Biola Tak Berdawai

Seno Gumira Ajidarma. Wartawan, photographer, dosen dan penulis. Dilahirkan di Boston pada tahun 1958. Lulus sarjana IKJ tahun 1994, dan lulus menjadi Magister Ahli Filsafat UI pada tahun 2000. Gelar terakhirnya adalah Doktor Ilmu Sastra UI, pada tahun 2005.

Sastrawan yang satu ini sosok pembangkang. Ayahnya Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo, guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Tapi, lain ayah, lain pula si anak. Seno Gumira Ajidarma bertolak belakang dengan pemikiran sang ayah.

Imajinasinya liar. Setelah lulus SMP, Seno tidak mau sekolah. Terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang asal Jerman Karl May, ia pun mengembara mencari pengalaman. Seperti di film-film: ceritanya seru, menyeberang sungai, naik kuda, dengan sepatu mocasin, sepatu model boot yang ada bulu-bulunya.

Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya “Pelajaran Mengarang” terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999). Karya lain berupa novel Matinya Seorang Penari Telanjang (2000). Pada tahun 1987, Seno mendapat Sea Write Award. Berkat cerpennya Saksi Mata, Seno memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary, 1997.

Sebagai apresiasi kepada Seno, di bawah ini saya tampilkan ulang salah satu tulisannya yang diambil dari bukunya berjudul “Biola Tak Berdawai”. Judul ini pernah digunakan sebagai judul film yang di produksi tahun 2003 oleh Sekar Ayu Asmara, dan digunakan juga sebagai judul lagu oleh Kangen Band dalam album “Pujaan Hati”. Ingin mendengarkan lagu tersebut? Klik di sini (lagu yang enak beat-nya!). Video klip yang resmi bisa dilihat di sini (nggak gitu bagus).

Semoga bermanfaat.

—===O===—

Biola Tak Berdawai

Prolog: Antara Tubuh dan Jiwa, Hatiku Berbicara

Tanpa dawai, bagaimanakah biola bisa bersuara? Biola bagaikan tubuh, dan suara itulah jiwanya tetapi di sebelah manakah dawai dalam tubuh manusia yang membuatnya bicara? Jiwa hanya bisa disuarakan lewat tubuh manusia, tetapi ketika tubuh manusia itu tidak mampu menjadi perantara yang mampu menjelmakan jiwa, tubuh itu bagaikan biola tak berdawai…

Namun berbeda dengan biola yang tak berjiwa, tubuh manusia yang hidup tetapi tidak mampu menjadi dawai bagi jiwanya, masih tetap menyimpan jiwa itu di dalamnya. Mereka yang disebut tunadaksa bukanlah seonggok darah dan daging yang tumbuh seperti tanaman, karena bahkan tanaman bagaikan memahami cinta para perawat dan menolak para perusaknya.

Betapa lama waktu yang dibutuhkan manusia untuk memahami jiwa : pernah dipuja sembari merendahkan tubuh, dan melahirkan para pertapa; bisa dipinggirkan sembari memuja tubuh, dan melahirkan para peraga; ada kalanya tubuh dan jiwa tak dipisahkan, yang berarti tubuh menjadi sahih sebagai pencerminan jiwa; namun terlalu sering juga tubuh gagal menjadi cermin memadai bagi penampilan jiwanya.
Terlalu sering kita melihat kebalikannya : tubuh terindah untuk jiwa yang menjijikkan, jiwa terindah dalam jiwa yang mengerikan; betapa berpengaruh penampilan sang tubuh dalam penilaian kita tentang jiwanya, dan betapa sering kita tersesat karenanya…
Begitu banyak yang tidak cocok : wajah alim seorang pembunuh, wajah suci seorang pelacur, wajah miskin seorang dermawan, wajah jutawan seorang pengemis yang terlalu banyak meminta untuk dirinya sendiri padahal barangkali memang begitulah adanya, bukankah tidak mungkin memastikan kejahatan seseorang hanya dari wajahnya?
Jiwa kami, jiwa para tunadaksa, sebetulnya hanya bisa diduga-duga saja oleh para perawat kami yang mulia, karena sebenarnyalah jiwa seorang tunadaksa tiada akan pernah bisa diselami oleh mereka yang tubuhnya bersarana sempurna, meski mereka menghabiskan seluruh waktu hidup mereka untuk memikirkannya.

Kami memahami jiwa kami dengan cara kami sendiri, dan dari sudut pandang kami, dengan keberadaan tubuh yang menampung jiwa kami, dengan segenap keutuhannya kami adalah makhluk yang juga sempurna : kami tidak sempurna bagi yang membandingkan ketubuhan kami dengan ketubuhan mereka, tetapi kami bertubuh sempurna dalam keberadaan kami sendiri.

Kami tidak mendengar karena tidak perlu mendengar, kami tidak melihat karena tidak perlu melihat, kami tidak bersuara karena tidak perlu bersuara, dan kami tidak berpikir karena tidak perlu berpikir tubuh kami tumbuh dalam kebutuhannya sendiri, bebas dari perintah-perintah kami, karena jiwa kami yang merdeka juga telah memerdekakan tubuh kami untuk kembali kepada diri mereka sendiri.

