Menciptakan Dunia Pribadi

Sudah beberapa hari belakangan ini Ngatemi setiap habis maghrib selalu merenung di sudut teras. Sengaja saya tidak pernah menanyakan apa masalah yang sedang mengganggu pikirannya. Ada rasa ngga enak untuk menegornya karena barangkali dia ingin menikmati kesendiriannya merenung entah tentang masa depannya atau tentang perjalanan hidupnya yang lalu.

Tapi saya agak terkejut ketika dia beranjak ke arah saya dan mengatakan, “Kangmas, saya pingin balik ke Jogja. Saya enda betah tinggal di Jakarta ini.” Dengan agak berhati-hati saya bertanya balik ke Ngatemi, “Memangnya kenapa koq enda betah di Jakarta sini diajeng?”

Dengan perlahan Ngatemi menjawab, “Disini banyak orang yang munafik kangmas. Beberapa hari yang lalu saya lihat ada remaja berjilbab yang pacaran di lapangan yang gelap itu, sambil berhimpit-himpitan dan pakaiannya tersibak kemana-mana. Bukankah wanita yang berjilbab itu harus menjaga agar kelakuannya sesuai dengan penampilannya? Terus di hari yang lain saya juga melihat ada rombongan bermotor dengan knalpot yang berisik sehingga mereka terpaksa ngobrol dengan suara kenceng di jalan raya depan situ. Yang membuat saya kaget adalah pakaian yang dikenakan oleh rombongan itu, baju koko warna cerah dan topi haji berwarna putih. Bukankah itu pakaian yang biasa dipakai di pengajian atau tahlilan?”.

Sambil menelan ludah karena kesulitan untuk berbicara, saya tanyakan lagi kepada Ngatemi, “Terus apa lagi yang diajeng lihat di sini?”. Ngatemi kemudian melanjutkan, “Terus di hari yang lain saya mencoba untuk naik angkutan umum ke Atrium Plaza. Sebetulnya saya bisa naik taksi ke sana, tapi saya ingin tahu gimana rasanya naik angkot. Ternyata supir angkot itu banyak yang ngga punya otak. Berhenti sembarangan di tengah jalan. Lalu ngetem semaunya tanpa memperdulikan adanya penumpang yang mungkin terburu-buru. Udah gitu ada juga penumpang yang nelpon di angkot dengan suara yang lantang dan ketawa-ketawa ngakak tanpa menyadari bahwa di angkot itu juga ada penumpang lain yang mungkin butuh ketenangan.” Seolah tidak pernah kehabisan nafas, Ngatemi melanjutkan lagi, “Pokoknya saya enda betah kangmas dengan kondisi seperti itu. Saya enda bisa hidup berpura-pura seolah menyenangi semua keadaan itu. Dan sayapun juga tidak bisa mengikuti cara hidup mereka yang seolah menghalalkan segala cara itu.” Sambil menghela nafas, Ngatemi kemudian berkata, “Jadi gimana Kangmas, boleh saya pulang ke Jogja?”

“Begini diajeng…”, kata saya sambil membetulkan posisi duduk yang sejak tadi terasa ngga enak dan terasa agak panas karena ingin segera menjawab semua pernyataan Ngatemi. “Semua yang diajeng ceritakan itu bisa disebut hanya satu kasus yang tentu tidak dapat diasumsikan mewakili semua golongan. Bahwa ada remaja yang pacaran sampai melewati batas, itu memang kenyataan yang harus diakui. Bahwa ada orang-orang berpeci yang kelakuannya kurang beradab, itu juga harus dimaklumi dengan berprasangka baik bahwa mungkin mereka sedang dalam tahap belajar, yang tentu tujuannya adalah menjadi manusia yang berbudi luhur dan beradab. Lalu mengenai sopir angkot, itu juga harus dimaklumi karena persaingan usaha di Jakarta sudah sedemikian tinggi, sehingga mau tidak mau mereka memang harus menanggalkan otaknya di rumah, dan hanya menyisakan sedikit untuk menjalankan pekerjaannya. Dan kalau ada orang yang menelpon tanpa menggunakan sedikit etika, kita juga harus menyadari bahwa tingkat pendidikan bangsa kita masih terlalu rendah jika dibandingkan dengan negara lain. Jadi kalau ada yang belum sempat membaca artikel tentang etika dan perilaku, saya pikir itu hal yang wajar diajeng.”

