Ego – Jiwa – Jati Diri

lotus.jpgSeorang anak dilahirkan. Dia dilahirkan tanpa pengetahuan, tanpa kesadaran terhadap dirinya sendiri. Hal pertama yang dia sadari bukanlah dirinya sendiri, tetapi hal lain. Ini wajar, karena mata terbuka ke arah luar, tangan menyentuh orang lain, telinga mendengarkan orang lain, lidah merasakan makanan dari luar dan hidung mencium aroma dari luar. Semua indra terbuka ke arah luar.

Itulah yang diartikan kelahiran. Kelahiran berarti datang ke dunia ini, ke dunia luar. Ketika anak itu membuka matanya, dia melihat orang lain. Pertama kali ia akan menyadari keberadaan ibunya. Kemudian, dari hari ke hari, dia menjadi sadar akan tubuhnya sendiri. Itu juga sesuatu yang lain, yang juga menjadi milik dunia. Dia menjadi lapar dan dia merasakan tubuhnya; Saat kebutuhannya terpenuhi, dia melupakan tubuh.

Ini adalah bagaimana seorang anak tumbuh. Pertama, dia menjadi sadar berada di antara orang-orang, dan dengan menjadikan mereka sebagai pembanding, kemudian dia menjadi sadar akan dirinya sendiri. Kesadaran ini adalah kesadaran cerminan. Dia tidak mengetahui siapa dirinya. Dia hanya menyadari ibunya dan apa yang dia pikirkan tentang dirinya. Jika dia tersenyum, jika dia membuai anak, jika dia mengatakan, “anak yang manis,” jika dia memeluk dan mencium, anak akan merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Sekarang ego telah terlahir. Melalui penghargaan, cinta, kepedulian, dia merasa nyaman, dia merasa berharga, dia merasa memiliki arti. Sebuah jati diri telah lahir. Tetapi jati diri ini adalah jati diri cerminan. Bukan jati diri yang sesungguhnya. Dia tidak tahu siapa dirinya, tetapi dia hanya mengetahui apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya. Dan ini adalah ego: refleksi dari apa yang dipikirkan orang lain. Jika tak ada yang berpikir bahwa dia ada gunanya, tak ada yang menghargai dirinya, tak ada yang tersenyum, ego juga akan tetap lahir, tetapi disebut ego yang sakit; sedih, merasa ditolak, seperti luka; perasaan rendah diri, merasa tidak berharga. Ini juga disebut ego, dan ini juga cerminan.
Pertama kali ibu yang dilihatnya, dan ibu berarti dunia pada awalnya. Kemudian orang lain akan bergabung dengan ibu, dan dunia terus berkembang. Dan semakin tumbuh dunia, ego menjadi semakin kompleks, karena banyak pendapat orang lain yang tercermin.

Ego adalah sebuah kumpulan fenomena, hasil dari hidup bersama orang lain. Jika seorang anak benar-benar hidup sendirian, dia tidak akan pernah bisa menumbuhkan ego. Dia tidak akan bisa mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Itu hanya bisa diketahui setelah tahu mana yang salah, sehingga ego harus ada. Kita harus melewatinya. Ini adalah disiplin ilmu. Kenyataan yang sebenarnya hanya dapat diketahui melalui ilusi. Anda tidak akan dapat mengetahui kebenaran secara langsung. Pertama Anda harus tahu mana yang tidak benar. Lalu Anda harus mengalami hal yang tidak benar itu. Melalui pengalaman itu Anda menjadi mampu mengetahui kebenaran. Jika Anda tahu mana yang salah adalah salah, kebenaran akan menyingsing pada diri Anda.

Ego adalah sebuah kebutuhan sosial; produk sosial. Masyarakat artinya adalah semua yang ada di sekitar Anda – tidak termasuk Anda. Dan semua orang memancarkan cerminan. Anda akan pergi ke sekolah dan guru akan memberikan cerminan tentang siapa Anda. Anda bersahabat dengan anak-anak lain dan mereka akan mencerminkan siapa Anda. Hari demi hari, setiap orang memberikan tambahan ego kepada Anda, dan setiap orang selalu mencoba untuk mengubahnya sedemikian rupa sehingga Anda tidak menjadi masalah bagi masyarakat. Mereka tidak peduli dengan Anda. Mereka lebih perduli kepada masyarakat.

Masyarakat berkaitan dengan dirinya sendiri, dan memang demikian seharusnya. Mereka tidak peduli bahwa Anda harus menjadi diri yang maha-tahu. Mereka hanya perduli bahwa Anda harus menjadi bagian yang efisien dalam mekanisme masyarakat. Anda harus sesuai dengan pola. Mereka mengajarkan moralitas. Moralitas berarti memberikan Anda sebuah ego yang akan cocok dengan masyarakat. Jika Anda tidak bermoral, Anda tidak cocok di suatu tempat atau lainnya. Itulah sebabnya kita menempatkan penjahat di dalam penjara – bukan karena mereka telah melakukan sesuatu yang salah, bukan dengan meletakkannya di dalam penjara kita akan dapat memperbaiki mereka, bukan. Mereka hanya tidak cocok. Mereka adalah pembuat onar. Mereka memiliki ego jenis tertentu yang tidak disetujui oleh masyarakat. Jika masyarakat menyetujui, semuanya menjadi baik.

Satu orang yang membunuh orang lain disebut sebagai pembunuh. Jika orang yang sama di masa perang membunuh ribuan orang, maka ia menjadi pahlawan besar. Masyarakat tidak terganggu oleh pembunuhan, tetapi pembunuhan harus dilakukan untuk masyarakat. Masyarakat tidak berbicara tentang moralitas. Moralitas hanya berarti bahwa Anda harus cocok dengan masyarakat. Jika masyarakat dalam keadaan perang, maka ada perubahan moralitas. Jika masyarakat damai, maka ada moralitas yang berbeda. Moralitas adalah terminologi dalam bidang sosial politik. Bisa diubah cukup dengan diplomasi. Dan setiap anak harus dibesarkan sedemikian rupa sehingga ia cocok ke dalam masyarakat, itu saja. Masyarakat hanya tertarik pada anggota yang bisa bermasyarakat dengan baik. Masyarakat tidak perduli apakah Anda harus meningkatkan pengetahuan tentang jati diri atau tidak.