Seolah-olah kami tidak melihat dan mendengar, tetapi kami melihat dan mendengar, seolah-olah kami diam dan membisu, tetapi kami tidak diam dan tidak bisu, seolah-olah kami tumbuh seperti tanaman dan tidak mampu berpikir, tetapi kami bukan tanaman dan kami berpikir dengan cara yang hanya bisa menghayatinya semua ini terjadi bukan karena kami berusaha mengelabui, melainkan karena mereka yang merasa dirinya sempurna dan merasa kasihan kepada kami terkelabui oleh perasaan kesempurnaannya sendiri. Kami sendiri tidak merasa kurang sama sekali, karena keberadaan tubuh kami adalah kelengkapan dalam kelahiran kami.

Apakah kami mendengar atau tidak mendengar daun-daun yang menguning dan berguguran diterbangkan angin? Apakah kami melihat atau tidak melihat keteguhan gunung yang diselimuti awan dank abut secara berganti-ganti? Apakah kami merasa dan tidak merasa bahwa senja yang keemasan telah memudar dan berganti malam hari? Apakah kami tersentuh atau tidak tesentuh oleh nyanyian jiwa yang bergelombang di sekitar kami? Apakah kami mengenal atau tidak mengenal kebesaran Tuhan dalam geteran alam semesta ini?

Dunia kami adalah ruang kosong yang belum dijelajahi : mereka yang merasa dirinya sempurna hanya mampu mempertimbangkan tubuh kami untuk menebak-nebak jiwa kami, namun usaha yang sudah lama dan luar biasa itu sejauh ini hanya bisa meraba-raba seperti apakah jiwa kami yang tersembunyi dalam ketubuhan yang sangat berbeda dengan ketubuhan mereka. Keberadaan jiwa membuat kami hidup, tetapi adalah keberadaan hati membuat kami masih tetap manusia dan karena adanya hati, kami mengenal cinta melampaui pancaindra.

Begitulah kami tidak akan pernah mendengar kata-kata cinta, tetapi hati kami akan merasakannya. Cinta membuat kami tenang, cinta membuat kami bahagia, dan cinta membuat kami terharu. Dari hari ke hari kami dihidupkan oleh cinta sampai kami mati, tubuh kami, raga kami akan sangat cepat mati, tetapi kami tidak akan pernah hilang dari dunia ini : kami hidup dalam diri setiap orang yang mencintai kami. Adalah cinta yang akan menghidupkan kami dan adalah cinta yang akan selalu menyelamatkan manusia dibumi, kami para tunadaksa bagaikan penjelmaan malaikat yang turun dari langit untuk menguji, seberapa jauhkah manusia memahami makna cinta kepada sesamanya sendiri.
Tentu saja kami mengerti betapa kami bukanlah jenis manusia yang terlalu sama dengan begitu banyak manusia disekitar kami. Para tunadaksa bukanlah penari, para tunadaksa bukanlah penyair, dan para tunadaksa bukan pula para penyanyi, kami bukan ilmuwan, bukan pedagang, bukan pula cendekiawan, apalagi negarawan. Bukankah kami tidak mempunyai bahasa seperti kaum bisu tuli bisa mempunyainya, bukankah kami tidak mempunyai kemampuan membaca seperti orang-orang buta bisa menguasainya, dan bukankah kami juga tidak mempunyai kemampuan menerjemahkan pikiran seperti orang-orang lumpuh pun bisa melakukannya namun dari hari ke hari kami mengada dalam dunia, memberi arti dan makna dengan cara yang hanya para tunadaksa yang mampu memyelaminya.

Mereka memang mencintai kami, dan hati kami telah disejukkan oleh cinta mereka, namun keindraan mereka yang berbeda dari keindraan kami telah menjadikan hubungan kami dengan mereka yang mencintai kami itu penuh misteri. Demikianlah kami dan mereka bagaikan saling meraba dalam kegelapan dan saling mengulurkan tangan. Ujung-ujung jari kami bagaikan saling bersentuhan ketika mencoba saling mengenal, namun bukanlah keindraan yang telah mempertemukan kami, karena ketika jiwa mendekat bagai tiada berjarak, keindraan itu telah dilampaui.

Bahkan mereka kemudian tidak mengunakan matanya untuk melihat, telinganya untuk mendengar dan telapak tangan sekedar untuk meraba. Jiwa mereka sering mendadak lebur dengan jiwa kami, namun bisa pula dengan sendirinya terlepas kembali : seandainya kami bisa berbicara, kami ingin memanggilnya agar jangan pergi, tetapi kami tidak memiliki sesuatu yang membuat kami bisa dimengerti kami tidak mempunyai sarana untuk membahasakan diri kami.

Kami, para tunadaksa, bagaikan jiwa yang melayang dalam kelam, jiwa yang melayang-layang dalam gua garba yang tiada akan pernah mencerminkan apa yang kami pikirkan, tidak pernah menerjemahkan apa yang kami rasakan, dan tidak akan pernah menyampaikan apapun yang kami kehendaki, sekadar karena bahasa yang dimungkinkan oleh tubuh kami tidak begitu mudah dipahami. Tetapi tubuh kami adalah tubuh yang berjiwa, dan jiwa kami adalah jiwa yang berhati; kami adalah juga manusia, dan keberadaan tubuh kami membuat kami hidup secara murni…

Jika dikau mendengar suara biola, yang menyayat dan merintih di malam hari, apakah dikau mengira suara itu datang hanya karena gesekan tongkat bersenar kepada dawainya? Jika dikau mendengar suara biola, yang mendesah dan berbisik di malam sunyi, apakah dikau mengira suara itu datang hanya karena ada tangan yang mengesekkannya? Jika dikau mendengar suara biola, yang meratap dan melengking di malam sepi, tidakkah dikau mengira tangan yang menggesek biola itu menjeamakan nada-nada dari dalam jiwa? Tetapi dari manakah datangnya nada-nada yang membentuk lagu dari dalam jiwa itu? Apakah lagu itu datang dari balik kegelapan dari sebuah semesta entah dimana? Dari balik kelam lagu itu datang untuk dimainkan seribu biola tetapi apakah dikau masih mengira nada-nada itu tidak ada, ketika tiada satu biola pun memainkannya dan dunia sepi suara?

