Satu Malaikat Yang Menangis Dan Doa Seribu Iblis

Pada fajar yang bening, Karmadi sudah berkecipak dengan pancuran di sebuah sendang dekat suraunya. Seperti biasa, menjelang subuh Karmadi terlebih dahulu mandi dan bersuci. Hampir sudah menjadi kebiasaan, setiap berwudhu, Karmadi akan selalu mengulanginya sampai dua – tiga kali. Masalahnya, setiap kali Karmadi membasuh mukanya, nyaris selalu disusul dengan semburan kentutnya. Sepertinya dia tidak pernah mau menahan kebiasaan itu. Sehingga yang terjadi adalah batal, wudhu lagi, batal dan wudhu lagi.

Di kampung Goleo Karmadi dikenal dengan manusia Alhamdulillah. Itu karena kebiasannya yang selalu mengucapkan alhamdulillah dalam keadaan apapun. Pernah ketika pada acara tahlilan bersama pada hari tasyakuran desa, Karmadi didatangi keponakannya Sarmin dengan wajah penuh isak air mata.

“Pak Lek, Darsono putra Bapak kecelakaan, jatuh dari motor”

“Motornya hancur ?”

“Ya, tapi masih bisa berjalan meski sedikit ngadat”

“Alhamdulillah” kata Karmadi

“Darsononya bagaimana?”

“Patah kakinya…”

“Alhamdulillah, tidak mati. Langsung saja Bantu kamu bawa ke rumah sakit” jawab Karmadi tanpa beban.

Begitu juga ketika pernah pada kesempatan yang lain, Karmadi dengan ketiga temannya pergi ziarah ke Demak. Di sepanjang jalan mereka melihat sungai yang menjadi tumpuan kehidupan orang-orang sekitarnya. Mereka memanfaatkan air sungai yang tidak begitu bening itu dengan mencuci pakaian, mandi, bahkan ada yang buang hajat. Tiba-tiba Karmadi dan temannya melihat seorang gadis mandi dengan telanjang. Sontak ketiga temannya mengucap “Astaghfirullah” sambil menutupkan kedua telapak tangannya ke muka masing-masing. Tapi tidak dengan Karmadi. Ia malah mengucap “Alhamdulillah”, dilihatnya dengan serius gadis yang tampak mandi telanjang itu.

“Kok kamu malah menikmatinya Kang ” Tanya temannya.

“Bagaimana saya tidak bersyukur dengan kedaan mereka sekarang, coba bayangkan, bagaimana lebih susahnya mereka kalau musim kemarau datang berkepanjangan, mau kemana mereka mandi?” jawab Karmadi.

Sebutan manusia Alhamdulillah bagi Karmadi memang beralasan.

***

Subuh menggantang bersama pagi yang kian terbit. Di pekarangan belakang rumah Karmadi sudah mengolah tanah. Setiap dia mengangkat cangkul dalam hatinya terus berucap lafal “Allah”, membuktikan bagaimana tingkat kepasrahan Karmadi kepada TuhanNya kental sekali. Hari-hari Karmadi memang dijalaninya dengan ketundukan yang luar biasa. Hatinya begitu dijaga dari kecenderungan lahirnya niatan yang tidak baik. Karmadi memang sudah terbiasa menjalani kehidupannya dengan apa adanya. Kesabaran jiwanya semakin terolah seiring butiran-butiran keringatnya yang menetes setiapkali mengayunkan cangkulnya di bawah terik mentari. Ya, semangat Karmadi memang bagai baja dalam menjalani kehidupan.

Bayang-bayang semakin memanjang pertanda pagi semakin siang. Dan udara begitu terasa panas. Biasanya Karmadi istirahat sejenak sembari menunggu datang waktu shalat dhuhur.

Sudah bertahun-tahun karmadi melakukan ritme rutinitas kehidupannya yang nyaris istiqomah dan tidak berubah. Karmadi begitu tunduk dengan kedisiplinan waktunya sendiri.

Tapi dalam tiga tahun terakhir ini, Karmadi hampir kehilangan semangatnya dan pernah berfikir mau alih profesinya sebagai petani. Kalau saja tidak disemangati oleh istrinya, Jatiyem, mungkin Karmadi sudah pergi dari kampung ikut teman-temannya merantau ke kota jadi kuli bangunan dengan gaji harian.

“Tidak mungkin bu kita bertahan dengan kondisi yang seperti ini. Kalau paceklik terus menerus, mau makan apa kita bu…”

“Sudahlah pak, sabari saja. Siapa tahu Tuhan lagi menguji kita”

“Bagaimana ibu mengatakan semua ini ujian, sementara alam sudah mmeberikan isyarat nyata, bahwa kemarau seperti akan berlangsung begitu lama”

“Betapapun begitu, tapi kekuasaan Tuhan kan begitu ghaibnya. Tak bisa diduga”

“Justru karena itu, Tuhan anugerahkan tanda-tanda lewat alam ini, agar kita cerdas memepergunakan alam fikir kita” bela Karmadi.