Masyarakat menciptakan ego karena ego dapat dikontrol dan dimanipulasi. Diri tidak dapat dikontrol atau dimanipulasi. Tidak pernah ada berita bahwa masyarakat dapat mengendalikan diri pribadi, itu tidak mungkin. Dan anak membutuhkan sebuah jati diri; anak sama sekali tidak menyadari jati diri yang ada dalam dirinya sendiri. Masyarakat memberinya sebuah jati diri dan si anak hari demi hari meyakini bahwa ini adalah jati diri yang dicarinya, yaitu ego yang diberikan oleh masyarakat.

Si anak pulang ke rumahnya – jika dia datang paling pagi di kelasnya, seluruh keluarga bahagia. Anda memeluk dan menciumnya, dan Anda mengangkat anak pada bahu Anda dan menari sambil berkata, “Anak yang manis. Anak yang jadi kebanggaan kami.” Anda telah memberinya ego, ego yang halus. Dan jika anak pulang ke rumah dengan kesal dan merasa gagal – ia tidak bisa lulus, atau dia hanya dapat duduk di bangku belakang – maka tidak ada yang menghargai dirinya dan anak merasa ditolak. Dia akan berusaha lebih keras lain kali, karena jati dirinya merasa terguncang.

Ego selalu terguncang, selalu mencari makanan, bahwa seseorang harus menghargainya. Itu sebabnya Anda terus-menerus meminta perhatian. Anda mendapatkan ide tentang siapa diri Anda dari orang lain. Ini bukan pengalaman langsung. Ini berasal dari orang lain sehingga Anda mendapatkan gagasan tentang siapa diri Anda. Mereka membentuk jati diri Anda. Jati diri ini adalah palsu, karena Anda sebetulnya membawa jati diri Anda sendiri yang nyata. Ini bukanlah urusan orang lain. Tidak ada orang lain yang membentuknya. Anda datang bersamanya. Anda lahir bersamanya.

Jadi, Anda memiliki dua jati diri. Satu jati diri yang datang bersama eksitensi Anda terlahir di dunia ini. Dan jati diri yang lain, yang diciptakan oleh masyarakat, adalah ego. Ini adalah sesuatu yang keliru – dan ini adalah tipuan yang sangat besar. Melalui ego, masyarakat mengendalikan Anda. Anda harus berperilaku dengan cara tertentu, karena dengan demikian masyarakat akan menghargai Anda. Anda harus berjalan dengan cara tertentu; Anda harus tertawa dengan cara tertentu; Anda harus mengikuti tata krama tertentu, moralitas, aturan. Baru kemudian masyarakat akan menghargai Anda, dan jika tidak, ego anda akan goncang. Dan ketika ego terguncang, Anda tidak tahu di mana Anda berada, dan siapa Anda.

Cobalah untuk mengerti sedalam mungkin, karena ego ini harus dibuang. Dan jika Anda tidak membuangnya, Anda tidak akan pernah bisa mencapai ke dalam diri. Karena Anda kecanduan pada ego, Anda tidak bisa bergerak, dan Anda tidak dapat melihat diri sendiri. Dan ingat, ada akan suatu masa peralihan, ada selang waktu, ketika ego akan hancur, ketika Anda tidak akan tahu siapa diri Anda, ketika Anda tidak akan tahu akan pergi ke mana, ketika semua batasan akan mencair. Maka anda akan menjadi bingung, dan semua menjadi kacau. Karena kekacauan ini, Anda takut kehilangan ego. Tetapi memang harus begitu. Semua harus melewati kekacauan sebelum mencapai ke jati diri yang nyata. Dan jika Anda berani, jangka waktunya akan menjadi pendek. Jika Anda takut, dan Anda lagi jatuh kepada ego, dan Anda mulai mengatur itu lagi, maka waktunya bisa menjadi sangat sangat panjang; banyak waktu kehidupan yang menjadi sia-sia.

Bersama dengan ego, Anda merasakan bahwa ego adalah kegelapan. Mungkin ini akan merepotkan, mungkin ini menciptakan banyak kesengsaraan, tapi ini masih milikku. Sesuatu untuk menjadi pegangan, sesuatu yang sudah melekat, sesuatu yang menjadi pijakan. Anda tidak berada dalam ruang hampa, bukan juga dalam kekosongan. Anda mungkin menyedihkan, tapi setidaknya Anda adalah Anda. Bahkan keadaan sedihpun memberi Anda perasaan ‘Aku’. Pindah dari itu, rasa takut mengambil alih; Anda mulai merasa takut pada kegelapan dan kekacauan yang tidak dikenal – karena masyarakat telah berhasil menghapus bagian kecil dari keberadaan Anda.

Ego yang diberikan oleh masyarakat itu hanyalah menempati sebagian kecil dari kesadaran diri Anda. Kesadaran akan jati diri yang sesungguhnya, ada dalam bagian kesadaran lain yang masih belum pernah dibuka dan disentuh. Untuk membuka kesadaran, Anda harus berani masuk ke dalam sesuatu yang sama sekali belum pernah Anda ketahui. Untuk sementara semua batasan akan hilang. Untuk sementara Anda akan merasa pusing. Untuk sementara Anda akan merasa sangat takut dan terguncang. Tetapi jika Anda berani dan Anda tidak pernah menoleh ke belakang, jika tidak jatuh kembali ke dalam ego dan Anda terus berjalan, maka Anda akan menemukan satu pusat tersembunyi yang ada dalam diri Anda yang memang sudah terbawa sejak lahir. Itu adalah jiwa Anda, jati diri Anda.

