Simpati dan Empati

empathySudah sering kita mendengar kata simpati maupun empati. Terlebih kata simpati jauh lebih populer karena digunakan oleh salah satu provider untuk trademark produk-nya. Sering orang menganggap kedua kata itu memiliki arti yang sama, padahal pendapat itu tidak terlalu tepat.

Simpati berasal dari kata Yunani, syn (bersama-sama) dan pathos (penderitaan). Jadi simpati artinya ikut merasakan penderitaan orang lain.

Empati juga berasal dari kata Yunani, en (masuk ke dalam) dan pathos (penderitaan). Berdasarkan etimologi ini, empati hampir sama dengan simpati, tetapi lebih terhanyut masuk ke dalam seolah ikut merasakannya secara emosional. Dalam buku Social Psychology karangan Robert A Baron disebutkan bahwa empati adalah kemampuan seseorang untuk bereaksi terhadap emosi negatif atau positif orang lain seolah-olah emosi itu dialami sendiri.

Contohnya dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut :

Ada pengendara sepeda motor ditabrak oleh metro mini. Semua orang yang ada disekitar lokasi kejadian pandangannya langsung beralih ke TKP. Tidak ketinggalan semua penumpang bis kota dan mikrolet yang langsung menjulurkan kepala mencari sudut pandang yang terbaik. Sebagian ada yang berlari mendekat. Sebagian ada yang berucap: “Waduh, kasihan banget entu sepeda motor dihajar metro mini”. Nah, ini adalah simpati. Dan biasanya hanya berlangsung dalam hitungan menit saja. Setelah itu terlupakan.

Dalam kejadian contoh tersebut, yang lebih banyak muncul adalah pemenuhan sifat keingintahuan para penonton. Minimal mereka bisa membawa oleh-oleh cerita kepada rekan sekantor atau kepada keluarga di rumah. “Eh tadi ada tabrakan motor sama metro mini lho. Kepalanya sampai misah dari badannya” dan selanjutnya dengan ditambah bumbu-bumbu yang membuat cerita semakin seru. Ini bukan simpati, tetapi pemuasan ego keingintahuan. Tidakkah mereka mengetahui bahwa merubung seseorang yang sedang terluka parah justru akan mengakibatkan kebutuhan oksigen korban menjadi terganggu? Itu juga akan mengakibatkan sulitnya team paramedis melakukan tugasnya.

Seandainya ada salah satu dari mereka yang kemudian menelpon 911 (ngga kebayang gimana sulitnya menghubungi 911) atau membantu membawa korban ke rumah sakit terdekat, atau menghubungi polisi terdekat, atau menolong korban dengan metode PPPK yang pernah dpelajarinya, maka itulah yang disebut dengan empati. Alih-alih hanya sekedar menonton, melotot sambil berguman, dia langsung melakukan sesuatu tindakan yang tentu akan sangat bermanfaat bagi si korban.

Jadi empati adalah simpati yang diikuti dengan tindakan nyata berupa pengorbanan kepada yang ditolong. Pengorbanan ini dapat berupa materi, tenaga, fasilitas atau bimbingan.

Kasus kehilangan empati sudah sering terjadi di negeri ini. Ada pemburu berita yang lebih asyik memotret korban bom Marriot daripada segera membantu korban. Ada pengendara mobil mewah yang enggan memberi recehan kepada pengemis dengan alasan banyak pengemis yang menjadi kaya karena berpura-pura mengemis atau dengan alasan demi keamanan. Ada pengendara motor yang menyambar-nyambar. Ada angkutan umum yang berhenti sembarangan. Ada pejabat Departemen Agama dan Departemen Sosial yang tersangkut masalah korupsi.

Yang cukup parah adalah ada pejabat yang mengeluarkan perda larangan mengemis di tempat umum, Perda DKI Jaya tentang Ketertiban Umum No 8/2007.  Ada 1001 alasan yang bisa dikaitkan ke Perda ini, tetapi apakah Perda ini dibuat berdasarkan empati? Jelas tidak. Tidak ada pengorbanan apapun dari Pemda untuk mengatasi kemiskinan ini. Bagaimana kelanjutan pola usaha anak angkat-bapak angkat dan pelatihan di BLK yang dulu terbukti berhasil di Jaman Soeharto? Bagaimana dengan penyaluran kredit usaha kecil dan menengah? Bagaimana dengan pengembangan usaha yang padat karya? Bagaimana kelanjutan transmigrasi? Apa yang dihasilkan Departemen Kehutanan selama ini dan dari program “one man one tree“-nya? Bagaimana kelanjutan program sejuta pohon oleh SBY? Dan masih ada ratusan pertanyaan kritisi lainnya.

Semua jenis usaha yang saya sebutkan di atas adalah jenis usaha yang banyak menyerap tenaga kerja. Tujuan akhirnya tentu untuk mengentaskan kemiskinan. Jadi solusi dengan mengeluarkan Perda larangan mengemis itu tak ubahnya seperti kata pepatah “buruk muka cermin dibelah“.

Marilah kita kembangkan empati dalam diri kita. Empati ini tidak bisa dipelajari dari jalur formal pendidikan. Ini hanya bisa diperoleh jika kita selalu mengasah tingkat kesadaran kita. Apabila kita telah mencapai kesadaran tinggi maka empati pasti akan muncul dan ego semakin terkekang.