“Tapi ingat Pak, jangan gegabah dalam mengambil sebuah tindakan, hanya gara-gara salah berfikir, sudahlah sabari saja, siapa tahu Tuhan punya perhitungan lain”

“Ya, kita sudah ikhtiar …”

“Sssssst…”, menyusul Jatiyem yang langsung menutup mulutnya, seperti tidak ingin mendengar bahasa keluhan itu muncul dari suaminya.

“Yakinlah sama Tuhan …” pinta Jatiyem lebih lanjut.

Dan kembali Karmadi bertahan dengan kehidupannya semula.

***

Pada hari berikutnya, Karmadi benar-benar tetap kembali ke sawah. Meski kemungkinan untuk bisa panen begitu sulit, sebab pengairan yang tidak cukup. Dasar Karmadi, tetap diangkatnya cangkul dan diolahnya kembali tanah garapan yang sudah tandus itu. Segala cara dicoba Karmadi untuk dapat mengairinya.

Bertahun-tahun Karmadi sudah bertekad menjadi petani. Nyaris tak ada pilihan profesi yang lain. Itu dijalaninya dengan penuh keyakinan.

Pernah Karmadi dibantu keponakannya Sartin yang mahasiswa, berusaha mengajukan proposal ke pemerintah daerah setempat, agar dibantu mesin traktor pengolah tanah dan pembuatan irigasi bagi sawah-sawah mereka tetap tak membuahkan hasil.

Meskipun di negerinya sendiri seorang petani seperti Karmadi kurang begitu dihargai jerih payahnya oleh pemerintah, sama sekali Karmadi tak berputus asa. Bahkan ketika hasil panennya pun kurang dihargai oleh pemerintah tetap saja Karmadi senang menjadi petani. Maka ketika pemerintah melakukan impor beras dari luar negeri, Karmadi hanya bisa membalasnya dengan doa.

“Semoga pemerintah mengerti bagaimana perihnya nasib kami…”katanya.

Menyusul Karmadi lanjut mencangkul untuk yang berikutnya, tiba-tiba tanah garapan itu tersinari oleh cahaya matahari dengan begitu terangnya. Tidak seperti biasanya. Udara pun malah menjadi dingin. Karmadi menjadi sangat terheran. Lantas cahaya itu merangkul tubuh Karmadi.

“Sungguh kamu memang petani yang mukhlis Karmadi …” kata cahaya itu dengan lembutnya.

“Ah, kamu terlalu berlebihan, tidak ada yang bisa dibanggakan seorang petani, harga beras menjadi mahal dinegerinya sendiri yang subur”

“O, jangan dikira, orang seperti kamulah yang sesungguhnya berjasa untuk negara ini. Bagaimana kalau tidak ada orang seperti kamu di negeri ini, mau makan apa mereka …” tanya cahaya balik.

“Mereka tetap makan, bahkan mereka makan dengan beras impor” belanya.

Disadari Karmadi, Cahaya itu telah memberinya semangat berlimpah ruah untuk terus tetap menjadi petani.

“Siapa sebenarnya kamu, kok tiba-tiba ikut menyemangati pekerjaanku ?”

Dengan tersenyum Cahaya itu menjawab, “Saya adalah satu malaikat yang diutus Tuhan untuk tetap menyemangati kesabaran niatmu dalam mengolah kesuburan tanah semesta ini.”

“Tapi …”

“Ya, kamu telah mengolah ketulusanmu dengan sempurna dalam hidup ini …” sahut cahaya memotong omongan Karmadi yang membuat keyakinannya nyaris tak percaya.

Belum sempat Karmadi menjawab, lantas cahaya itupun sirna.

Karmadi masih terdiam. Dia tertegun beberapa lama.

Setelah kejadian itu menyusul seribu iblis berduyun-duyun bertandang ke rumahnya.

Pagi-pagi sekali selepas Karmadi menjalankan sholat subuh, beberapa iblis yang menyamar seperti kyai menemuinya.

Tak lupa, rombongan iblis yang mengaku sebagai kyai itu pun mengucapkan salam.

“Ada maksud apa, hingga membuat orang terhormat seperti kalian pagi datang kemari” Tanya Karmadi sedikit heran.

“Kami sangat terharu dengan ketulusan Bapak yang sekian tahun bertani tanpa pernah letih” kata iblis yang satu.

“Ya, bapak pun tak pernah tinggalkan sholat” sahut iblis yang lain.

“Astaghfirullah…, maksud sampeyan apa?”

“Atas kemuliaan yang pak Karmadi miliki, kami ingin mengundang Bapak pada acara khataman pengajian menyambut ramadhan, untuk bercerita
tentang keikhlasan sebagai syarat pengabdian kepada Tuhan” tukas salah satu iblis.