Sekali Anda datang mendekati itu, semuanya akan berubah, dan semuanya akan memantapkan diri kembali. Tetapi sekarang pemantapan ini tidak dilakukan oleh masyarakat. Sekarang semuanya menjadi kosmos, bukan chaos; dan suatu tatanan baru akan muncul. Tetapi ini bukan lagi tatanan masyarakat – ini adalah tatanan keberadaan jati diri itu sendiri. Ini adalah apa yang disebut oleh Buddha sebagai Dhamma , Lao Tzu menyebutnya Tao , dan Heraclitus menyebutnya Logos .
Itu bukan buatan manusia. Ini adalah tatanan keberadaan itu sendiri. Lalu semuanya tiba-tiba menjadi indah lagi, dan untuk pertama kali semuanya menjadi benar-benar indah, karena hal-hal buatan manusia tidak ada yang bisa indah. Paling-paling kita hanya dapat menyembunyikan keburukan dari mereka, itu saja. Kita bisa menghiasi mereka, tetapi mereka tidak akan pernah bisa menjadi indah.
Perbedaannya adalah seperti perbedaan antara bunga asli dengan bunga plastik atau bunga kertas. Ego adalah bunga plastik – mati. Itu hanya tampak seperti bunga, tetapi bukan bunga. Kita tidak dapat benar-benar menyebutnya bunga. Itu hanyalah plastik dan tidak ada kehidupan di dalamnya. Kita memiliki pusat jati diri yang berbunga. Itulah sebabnya orang Hindu menyebutnya teratai (lotus) – karena dia berbunga. Mereka menyebutnya teratai seribu kelopak (one thousand petaled lotus). Seribu kelopak bunga berarti tidak terbatas. Dan itu terus berbunga, tidak pernah berhenti, tidak pernah mati.

Tetapi kita sudah cukup puas dengan ego plastik. Ada beberapa alasan mengapa kita puas. Dengan benda mati, ada banyak kenyamanan. Salah satunya adalah bahwa benda mati tidak pernah mati. Mereka tidak berubah. Mereka tidak kekal, tetapi mereka permanen. Bunga nyata yang ada di luar taman itu kekal, tetapi tidak permanen. Dan yang kekal selalu memiliki cara untuk menjadi abadi. Cara yang kekal adalah untuk dilahirkan kembali, dan kembali dan mati. Melalui kematian itu dia menyegarkan dirinya sendiri, meremajakan dirinya sendiri. Bagi kita tampak bahwa bunga itu telah mati – tetapi dia tidak pernah mati. Ini hanya perubahan tubuh, sehingga selalu segar. Meninggalkan tubuh tua, memasuki tubuh baru. Ini membunga di tempat lain; dan ini terus berbunga. Tetapi kita tidak dapat melihat kontinuitas ini karena tidak kelihatan. Kita hanya melihat satu bunga, dan bunga lain, kita tidak pernah melihat kontinuitas. Ini adalah bunga yang sama dengan yang kemarin. Ini adalah matahari yang sama, tetapi dalam wujud yang berbeda.

Ego memiliki kualitas tertentu – dia sudah mati. Dia hanyalah bunga plastik. Dan sangat mudah diperoleh, karena orang lain memberikannya. Anda tidak perlu mencarinya karena tidak ada pencarian yang terlibat. Itu sebabnya, Anda belum menjadi seorang individu. Anda hanya bagian dari kerumunan. Anda hanya bagian dari sekelompok massa.
Bila Anda tidak memiliki jati diri yang nyata, bagaimana Anda bisa menjadi seorang individu?
Ego bukan individual. Ego adalah fenomena sosial – ini adalah masyarakat, bukan Anda. Tapi itu memberi Anda sebuah fungsi dalam masyarakat, suatu hierarki di masyarakat. Dan jika Anda tetap puas dengan hal itu, Anda akan kehilangan seluruh peluang untuk menemukan diri sendiri. Dan itulah kenapa Anda begitu sengsara. Dengan kehidupan plastik, bagaimana Anda bisa bahagia? Dengan kehidupan palsu, bagaimana Anda bisa gembira dan bahagia?
Kemudian ego ini menciptakan banyak penderitaan, jutaan dari mereka. Anda tidak dapat melihat, karena kegelapan adalah Anda sendiri. Anda terbiasa dengan itu. Pernahkah Anda perhatikan bahwa semua jenis penderitaan masuk melalui ego? Tidak dapat membuat Anda bahagia, tetapi hanya dapat membuat Anda sengsara.

Ego adalah neraka. Setiap kali Anda menderita, cobalah untuk melihat dan menganalisis, dan Anda akan menemukan, di suatu tempat ego adalah penyebab itu. Dan ego terus mencari sebab-sebab untuk menderita. Anda adalah egois, seperti semua orang. Beberapa sangat kasar, hanya di permukaan, dan mereka tidak begitu sulit. Beberapa sangat halus, jauh di lubuk hati, dan mereka adalah masalah nyata. Ego ini muncul terus-menerus dalam konflik dengan orang lain karena setiap ego adalah begitu percaya diri tentang dirinya sendiri. Apakah yang harus – itu adalah hal yang keliru. Bila Anda tidak memiliki apa-apa di tangan Anda dan Anda hanya berpikir bahwa ada sesuatu yang ada, maka akan ada masalah. Jika seseorang berkata, “Tidak ada apa-apa,” pertengkaran akan segera dimulai, karena Anda juga merasa bahwa memang tidak ada apa-apa. Orang lain membuat Anda menyadari fakta. Ego adalah palsu, itu bukan apa-apa. Dan Anda juga sudah tahu itu. Lalu, kenapa Anda bisa gagal mengetahuinya?

Ini mustahil! Manusia yang sadar – bagaimana dia bisa gagal mengetahui ego ini palsu? Dan kemudian orang lain mengatakan bahwa tidak ada sesuatupun di sana – dan setiap kali orang lain mengatakan bahwa tidak ada sesuatupun di sana, ada yang menjadi terluka. Mereka mengatakan suatu kebenaran. Anda harus membela diri, karena jika Anda tidak membela diri, jika Anda tidak menjadi defensif, lalu di mana Anda akan berdiri? Anda akan kalah. Identitas akan pecah. Jadi, Anda harus bertahan dan melawan – dan timbulah bentrokan.

Seorang pria yang telah mencapai pemahaman tentang jati diri, tidak pernah hadir dalam setiap bentrokan. Orang lain mungkin datang dan bentrokan dengan dia, tetapi ia tidak pernah mau terlibat dalam bentrokan dengan siapa pun. Ini pernah terjadi pada salah satu Master Zen yang sedang melewati jalan. Seorang laki-laki datang berlari dan memukulnya keras. Master jatuh. Kemudian ia bangkit
dan mulai berjalan ke arah yang sama di mana ia akan pergi sebelumnya, bahkan tidak melihat ke belakang. Ada seorang murid yang berjalan bersama dengan Master. Dia hanya terkejut. Dia berkata, “Siapakah orang ini? Ada apa ini? Jika seseorang hidup sedemikian rupa, maka siapa pun bisa datang dan membunuh Anda. Dan Anda bahkan belum melihat orang itu, siapa dia, dan mengapa ia melakukannya.” Sang guru berkata, “Itu adalah masalahnya, bukan masalahku.”

