Baik dan Jahat

Molekul dalam materi selalu ber-vibrasi. Ketika kita memperlambat gerakan sampai pada titik di mana mereka nyaris tidak bergerak sama sekali, kita sebut bahwa materi dalam keadaan “supercooled“. Ketika kita mempercepat gerakan sampai titik ekstrim, kita menyebutnya materi menjadi “superheated“. Di antara dua titik ekstrim ini terdapat rentang yang sempit yang disebut temperatur yang dirasakan oleh manusia, dan di dalamnya masih ada rentang lagi yang lebih kecil, yang digunakan oleh manusia untuk mendefinisikan mana yang disebut panas dan mana yang disebut dingin. Temperatur adalah skala yang kita terapkan pada percepatan atau perlambatan molekul yang ada dalam materi. Panas dan dingin adalah nilai yang kita berikan pada skala itu relatif terhadap rasa yang ditimbulkan jika kita menyentuh materi tersebut.

Demikian juga, kecerahan (brightness) adalah skala yang kita berlakukan pada jumlah dan perilaku foton yang dipancarkan dari sumber tertentu. Ada tingkat kecerahan yang sangat ekstrim, dan ada skala kecerahan yang jauh lebih lebih sempit yang kita gunakan untuk melihat segala sesuatu di bumi ini. Pada skala yang sempit ini ada pembagian yang relatif terhadap kemampuan indera kita tentang apa yang disebut terang dan apa yang disebut gelap. Terang dan gelap adalah nilai yang kita berikan untuk perilaku foton relatif terhadap bagaimana efek mereka terhadap indera kita.

Alam semesta ini meliputi jarak yang sedemikian luas bahkan di luar kemampuan kita untuk memahami mereka. Jarak adalah skala yang manusia berlakukan untuk berapa dekat atau jauh hubungan antara dua entity. Karena skala jarak bisa begitu ekstrim, maka kita menggunakan beberapa jenis satuan untuk mengukur mereka. Jarak yang sangat jauh diukur dalam tahun cahaya. Jarak pendek diukur dalam kilometer atau mil. Lebih pendek lagi kita gunakan sentimeter dan milimeter. Lalu turun lagi ke jarak yang sangat kecil dan diukur dalam mikron. Sekali lagi, ada jarak ekstrim yang diukur berdasarkan sains, dan ada jarak yang jauh lebih sempit yang kita gunakan untuk pengukuran sehari-hari. Dalam rentang yang lebih sempit lagi, kita memisahkan apa yang disebut dengan jauh dan apa yang disebut dengan dekat. Dekat dan jauh adalah penilaian yang kita buat relatif terhadap bagaimana pengalaman tubuh kita bergerak dalam rentang skala yang lebih sempit tersebut.

Yang penting untuk dipahami di sini, bahwa ada perbedaan antara fenomena dan skala yang kita gunakan untuk mengukur fenomena tersebut, dan perbedaan yang lain antara skala yang kita gunakan untuk mengukur fenomena dan penilaian yang kita buat tentang fenomena yang kita ukur tadi. Pergerakan molekul dalam materi adalah sebuah fenomena. Kita mengukur fenomena itu dengan menerapkan skala temperatur. Temperatur bukanlah fenomena itu sendiri, itu hanyalah skala yang kita terapkan pada fenomena tersebut agar dapat diukur. Dan akhirnya, panas dan dingin bukanlah derajat temperatur, mereka adalah penilaian kualitas yang kita buat mengenai derajat temperatur. Jadi ketika manusia bertemu dan berinteraksi dengan fenomena, ada lapisan-lapisan pemahaman dan definisi yang terlibat dalam interaksi ini. Untuk memahami dengan jelas interaksi ini kita perlu memahami lapisan definisi yang diterapkan pada fenomena yang kita alami.