“Wah itu bukan bidang saya!” tegas Karmadi.

“Bapaklah yang pantas menurut ukuran kami, sebab bapak adalah seorang petani…” sahut iblis kemudian.

Dan para iblis itu pun mengeluarkan berondongan alasan sehingga membuat hati Karmadi menjadi yakin kalau itu juga menjadi bagian dari cara beribadah, menebarkan hikmah setiap kebaikan kepada umat yang lainnya.

“Kami bersyukur pak Karmadi menerima tawaran kami, semoga bapak dapat diangkat derajatnya kelak di sisiNya” para iblis pun bersuka cita atas kesediaan Karmadi, dan mereka pun berpamitan.

“Alhamdulillah … alhamdulillah” jawab Karmadi sebagaimana tetap pada kebiasaannya.

***

Pada hari yang dijanjikan pun sudah datang. Pak Karmadi disambut bagai tamu agung yang sangat terhormat.

“Maaf, saya hanya seorang petani” kata Karmadi merendah. Rona pipinya sedikit memerah menandakan ada perasaan malu.

Ya, pengalaman pertama yang sangat luar biasa bagi Karmadi. Apalagi seumur-umur belum pernah diperlakukan seperti itu.

“Silahkan pak Karmadi, memberikan pengalaman batinnya ketika beribadah lewat bertani”, kata pembawa acara.

“Baiklah, terima kasih…” jawab Karmadi yang langsung disusul naik ke atas mimbar.

“Sebelumnya saya minta maaf, bahwa sebenarnya saya sangat tidak pantas berdiri di hadapan bapak-bapak, para kyai dan semua tamu undangan di sini. Sebab saya hanyalah seorang petani. Sementara hadirin semua adalah orang-orang terhormat, saya tidak bisa menyangkal itu…apa sih yang bisa dibanggakan oleh seorang petani kecuali kalau tiba masa panen …dan maaf sekali lagi, ini bukan ceramah karena saya bukan kyai, tapi anggap saja ini adalah berbagai pengalaman. Kalau bukan karena para kyai yang meminta dan mendorong kepercayaan saya, tentu saja saya pasti sudah menolaknya” lagi-lagi Karmadi selalu merendah dengan kata-katanya disambut tepuk tangan para jamaah.

Setelah memaparkan pengalamannya sebagai petani, Karmadi pun segera berpamitan. Dan salah satu panitia langsung menyelipkan amplop yang berisikan uang sebanyak lima juta rupiah ke saku Karmadi.

Karmadi sangat terkejut. Dia begitu tidak terbiasa dengan pengalaman itu. Ditolaknya amplop yang nyata-nyata sudah menjadi haknya.

“Pak Karmadi, uang ini halal untuk bapak. Semua memang sudah dipersiapkan buat pak Kar” kata panitia.

“Saya tadi tidak ceramah, tapi hanya sekedar menceritakan pengalaman saya sebagai petani, tidak patut rasanya untuk dihargai …” jawab Karmadi.

“Justru karena niat bapak seperti itu, pak Kar sangat pantas mendapatkan penghargaan ini. Jarang ada orang yang mau seperti bapak Yakinlah, sungguh uang ini halal…” panitia kembali memaksa Karmadi untuk menerima amplop. Maka diselipkankah ke saku celana Karmadi.

“Alhamdulillah” kata Karmadi dalam hati.

Sejak saat itu Karmadi sudah mulai merasakan nikmatnya uang.

Tak sampai dua bulan, uang lima juta rupiah di tangan Karmadi nyaris hampir habis. Dia belikan kulkas, mesin cuci, rice choker, tv,vcd, dan sisanya untuk memperbaiki ruang tamunya, dengan harapan agar tidak memalukan dan sedikit ada harga diri kalau ada tamu. Apalagi di dalam hati Karmadi, sekarang telah mulai tumbuh benih perasaan akan orang-orang yang telah menghargainya. Kebiasaan dia mengolah sawah setiap harinya pelan-pelan sedikit ditinggalkan. Hari-harinya mulai asyik di depan televisi sembari menunggu-nunggu jika ada tamu yang mengundangnya untuk ceramah tentang ketulusannya seperti hari sebelumnya lagi.

***

Hari, saat datang terik siang, satu malaikat yang pernah datang kepada Karmadi dengan tersenyum karena ketulusannya kembali menguji kebaikannya. Dia sengaja datang dengan menyamar sebagai pengemis yang kelaparan.

“Pak tolong kami lapar …, kasihani kami …” pintanya dengan menghiba.

“Tidak …” jawab Karmadi.

“Tolong saya pak …” melasnya lagi.

“Tidak…,besok sendiri saya makan apa ?”

“Seribu saja pak?”

“Untuk modal !” cetusnya.