Ngatemi terdiam sejenak. Mungkin dia pikir ada benarnya juga ucapan saya, dan saya berharap dia akan merubah keinginannya untuk kembali ke Jogja. Ternyata harapan saya keliru.

Ternyata Ngatemi kemudian berkata, “Semua yang kangmas katakan itu mungkin saja benar, tapi itu akan membutuhkan usaha yang lebih berat bagi saya untuk menjadi manusia yang sabar, jujur, tawakal, nerimo, pasrah dan sumeleh. Kalau di Jogja saya akan lebih mudah mencapai target-target itu kangmas. Di sana lingkungannya sudah sangat mendukung, sehingga saya akan lebih mudah menciptakan dunia saya sendiri yang tata tentrem kerta rahardja.”

Bener juga apa yang dikatakan Ngatemi. Lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap perkembangan spiritual kita. Kalau kita tinggal di wilayah yang kumuh, rusuh dan semrawut, semua enerji negatif akan terpancar kemana-mana dan kita akan sulit untuk mengambil enerji positif yang ada di wilayah itu. Jangan-jangan sudah tidak ada lagi enerji positif yang tersisa sehingga kita akan menjadi berperilaku sama seperti mereka.

Karena sudah tidak memiliki alasan lain untuk mempertahankan agar Ngatemi tetap berada di Jakarta, akhirnya saya mengatakan kepada Ngatemi, “Ya sudah diajeng kalau memang itu yang dikehendaki oleh diajeng. Saya tidak mau egois hanya mementingkan kebutuhan saya saja. Saya juga harus memikirkan apa yang terbaik bagi diajeng.” “Besok pagi-pagi diajeng akan saya antar ke Jogja.” lanjut saya. “Saya akan antar diajeng sampai ke rumah Kang Tono yang magrong-magrong itu. Walaupun saya harus menahan malu karena hanya bisa mengurusi diajeng selama beberapa hari saja, tapi enda apa-apa, itu adalah resiko yang harus saya tanggung demi kebahagiaan diajeng.”

Dengan raut muka yang menunjukkan kesedihan yang mendalam, Ngatemi kemudian berkata, “Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya ya kangmas. Saya ingin kembali ke Jogya itu bukan untuk meninggalkan kangmas. Sebetulnya saya enda tega meninggalkan kangmas. Hati saya tetap masih menyatu dengan kangmas, tetapi perjalanan spiritual saya juga harus dibenahi. Saya ingin menjadi manusia yang tidak menjadi ancaman bagi orang lain, dan bermanfaat untuk orang lain. Mudah-mudahan kangmas bisa mendapatkan apa yang kangmas cita-citakan, dan saya juga berusaha meraih apa yang saya cita-citakan.” Sedih juga melihat wajah Ngatemi dan mendengarkan ucapannya itu. “Ya sudah diajeng, biarlah semua berjalan sesuai dengan kodrat dan fitrahnya. Yang penting kita selalu berusaha untuk mencari yang terbaik bagi diri sendiri dan orang lain, dan memang untuk itulah manusia diciptakan. Kalau begitu saya minta ijin dulu ya diajeng, saya mau nulis artikel tentang pembicaraan ini untuk dimasukkan ke blog saya”, jawab saya.

