuk disebutkan apa saja salahnya sistim pendidikan di negeri ini. Mudah-mudahan ada kesempatan lain untuk menuangkannya dalam artikel tersendiri.

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Pencerahan, Renungan, Spiritual and tagged . Bookmark the permalink.

11 Responses to Di Balik Pengeboman – Sebuah Introspeksi

  1. lovepassword says:

    Anand Krishna kadang menarik juga. Tetapi mestinya tidak perlu diadu antara tangan dan mulut. Di satu sisi dia juga ribut soal aksi, bahkan meributkan soal kata Syailendra yang menurut saya asli nggak penting bila kita kaitkan dengan pemboman.

    ======================
    Lambang:
    Yah memang begitulah kehidupan. Sejarah Hindu dan Buddha jelas tidak bisa lepas dari alam bawah sadarnya.

    Salam Persahabatan..
    ======================

    • KangBoed says:

      hehehe.. agama adalah the way of life.. jalan hidup masing masing.. bukan untuk tunjuk sana sini

  2. lovepassword says:

    Masih menatap televisi, saya melihat dengan muak dan kaget sebuah rekaman video amatir yang disiarkan. Itu sangat menyakitkan dan meyedihkan karena melihat “orang kita” sedang sibuk mengambil foto daripada segera membawa korban ke rumah sakit. ===> Inilah dampak buruk globalisasi dan materialisme termasuk dalam bidang pers.Di Inggris Dulu ketika Lady Diana sekarat , wartawan juga memilih sibuk memfoto daripada menolong.
    Jadi memang ini bukan masalah Indonesia saja. Materialise, egoisme dsb adalah masalah semua bangsa yang entah kenapa memilih pelan-pelan ambruk bersama ;)=== Masalah pendidikan, Ivan Illich yang notabene bule juga mengkritik sistem pendidikan Barat habis-habisan. Jadi ini masalah mendasar semua bangsa yang tanpa sadar siapa yang menggencet faktanya telah tergencet.

    ======================
    Lambang:
    Bener mas. Kita sudah lama maklum kalau bule itu egois. Tapi kalau Indonesia, katanya rakyatnya ramah tamah, sering senyum dan berbudi pekerti luhur… ternyata fakta membuktikan hal sebaliknya.

    Salam Persahabatan..
    ======================

    • KangBoed says:

      parahnya neoliberalisme sudah mendarah daging dan membalung sumsum.. tanpa disadari matahari sudah terbit diarah barat

  3. m4stono says:

    melihat diri sendiri jauh lebih utama dari melihat org lain

    ======================
    Lambang:
    Betul mas, terkadang ada saat dimana kita perlu melihat ke orang lain, dan terkadang ada saat lain dimana kita perlu melihat ke diri sendiri. Halah, malah terbalik.

    Salam Persahabatan..
    ======================

  4. yang-kung says:

    TANYAILAH DIRIMU SEBELUM BERTINDAK.Janganlah kita mengikuti jalan kita sendiri,tetapi marilah kita mengikuti jalan yang ditunjukan Allah bagi kita.

    salam kasih selalu.

    ======================
    Lambang:
    Setuju YangKung. Masalahnya tolok ukur pribadi itu berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang merasa nyaman kalau bisa mencuri dari supermarket (kleptomania). Ada yang merasa nyaman kalau bisa maki-maki orang. Ada yang merasa nyaman kalau sudah demo dengan bawa golok.
    Apakah tolok ukur mereka itu bersumber dari jalan yang ditunjukkan Allah? Waalahualam, bisa benar dan bisa juga salah, karena kata orang pada tataran atas sana kebenaran dan kesalahan itu sudah nisbi. Tergantung sudut penilaian.

    Salam Persahabatan.
    ======================

  5. KangBoed says:

    semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Jiwa yang Tenang

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

  6. Lambang says:

    Salam Damai my Brathaaarr…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s