Baik dan jahat adalah penilaian kualitas, sama seperti panas dan dingin, terang dan gelap, dan dekat dan jauh. Penilaian kualitas adalah evaluasi yang kita buat relatif terhadap pengalaman kita sendiri sebagai manusia. Panas adalah apa yang panas untuk kita. Jauh adalah apa yang jauh untuk kita. Baik adalah apa yang baik untuk kita. Kejahatan adalah apa yang jahat bagi kita. Baik dan jahat adalah penilaian kualitas yang kita buat relatif terhadap diri sendiri dan pengalaman kita. Tetapi kalau baik dan jahat adalah penilaian kualitas, lalu bagaimana dengan kuantitasnya? Dan fenomena apa yang diukur?

Sekilas dapat dikatakan bahwa kuantitas yang dapat diterapkan pada perbuatan baik dan jahat adalah moralitas. Baik dan jahat adalah evaluasi moral, sehingga moralitas adalah skala yang digunakan untuk mengukur fenomena. Dan jika moralitas adalah skala yang kita gunakan untuk mengukur sebuah fenomena, maka fenomena itu menurut definisi adalah perilaku manusia, karena moralitas hanya berlaku untuk manusia. Atau kalau dilihat dari sisi sebaliknya, ada fenomena yang didefinisikan sebagai perilaku manusia. Kita mengukur rentang perilaku dengan menggunakan moralitas sebagai skala, dan kita dapat menilai moralitas pada rentang ini sebagai baik atau jahat, tergantung pada bagaimana efeknya terhadap diri kita berdasarkan pengalaman. Jadi pada dasarnya, baik dan jahat adalah penilaian kualitas yang dilakukan oleh diri kita sendiri, relatif terhadap diri kita sendiri, dan tentang diri kita sendiri.

Beberapa dari kita benar-benar tidak akan menyukai ide ini: bahwa baik dan jahat adalah penilaian kualitas dari kita, terhadap kita, dan bagaimana akibatnya pada kita. Mereka tidak akan menyukainya karena terkesan meninggalkan konsepsi Ketuhanan. Untuk beberapa alasan, manusia tidak ingin mengakui bahwa ketika kita menilai perilaku kita sendiri sebagai baik atau jahat, itu adalah benar-benar kita yang melakukan penilaian. Kita ingin membayangkan sebaliknya, bahwa ada kekuatan ilahi di luar diri kita yang telah menentukan baik dan jahat, dan kita hanya menjalankan dan menerapkan penghakiman ilahi tersebut. Lalu, kenapa ini bisa terjadi?

Mungkin kita benar-benar tidak mau mengakui bahwa apa yang baik bagi kita mungkin tidak baik bagi orang lain. Pada kenyataannya, apa yang baik bagi kita mungkin dianggap jahat oleh orang lain. Kita tidak menyukai gagasan bahwa kita layak begitu saja dianggap jahat ditinjau dari perspektif orang lain. Kita ingin agar ada kewenangan yang lebih besar yang meniadakan penilaian buruk tersebut. Dan juga, ketika kita menilai orang lain sebagai orang jahat, kita juga ingin agar penilaian kita diratifikasi oleh kewenangan yang lebih tinggi sehingga seseorang yang telah kita nilai tidak bisa begitu saja menolak dan mengklaim penilaian relativitas sebagai cara untuk menolak penilaian kita terhadap mereka. Hal yang membingungkan, kita tidak memerlukan kewenangan ilahi ketika kita membuat penilaian atas kualitas suhu, atau kecerahan, atau jarak atau begitu banyak fenomena lain yang kita alami di muka bumi ini.

Dapat diduga bahwa jawabannya adalah bahwa kita sangat menginginkan otoritas ilahi ketika menilai perilaku manusia lain, justru karena perilaku kita yang bersifat menghakimi. Perilaku molekul dan foton tidak mengancam ide-ide yang kita miliki tentang siapa kita dan apa nilai kita di dunia ini. Mereka tidak mengganggu ego kita. Tapi penilaian atas perilaku kita akan mengoyak ilusi yang kita miliki tentang diri kita sendiri, mereka menjadi gangguan bagi ego kita. Dan dapat diduga bahwa ini adalah alasan utama mengapa kita memerlukan otoritas yang lebih tinggi untuk menolak penilaian negatif orang lain terhadap kita, termasuk juga untuk memperkuat penilaian kita terhadap orang lain. Ini tidak logis, tidak wajar, dan bahkan tidak adil, tapi ketika ego manusia yang terlibat, hal-hal ini menjadi sesuatu yang dianggap lumrah.