Nyamuk-nyamuk yang sejak tadi berbaris mendengarkan pembicaraan kami, begitu merasa pemibicaraan sudah selesai, langsung bergerak seolah mendapatkan komando – menyerbu saya dan Ngatemi – dan sialnya, sebagian nyamuk langsung menyerbu ke dalam sarung yang saya pakai. “Untung sudah dioles Autan,” pikir saya, “coba belum pakai, apa enda bintul-bintul semua ituh.”

Dikemas oleh: Lambang (LambangMH.wordpress.com), Jakarta, 29 Sep 09, 22:15

—===oooOooo===—

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Kehidupan, Ngga jelas and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

24 Responses to Menciptakan Dunia Pribadi

  1. m4stono says:

    pertamaxxxxxxxxxxxxxxxxx :mrgreen:

    ======================
    :: Ngatemi: Eh KangTono. Apa kabar kangmas. Baru aja saya mau balik ke Jogja ternyata Kang Tono sudah menjemput. Mau barengan ke Jogja apa enda kangmas? 🙂
    ======================

    • m4stono says:

      ngatemi = mas lambang…..sebenarnya saya mau terus terang kenapa saya balik ke kampung….gini loo mas….saya ndak enak sama bu lambang dikiranya ngrebut suami orang lagi, walaupun saya mo balik ke kampung juga malu, terutama dengan si kembar yg saya tolak cintanya….tapi kangmas biarlah hati kita menyatu walaupun tubuh kita terpisah ratusan kilometer dan biarlah saya meneruskan perjalanan saya untuk membuat keadaan dirumah lebih baik tidak serba kekurangan, semoga kelak kita dipertemukan kembali di surgaNya dan saya menjadi bidadari kangmas dan kangmas menjadi bidadara saya…amiiiin

      ======================
      :: Iya diajeng. Mudah-mudahan diajeng menemukan kembali dunia yang hilang di sana.🙂
      ======================

    • m4stono says:

      Tono = eh dik ngatemi mo balik to…ikut saya aja yaaa naek mongtor gicuuuuu…ntar kalo sampe di alas roban kita mojok yuuuk….asiiiiik…..kang lambang…cuciaaan deh loe …. :mrgreen:

      ======================
      :: Ati-ati banyak setan gundul di Alas Roban.
      Bisa bikin orang kepleset-pleset, gundule licin.🙂

      ======================

      • KangBoed says:

        HIHIHI.. kang TONO di tangkap SATPOL PP
        gara gara mojok yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak

  2. Lagi gegenitan, ya!
    Dunia semakin rusak,
    Koq malah pd mojok?

    Salam Damai!

    ======================
    :: Hehehe…
    ======================

    • m4stono says:

      hahahahahaha……mojok itu bukan berarti mesum lho….kalo rumahnya di pojok jalan bukan berarti rumah mesum……

      ======================
      :: Kalau rumah mesum itu bukannya tempat untuk memajang benda-benda perbakala ya Kang?
      ======================

      • KangBoed says:

        ya udah mojok nyooooooook..

      • Yah yah yah!
        Mojok itu tak selalu mesum,
        Yg terpojok biasaya suram,
        Boleh lah dibilang, remang.

        Salam Persahabatan!

      • Lambang says:

        Mojok bisa berarti tak ingin terlihat.
        Ingin menghilangkan identitas.
        Ada saat identitas ingin terlihat.
        Ada pula saat ingin sirna.

        Salam Tiga!

      • Pojok-pojok sudut-sudut
        Remang-remag redup-redup.
        Sering-sering berdebu-debu.

        Mojok,
        Konotasi tempat bermain kotor.
        Dan patut utk spionase ato dua lingkuh.
        Bisa sih bunga sudut ato keranjang sampah.

        Salam!

        ======================
        :: Dari sisi ekonomi,
        Kapling pojok harganya mahal.
        Biasa dipakai buat mall.
        Tapi bisa juga jadi pos polisi.