Nada-nada itu ada meski kita tidak mendengar suara, selama kita masih berjiwa. Adalah jiwa yang menggerakkan tubuh kita, namun adalah hati yang membuat kita memiliki rasa di luar keindraan kita, karena tanpa hati kita bukanlah manusia sedangkan hati adalah semesta nada-nada. Jiwa kita bagaikan lapisan-lapisan hati tanpa isi, namu apabila lapisan-lapisan itu dibuka ternyata tidak pernah ada habisnya. Setiap lapisan hati bagaikan suatu galaksi dalam semesta jiwa yang tiada bertepi, darimana nada-nada dengan segenap sentuhannya mengembara, dari sebuah jarak yang milyaran tahun cahaya jauhnya hanya untuk menyapamu.

Setiap kali suatu untaian nada menyentuh jiwamu, wahai saudaraku, sebetulnya dikau terhubungkan dengan sebuah dunia dari hati yang berdenyar, yang tiada akan pernah berhenti berdenyar, selama cinta membasuh dan membelainya. Hanya mereka yang mengenal cinta bisa mendengarnya, dan hanya mereka yang bersedia mencintai dan dicintai bisa mengembangkan nada-nada itu di dalam jiwanya. Dengarlah lagu biola itu dalam hatimu saudaraku, apakah biola yang semula satu telah menjadi seribu, ataukah hilang lenyap tak menentu?

Dalam semesta jiwa nada-nada bagaikan kupu-kupu yang beterbangan mencari bunga-bunga cinta; mereka tidak akan hinggap di hati yang membatu, mereka tidak akan hinggap di jiwa yang membeku, karena bunga-bunga cinta berkembang dan semerbak, mendenyarkan cahaya cinta yang semburat di alam semesta, namun hanya kupu-kupu yang mencari bunga cinta seperti mencari madu kemurniaan dunia akan melihat dan mendengarnya.

Cinta melampaui pancaindra, menyentuh langsung ke dalam jiwamu saudaraku, menyapa hatimu yang terbuka terhadap denyar nada-nada yang beterbangan seperti kupu-kupu dalam semesta jiwa. Jika suata hari kita berjumpa wahai saudaraku, ketahuilah betapa dikau melihat tapi tidak melihat kami, betapa dikau mendengar tapi tidak mendengar kami, karena dikau hanya melihat dan mendengar suatu penampakan, karena suatu penampakan adalah sejuta makna disebaliknya. Namun jika dikau menatap kami dengan mata hatimu saudaraku, kami adalah kupu-kupu bagi bunga-bunga cintamu, adalah nada-nada bagi lagu jiwamu, adalah kata-kata bagi puisi dalam hatimu.

Karena kami tunadaksa, maka suaramu akan menjadi suara kami, kami tunadaksa maka bahasamu akan menjadi bahasa kami karena memang kami tunadaksa bagimu, maka dirimu akan menjadi dawai bagi biola jiwa kami.
Tetapi adalah selalu diri kami sendiri, yang tidak akan pernah sepenuhnya dikau mengerti…

—===oooOooo===—

Sumber: dari sini
Gambar: dari sini
Google Similarity Search Result pada tgl 03-Oct-09 : 43 articles (Wow!)

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Clipping, Informasi, Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

62 Responses to Biola Tak Berdawai

  1. m4stono says:

    ngatemi = “hoooyeeeeee diajeng dapet petromaxxxxxx….kang lambang ca’eeem deechh”

    ======================
    :: Ah diajeng Ngatemi.
    Makan nasi goreng terasa makan kulit beras.
    Tidur di kasur terasa di kandang kambing.
    Pakai lampu neon terasa dekat petromax.
    Sulit untuk melupakan diajeng.
    Tapi biarlah semua menjadi masa lalu.
    *haiyah, sok puitis, ketularan bung MK*

    ======================

  2. Fitri says:

    Akankah biola itu tetap tak berdawai?😎

    ======================
    :: Kalau segera dibawa ke tukang service mudah-mudahan bisa berdawai lagi.
    Sayangnya, terkadang bunyinya masih belum mengekspresikan diri kita yang sesungguhnya (*halah, sok jadi sastrawan lagi*).
    Salam untuk diajeng Fitri.🙂

    ======================

  3. batjoe says:

    wah masku kali ini makin pandai berkata-kata puitis. mantapszzzzzzz.
    lah mas lamb kok bisa youtube punyaku tetap aja ndak bisa…

    ih,,, ada pertanyaan dari mba fitrie tuh? lagi ke wc kali mba orangnya heheheheheeh

    makin ringan mas…

    ======================
    :: Kata orang, puisi dan lagu bisa mendekatkan diri ke keadaan nyaman dan ekstasi. Dalam keadaan inilah biasanya indera lain menjadi terbuka dan kita bisa mencerna berbagai vibrasi khusus yang ada di sekitar kita. Tapi itu kata orang lho. Sip deh kalau sudah makin ringan.

    Komen tentang yu tubiyem itu udah dijawab di blog atu-nya. Tinggal kopas aja koq mas ke artikel.