Anda dapat bentrokan dengan orang yang tercerahkan, tetapi itu adalah masalah Anda, bukan masalahnya. Dan jika Anda terluka dalam bentrokan, itu juga masalah Anda sendiri. Dia tidak bisa menyakitimu. Dan itu seperti memukul dinding – Anda akan terluka, tapi dinding tidak menyakiti Anda.
Ego selalu mencari beberapa masalah. Mengapa? Karena kalau tidak ada yang memberi perhatian kepada Anda, ego merasa lapar. Dia butuh perhatian. Jadi, jika ada seseorang yang marah dan mengajak Anda berkelahi, itu juga baik karena setidak-tidaknya ada perhatian yang dibayar. Jika seseorang mencintai, ini juga baik. Jika seseorang tidak mencintai Anda, maka kemarahan juga baik. Setidaknya perhatian akan datang kepada Anda. Tetapi jika tidak ada yang memberikan perhatian kepada Anda, tak seorang pun berpikir bahwa Anda adalah orang penting, maka bagaimana Anda akan memberi makan ego? Perhatian orang lain sangat diiperlukan.

Ada banyak cara untuk menarik perhatian orang lain; Anda berpakaian dengan cara tertentu, Anda mencoba untuk terlihat menarik, Anda berperilaku sopan, maka Anda telah berubah. Ketika Anda merasakan situasi apa yang ada di sana, Anda segera berubah, sehingga orang-orang menaruh perhatian kepada Anda. Ini adalah benar-benar pengemis. Pengemis sejati adalah orang yang meminta dan menuntut perhatian. Dan kaisar yang sesungguhnya adalah orang yang hidup dalam dirinya sendiri; ia memiliki jati diri sendiri, dia tidak tergantung pada orang lain.

Buddha duduk di bawah pohon bodhi … jika seluruh dunia tiba-tiba menghilang, apakah itu akan membuat perbedaan bagi Buddha? – Tidak. Tidak akan ada bedanya sama sekali. Jika seluruh dunia menghilang, tidak akan ada bedanya karena ia telah mencapai ke jati diri sejati.
Tetapi Anda, jika istri melarikan diri, menceraikan Anda dan pergi ke orang lain, Anda benar-benar hancur – karena selama ini dia telah menaruh perhatian kepada Anda, rasa sayang, penuh kasih, berputar di sekitar Anda, membantu Anda merasa bahwa Anda adalah seseorang. Seluruh kerajaan Anda menjadi hilang, dan Anda menjadi hancur. Anda mulai berpikir tentang bunuh diri. Mengapa? Mengapa, jika seorang istri (atau suami) meninggalkan Anda, Anda harus bunuh diri? Karena Anda tidak memiliki pusat dari diri Anda sendiri. Sang istri telah memberikan Anda jati diri.

Ini adalah bagaimana orang-orang itu menjadi eksis. Ini adalah bagaimana orang menjadi tergantung pada orang lain. Ini adalah perbudakan yang mendalam. Ego harus menjadi budak. Tergantung pada orang lain. Dan hanya orang yang tidak memiliki ego sajalah yang bisa menjadi master; dia bukan lagi seorang budak.
Cobalah untuk memahami hal ini. Dan mulailah mencari ego – bukan pada orang lain, yang bukan menjadi urusan Anda, tapi dari dalam diri Anda sendiri. Setiap kali Anda merasa sengsara, Anda segera menutup mata dan mencoba untuk mencari tahu dari mana penderitaan itu datang dan Anda akan selalu menemukan itu adalah jati diri palsu yang berbenturan dengan seseorang.

Anda mengharapkan sesuatu, dan itu tidak terjadi. Anda mengharapkan sesuatu, dan malahan yang sebaliknya terjadi. Ego Anda terguncang, Anda berada dalam kesengsaraan. Coba lihat, setiap kali Anda menderita, cobalah untuk mencari tahu mengapa. Penyebabnya tidak berada di luar Anda. Penyebab dasarnya adalah apa yang ada pada diri Anda – tetapi Anda selalu mencarinya di luar, Anda selalu bertanya:

* Siapa yang membuat saya sengsara?
* Siapa penyebab kemarahan saya?
* Siapakah yang menyebabkan penderitaan saya?

Dan jika Anda melihat keluar, Anda akan kehilangan. Cukup menutup mata dan selalu melihatlah ke dalam. Sumber dari segala kesengsaraan, kemarahan, kesedihan, yang tersembunyi di dalam Anda, adalah ego Anda. Dan jika Anda telah menemukan sumbernya, maka akan mudah untuk bergerak di luar itu. Jika Anda dapat melihat bahwa ego Anda sendiri yang memberikan kesulitan, Anda akan lebih suka untuk menjatuhkan itu – karena tidak ada yang dapat membawa sumber penderitaan jika dia memahaminya.

Dan ingat, tidak perlu menjatuhkan ego. Anda tidak bisa menjatuhkan itu. Jika Anda mencoba untuk menjatuhkannya, Anda akan mencapai ego lebih halus lagi yang mengatakan, “Saya telah menjadi rendah hati.” Jangan mencoba untuk menjadi rendah hati. Itu adalah ego yang sedang bersembunyi – tetapi tidak mati. Tidak seorangpun dapat mencoba kerendahan hati, dan tidak seorangpun dapat menciptakan kerendahan hati melalui usahanya sendiri – tidak ada. Ketika ego dapat ditekan, sebuah kerendahan hati akan datang kepada Anda. Itu bukanlah penciptaan. Itu adalah bayangan dari jati diri yang nyata. Dan orang yang benar-benar rendah hati bukanlah rendah hati dan tidak egois. Dia hanyalah sederhana. Dia bahkan tidak menyadari bahwa dia adalah orang yang rendah hati. Jika Anda sadar bahwa Anda rendah hati, ego ada di sana.