Maka pergilah satu malaikat yang diutus Tuhan untuk kembali menguji keimanan Karmadi dengan hati yang gundah dan mencucurkan air mata.

Sementara para iblis, dari arah yang lain bertepuk tangan dan berpesta pora, karena telah berhasil menggiring kebiasaan Karmadi yang kerapkali rajin mengucap kata-kata syukur “alhamdulillah”, sekarang telah berganti dengan perasaan hatinya yang serba tidak cukup. Apalagi setiap melihat orang-orang yang lebih sukses darinya.

Kini, Karmadi memang telah kehilangan jiwanya seperti awal yang pasrah, qanaah dan pandai bersyukur. Sungguh kemenangan doa seribu iblis, dan menangislah sang malaikat getir menyaksikan Karmadi yang menjadi durhaka.*** (Panjang, Bandar Lampung, 13 September 2006)

—===oooOooo===—

Sumber: Satu Malaikat Yang Menangis Dan Doa Seribu Iblis, Mustaqiem Eska
Gambar: dari sini
Google Similarity Search Result pada tgl 01-Oct-09 : 3 articles

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Clipping, Kehidupan, Pencerahan, Renungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

44 Responses to Satu Malaikat Yang Menangis Dan Doa Seribu Iblis

  1. Astagfirullah Kang Karmadi …!
    Apa “alhamdulilah”-nya dioper ke Jatiyem, ya!
    Istri yg gemar menyemangati suaminya itu.

    Jangan-jangan dia biangnya, Bung!
    Biang seribu Iblis itu loh.
    Soale ending dia gelap.

    Tanya:
    Apa setelah Karmadi astagfirullah,
    Jatiyem menjadi gemuk-aduhay?

    Salam Hehehe Lah!

    ======================
    :: Enda dijelaskan sih gimana kelanjutan peran Jatiyem.
    Boleh pula diduga ending-nya gelap atau jadi gemuk semlohoy.

    Salam Okey Deh!🙂
    ======================

    • Gemuk-semlohoy!?
      Hehe …
      Spesifikasi baru, ya Bung!

      Emang permpuan gemuk,
      Cenderung cocok utk dipersalahkan.
      Entah lah, apa dugaan ku salah, ya!

      Salam Persahabatan!

      ======================
      :: Hehehe… dugaannya salah.
      Semlohoy itu hanya slang untuk si Jatiyem yang diduga ending-nya gelap itu. Enda tahu kalau yang lain.🙂

      ======================

    • Hehe!
      Jatiyem gemuk semlohoy.
      Kletannya lebih melambai-lambai.

      Harusnya nggak usah pake nama klo perannya sekilas saja lalu gelap. Namanya keren lagi. “Jati” walau pake “yem” kedengaran keren loh, “tough and solid”.

      Istri,
      Menurutku bagai ruh rumah tangga.
      Suami bagai dagingnya.
      Anak jiwanya.

      Salam Damai!

  2. m4stono says:

    oooo jadi nama asli kang lambang itu karmadi yah…hihihihihi……ya memang begitulah kehidupan, kadang saya juga merasa kok ndak kaya2 ya….tapi kemudian saya berpikir lagi dan setelah membaca artikel ini bahwa wajib bagi kita utk mensyukuri dengan apa yg kita capai dan dapatkan, mungkin juga kalo kita diberi rejeki berlebih bisa seperti karmadi, inilah kehidupan, memang ujian yg berupa musibah itu lebih mudah untuk lulus dibanding ujian dalam bentuk kenikmatan berupa harta pangkat dan ngatemi………..tapi ya itu kang….yg dilematis adalah disaat kita nrimo dan mensyukuri dengan kehidupan yg pas2an apa ya kita tetap tidak berusaha utk mencapai taraf hidup lebih baik, kan islam mengajarkan bahwa mukmin yg kuat itu lebih dicintai Allah ketimbang mukmin yg lemah, sedangkan kalo kita diberi kekuatan sedikit saja bisa berupa harta dan kedudukan jangan2 kita malah lupa daratan seperti karmadi…..saya kira solusinya adalah berdoa agar diberi rejeki yg terbaik buat kita juga tetap berusaha tapi tidak ngoyo serta sabar syukur dan ikhlas karena Allah……….

    ======================
    :: Setuju dengan solusinya itu Kang.
    Nah, ini baru keluar ilmunya Kang Tono. Coba kalau komennya selalu top markotob kek gini, kan jadi enak buat saya dan mungkin pembaca yang lain. Bisa ikutan menimba ilmu dari Kang Tono. Kalau perlu ilmunya disedot pakai jetpump.
    Hayo komeng lagi Kang…🙂
    *tapi gratisan ya*

    ======================

    • m4stono says:

      haaaalaaah kang saya itu ndak tahu apa2 sebenarnya, modal saya hanya mbah gugel, wikipedia, ama sering nguping pembicaraan orang……. qiqiqiqiqiqiqiq… klo mo nyedot jangan pake jetpump mas…. pake ngatemi yg aseli dari jepang sono dan kena gigi asal gak keras2 uang gak kembali koq……… hihihihihihhi :mrgreen:

      ======================
      :: Wekekekkkk, mbaliknya koq ke Taman Luweng lagi…🙂
      ======================

  3. hh says:

    “Hari-harinya mulai asyik di depan televisi sembari menunggu-nunggu jika ada tamu yang mengundangnya untuk ceramah tentang ketulusannya seperti hari sebelumnya lagi.”