    Diajeng Fitri… hai diajeng… sudah dijawab di atas.
    Salam Persahabatan.🙂

    ======================

  4. m4stono says:

    biola adalah tubuh…..
    dawai adalah jiwa……
    violist adalah ruh……

    dah ah……gak bisa komeng panjang2….walopun dah disedot tetep gak mo keluar….. :mrgreen:

    ======================
    :: Hihihi… ada penyumbatan mungkin… atau ada masalah dengan prostat… wekekekkkk…🙂
    *kunci pintu lagi… takut di-plintheng*

    ======================

    • m4stono says:

      lha kena gigi je….hihihihihih………….tau aja saya dulu suka plinthengan…….semua jenis burung disawah hampir semua saya dapetkan…mulai dari emprit yg paling kecil hingga pak tani pernah saya plintheng…hihihihihihihi…untung hanya kena capingnya…klo kena burungnya bisa gaswaaat…….wuakakakakakaak 😆

    • Hah!
      Ketauan,
      MasTon pikir tiga,
      Bisa tuh!

      Salam Pikir Tiga!

      ======================
      :: Hiyaaaa…. maksudnya bisa diplintheng gitu…. hihihi…
      ======================

      • Diplintheng?
        Itu maksud MasTon?
        Ah, emang gitu kali, ya!

        MasTon punya banyak perumpamaan.
        Aku sangat suka model-model gitu.
        Ibaratnya, alam pun bersabda koq, kan?

        Rajin lah mlinteng-mlinteng,
        Nyoba lah ngepang-ngepang,
        Kali-kali terajut manfaat.

        Salam Persahabatan!

  5. Pingback: kangBoed » AWARD Pertama Ngeblog

  6. batjoe says:

    kangen mas….
    ndak tahu pingin ngintip dan anteng disini aja rasanya…
    award bandelku mana..
    oya ya.. belum genep 7 hari direndemnya hahahahaahahhahahaha hahahahahahahahahhahahahaaa

    ======================
    :: Hehehe… awardnya nanti harus di-reply dengan YouTube. Gimana dunk… udah bisa pa blon…🙂
    ======================

    • batjoe says:

      lagi dicoba terus masih juga ndak bisa loading…
      pokoknya manusia itu biar tolol kaya apa kalau mau diusahain pasti bisa….

      ini masih direndemkan selama 7 hari 7 malem?
      nanti kalau sudah direndem masih ndak bisa juga bagaimana ayo????

      ======================
      :: Kalau direndem 7 hari 7 malam masih ngga mempan, nanti dikucek-kucek 7 hari 7 malam. Biar makin bersih…. hehehe…🙂
      ======================

  7. lovepassword says:

    Menurutmu elok mana biola yang berdawai dan yang tak berdawai. Ndengerin itu pake kuping atau pake hati yah ??? ( sok merenung mode on)

  8. Lambang says:

    Menurutku kuping itu hanya jalur.
    Dari kuping kiri bisa keluar ke kanan.
    Dari kuping bisa juga masuk ke otak.

    Diolah otak kiri, di-persepsi kanan, disimpan di memory.
    Kadang memory dibaca, kasih bumbu dikit, simpen lagi.
    Biar lain kali ceramahnya bisa lebih meyakinkan.

    Kalau hati/sukma/ruh/kalbu/jiwa itu mah virtual,
    Boro boro dirasa dan didefinisikan.
    Lihat gambarnya aja belum pernah.

    *kasih permen karet, biar merenungnya makin lama*

    • batjoe says:

      heheheheheheeehehhee..
      ngajak berantem nih critanya……
      awas kesambit clurit lho..

      ah males ngisi blog.. nanti-nanti aja masih diolah otak kiri, terus kekanan terus menggak-menggok jadinya B A N D E L dan B A R B A R .
      mantepzzzz ngepas bener pasangannya…. ancur

      ======================
      :: Hehehe… pasangan mana ya yang ancur…🙄
      Kalau ada yang bawa clurit, paling tak lempar mercon terus tinggal kabuuur…🙂

      ======================

    • m4stono says:

      kalo saya merenung sambil jongkok di wc dan sedal sedul udud sampurna mild……………ada tuh gambarnya hati/sukma/ruh/kalbu/jiwa…klo gak percaya tinggal bercermin aja…liat baek2 dan amatilah dengan seksama, kalo masih blom percaya maka yakinlah bahwa bayangan dicermin itu sukma, maka itulah sukma tapi hanya persepsi…hihihihihihhii…tapi walaupun persepsi bisa menjadi realita lho…..ada tuh cara utk bisa liat badan halus kita memakai media cermin…tapi klo percaya sih…klo gak percaya ya udah….laaariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii :mrgreen:

      ======================
      :: Tetep baliknya sih ke ilusi dan persepsi Kang. Memang ada orang tertentu yang merasa bisa melihat itu. Termasuk melihat sedulur papat limo pancer. Tapi kalau tidak bisa dibuktikan ke orang lain, mending disimpen dan dipakai sendiri. Enda perlu diceritakan ke orang lain daripada dituduh ngengleng. Orang schizoprenic juga mengalami simptom yang sama dengan orang yang lagi mabuk spiritual. Tapi ini kata orang sono lho, dan saya masih belum setuju 100%.
      Lagian kalau bisa dilihat pun belum tentu mau disuruh beli rokok ke depan gang… hehehe… Lebih cepet nyuruh si Paijo… bisa pakai SMS lagi…:mrgreen:

      ======================

      • m4stono says:

        betul juga yah…….tapi kalo bicara persepsi, kita itu sebenarnya ndak ada lho kang, masih inget diskusi kita di dimensi ke empat……lha terus yg ada siapaaaa…..??? yg berkatalah yg ada, yg berkata itu siapa…??? auk ah gelap:mrgreen:

        ======================
        :: Lho, jadi yang ngomong itu tadi bukan Paijo tho? Koq dia nanya beli rokoknya satu apa dua mas… hihihi…

        Padahal kalau ngga sengaja nyenggol bokonge cewek dikaplok beneran je… itu bukan ilusi… itu mah sakit beneran…

        Auk ah gelap juga. Entar tak makan kecubung dulu, biar ketemu simbah…🙂
        ======================

      • m4stono says:

        wah kalo itu lain lagi kang…hihihihihihihihi….ya sejatine ora ono opo2 itu hakekat tertinggi, sedangkan kalo dikaplok cewek itu mah napsu ajah, tapi klo bener2 gak sengaja yaa rejeki kang paijo :mrgreen:
        coba klo sebelum dikaplok dibius dulu kan gak terasa…😆 ya kalau sudah mencapai hakekat tertinggi itu maka ruang dan waktu bukan masalah…..bisa kemana saja dan kapan saja ….nah loe jepang aja sudah mencapai taraf ini lho kang…gak percaya…tuh doraemon punya pintu kemana saja….. :mrgreen:

        ======================
        :: Katanya sih gitu, batasan ruang dan waktu menghilang. Tapi kalau nyeberang laut jasadnya sulit diajak. Enerji penghalangnya gede banget. Paling cuma ruhnya aja yang mencelat… 😉
        ======================

    • Menurutku, Kang! Kuping …

      Kuping itu adalah selongsong makanan roh.
      Mata itu adalah jendela kaca makanan jiwa.
      Mulut itu adalah lubang pintu makanan tubuh.

      Salam Nguping!

      ======================
      :: Menurutku, kuping dan mata dua-duanya menjadi pintu masuknya pemahaman yang dimakan roh dan jiwa.
      Kalau mulut bener ituh lubang makanan. 😉

      ======================

      • Yah!
        Hidung pun hrs ada peran bagi ke tiga-tiganya
        Tapi mata bukan lah andalan utama utk rohani,
        Melainkan utamanya untuk pencerna jiwa.

        See and believing adalah kasus duniawi.
        Believe and you will see adalah kasus rohani.
        Itu alasan ku Bung Lamb!

        Salam!

        ======================
        :: Masih salah juga.
        Gimana bisa believe kalau belum pernah melihat dan mendengar ajaran.
        Gitu loh maksudku Bang.
        *melet dikit*😉

        ======================

      • Masih salah mulu ya!

        Atawa gini deh kita coba.
        Apa saja dominan makanan itu?
        Baru nanti kitanyaho pencera utamanya.

        Cing nu eta tea teh:
        http://tertiga.wordpress.com/2009/02/19/makanan-pertumbuhan-tertiga/

        Salam!

        ======================
        :: Makanan tubuh : buburnasi
        Makanan jiwa : kontemplasi
        Makanan ruh : hibernasi atau meditasi

        ======================

      • Nah, aku mulai bener dong.
        Bila pang top na meditasi,
        Meditasi tak clingak clinguk,
        Hanya birahi yang selalu gitu.

        Salam Pas!

      • Kumaha, cing kuping!

        Masih salah atawa belum, tah!
        Konon, berbicara kepadanya selama 1 jam,
        Lebih jitu dari membaca semua bukunya 3 jilid.

        Salam Pas!

        ======================
        :: Nyang atas sudah pas.
        Nyang ini blon pas.
        Berbicara-nya kan hanya satu arah.
        Kayak Handy Talky doang.
        Balikannya kemresek ga jelas.🙂

        ======================

      • “Nya” di situ huruf kecil, Bung!
        Anggap aja yg punya 3 buku itu seorang Prof.
        Gitu loh! Jadi aku boleh dong kau benarkan! heh.

        Salam!

        ======================
        :: Ah, kali ini aku yang salah baca. Kurang teliti.
        Ternyata “nya”-nya kecil.
        Siiip, bener Anda Bung MK.
        Salam Kitanyaho!🙂

        ======================

  9. frozen says:

    Wah, buku yang belum kesampaian saya baca ini.😀 Trim’s sudah menyertakan prolognya. Sungguh, saya baru tahu kalau prolognya dibikin dalam bentuk senandika seperti ini. Esoterik.

    Sebetulnya dulu berada dalam dilema, antara pilih Negeri Senja atau BTB. Dasar pikiran masih pragmatis-pragmatisnya, tidak dipilih dua-duanya, dan saya malah ngambil buku komik:mrgreen:

    ======================
    :: Karya Seno memang banyak yang bagus. Di website-nya ada cerpen berjudul “Di Larang Menyanyi di Kamar Mandi”. Itu layak baca.
    BTW, gravatar-nya ganti photo kakaknya ya…:mrgreen:

    ======================

    • Ali Sastro says:

      Coba “Manusia Kamar” dan “Atas Nama Malam”

      ======================
      :: Thanks. Segera melacak PDF bajakan…🙂
      ======================

      • frozen says:

        Coba “Manusia Kamar” dan “Atas Nama Malam”

        Oke, oke, akan saya masukkan ke dalam antrian belanja buku bulanan😛

        .
        .
        .

        » Lambang

        […] berjudul “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”. Itu layak baca.