Lihatlah orang-orang yang rendah hati …. Ada jutaan orang yang berpikir bahwa mereka sangat rendah hati. Mereka membungkukkan diri sangat rendah, tetapi mengamati mereka – mereka adalah orang-orang egois yang halus. Sekarang kerendahan hati adalah sumber makanan mereka. Mereka berkata, “Saya rendah hati,” dan kemudian mereka melihat Anda dan menunggu penghargaan Anda. “Anda benar-benar rendah hati,” mereka ingin Anda mengatakan itu. “Pada dasarnya Anda adalah orang yang paling rendah hati di dunia, tidak seorangpun yang bisa rendah hati seperti Anda.” Kemudian lihatlah senyum yang muncul di wajah mereka.

Ada seorang fakir, pengemis, yang sedang berdoa di sisi luar sebuah masjid, ketika pagi masih gelap. Dan dia berdoa, “Saya bukanlah siapa-siapa. Saya adalah golongan yang sangat miskin, pendosa terbesar dari semua orang-orang berdosa.”
Ternyata di dalam mesjid, sudah ada orang lain yang sedang berdoa juga. Dia adalah Kaisar Negara. Sebelumnya sang Kaisar juga berdoa, “Saya bukanlah siapa-siapa. Saya hanyalah manusia yang kosong, pengemis yang ada di depan pintu.”.
Ketika Kaisar mendengar ada orang lain mengucapkan doa yang sama, dia berkata, “Berhenti! Siapa yang mencoba menyamai saya? Siapa kau? Beraninya kau mengatakan bahwa kau bukan siapa-siapa ketika kaisar mengatkan bahwa dia bukan siapa-siapa?”

Itu adalah contoh bagaimana ego itu berlangsung. Itu sangat halus. Cara yang begitu halus dan licin. Anda harus sangat, sangat waspada, baru kemudian Anda akan melihatnya. Jangan mencoba untuk menjadi rendah hati. Cobalah mengamati bahwa semua kesengsaraan dan semua kesedihan datang melewatinya. Cukup amati saja! Tidak perlu menjatuhkannya. Anda tidak bisa menjatuhkan ego itu. Siapa yang akan menjatuhkan itu? Kemudian yang menjatuhkan akan menjadi ego. Ini akan selalu datang kembali. Apa pun yang Anda lakukan, keluarlah dari sana, lihat dan amati. Apa pun yang Anda lakukan – kerendahan hati, kesopanan, kesederhanaan – tidak akan membantu. Hanya satu hal yang bisa dilakukan, yaitu hanya melihat dan mengamati bahwa itu adalah sumber dari semua kesengsaraan. Jangan katakan itu. Jangan ulangi itu – Amati. Karena kalau aku mengatakan ini adalah sumber dari semua kesengsaraan dan Anda mengulanginya, maka akan menjadi sia-sia. Anda harus datang ke pemahaman tersebut. Setiap kali Anda menderita, hanya menutup mata dan jangan mencoba untuk menemukan beberapa penyebab di luar. Cobalah untuk melihat dari mana penderitaan ini datang. Ini adalah ego Anda sendiri.
Jika Anda terus-menerus merasa dan memahami, dan pemahaman bahwa ego adalah penyebabnya sudah sedemikian mengakar, suatu hari Anda akan melihat secara tiba-tiba bahwa ego itu telah menghilang. Dia menghilang begitu saja, karena pemahaman bahwa ego adalah penyebab dari semua kesengsaraan, telah membuatnya menghilang begitu s
aja.

Terkadang Anda begitu pandai dalam melihat ego orang lain. Siapa saja dapat melihat ego orang lain. Ketika datang kepada Anda sendiri, maka masalah muncul – karena Anda tidak tahu wilayah, Anda belum pernah bepergian di atasnya. Seluruh jalan menuju ilahi, harus melewati wilayah ego ini. Kepalsuan harus dipahami sebagai kepalsuan. Sumber penderitaan harus dipahami sebagai sumber penderitaan – dan kemudian ego itu akan menghilang.
Ketika Anda tahu bahwa itu adalah racun, dia menghilang. Ketika Anda tahu itu adalah api, dia menghilang. Ketika Anda tahu itu adalah neraka, dia menghilang. Dan kemudian Anda tidak akan pernah mengatakan, “Saya telah menjatuhkan ego.” Lalu Anda hanya tertawa terhadap semua kejadian, lelucon bahwa Anda adalah pencipta dari semua kesengsaraan.

Saya pernah melihat beberapa kartun Charlie Brown. Dalam salah satu kartun dia bermain dengan balok-balok, membuat rumah dari balok-balok itu. Dia duduk di tengah-tengah bangunan. Lalu datanglah saat ketika ia tertutup dinding-dinding disekitarnya. Kemudian ia menangis, “Tolong, tolong!” Dia telah melakukan semua itu! Sekarang dia tertutup, dipenjarakan. Ini adalah kekanak-kanakan, tapi ini semua yang telah Anda lakukan juga. Anda telah membuat sebuah rumah di sekitar diri Anda, dan sekarang Anda menangis. Penderitaan menjadi menenggelamkan, karena sang penolong juga berada dalam perahu yang sama.

Pernah juga terjadi seorang wanita yang sangat cantik datang ke psikiater untuk pertama kalinya. Psikiater berkata, “Silahkan, mendekatlah…” Ketika dia datang mendekat, sang psikiater memeluk dan mencium wanita itu. Dia sangat terkejut. Kemudian sang psikiater berkata, “Sekarang duduklah. Itu tadi untuk menyelesaikan masalah saya, sekarang apa masalah Anda?”

Masalahnya menjadi berlarut-larut, karena ada penolong yang berada di perahu yang sama. Dan mereka ingin membantu, karena ketika Anda membantu orang lain, ego menjadi merasa sangat baik, sangat, sangat baik – karena Anda adalah seorang penolong yang hebat, guru besar, master; Anda membantu begitu banyak orang. Semakin besar kerumunan pengikut Anda, semakin baik Anda rasakan. Tetapi Anda berada dalam perahu yang sama – Anda tidak bisa membantu. Sebaliknya, Anda malahan akan merugikan.
Orang-orang yang masih memiliki masalah mereka sendiri tidak dapat banyak membantu. Hanya orang yang tidak memiliki masalah pada dirinya sendiri yang dapat membantu Anda. Muncul pencerahan untuk melihat melalui Anda. Anda menjadi transparan. Pikiran yang tidak memiliki masalahnya sendiri dapat melihat melalui dirinya sendiri; itulah sebabnya dia menjadi mampu untuk melihat melalui orang lain.