        ======================

      • Ralat doang:

        Mojok,
        Konotasi cocok untuk bergurau triki.
        Dan patut juga utk spionase dua lingkuh.
        Bisa sih bunga sudut ataw keranjang sampah.

        Dah!

        ======================
        :: Kata orang, mojok itu paling cocok buat belajar biologi.
        Apa bener sih?
        Kan kalau belajar ya ditempat terang dong….🙂

        ======================

      • m4stono says:

        haaayaah cah loro ki senenge mojok neng keranjang sampah…. :mrgreen:

      • Wah! Kita kejebak Brath!
        KangTono dah tak mojok.
        Tinggal kita berloro.

        Yo wes kon
        Kita kemon

        ======================
        :: Nyuk, kita kemon….
        *Hah, itu kan slang-nya si Unyil-Ucrit*

        ======================

  3. batjoe says:

    artikel aslo dan saya sangat suka…
    mas lambang jangan ‘nyinggungin” aku ya… awas!!!!
    wah sedih juga ngatemi harus ke jogja lagi…
    ya mudah-mudahan selalu saya jadikan pelajaran mas lambang.
    maksih banyak ya mas lambang, cerita yang sungguh sesuai dengan apa yang akan terjadi pada saya besok….

    ======================
    :: Lha koq saya jadi kayak Mama Laurent ya…🙂
    ======================

  4. batjoe says:

    mas tono pati jingrak-jingakrak tuh mas lambang
    eeee….. kok diakhir cerita ada sedikit X ya..
    atau emang lagi heheheheheheeeeee

    ======================
    :: Hehehe… cuma bumbu aja, biar enda hambar…
    ======================

    • m4stono says:

      ah gak juga biasa aja kok…kecuali kalo yg asli di gambarnya itu dateng ke rumah saya lha bisa semaput saya saking senengnya…hihihihhii

      ======================
      :: Hihihi… semaput…
      ======================

  5. KangBoed says:

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang
    ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank sukses selalu yaaaak
    I Love U fuuulllllllllllllllllllllllllllll

    ======================
    :: Salam Persahabatan.
    ======================

  6. tomy says:

    mari bersama meski bukan satu provinsi kita sukseskan program Pak Bibit Waluyo *Gubernur Jawa Tengah* Bali Ndesa Mbangun Desa

    ======================
    :: Setuju mas. Jangan duit negara dipakai buat Jakarta saja…
    ======================

  7. batjoe says:

    kalian semua emang lucu deh…
    indonesia pasti bangga punya kalian..
    salam merdeka dan salam mojok aja

  8. Loh, koq malah!
    Mojok itu remis, Joe!
    Ngak ada jalan merdekanya.

    Salam Merdeka!

    ======================
    :: Tuh kan… susah kalau ngomong sama Bung MK.
    Mojok emang ngga nyambung sama Merdeka.
    Tapi kalau mojok di lapangan Merdeka, baru nyambung.
    Salam Mojok!

    ======================

    • batjoe says:

      hahahahahahahahaha
      emang lucu deh kalian semuanya..
      pulang laper lagi senin-kemis nemuken kalian padA becanda dengan kata-kata jadinya enak banget..
      emang susah mas lambang ngelawanin bicaranya mas MK salah meluluh langkahnya..
      bagaimana dong…??

      ======================
      :: Wuah, mas MK itu sudah tingkatan advanced.
      Rada susah ngelawannya.
      Paling kalau kepleset baru ketahuan salahnya.
      Moga-moga komennya kepleset lagi.
      Salam Pleset!

      ======================

  9. Lailah! Kornel lagi!
    Pan udah peluit panjang.
    Hujan sudah reda; Mulih!

    Salam Tigakali Prit!

  10. qarrobin says:

    jadi sedih nih,

    hahaha…endingnya bikin bintul ya mas

    ======================
    :: Hehehe… endingnya sengaja dibuat gitu biar ngga terlalu dramatis kek sinetron…🙂
    ======================

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s