—===oooOooo===—

Dikemas oleh: Lambang (LambangMH.wordpress.com)
Sumber: koleksi pribadi
Gambar: www.psdmaster.com

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Renungan and tagged , . Bookmark the permalink.

26 Responses to Baik dan Jahat

  1. qarrobin says:

    ngamanin Pertamax dulu………

  2. qarrobin says:

    Baik dan jahat adalah kualitas yang kita berikan terhadap gejala/tanda/ayat. Setiap gejala termasuk diri kita adalah daya. Arti dari daya adalah : apa yang bisa.

    Daya(sesuatu) bersifat reseptif terhadap hasrat kosmos, ia mentaati kehendak(qadha) dan mendengar perintah(amr). Kun fayakun. Hasrat ini disebut Passion(Mahmod dalam Tabut Perjanjian).
    La Tahmod…….Janganlah mengingini…..

    Arti dari Hasrat kosmos(Mahmod) adalah : apa yang menghendaki. Jika daya(makhluq) sejalan dengan akhlaq Mahmod, maka daya memiliki kualitas aktif.

    Selain dari nama Yang Menciptakan (Khaliq), Allah memiliki nama Yang memberi petunjuk. Islam adalah Damai, jika muslim merebut jubah kekuasaan Allah dengan mengambil haqq Allah menjadi miliknya, dan menyalahkan yang bertentangan dengannya, hingga timbullah ketidakdamaian, maka manusia(daya) ini memiliki kualitas reaktif.

    Sedangkan kualitas dari mahmod/hasrat kosmos adalah : Affirmatif, Penegasan dari Sifat2 Allah.

    Untuk manusia(daya) yang memiliki kualitas reaktif, maka ia memiliki akhlaq yang tercela, akhlaq yang tidak selaras dengan mahmod, maka akhlaqnya memiliki kualitas : Negatif, Menegasikan atau melepaskan diri dari ash shamad.

    daya/suatu/syai-in memiliki perbendaharaan(entitas) dan ke-mahiyah-an(ke-apa-an). Perbendaharaannya berada pada ilmuNya, sedangkan ke-apa-annya atau arketypenya adalah nonwujud. Ilmu adalah cahaya dan kejahilan adalah kegelapan. akhlaq tercela yang memiliki kualitas Negatif, akan kembali ke nonwujud yang disebut Nihilisme, ke kegelapan. akhlaq tercela adalah milik kejahilan, karna ilmu adalah cahaya, maka Allah terlepas dari kejahilan.

    ======================
    :: Kalau dihubungkan dengan ayat, jadinya akan muncul beberapa paradox dalam penjabarannya, dan itupun memang sah-sah saja sesuai persepsi masing-masing…🙂
    ======================

  3. Panas dan dingin, jauh dan dekat, terang dan gelap, semua telah didefinisikan dan disepakati oleh dunia dgn cukup baik walau masih secara terbatas. Terbatas oleh alat atau pun terbatas oleh apa yg sedang bermanfaat saja sehingga pemikiran yg tak terhingga pun mudah diakal-akali bersama-sama.

    Bentangan Baik dan Jahat sulit kita mendefinisikannya utk disepakati menetapkan takaran standard. Dan seperti apakah baik atau jahat yg tak terhingga itu. Apakah tidak baik itu adalah jahat? Atau jelek/buruk itu yg jahat? Apakah dgn menghindari berbuat jahat adalah baik? Sulit kita menentukan titik nol-nya, atau emang tak bisa ada titik nol dlm soal moral.
    Apa aksi bernapas itu nol-nya?