Di Barat, ada banyak sekolah psikoanalisis, tetapi tidak banyak yang dapat membantu orang-orang, malahan membahayakan, karena orang-orang yang membantu atau berusaha membantu atau menyamar sebagai penolong, berada dalam perahu yang sama.

…Sulit untuk melihat ego diri sendiri. Sangat mudah untuk melihat ego orang lain. Tetapi itu bukan itu intinya, Anda tidak dapat menolong mereka. Cobalah untuk melihat ego Anda sendiri. Hanya mengamatinya. Ketika Anda dewasa melalui pemahaman, dan Anda telah merasa benar-benar bahwa ego adalah penyebab dari semua kesengsaraan Anda, suatu hari Anda akan melihat bahwa ego itu telah menghilang dan kemudian jati diri yang sebenarnya akan muncul. Jati diri itu adalah jiwa, diri, kebenaran, atau apapun Anda ingin menyebutnya. Dia tidak membutuhkan nama, jadi apapun namanya tidak masalah. Anda dapat memberikan nama apapun sesuai dengan keinginan Anda sendiri.

Dikemas oleh: Lambang (LambangMH.wordpress.com)
Sumber: Ego – The False Center, by Osho
Gambar: Blogspot Storage

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Pencerahan, Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

27 Responses to Ego – Jiwa – Jati Diri

  1. Lambang says:

    Zzzzz… Zzzz….

  2. sikapsamin says:

    Ngkrrr…ngkrrr…ngkrrr…

  3. Robinson Agus Sihotang says:

    Kepanjangan posting nya mas …
    akhirnya mas kelelahan dan ketiduran .

    Cumsn ada yg membuat saya ingin seperti dokter yg memeluk cewek cantik itu lho mas… , saya ingin menghilangkan keresahan ini dgn memeluk cewek yg manis pas lagi termenung di suatu tempat yg menjemukan. Hehehe

    Salam damai

  4. Lambang says:

    Iya ya…
    Saya juga kaget waktu scroll, lha koq panjang banget.
    Pantesan nerjemahinnya sampe berjam-jam.
    Lain kali cari yang simple-simple aja deh.

    Salam Damai.

  5. batjoe says:

    tanks mas lambang…
    saya sudah coba nasehatnya dan emang enak walaupun masih nyangkut-nyangkut masa lalu.
    semuanya bisa atau tidaknya adalah kembali ke diri sendiri..

    salam hangat mas lambang dan terima kasih atas bantuan emailnya dan jangan jenuh ya….

    mana siwayang orang kok belum muncul juga….

    ======================
    :: Sip mas, silahkan kapan saja email ke saya.
    Tadi saya beri komen tentang tutorial untuk link ke nickname dan potong artikel.
    Mudah-mudahan bisa dimanfaatkan…

    Wayang orangnya lagi dicuci dulu, dah lama ngga dicuci…🙂
    ======================

  6. batjoe says:

    ndak apa-apa panjang2 yang penting intinya bisa dipahami….
    salam lagi deh belum puas karena 2 hari saya tunggu balesannya hehehehe

  7. Oleng says:

    ikut menyimak kang… dan copy… neng kok panjang banget ya… hehehe

    ======================
    :: Hehe.. yang nulis aja kaget, kepanjangan… apalagi yang mbaca..🙂
    ======================

    • Oleng says:

      Mangkanya Kang karena tulisanya puanjang dan duuooowwwoooo… walah apa ya bedanya panjang dan duowo…?🙂 saya ijin Copy lha setelah itu yaa… ikut-ikut zzzzz zzzzz zzzzz… terus krrr krrr krrr kaya kang Lambang dan Kang SS🙂

      ======================
      :: Silahkan di-copy mas. Pengopy yang ke-1000 dapet hadiah Blackberry Bold aqua 5 gelas.😉
      ======================

  8. sikapsamin says:

    Ada apa @Mas Oleng,

    Lagi enak-enak ndengkur.., kok dibangunin
    Ya..itulah, habis lihat pertarungan Buaya-Cicak-Godzila diTV, mampir kesini baca artikel yang sebenarnya mencerahkan…tapi ddduuuooowwwooo…capek ketiduran

    Artikel bagus, tapi nulisnya pakai ajian Dewo-Rengkak…ya gitu jadinya

    hi..hi..hi..mlayu dhisik sebelum dibalang sendal…

    Salam…Dewo-Rengkak

    ======================
    :: Mestinya pertandingan Buaya lawan Kadal. Yang Kadal dibuayain, yang Buaya dikadalin.😉
    ======================

  9. Oleng says:

    hehehe… wah kalo yang pertandingan itu saya nggak ngikutin… cuman sempat lihat sebentar habis itu balik ke Monitor… Nggak mudeng soale…
    ya saya malah pilih menthelengi Monitor sambil mbaca-mbaca postingan saudara-saudara tercinta wualah malah sok romantis barang… yah itung-itung menambah wawasan gitu dan kalo komeng belum ada ide… hihihi…
    ehh sudah malam malah nemu postingan bagus dari Kang Lambang mau di komenin bulanya puanjang banget… lah belum sempat mahami udah ngantuk jadinya ngruel sambil…

    zzzz ngKrrr… zzzz ngKrrr… zzzz ngKrrr… zzzz ngKrrr…

    perpaduan Ilmu Ngorok gaya Kang Lambang dan Kang SS… hehehe

    Iki mengko aku di balang sandal karo kang Lambang Lan Kang SS ora yaa… he..he..he..

    Salam…
    zzzz ngKrrr, zzzz ngKrrr, zzzz ngKrrr…

    ======================
    :: Sopo tah sing romantis?🙄
    ======================

  10. Oleng says:

    Sing romantis sapa ya…? malah genti takon… he..he..he..

    ======================
    :: Embuh sapa… Saya juga asal nanya aja koq…🙂
    ======================

  11. Wuih, menarik!
    Tapi panjang amat, Brat!

    Sekilas, intinya adalah pd Master itu,
    Seolah kita itu kudu kuat diludahin,
    Jika mau tuker ego menjadi superego.

    Salam Sakitu Heula!

    ======================
    :: Emang kepanjangan itu…. Maklumlah lagi semangat belajar bahasa Inggris dengan nerjemahin artikel. Akhirnya sampai lupa waktu.