    Hehehe…….bagaimana mungkin datang lagi undangan ceramah ketulusan bertani dalam keadaan tidak tulus lagi?

    Btw,
    Yang sumbernya dari iblis, uang lima juta atau ketidaktulusan sebagai petani, plus Yatiyem yang tidak lagi menyemangati Darmadi untuk tetap tulus bertani?

    ======================
    :: Wah enda tahu soal kemungkinan undangan itu.

    Yang bersumber dari iblis, keknya bisa dari ketiganya. Lima juta dari EO agar lain kali mau diundang lagi untuk menggaet pengunjung yang membludak. Ketidak tulusan bisa dari ego yang kena kompor. Jatiyem juga kesamber dikit karena merasa makin nyaman dan tidak berusaha mengingatkan.🙂
    ======================

  4. Filarbiru says:

    Hancur dah

    ======================
    :: Iya, kota Padang emang hancur kena gempa kemarin. Mudah-mudahan yang terkena musibah diberikan keteguhan iman dan hati.
    ======================

  5. Fitri says:

    Kalau nama asli mas Lambang adalah Karmadi, berarti….?
    Ini kisah nyata?

    ======================
    :: Bukan. Itu nama yang dibuat oleh si pengarang (Mustaqiem Eska).
    Nama asli saya ya Lambang itu.
    Soal kisah nyata atau bukan, mesti tanya sama yang ngarang artikel ini.🙂

    ======================

  6. lovepassword says:

    Wah jangan-jangan elo lagi nyindir para pemuka agama mulai banyak yang mata duiten . Hi Hi Hi

    ======================
    :: Bisa juga. Kebetulan saya cocok dengan isi artikel itu, makanya di posting ulang di sini, sekalian untuk koleksi pribadi.🙂
    ======================

  7. lovepassword says:

    All : Mestinya komentarnya gini : Alhamdulilah telah diberi pencerahan sama Mas Lambang.

    ======================
    :: Hehehe… keknya ada yang salah persepsi…
    ======================

  8. Di sini:
    http://lovepassword.blogspot.com/2009/08/merdeka-merdeka-merdeka-antara-socrates.html
    Kutulis gini:

    Yah! Banyak!
    Sibuk menghitung uang jual tuhan-tuhanan
    Tuhan masa lalu dan tuhan masa depan.
    Tuhan masa kini tak laku jual kali ya!

    Salam Rangkap Tiga!

    ======================
    :: Duh, sorry… komennya ketangkep satpam 4 hari yang lalu.
    ======================

  9. Lambang says:

    Untuk Mas Batjoe,

    Postingan saya tentang YouTube tutorial udah jadi di http://lambangz.wordpress.com. Mudah-mudahan bisa membantu Mas Batjoe atau rekan lain yang kesulitan memasang YouTube.
    Blog itu rencananya akan diisi dengan artikel tentang teknologi, sains, IT, kemanusiaan, renungan dan pencerahan. Thema yang jauh berbeda dengan blog ini.

    Salam Persahabatan.

    • m4stono says:

      ke TKP….hmmm….hhmmmm…kok isinya cuman atu post……mbok ngatemi dipindah ke situ kang…kan malu udah pamitan ama bapaknya kok balik maning ke jogja………..ditunggu miyabinya yah di rumah itu…wikikikikiki… :mrgreen:

      ======================
      :: Hiyaa…. jadi malu nih😳 Wong itu tadinya blog eksperimen. Cuma buat coba macem-macem. Nah Mas Batjoe minta tutorial. Kalau ditaruh di sini nggak cocok dengan thema, jadinya ditaruh di situ. Mungkin di situ nanti mau diisi artikel tentang JAV Idols atau Miyabi Fans Club… qiqiqiqi….
      ======================

    • Fitri says:

      @Mas Lambang
      Weeee…

      Punya blog eksperimen ya??

      Kenapa tidak disadap saja artikel di blog ini, supaya yang berkunjung ke blog ini bisa langsung mengklik artikel tersebut dari rumah mas lambang.

      @Mas Batjoe
      Pertanyaan mas Batjoe tentang menyadap artikel sudah saya jawab di blog haniifa.

      Selamat mencoba.