    Menurutku sementara ini, ukuran baik itu ada pd tiga sinkron(Pikir Tiga, yah!): Niat, Pengharapan dan Cinta, misalnya: Niatku hrs sinkron dgn Pengharapan dia dan hrs sinkron dgn Cinta Tuhan. Nyekrup, gitu loh. Satu dari tiga itu asinkron berarti “jahat”.
    Wow! Entah lah!

    Salam Cinta!

    ======================
    :: Kalau mau kembali ke tiga acuan juga bisa:
    1. Berpikir yang baik dan benar
    2. Berkata yang baik dan benar
    3. Berbuat yang baik dan benar.
    Lalu, baik dan benar menurut siapa? Bebas. Bisa menurut hati kecil kita yang fitrahnya memang mencari kesempurnaan dan eternity. Atau menurut kitab suci, yang banyak mengajarkan mana yang baik dan mana yang buruk. Atau bisa juga menurut kata tetangga, yang terkesan lebih subyektif demi memuaskan egonya.
    Bagaimana kalau baik dan benar itu menurut Tuhan? Sayangnya sampai saat ini saya masih belum bisa berdialog dengan Tuhan, jadi ya terpaksa hanya bisa mengikuti petunjuknya melalui kitab suci atau melalui kontemplasi pencarian pembenaran terhadap hal-hal yang tidak hitam-putih.

    ======================

  4. batjoe says:

    saya cuma percaya Allah memberikan segalanya kepada manusia baik itu baik dan buruk sekalipun karena setanpun masih diberikan kesempatan untuk mengganggu anak cucu adam…

    ======================
    :: Siiip mas, jadi lebih setuju dengan guided will ya.
    Ada sebagian orang yang lebih condong ke arah limited will atau free will. Persepsi dan imajinasi setiap orang tidak bisa dan tidak boleh diseragamkan, barangkali…🙂

    ======================

  5. batjoe says:

    artikelnya enak mas…
    dan ini lagi curi waktu untuk ngomentarin blognya kangmasku hehehehehehehee..

    ada salam dari miyabi tuh? hahahahahahaha

    ======================
    :: Oh iya, salam kembali buat diajeng Miyabi Sastrowardoyo…🙂
    ======================

  6. batjoe says:

    kok user name ku ndak bisa di klik ya dikomentar apakah diriku udah tidak masuk dalam jajaran blog Islam Abangan?

    wah sedihnya aku….hik…hik..hik…

    tapi tetap semangat kok mas lambang dan selamat pagi minggu dan hangat selalu salamku buat keluarga..

    ======================
    :: Kalau soal itu mah, salahnya sendiri ngga ngisi email dan URL address waktu login ke wordpress.
    Selamat hari minggu dan salam hangat kembali untuk mas Batjoe dan keluarga.

    ======================

  7. yang-kung says:

    Tuhan memberikan panggilan hidup menurut rencana-Nya. Kalau orang salah pilih, ia menguras tenaga dan biaya yang sia2. Tapi kalau ia taat, bantuan dan rahmat Tuhan datang dengan sendirinya.
    BARANGSIAPA MEMILIKI ALLAH,IA MEMILIKI SEGALANYA.

    salam rahayu.

    ======================
    :: Mudah-mudahan memang seperti itu adanya YangKung.
    Sayangnya saya masih belum berani merasa memiliki Allah, ataupun merasa disayang Allah. Masih banyak orang lain yang lebih pantas untuk hal itu.
    Salam Damai untuk YangKung dan keluarga.