    Intinya hanya ada tiga: (*ikutan tertiga kitu*)
    1. Ego itu hasil bentukan masyarakat
    2. Moralitas itu sangat tergantung lingkungan dan situasi
    3. Ego baru hilang kalau kita amati dan rasakan dengan seksama

    Eheh! Salam Tertiga!
    ======================

  12. G3mbel says:

    mas Lambang saya mohon izin ikut nimbrung, semoga mas berkenan 🙂
    .
    .

    Ego adalah sebuah kumpulan fenomena, hasil dari hidup bersama orang lain.

    .
    justru ego itu adalah orang lain sebagai hasil interaksi diri dengan alam ( termasuk orang lain di luar daripada diri ) yang nantinya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari diri.
    .

    Masyarakat berkaitan dengan dirinya sendiri, dan memang demikian seharusnya

    .
    ya betul , masyarakat adalah kumpulan fenomena yang sangat komplek yang menjadi resevoir ego individu, dalam hal ini berlaku hukum alam : siapa yang kuat pengaruhnya maka dialah yang akan lebih dominan untuk mewarnai.
    .

    Masyarakat menciptakan ego karena ego dapat dikontrol dan dimanipulasi. Diri tidak dapat dikontrol atau dimanipulasi. Tidak pernah ada berita bahwa masyarakat dapat mengendalikan diri pribadi, itu tidak mungkin .

    .
    halah dah mulai nyerempet ke free will :mrgreen:
    .

    Jadi, Anda memiliki dua jati diri. Satu jati diri yang datang bersama eksitensi Anda terlahir di dunia ini. Dan jati diri yang lain, yang diciptakan oleh masyarakat, adalah ego.

    .
    setau saya jati diri itu hanya ada satu untuk semesta mahluk, dan itu pun terlepas dari hukum kelahiran dan kematian, adapun sifat yang melekat ketika diri dilahirkan adalah kodrat alam atau lebih di kenal dengan sebutan fitrah ( fitrah tidak sama dengan jati diri ) , seiring dengan berjalannya waktu sebagai akibat interaksi dengan alam, fitrah ini berubah menjadi persona ( topeng ) yang menyelimuti jati diri. dan ego itu nama lain dari persona .
    .

    Melalui ego, masyarakat mengendalikan Anda.

    .
    justru sebaliknya jika ego kita kuat maka kitalah yang mampu mengendalikan masyarakat. jadi sebetulnya masyarakat itu lebih cenderung memihak ego yang paling dominan. meskipun secara kuantitas perbandingannya sangat mencolok misal 1 berbanding 1 juta. nah jika yang satu itu lebih dominan dari yang satu 1 juta, tetep yang 1 bisa mengontrol masyarakat bahkan bisa menjadi titik acuan dari moralitas.
    .

    Cobalah untuk mengerti sedalam mungkin, karena ego ini harus dibuang

    .
    sebenarnya ego itu tidak perlu di buang. dia cukup untuk di kenali , di taklukan, dikuasai serta di awasi. ego itu sebatas identitas supaya kita bisa mewujud di tengah-tengah masyarakat.

    .

    * siapa yang membuat saya sengsara ..? , jawab : orang lain
    .
    * siapa penyebab kemarahan saya… ? , jawab : orang lain
    .
    * siapa penyebab penderitaan saya… ? , jawab : orang lain

    .

    diri sendiri ( jati diri ) itu hanya diam menjadi saksi sebab dia sudah terbebas dari hukum aksi dan reaksi termasuk di dalamnya yaitu kesengsaraan, kemarahan dan penderitaan. jadi yang harus bertanggung janab itu ya si ego itu ( orang lain ) . dan segala ilusi dan penderitaan itu segera berakhir ketika kesadaran berpindah dari ego ke jati diri. :mrgreen:

  13. Lambang says:

    Makasih mas G3mbel atas komennya.
    Kita diskusi dikit yah….

    justru ego itu adalah orang lain sebagai hasil interaksi diri….

    Oh, jadi ego itu orang lain dan kata benda ya.🙄

    siapa yang kuat pengaruhnya maka dialah yang akan lebih dominan untuk mewarnai.

    Setuju mas, kuat dalam kekuasaan dan materi.

    halah dah mulai nyerempet ke free will..

    Maksute enda kesitu. Kalau free will kan hubungan manusia dengan Tuhan. Kalau ini hanya statement bahwa masyarakat tidak bisa mengontrol diri seseorang. Orang mau pakai mobil Jaguar atau naik angkot, itu murni dari tuntutan ego, bukan tuntutan masyarakat.

    … adapun sifat yang melekat ketika diri dilahirkan adalah kodrat alam atau lebih di kenal dengan sebutan fitrah (fitrah tidak sama dengan jati diri), seiring dengan berjalannya waktu sebagai akibat interaksi dengan alam, fitrah ini berubah menjadi persona (topeng) yang menyelimuti jati diri. dan ego itu nama lain dari persona.

    Saya masih setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa dalam diri manusia ada dua sisi wajah. Sisi baik dan buruk. Sisi putih dan hitam. Sisi jati diri dan ego. Kalau manusia dari kecil tinggal di hutan, terpisah dari masyarakat, maka ego tidak akan bangkit, karena tidak ada feeback berupa pujian dari dari masyarakat. Sisi gelapnya sedikit sekali.

    justru sebaliknya jika ego kita kuat maka kitalah yang mampu mengendalikan masyarakat. jadi sebetulnya masyarakat itu lebih cenderung memihak ego yang paling dominan. meskipun secara kuantitas perbandingannya sangat mencolok misal 1 berbanding 1 juta. nah jika yang satu itu lebih dominan dari yang satu 1 juta, tetep yang 1 bisa mengontrol masyarakat bahkan bisa menjadi titik acuan dari moralitas

    Keknya ketuker-tuker antara ego dan prinsip (pendirian) ya mas. Kalau prinsip (pendirian) kita kuat, maka kitalah yang mampu mengendalikan masyarakat. Tentunya harus dengan bantuan kekuasaan dan materi itu.

    sebenarnya ego itu tidak perlu dibuang. dia cukup untuk dikenali, ditaklukan, dikuasai serta diawasi. ego itu sebatas identitas supaya kita bisa mewujud di tengah-tengah masyarakat.

    Saya baru ngeh ternyata ada kalimat “Cobalah untuk mengerti sedalam mungkin, karena ego ini harus dibuang”. Keknya saya salah nerjemahin. Padahal maksute disitu ya sama dengan pendapat mas, cukup diamati dan dikontrol.