      ======================
      :: Iya dik, untuk sementara saya tidak ingin menghubungkan blog ini dengan blog Lambangz itu karena thema-nya jauh beda.🙂
      ======================

      • batjoe says:

        lha piye tho mba kok ngasih infonya kemari…
        mba fitri saya malu sekali sekarang…
        membuat diri sendiri tolol banget

        ======================
        :: Malu adalah tanda-tanda keimanan seseorang, kata simbah saya.
        Enda usah gitu lah mas, sayapun juga merasa tolol kalau ngomong hal-hal yang diluar pengetahuan saya. Misalnya ngomong Miyabi itu, sebenernya saya enda tahu apa-apa, malah saya dapet ilmu tambahan tentang JAV dan Keiko dari KangTono.🙂
        *kunci pintu sebelum dilabrak KangTono*

        ======================

      • @joe

        Pan kemaluan ada tiga,
        Dan cerminnya pun ada tiga,
        Go blog ku lah!

        Salam Damai!

        ======================
        :: Cintapun juga jadi tiga.
        Cinta karena, cinta kalau dan cinta walau.
        Damai di hati!

        ======================

      • m4stono says:

        ngatemi = “iiiihhhh kang lambang koq gitu siiih, lha itu poto saia dapet dari mana hayooooo ngakuuu…! tapiii kang lambang ngangenin deeh…diajeng jadi kangeen nih….ayooo dunk…boyong lagi ke jakartaaa…pan kita bisa pacaran di monas…di ragunan, ama di lubang buaya…..cekikikikikikik :mrgreen:

        ======================
        :: Waduh, udah telat ya diajeng.
        Mestinya tanggal 30 Sep kemarin ya kita ke lubang buaya. Habis ziarah terus mojok deket warteg yang kita pernah nyasar kesana ituh.:mrgreen:

        ======================

  10. andipeace says:

    sala mkenal
    ini kisah nyata sampean ta??
    patut diambil hikmahnya

    ======================
    :: Bukan mas. Ini kisah nyata ponakannya tetangga pak lurah dari simbah saya di kampung.🙂
    ======================

    • m4stono says:

      nah loe kang…bukan saya lho yg nanya ini pengalaman pribadi sampeyan ayo karmadi eh…mas lambang ngaku ndak….hihihihihihi……. :mrgreen:

      ======================
      :: Enda koq. Itu sudah saya jelaskan di komen atas… hihihi…:mrgreen:
      ======================

  11. dBo says:

    Salam kenal..,

    Sayang kelanjutan ceritanya blm ada,
    Maksud saya apakah para Umat Iblis tadi sudah membentuk semacam lembaga, misalnya Majelis dan mengeluarkan Fatwa2 dsb.
    Terus apakah organisasi afiliasi, misalnya Front Pasukan atau apalah…

    Lanjutkan…
    Gitu aja kok repot…he..he..he..
    (maaf..koment kok ora nggenah)

    ======================
    :: Hihihi… silahkan dilanjut sendiri mas. Entar artikelnya kepanjangan, kasihan yang mbaca. Tapi keknya 1000 iblis itu lagi pingin gabung ke lembaga permusyawaratan…:mrgreen:
    ======================

    • @dB0
      Salam Maya, BO!

      Semua kita bisa dan mampu melanjutkannya.
      Aku pun pingin melengkapinya dgn rekaan nakal.
      Tapi apa Bung Lambang dan pemilik ide setuju diguyonin?

      Salam Damai!

      ======================
      :: Wah, kalau saya sih setuju saja. Pemilik ide harus setuju juga karena saya kan tidak merubah isi apapun dari artikelnya.
      Ayo mas MK, keluarkan seluruh idenya all out dan out of the box… hehe..🙂

      ======================

      • Beklah! Mari dBO kita lanjutken. Nda papa katanya dianu-anuin pun, bebas sebatas martaba. Aku mo coba plintir 1000 Iblis itu dan biang-biangnya sekalian satu-satu. Tapi, wah! Butuh seribu hari jadinya, yak! Ok deh!

        Don go ewe!
        Artinya:
        Jangan pigih jau-jau

        Ail be rait bek!
        Artinya:
        aku akan menjadi bek kanan!

        Salam Sekejap!

        ======================
        :: Ail bi bek!
        Artina: Saya mau ke belakang dulu! Mules nih.🙂

        ======================

      • @Bung Lambang

        Mules itu mules.
        Mojok itu mojok.
        Beda.

        Mules ya ke lubang jamban.
        Mojok ke Lubang Buaya.
        Gitu loh! Hehehe! Ketauan.

        Ail be rait bek!