Lalu, bagaimana cara mengasah kesadaran? Ini jelas sudah masuk ranah penceramah agama dan spiritual. Biarlah mereka yang bergulat dengan lingkup ini menyelesaikan pekerjaan rumah mereka. Campur tangan saya hanya akan menambah kacau suasana karena ada persinggungan dengan pemahaman. Tidak banyak orang yang bisa menerima kritikan ataupun pemahaman baru dengan hati yang terbuka (open-minded).

Selamat mengasah kesadaran diri!

Sumber: Lambang (http://LambangMH.wordpress.com), 08Sep09, 23:47

—===oooOooo===—

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Informasi, Kehidupan, Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

16 Responses to Simpati dan Empati

  1. m4stono says:

    pertamaxxxxxxxxx

    • m4stono says:

      mana nih ndorone omahe iki….cucian deh….wakakakakak

      • m4stono says:

        saya juga punya postingan yg “kimplah kimplah” senengane kang lambang…hihihihihihi

      • m4stono says:

        sebenarnya say gak suka istilah kimplah2…senangnya kampyoh kampyoh…ato pating mlenuk kek perutnya kangboed….ups….ntar dia merasa terzolimi lagi…huuuhuhuhuhu jadi obyek pelengkap penderita lagi…huhuhuhuhuhuhuakakakakakakakakakakak….sori kangboed jas ngibing…….

  2. Lambang says:

    Hiyaa… kampyoh kampyoh. Koq sajak’e akeh banyune ngono yo, koyo gombal teles dikipat-kipatke… hehehe…

  3. batjoe says:

    hiyaaaa….. keduluan lagi padahal tadi malem pulang kerja udah nyamperin nih blokc.
    emang mas ton jagaiin nih blok kah…..
    dan ampun deh ngeborong sampe 4 kali walah kepriben tho?

    ======================
    Lambang:
    Kebetulan jam tayang saya dengan Kang Tono hampir sama, menjelang jam 24:00. Lebih dari jam itu, bisa berubah jadi labu siyem semua. Hehehe…
    ======================

  4. batjoe says:

    enak artikelnya mas lambang mudah dimengerti.
    Simpati : hanya ngucap doang tnpa tindakan
    Empati : berucap sambil berusaha
    tuh cepet kan nangkepnya?
    kalau bangsa indonesia berusaha untuk empati mungkin kemiskinan tidak separah seperti sekarang.
    laha kita udah empati ndak mas hehehehehe?

    ======================
    Lambang:
    Kalau saya sih ngga tentu. Tergantung mood. Kalau lagi angot dan sutris, boro-boro bisa empati, diajak ngomong aja males…😉
    ======================

  5. batjoe says:

    ngomong2….
    botol kecap eh salah botol ijo dan kuning kemana mas….
    marah, tersingung ya jadinya males main kemari..
    kasih permen aja ma supaya ngambeknya ilang
    hahahahhahhaa
    salam sayang buat mas lambang, mas ton, kang boed dan temen2 yang berkunjung ke blog ini.

    ======================
    Lambang:
    Kalau KangBoed sepertinya jam tayangnya cukup panjang. Mulai dari maghrib sampai imsak. hehehe…😀
    ======================

  6. Filarbiru says:

    Hmm…
    Tulisan bagus tapi tunggu dulu

    Aku harus berpikir…

    Semua ini karena jaman yg sudah berubah jadi sedikit sekali manusia yg ada empatinya

    Salam

    ======================
    Lambang:
    Bisa juga karena itu, tapi bisa juga karena kesalahan prosedur evaluasi diri…😎
    ======================

  7. m4stono says:

    Ada pengendara sepeda motor ditabrak oleh metro mini. Semua orang yang ada disekitar lokasi kejadian pandangannya langsung beralih ke TKP. Tidak ketinggalan semua penumpang bis kota dan mikrolet yang langsung menjulurkan kepala mencari sudut pandang yang terbaik. Sebagian ada yang berlari mendekat. Sebagian ada yang berucap: “Waduh, kasihan banget entu sepeda motor dihajar metro mini”. Nah, ini adalah simpati. Dan biasanya hanya berlangsung dalam hitungan menit saja. Setelah itu terlupakan.

    ____________________________________________________________

    nek iki dijamin luwih akeh sing nonton ketimbang sing nulungi…yen ndhisik aku tahu nabrak becak…ndilalahe sing tak tabrak kuwi wong asli sekitar kampung kono…..sing jenenge wong kampung ra preduli bener po salah sing penting nulungi kancane dhewe…sing marahi mangkeli kuwi sing nonton kecelakaan kuwi sok manas2i…dadi ra kondusip kahanane

  8. Lambang says:

    Iya Kang. Untung dulu itu yang naik becak bukan calon mertua. Kalau bener camer, bisa gagal urusan selanjutnya… hehehe…

  9. qarrobin says:

    Mari suburkan empati, harga nelfon termurah 1 rupiah per nelfon dan sms gratis, bisa internetan unlimited cukup 5000 per bulan

    hihihi…murah ga tuh kartu empati nya

    ======================
    ::Wekekekeeek… Kartu Empati Pede-nya bisa dibeli ketengan… 10.000 per kartu. Dijamin empati abiiiiis deeeeh….
    Kalau masih kurang cocok, bisa beli kartu Empati Puooool…. 20.000 aja…

    ======================

  10. batjoe says:

    mas lambang aku copas lagi ini ya…

    ======================
    :: Silahkan mas.
    Semoga bermanfaat.🙂

    ======================

  11. Umatun ^^MJSAMK^^ says:

    assalamu’alaikum..

    boleh copas tuliannya??
    buat bahan pembenran niiy..
    ok??
    thx before..
    slam knal, Umatun Karomah

    jika berkenan konfirmasi d FB y ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s