    ======================

  8. lovepassword says:

    Menilai baik / buruk malah lebih mumet lagi ketimbang menilai panas atau dingin …🙂

    ======================
    :: Hehe… jelas itu… karena alat ukurnya masih belum ditemukan.
    Mudah-mudahan beberapa tahun lagi akan ditemukan alat pengukur gelombang otak dan enerji spiritual untuk mengetahui apakah seseorang itu pada dasarnya memang baik atau buruk, atau bocor alus…🙂

    ======================

  9. m4stono says:

    pamuji rahayu kimas lambang……

    sungguh suatu artikel yg sangat mencerahkan bagi kami2 sutresno blog islamabangan ini, mungkin kalo menurut hemat saya yg cubluk ini kalau misalnya ada materi maka ada antimateri dan ada energi maka ada anti energi, apakah analoginya seperti itu, mohon pencerahan dan pembabarannya ki mas lambang…
    salam sih katresnan…

  10. Ehm!
    Pikir dua, kitu Kang!

  11. Lambang says:

    Ehm… Ehm… jadi kalau boleh saya ulas sedikit kepada yang terhormat Kangmas Tono dan poro kadang yang saya cintai.

    Menurut saya yang masih cubluk, bocor alus, biyayakan dan kemlinthi ini, dalam kitab disebutkan bahwa Tuhan selalu menciptakan segala sesuatu secara berpasang-pasangan. Menurut saya berpasangan ini bukan hanya seperti laki dan perempuan, panas dan dingin dan lain-lain, tapi lebih kearah adanya penciptaan yang seimbang. Positif harus berimbang dengan negatif. Kalau ada materi maka pasti ada anti-materi. Kalau ada alam kasar, pasti ada alam halus. Lalu ada surga dan neraka. Malaikat dan setan, dan seterusnya….

    Semua ciptaan itu, seandainya bisa diukur secara kuantitatif, lalu kemudian dijumlahkan, maka hasilnya adalah nol, karena jumlah yang positif sama besarnya dengan yang negatif. Ini sangat sesuai dengan persepsi para ahli tasawuf yang mengatakan bahwa “pada mulanya semua hanyalah berupa titik yang sangat kecil”. Dengan kemampuanNya, Tuhan mengolah titik itu menjadi trilyunan materi dan anti-materi yang membentuk alam semesta dan seluruh isinya ini, termasuk dimensi-dimensi lain yang tidak kasat mata, seperti alam roh, alam mitsal, dan Lauhul Mahfudz.

    Itulah analogi dasar yang saya gunakan untuk menjawab pertanyaan saya sendiri “kenapa setan itu diciptakan”, padahal semula saya beranggapan bahwa penciptaan setan itu adalah hal yang mubazir, ngga jelas, dan ngga sesuai dengan sifat-sifat Tuhan yang manapun.

    Seandainya setan (atau ego dan nafsu) tidak diciptakan, maka di semua perempatan jalan akan macet total, karena setiap orang akan bersifat seperti malaikat, dan semua akan mempersilahkan agar orang lain jalan duluan. “Monggo mas, silahkan jalan duluan, saya belakangan saja, saya ngga buru-buru koq…” Dijamin 100% pasti macet dan semua kehidupan dunia juga akan terbawa macet. Rencana Tuhan terhadap penciptaan alam semesta ini menjadi tidak tercapai, dan tidak mungkin Tuhan bisa gagal dalam perencanaan dan pelaksanaan.

    Untuk sementara, itu dulu yang bisa saya sampaikan, Mohon maaf kalau saya cuma omdo saja. Kalau tidak berkenan silahkan dibuang ke tong sampah.

    Salam sih katresnan.

    • m4stono says:

      ya memang begitulah kangmas lambang, segala sesuatunya memang diciptakan segitu adanya, mengenai bahwa jagat raya itu asalnya dari satu titik persis analogi saya yg saya tulis diblognya mas qarrobin…..apabila yg berpasang pasangan itu kalo dijumlah akan menjadi nol…itulah hukum alam semesta dan manusia terkungkung di hukum itu hanya separo yaitu jasadnya sedangkan separonya lagi merupakan ruh yg sudah terbebas dari hukum itu, terinspirasi dari yg nol itu menjadi sarana latihan meditasi yg bagus bgt….angon angen lumantar angin…diartikel saya pernah saya tulis bahwa antara tarikan dan keluaran nafas itulah kunci dari meditasi…tarikan dan keluaran dijumlah menjadi nol dan setimbang….mekaten kangmas lambang ingkang linuwih lan winasis, mugi2 tansah kaparingan sih lan katressnan saking gusti Allah……nuwun

      ngomong alus2 ngene ketoke wagu tenan cangkemku karo merat merot…wis lah balik maning nang bludas bludus pendhelas pendhelus leda lede mencla mencle byayakan bocor alus:mrgreen:

    • Lambang says:

      Na! Bocor alus mode on…

      Balik lagi ke imajinasi sebelumnya di blog mas Qarr.

      Misalnya Tuhan itu berbentuk bola dengan sisi terluar bola adalah batas paling luar dari ruang dan waktu yang unlimited. Ini analogi paling gampang untuk menciptakan sosok Tuhan yang tidak terjangkau oleh nalar. Maka, titik yang nol itu ada di luar bola atau di dalam bola?

      Menurut saya, ada di dalam bola. Kalau di luar berarti ke-Esa-an Tuhan menjadi terbantahkan karena ada ruang lain yang ditempati oleh titik itu, yang berada di luar Tuhan.

      Q: Hoh! Tuhan itu tidak berwujud dan tidak terdefinisikan. Dosa kao kalau berandai-andai seperti itu!

      A: Lah, di kitab suci aja tertulis tangan Tuhan, wajah Tuhan, Tuhan melihat, Tuhan mendengar, Tuhan duduk di Arasy yang disokong oleh empat malaikat, Tuhan pada mulanya mengambang di atas air. Apa itu bukan menganggap Tuhan sebagai manusia? Bukankah itu bahasa metafor? Jadi anggap saja bola itu juga bahasa metafor.

      Q: Heh! Tapi kenapa metafornya bola? Mbok yang lain yang lebih mirip misalnya dzat atau ruh atau nur gitu?

      A: Susuki dunk… Bola itu kan analogi yang paling gampang dicerna di didefinisikan batas tepinya. Kalau saya bilang dzat, ruh atau nur, lalu definisinya apa? Kan sama abstraknya dengan Tuhan itu sendiri. Gitu loh… Gitu sih… Gitu deh…🙂

      Salam Bola!

      • m4stono says:

        jangan2 tuhan itu pake surban rambutnya putih jenggotnya nglawir sampe tanah duduk di arsy sambil bersila kathoke ngatung….gitu yah kang…hihihihihi

        ======================
        :: Mungkin ada juga yang ber-ilusi seperti itu.. hihi… nggilani tenan ilusi-nya…

        Jadi inget video Arab Drifting di artikel Madu dan Racun itu.
        Kenapa yah remaja pria di Arab sana masih setia pakai jubah dan ubel-ubel, padahal kelakuannya nggilani. Kalau pakai jeans dan T-Shirt kan lebih enak buat edan-edanan.
        Mungkin kalau tinggal di Arab tapi ngga pakai jubah dan ubel-ubel lalu dianggap sebagai sak elek-elek’e menungso kali yah…

        ======================

    • Bagiku bola itu analogi idup; Menggeliding, gitu loh! Dgn dua sumbu, “x” dan “y” kita hanya bisa muter milingkar. Na, utk kehidupan yg menggelinding kudu ada sumbu “z”. Yg padat bisa mencair, yg cair bisa meng-gas, yg gas kudu bisa memadat kali.

      Ngomong soal muter-muter (bukan menggelinding), ini mirip dgn rekaanku seandainya Tuhan meringkus Setan. Bila Tuhan meringkus Setan sekarang juga, maka kita semua mendadak soleh, yg sakit mendadak sembuh, uang pun tak diperlukan lagi dst. Mungkin benar spt rekaan Bung Lambang, perempatan pada macet, atau mungkin malah kita itu bergerak muter teratur searah sehaluan setikungan … mirip lah dgn jarum jam, muter terus nggak ngerti lagi mau ngapain dan utk apa selain pokoke muter saja. Nggak ada lagi perbuatan jahat vs baik. Apa mungkin kerja kita dicukupkan hanya bernapasssssah … bocor maning!