  12. tomy says:

    nggayuh kasampurnqan urip iku pancen dudu dalan kang gampang kepara rumpil tur angil
    wis diati-ati olehe jangkah meksa kesandung gelunge Yu jatiyem:mrgreen:

    ======================
    :: Memang susah itu mas, kita sudah ati-ati lha Yu Jatiyem malah enda tahu kalau gelunge ngglundhung ke tengah pintu. Gimana enda kesrimpet…🙂
    ======================

  13. batjoe says:

    mas lambang ada artikel baru dalam hitungan jam dan saya terjebak dalam keemosian. saya menyadari kekeliruannya dan dengan 2 komentar saja telah menjatuhkan saya kembali.
    mohon koreksinya mas lambang.
    malu saya mas lambang kalau begini dan rasanya mau saya delete saja artikel dan blognya karena saya sudah msuk ke bara api emosi.
    maaf ya mas lambang sebenarnya mas lambang sudah mengingatkan.

    ======================
    :: Solusinya gampang aja mas. Hapus isi artikel yang itu, lalu ganti dengan tulisan “Maaf, artikel saya tarik dari peredaran karena sudah tidak relevan lagi.” Selesai. Win-win solution.

    Saya sudah pernah mengalami hal itu pada waktu dulu ada kesalah-pahaman dengan KangBoed di awal blognya mengudara.

    Blog tidak perlu di-delete. Bukankah malu tidak akan bisa diatasi dengan menghancurkan cermin atau wajah sendiri? Justru disitu akan muncul tantangan baru, bagaimana mengubah persepsi orang terhadap diri kita. Toh sumbernya hanya pikiran kita sendiri yang membuat semua terkesan kusut. Kalau pikiran kita mengurai, semua juga akan tampak indah dan berpendar…🙂
    ======================

    • Aku puntelah coba mengentengkan.
      Tindak lanjut jadi berat dan panas bara.
      Lantas, lalu lintas kembali duniawi sebelumnya.

      Salam Persahabatan Joe!

      ======================
      :: Semua ganjalan dan rintangan,
      Biarlah itu menjadi masa lalu,
      Toh ganjalan dan rintangan baru akan muncul,
      Dan kita harus hadapi itu semua,
      Agar dia kembali menjadi masa lalu.

      ======================

      • Akur Bung!
        Yang lalu, lalang lah,
        Yang nanti datang lah.

        Kupikir pun gituh.
        Masa lalu adalah tadi
        Masa depan adalh nanti

        Tadi aku daging
        Nanti aku roh
        Kini aku jiwa

        Jiwa adalah kesempurnaan.
        Lain-lainnya adalah takdir.
        Muliakan lah, Mba Joe!

        Salam Damai!

      • batjoe says:

        udah enteng sekarang mas MK….
        bagaimana caranya lebih mengentengkan lagi ayo???

        lari pagi tapi jangan lupa sholat subuh..
        ini katanya bang haji rhoma irama lho bukan saya hahahahahahaaaa.

      • Mulai kini menabung lah, Joe!
        Tabung lah jiwa mu pd jiwa-jiwa.
        Luapannya itu akan mengapungka kita.

        Mulai lah kini.
        Karena kini menjadi dulu nanti

        Nah, keutaman kita adalah nanti, kan.
        Karena yang nanti adalah roh. maka
        Jadikanlah rohmu berjiwa,
        Bukan jiwamu yg beroh.

        Roh-berjiwa ngapung luhur.
        Jiwa-beroh nabrak-nabrak pohon ngagetin orang.
        Kali!

        Salam Percobaan!

        ======================
        ::
        Roh berjiwa ngapung luhur
        asal jiwanya bagus
        Kalau jiwanya babaliyut
        roh juga ngikutin
        nabrak pohon juga

        untung pohonnya kecil
        bablas ditabrak roh
        tapi roh kena batunya juga
        nabrak batu beneran
        rohnya yang kelabakan

        *belajar gaya tulisan bung MK*
        ======================

      • Maksudku,
        Roh berjiwa itu roh lah yg membungkus jiwanya.
        Jiwa beroh itu jiwa lah yg membetot rohnya.
        Ecek-eceknya kayak gitu, Brath!

        Tengok lah dongeng arwah gentayangan.
        Keknya itu yg kumaksud Jiwa-beroh,
        Ada jiwa yg penasaran kpd dunia.

        Salam Damai!

      • Lain kate,
        Cinta kesumat duniawi menjadikan Jiwa-beroh,
        Cinta kesumat surgawi menjadikan Roh-berjiwa.
        Tak cinta tak kesumat tak menjadikan roh apapun,
        Spt binatang kali matinya, yak.

        Salam Persahabatan!

        ======================
        :: Binatang pun ada yang mati dengan anggun. Sang gajah yang mencari jurang untuk pemusnahan diri.

        Korban WTC hampir semua mati tertimbun. Setelah beberapa puluh hari baru bisa diangkat. Jelas lebih parah dari cara matinya sang gajah. Apakah jiwanya ber-roh atau rohnya tak berjiwa? Tidak mudah untuk menarik kesimpulan.