        Baik, saya catat juga *walau sebetulnya masih terpikat dengan “Cinta di Atas Perahu Cadik“*

        ======================
        :: Makasih. Saya lacak lagi yang naik perahu itu…🙂
        ======================

  10. Pingback: kangBoed » Hujan Award dari Kang Saka Inget

    • KangBoed says:

      hehehehe award saya sudah dirapihkan gambarnya di ganti yang jelas..

      ======================
      :: Iya Kang. Belum dapet ide untuk artikel balasannya.🙂
      ======================

  11. Fitri says:

    Mas lambang, tadi saya kirim email. Tolong dibuka dan disampaikan pada yang bersangkutan ya? Thx..🙂

    ======================
    :: Oke dek.😉
    ======================

  12. batjoe says:

    mas lambang minta alamat lengkapnya ya ada award khusus buat masku….
    kirim emailnya ke : yantoa66@yahoo.com atau atheis99@yahoo.co.id
    jangan males… ini wasiat hehehehehehehe
    yang lain menyusul

    ======================
    :: Email saya islamabangan@gmail.com.
    Alamat rumah… hehehe… rahasia ah…😉

    ======================

  13. batjoe says:

    wehhhhh…
    PR nya naik jadi 2 kejar terus mas lambangku jadi 5 ayo semangat jangan tidur melulu…..

    ======================
    :: Iya Mas. Dulu juga udah dua terus anjlok. Berarti sekarang udah bisa santai ngga ngapdet artikel lagi…
    Kalau nguber keknya sulit… paling pol 3, karena saya jarang ngomen di mana-mana sih.😉

    ======================

  14. batjoe says:

    kangen pingin balik tapi tetep aja males…
    dapet award tuh dari kang boed….

    ======================
    :: Hihihi… award KangBoed entar aja deh dibalasnya… masih belum ada ide menarik…😉
    ======================

  15. m4stono says:

    ngatemi = “allooow kang lambang chaayaaang……lagi ngapain….kerja yah…..tolong bantuin kang tono nerjemahin sastra jawa dunk….keciyan tuh sampe pegel2 ama mules2 nerjemahinnya…….daaaaaaahhhh…muuuuaaaagh…”😀

    ======================
    :: Eh mau dunk diajeng. Itu pekerjaan yang menarik dan penuh tantangan. Mudah-mudahan saya bisa nemukan banyak referensinya untuk menterjemahkan.🙂
    ======================

  16. Fitri says:

    Alexa saya makin hari makin turun, kira-kira disebabkan karena apa ya? Eh, ya tadi saya ketemu mas batjoe dan dikasi oleh-oleh dari Amerika. Kata mas batjoe, dia enggak akan nyerah sampai bisa ketemu sama mas lambang. Masalah komentar pedas yang saya ceritakan di email, orang muncul lagi dan menuduh saya yang tidak-tidak. Namanya *********, dia begitu benci sama saya gara-gara terpicu postingan yang belum di hapus tsb.

    ======================
    :: Wah, enda tahu soal Alexa itu.

    Tentang Mas Batjoe itu, saya jadi merasa tersanjung dicari-cari beliau. Padahal saya itu aslinya nggilani puol dik, bener deh, swer… pasti nyesel banget ketemu sama saya.

    Tentang tuduhan itu, biar aja dik. Anggap saja sebagai ujian terhadap kesabaran dan kebijaksanaan kita. Tapi kita juga harus introspeksi diri, jangan-jangan postingan kita menimbulkan keresahan atau kita yang salah dalam bertutur-kata atau berkomen.
    Maaf nama yang dicantumkan di atas saya hidden. Saya tidak mau diduga ikutan berburuk sangka kepada orang lain yang mungkin saja memang buruk kelakuannya atau mungkin saja dia terpaksa berbuat buruk hanya untuk menyadarkan kita.

    Coba dik Fitri renungkan kembali, apa manfaat membuat artikel “Wawan” itu selain dari membeberkan keburukan orang lain dan mengundang permusuhan. Berbagilah pemahaman, wawasan, informasi dan pengetahuan melalui artikel.

    Ada hadist yang jadi favourite quotes saya:
    Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib-aib orang lain. (HR. Ad-Dailami)

    Salam Persahabatan.
    ======================

    • m4stono says:

      baru tahu kalo kang lambang itu nggilani poolll… :mrgreen: keknya kita sama kang satu aliran…aliran ndableg, ngeyel, kemaki, kemlinthi, nggilani, celelekan dan konco2nya…..nah gitu donk kang keluarin ilmunya biar kita2 ini dik fitri diajeng ngatemi dan dik tono selaku adik2 kangmas lambang bisa belajar banyak dari panjenengan….dan ajaibnya juga kang lambang langsung nyambung diajak ngobrol tentang miyabi dkk…….kaaaabuuuuuurrrr……

      ======================
      :: Wuah, kalau ngajari KangTono seperti menggarami lautan… hehehe…
      Jeruk koq ngajarin duren, ya pasti kecoblos-coblos… *salah ya peribahasanya?*

      Soal nyambung dengan Miyabi itu memang sudah kodratnya dari sono je… Lha dari jaman Nabi sudah ada cerita ngeres (72 bidadari) mosok saya enda boleh ikutan ngeres juga…
      Yang penting ngeresnya terarah dan dikelola dengan bijaksana dan penuh manfaat *halah, nggilani puol*🙂

      ======================

  17. G3mbel says:

    Bukunya menarik mas. Kayaknya saya wajib baca, meskipun saya katro masalah sastra. Mungkin karena prolognya yang begitu menggoda.😀

    ^

    BTW : Mas punya info format PDF nya gak ..?