      Salam Alus!

      ======================
      :: Kurang setuju soal x, y, z dan menggelinding itu.
      Bola kan udah 3 dimensi (x, y dan z). Dimensi yang lebih dari tiga masih ada dalam ilusi dan imajinasi, sulit dibayangkan, jadi kita bahas 100 tahun lagi aja.
      Menggelinding itu kalau masih ada ruang di luar bola. Padahal pinggiran bola sudah diasumsikan sisi terluar dari batasan ruang dan waktu yang unlimited. Terus mau menggelinding kemana lagi Brat!
      All in One and One for All.

      Yang “Tuhan meringkus Setan” itu, dan juga muter teratur searah sehaluan setikungan, cocok sekali aku Brat!

      BTW, ternyata setan masih ada manfaatnya…🙂
      Minimal sebagai penyeimbang kehidupan.

      Salam All in One!
      ======================

      • m4stono says:

        sik…sik…membahas dimensi papat sampe nunggu 100 taun maning kiye kepriben kang….nganti njenggote nglawir tekan lemah po…hihihihihi….mimang kadang2 kita terjebak faham materialisme…kalo gak ada wujudnya berarti gak ada…ato semua hanya ilusi jan2e faham iki ono benere lho:mrgreen: ….maka dari itu teknologi kita teknology materialisme…pokoke semua harus pake alat….ini adalah salah satu warisan gelap teknology barat…kalo teknology timur itu gak pake alat….mo nyantet aja gak perlu pake pisau bedah…tinggal umak umik paku silet wis mlebu nang weteng….memang saya berandai andai…haalaah ilusi maning…kalo teknologi masa depan itu lebih pada penggalian potensi diri ato lebih ke dalam diri kita sendiri ketimbang alatisasi suatu teknologi………:mrgreen:

        ======================
        :: Kalau materialisme itu contohnya apa ngga seperti ini:
        Ada orang ngajak jalan-jalan ABG.
        Sampai di mall do’i minta dibeliin N71 atau Blackberry.
        Dalam hati torang mikir, “gile nih, ketemu cewe matre”.
        Tapi demi ego dan gengsi, terpaksa lah dibeliin.
        Padahal tabungannya langsung bablaz semua.

        ======================

      • Kamsute tiga sumbu niku utk kita manusia, agar berkehidupan menggelinding. Dua sumbu niku utk mereka binatang, hidup muter, dan cukup satu sumbu utk tamaman, hidup lempeng wae. Entahlah ne’ 100 thn maning berubah.

        Salam Gelinding!

        ======================
        :: Mungkin juga yah…
        Yang jelas aku makin ora mudeng.
        Mimang harus bikin yang njelimet.
        Para pakar sains juga gitu koq.
        Makin njelimet orang makin heran.
        Jan-jane sing bocor iku sopo tho.
        Salam Njelimet!

        ======================

      • m4stono says:

        waaaaa…salah kuwi kang….materialisme itu adalah salah satu cabang dari ilmu pengetahuan yg memberi sumbangan terbesar bagi kebudayaan dunia dari jaman mesir kuno hingga sekarang….dengan ilmu materialisme maka kita bisa mengenal konsepsi filosofi dari candi borobudur kamadhatu rupadhatu dan arupadhatu…hingga pencapaian tertinggi yaitu nibbana…lha hubungannya apa?? materialisme itu terdiri dari ilmu kerikilisme, batuisme, pasirisme dan semenisme, kalo jaman membangun candi masih memakai ilmu telurisme dicampur maduisme…nah nyambung kan…kalo gak ada materialisme mana ada candi borobudur……hihihi :mrgreen:

        ======================
        :: Ooo kuwi toh maksute.
        Jadi masih ada hubungannya dengan jazirah Arab ya Kang.
        Yang jual material itu kebanyakan kan orang Arab.
        Kalau yang jual matre 6000 rupiah ada di kantor pos.🙂

        ======================

  12. lovepassword says:

    Setan masih ada manfaatnya , yah jelas itu. Minimal untuk dirasani di blog🙂

    Jangan2 setan juga ngrasani menungsa

    ======================
    :: Hehehe… Dulu ngrasanin malaikat.
    Sekarang ngrasanin setan.
    Edyan tenan…🙂

    ======================

  13. sikapsamin says:

    whaahhh…ini mas Lambang pas lagi masuk dlm jalur orbit yang sebenarnya…nih.

    Baik dan Jahat…

    Pertanyaan yang sdh lama muncul dlm batin/benak saya adalah : ”Mengapa BAIK terlalu sulit untuk berkembang luas sementara JAHAT malah sebaliknya terlalu mudah berkembang luas?”.
    Maaf ini menurut pengamatan saya berdasar kondisi yang semakin carut-marut sekarang ini.

    Saya coba menemukan jawaban, mulai Thales, Socrates, Galileo, Max Plank, Attar, Rabi’ah sampai Siti Jenar, belum saya temuka jawaban.
    Tapi siapa tahu satelit PAMELA membawa hasil yg dapat disimpulkan menjadi jawaban.
    Atau mungkin mas Lambang sdh memiliki jawaban, ya mohon dishare disini.

    Pada skala sempit saya sempat berpikir, ‘Baik dan Jahat’ saya kaitkan dg Hukum-Relatifitasnya Einstein, relatifitas tempat/waktu.

    Begitulah mas Lambang dan para Sedulur Sejati semuanya.
    Maaf bila ada kata yg kurang pas dan terima kasih bila sdh ada jawaban atas pertanyaan saya diatas.

    Salam
    (hi..hi..hi..,ini ceritanya mumpung saya sedang kumat warase)

    Uk

  14. Lambang says:

    Saya malah baru tahu kalau ada satelit bernama Pamela yang mencari anti-materi itu. Tak pikir satelitnya Pamela Anderson.

    Oh ya, mengenai jumlah orang yang baik dan jahat. Kalau kita hitung ngasal aja yah, di pulau Jawa ini masih banyak yang baik-baik. Sayangnya mereka jarang di-ekspose di media. Yang rusak-rusak kebanyakan ada di kota besar. Maling, rampok, kecu, germo, PSK, pembajak, koruptor dan lain-lain kalau dihitung secara persentase rasanya belum mencapai 5% dari seluruh penduduk Jawa. Simbok-simbok di desa itu alus banget kelakuan dan tutur bahasanya.
    Na, jeleknya, para kuli tinta kita lebih seneng nguber yang 5% itu. Spektakuler dan layak jual. Makanya semua mass media lebih banyak berisi tentang keburukan masyarakat. Mbok sekali-kali munculkan berita simbok yang jualan di pasar klewer atau jualan gudeg lesehan.

    Jadi, menurut saya keseimbangan alam tetap masih terjaga. Memang harus ada yang buruk sebagai penyeimbang yang baik. Sejenis dengan komen saya di atas itu tentang perempatan yang dijamin macet 100% kalau semua orang berjiwa malaikat.

    Mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan, maklumlah saya ini hanya bisa omdo, dan kebetulan tadi baru minum obat, jadi sekarang lumayan waras.

    Salam Persahabatan.

  15. RaRa Wulan says:

    Setuju maz kalo nggak ada orang jahat nggak ada seru2nya hahahahaha mosok tiap hari baik2 mulu hehehehe (edan melanda aku)
    thankyu dan sukses slalu🙂

  16. hanumuslem says:

    jahat dan buruk selalu dimiliki oleh setiap orang..

    ======================
    :: Mudah-mudahan demikian adanya.
    ======================

  17. Pingback: Dan ubel | 2p-tech

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s