        Mati hanyalah jalan akhir kehidupan. Menjadi pelajaran dan cerminan bagi yang hidup. Tapi bukan berarti cara mati menunjukkan perilaku. Seperti cerita Nabi Isa yang wafat di salib. Atau Nabi Muhammad yang diduga wafat di racun.

        Please reply kalau ada opini lain!
        ======================

      • Yah!
        Itu bukan kesimpulan. Itu hanya ecek-ecekku saja, Brath. Dan soal korban WTC dsb, kita tak bisa tau apa yg dikesumati mereka masing-masing selama hidupnya dan at the last moment. Mungkin himpunan kesumat itulah yg menjadi spontanitas jiwa kita berkehendak dan beraksi. Berkehendak at the last moment adalah kunci kita utk rohberjiwa ato jiwaberoh … hehe!
        Kali!

        Salam Nambah!

        ======================
        :: Kali juga yah…
        Salam Ecek-ecek!

        ======================

    • batjoe says:

      udah boz… artiekl udah ku delete dan diganti dengan yang lebih sopan hahahahaha

      kemarin aku daging
      mudah-mudahn aku bis menjadi roh dan
      kembali ke jiwa yang bersih lagi

      makasih mas lambang dan mas MK

      ======================
      :: Siiiip…….
      Nyanyi lagunya Akhmad Albar dulu:

      Dunia ini… panggung sandiwara…
      Ceritaaaaa…nya… mudah berubaaaaah…
      Kisah Mahabarata… atau tragedi dari Yunaniiiiii……

      Setiap kita…. dapat satu peranan…
      Yang haruuuuuuus kita mainkan….

      Ada peran wajar..
      ada peran berpura-puraaaaaaaa…

      Mengapa kita bersandiwaraaaaaa…
      Mengapa kita bersandiwaraaaaaa…

      Peran yang kocak bikin kita terbahak-bahak…
      Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang…

      dunia iiiiiiniii penuh peranaaaan…
      dunia iiiiiiniii bagaikan jembatan kehidupan…

      Mengapa kita bersandiwaraaaaaa…
      Mengapa kita bersandiwaraaaaaa…

      *Akhmad Albar Fans Club*

      Dunia ini panggung sandiwara adalah frase yang diutarakan oleh karakter Jaques dalam karya William Shakespeare berjudul As You Like It.
      ======================

      • batjoe says:

        wah ndak ngerti inggrisnya ngertinya godbless..
        salam kangen bat mas lambang beberapa hari ini mau istirahat dulu.
        mulai cape tapi ngintip-ngintip dikit hehehehe

      • Joe!

        Menadi roh itu bukan mudah-mudahn, Joe!
        Menjadi roh itu memang mudah koq.
        Menjadi roh-berjiwa yg sulit.

        Salam Mudah!

      • batjoe says:

        salam mudah juga mas MK..
        saya sudah mengerti apa-apa yang mas MK puitiskan..
        Menjadi roh berjiwa itu yang sulit…
        setuju….
        makasih mas lambang dan mas MK..

        salam ndak tahu lahgi hehehehee

  14. yang-kung says:

    Tanpa kerendahan hati,kita tak akan pernah berkembang, dan tak akan membawa kebaikan bagi sesama.

    Allah selalu lebih memberkahi karya yg dimulai dengan kerendahan hati,dpd karya yg dilakukan dng gembar gembor.

    salam rahayu.

    ======================
    :: Terima kasih atas kunjungan dan pencerahannya YangKung.
    Kami-kami ini yang masih muda dan bau kencur (*halah*) terkadang sok tahu, suka lupa diri dan suka lupa Dia.
    Mudah-mudahan kita dapat selalu mengingat dua hal itu.
    Salam Persahabatan.🙂

    ======================

  15. grubik says:

    wah, iblisnya kok nyamarnya jadi kyai ya?

    ======================
    :: Keknya Iblis bisa nyamar jadi apa saja, kecuali nyamar jadi malaikat atau Tuhan…🙂
    ======================

  16. Iblis mah lebih doyan jadi tuhan-tuhanan, keknya.
    Soale mereka udah pada pensiun dini menjadi iblis,
    Malu melihat manusia telah lebih sadis dari mereka.
    Aha ehe hmm!

    Salam Damai!

    ======================
    :: Malah katanya ada iblis yang di tipu manusia.
    Bah, nggak tahu cem mana pulak ceritanya bisa gitu.

    ======================

  17. Keknya Bung Lamb sedang mancing deh!
    Malaikan sudah dua yang nangis,
    Iblis akan seribu yg tertawa haha!

    Salam Pending!

  18. qarrobin says:

    hatur tengkiu atas pencerahannya

    ======================
    :: Sama-sama mas. Makasih atas kunjungannya.
    ======================

  19. Triyono Yono says:

    sungguh artikel yang luar biasa buat pembelajaran kita semua,matur suwun,ijin copas,matursuwun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s