    ^

    Salam kenal😛

    ======================
    :: Sama mas, saya juga super katrok. Denger nama Seno juga baru sekali ini. Tapi pas dibaca, koq rasanya sreg gitu.
    PDF satu buku lengkap masih belum saya ketemukan. Tapi beberapa cerpen bisa dilihat di blognya Seno itu.
    Salam kenal kembali mas…🙂

    ======================

  18. KangBoed says:

    Menuju kepada perubahan yang lebih baik maka harus ada pembaharuan…. Dan adanya pembaharuan itu, segala sesuatu yang sudah tidak ada keseimbangan harus di rombak secara total keseluruhan dan setelah itu barulah di tegakkan kembali Alam dengan keberadaan yang baru yang tenang aman dan damai. Karena ketidak seimbangan Alam yang terjadi dimuka Bumi ini karena ulah Manusia yang tidak “Tahu diri”. Dan Saya rasa karena itulah Tuhan menurunkan segala macam bentuk bencana-bencana yang terjadi yang di ikuti dengan kerusuhan-kerusuhan, pertikaian, perdebatan bahkan peperangan. dan waspadalah jika kerusuhan sudah diikuti dengan penjarahan.. maka waktu akan bermain Agar Tuntas secara menyeluruh SELEKSI ALAM yang akan berganti dengan ALAM yang TENANG, AMAN dan DAMAI.

  19. m4stono says:

    hai cing!

    saya ada artikel baru cing!

    kok loyo cing!

    hah! ada bung maren cing!

    kabur cing!

    atut dilempar sendal cing!

    sori cing!

    jas ngibing cing!

    salam tertawa!

    hahahahahaha cing!

    ======================
    :: Oke cing! serbu cing!
    Wekekekkkk…🙂

    ======================

  20. Hehe!
    Cicing heula atuh MasTon.
    Pan cape kucing-kucingan.
    Komenin dong blog gw …

    Salam!

    • m4stono says:

      haha cing…
      bisa aja hah becanda
      oke
      ke tkp
      abisnya bahasanya
      gak tahu aku

      ======================
      :: Bahasa bulan itu Kang…🙂
      ======================

      • KangBoed says:

        weeeekekekekekekkkkk

        my brathaaaaaaaaaaaarrrr kamana nyaaaaak🙄

  21. KangBoed says:

    MENGUCAPKAN SELAMAT ATAS NAMA PERSAHABATAN DAN PERSAUDARAAN

    SEMOGA DENGAN BERJALANNYA WAKTU SEMAKIN MEMPERSATUKAN KITA SEMUA.. TIDAK MELIHAT SIAPA KAMU.. APA AGAMAMU.. APA MAZHABMU.. TETAPI DENGAN MENYADARI KITA BERASAL DARI YANG SATU..

    SALAM SAYANG SELALU

    ======================
    :: Siip… kita tunggu lagi petuah akang… salam damai…🙂
    ======================

  22. Butul tuh KangBoed!
    Jangan tanya lagi apa agama mu?
    Boleh lah seberapa beragama kamu?

    Semoga kita bersatu padu,
    Menuju Paduka Yang Satu,
    Tak usah saling sleding.

    Ai lopiu KangBoed, pull!

    ======================
    :: Siiip… Menuju Paduka Yang Satu…
    ======================

  23. batjoe says:

    udah mas saya baca….
    maaf beberapa hari ini saya lagi konsen dengan pekerjaan dan jaringan speddy juga ngadat.
    wah “atheis” lagi ya mas? mau bicara apa ya mas…
    saya cm mau kasih tahu. ini hnaya blog mas dan fungsi blog adalah untuk mendapatkan sesuatu yang berarti khususnya buat saya tehadap koment dan artikel ditempatnya siapapun. dan sekali lagi ini cm blog bila tangan saya berkehendak menuju DELETE maka WP BATJOE hilang .. lebih enak dan fresh kan tapi itu bukan saya, mas lambang yang telah menjadikan BANDEL dan BARBAR hahahahahahaha.
    sekali lagi makasih mas lambang, no problem mau dibilang atheis kah, kristenkah, budhakah, atau apapun … monggo…. mas
    intinya : KATAKANLAH :”DIA-LAH ALLAH, YANG MAHA ESA,

    ======================
    :: Enda papa mas. Kan ada orang yang merasa pemahamannya paling bener. Ya biarin aja. Toh sama-sama enda bisa membuktikan. Hanya berdebat masalah imajinasi masing-masing.🙂
    ======================

    • m4stono says:

      biasalah andalannya mas lambang… semua hanya ilusi….. terbawa sinetron sun go kong kali yak… wakakakakakaka….. btw mas batjoe saya gak ikutan yaaa… jangankan nanya agama saya apa… wong nanya jenis kelamin aja saya suka bingung…..

      hahahahahahahahahah cing!

      ======================
      :: Hehehe… modalnya ya cuman ilusi itu doang Kang. Miriplah kek yang lain-lain. Ada yang modalnya mursyid. Ada yang cinta. Ada yang hati. Ada yang Yin-Yang. Ada yang cipto – roso – karso. Ada yang dzat – sir – sifat. Ada yang slaman – slumun – slamet. Yah begitulah, karena keterbatasan manusia untuk memahami dimensi yang lebih tinggi lagi.
      Gitchu cing! Wekekekekkk…

      ======================

  24. Plinthengan MasTon:
    biola adalah tubuh…..
    dawai adalah jiwa……
    violist adalah ruh……

    Kepangan Mas Kitanyaho:
    Biola itu baik lah bagai tubuh yg berrongga lapang.
    Dawai itu baik lah bagai jiwa yg bergesekan firman.
    Violist itu baik lah bagai ruh yg berkehendak mulia.

    Salam Damai!

  25. Nah, klo akur, ta’ kepang dua gini:
    Napa orang-orang pd menngurug rongga tubuhnya. Nama orang-orang dijadiin beubeugig, janggutnya pd dikumisin, kumisnya dijanggutin, padahal bulunya pun, ah, renggang-renggang. Herman!

    Pan,
    Klo rongga biola itu dijejalin macem-macem, dipenuhi bulu-bulu dan kain-kain, maka suara gesekan firman itu pun keknya akan spt suara gergaji besi lah yah! Jadi kalah ama suara gambang suling.

    Yah lah!
    Getar frekwensi vibrasi jiwa tak lagi dapat beresonansi di dalam tabung yg pejal dgn bulu atau pejal dgn apa pun. Alunan suara biola jadi bantep gitu loh. Greg grog greg grog kek gergaji triplek paling kauh klo dawainya distel keceng abis ato dawainya dibanyakin…heh!

    Salam Rangkep Tiga:
    — Cing Cangkeling,
    — Cing Gambang Suling.
    — Ndak cing dang dut kulit unta.

    ======================
    :: Akur Cing!
    Jan-jane ngomong opo to cah bagus iki…. koq tekan graji wesi barang…

    ======================

    • m4stono says:

      yup betul sekali akang maren…..

      nih tak tambahin cerita dari artikel lawas :mrgreen:

      Pada suatu ketika kyai dipesantren A menguji ketiga murid terpandainya, kyai memanggil santri 1 dan menyuruh mengisi gudang dengan apa saja dia suka sesuai kehendak hatinya, santri 1 mengisi dengan uang dan harta sehingga gudang itu penuh, kyai memutuskan santri 1 tidak lulus ujian. Dipanggil santri 2 dan diuji dengan hal yang sama, santeri 2 mengisi dengan buku2 beraneka macam hingga gudang itu penuh dengan buku, santri 2 tidak lulus. Ketika santri 3 dipanggil maka santri 3 membersihkan gudang dan mengeluarkan isinya lalu menyalakan dan menaruh lilin ditengah tengah gudang sehingga gudang itu menjadi terang cahaya lilin, santri 3 lulus. mengapa santri 3 lulus karena santri 1 gila harta, santri 2 gila ilmu dan santri 3 rindu akan pencerahan dari dalam hatinya…. hihihihi :mrgreen:

    • m4stono says:

      @mas lambang

      mbuh je aku yo radong babar blas…hihihihihi…kok yo ono geguritan tekan graji wesi, ketoke si cah bagus ki pagaweyane tukang nggrajeni wesi lan di dol…opo tukang nggrajeni ril sepur yo…wih blaiiikk…we lha kok ngrasani

      ======================
      :: Hihihi… asli meduro katone…
      ======================

      • @Lamb

        Kenapa Meduro doyan logam, yak!
        Apa ada sejarahnya nggak, yak!
        Boleh digugel via “gigi emas”

        Salam!

        ======================
        :: Tak gugel malah nemu pertanyaan “Bagaimana Hukumnya Memakai Gigi Palsu yang Terbuat dari Emas”.
        Ternyata O ternyata, isi dunia ini makin kompleks dan paradox.
        Imajinasi orang semakin liar dan akibatnya ada yang bingung mau pakai aturan yang mana. Padahal dalam dirinya sudah lengkap tersedia PKK (Pusat Kontrol Kelakuan).
        Salam Emas!

        ======================

      • O, gitu!
        Mungkin orang-orang itu penuh khawatir akan hidupnya, sehingga perlu mencari penyebabnya yg pasti. Segala lingkungan diperiksa. Harus ada “something wrong”, dan itu bagai pasti bukan pd dirinya yg wrong. Lalu imajinasi orang keliaran kemana-mana demi mencari si wrong itu. Aneh lah!

        Salam!

      • Lambang says:

        Selain cari penyebab, juga cari kambing hitam.
        Kalau perlu, Tuhan pun dikambing hitamkan.
        “Habis gimana lagi, udah nasib” Kata Paijo.
        Atau sekalian cari pelampiasan untuk menghilangkan penyebab.
        Nglayap malem-malem, atau fly high.

  26. lovepassword says:

    “Bagaimana Hukumnya Memakai Gigi Palsu yang Terbuat dari Emas” ===> Yah pasti haram kalo emasnya nyopet di toko. Yang saya bingung ki wong takon kok yo do lucu-lucu . Hi Hi Hi.

    ======================
    :: Hehehe.. pancen kelakuan orang aneh-aneh. Jangan-jangan kita yang ngeblog ini juga aneh kalau dilihat orang… ketawa-ketawa dan nyureng-nyureng depan komputer… wekekekkkk….
    ======================

  27. qarrobin says:

    Salut deh, nyerah saya ama sastra, aq ga punya imajinasi kesana

    sastra emang lebih indah dan lebih lebih lebih daripada fisika yang mumet

    ======================
    :: Bener mas. Mangkanya penyebaran agama di Jawa pada jaman Walisongo itu banyak dilakukan melalui berbagai karya sastra seperti wayang, tembang, kidung dan puisi (serat). Hasilnya memang lebih mudah merasuk ketimbang pidato di mimbar sambil bicara berapi-api dan melotot.🙂
    ======================

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s