    * siapa yang membuat saya sengsara?, jawab: orang lain
    * siapa penyebab kemarahan saya?, jawab: orang lain
    * siapa penyebab penderitaan saya?, jawab: orang lain

    Memang kalau dilihat pada penyebab yang terkait langsung, sumbernya dari orang lain. Misalnya saya meleng, lalu ketabrak metromini. Tapi kalau dilihat sisi introspeksi, kenapa ya saya bisa meleng? Apalagi kalau dihubungkan dengan spiritual, kenapa ya saya bisa mendapat musibah ini? Apakah karena nasib jelek? Kurang amal? Hukuman? Peringatan? Kurang meditasi? Kembalinya ya ke introspeksi lagi.
    Kalau dilihat dari sisi kejiwaan, yang membuat sengsara, marah atau menderita adalah pikiran kita sendiri. Coba kalau habis ketabrak metromini terus bersyukur dan santai-santai aja (misalnya, “untung cuma lecet-lecet doang”)… pasti semua akan terasa asik-asik aja. Ngga tahu apa yang ada di pikiran kalau ternyata kedua kakinya putus. Yang jelas sih pasti akah marah besar kepada Tuhan.

    … jadi yang harus bertanggung jawab itu ya si ego itu (orang lain)

    Sama dengan jawaban saya di atas tentang ego = orang lain itu.:mrgreen:

  14. sisableng says:

    Pengopy yang ke-1000 dapet hadiah Blackberry Bold aqua 5 gelas.
    tak copy ah… sapa tau dapet hadiah.
    Wakakakakaks!

  15. Lambang said:
    Seorang anak dilahirkan. Dia dilahirkan tanpa pengetahuan, tanpa kesadaran terhadap dirinya sendiri. Hal pertama yang dia sadari bukanlah dirinya sendiri, tetapi hal lain. Ini wajar, karena mata terbuka ke arah luar, tangan menyentuh orang lain, telinga mendengarkan orang lain, lidah merasakan makanan dari luar dan hidung mencium aroma dari luar. Semua indra terbuka ke arah luar.

    Itulah yang diartikan kelahiran. Kelahiran berarti datang ke dunia ini, ke dunia luar. Ketika anak itu membuka matanya, dia melihat orang lain. Pertama kali ia akan menyadari keberadaan Ibunya. Kemudian, dari hari ke hari, dia menjadi sadar akan tubuhnya sendiri. Itu juga sesuatu yang lain, yang juga menjadi milik dunia. Dia menjadi lapar dan dia merasakan tubuhnya; Saat kebutuhannya terpenuhi, dia melupakan tubuh.

    Ini adalah bagaimana seorang anak tumbuh. Pertama, dia menjadi sadar berada di antara orang-orang, dan dengan manjadikan mereka sebagai pembanding, kemudian dia menjadi sadar akan dirinya sendiri. Kesadaran ini adalah kesadaran cerminan. Dia tidak mengetahui siapa dirinya. Dia hanya menyadari ibunya dan apa yang dia pikirkan tentang dirinya. Jika Ibunya tersenyum, jika dia membuai anak, jika dia mengatakan, “anak yang manis,” jika dia memeluk dan mencium, anak akan merasa nyaman dengan dirinya sendiri.

    MK says:
    Ini rekaan ku saat ini.
    Di sesaat setelah anak lahir ke dunia nyata, yg pertama dia lakukan adalah berkejut, lalu menangis. Kedua kerja ini dia lakukan berulang-ulang seolah tak rela dia keluar dari rahim Ibunya. Kehangatan telah berubah menjadi kedinginan, dendang rutin dua degup jantung berubah menjadi riuh-rendah rantang jatuh. Semua orang pada tertawa dan ribut bahagia menyambut kehadirannya. Semua menjawilnya sambil senyum menunjukkan gigi dan taringnya, semua pada berceloteh memiripkan wajahnya dgn seseorang. Dia berulang ulang terkejut, tubuh meregang-regang bertumbuh. Dia beulang-ulang menangis, jiwa dimuati dgn berbagai masukan dunia ego. Bahkan dikala tidur lelap pun dia sering berkejut. Dia masih ingin salto seperti biasanya dan ternya ta tak bisa lagi. Efek gravitasi menghilangkan gaya apungnya, s ekujur tubuh dikekepin lampin hingga tak mungkin bisa salto lagi seperti berasa di luar angkasa; Terkejut lah! Sedih emang, dia sudah harus mulai ikut aturan-aturan main dunia ini yg kurasa tak dikehendakinya. Dia masih menginginkan kebebasan dgn kehangatan seperti sedia kala ketika di dalam kandungan Ibunya.

    Kini ia merasa lapar, lalu nangis spontan memberi sinyal. Walau mata masih rabun, insting primitifnya sudah bekerja. Setiap apa yg menempel dipipinya dia hardik dgn menolehkan mulutnya yg mungil itu kearah yg berasa ada sesuatu. Karet dot yg ada, karet dot yg disedot. Kelingking kita yg ada, kelingkingpun di saut. Bila putting yg ada, alhamdulilah lah, rasanya. Dia mulai berjuang untuk mempertahankan hidup secara naluri. Orang tuanya memperjuangkan kehidupan itu tentunya. Orang tua mengupayakan kemudahan-kemudahan baginya, mempertahankan agar tetap hangat, melindunginya dari segala gangguan yg dapat muncul, memberi makan tepat waktu.

    Di saat dia kenyang di situ lah dia ngantuk, di situ dia merasa nikmat, di situ dia melupakan tubuhnya, dan di situ lah dia tersenyum, di situ berasa damai, bahwa ternyata dia tidak lepas begitu saja ke dunia ini, tetapi ada yg menjamin kenyamanannya, yaitu si Ibu yg penuh cinta, yg ternyata tidak jauh-jauh amat darinya, yg mencintai dirinya sepenuhnya, Dia masih mengenal dendang degup jantung Ibunya, bahkan dia mulali belajar mendengarkan lagu-lagu merdu yg tidak monoton spt degup itu. Dia mulai bisa senyum dan kadang kala tertawa lepas sendirian. Mungkin dia merasa lucu atau merasa bodoh membayangkan tingkahnya tadi, atau mungkin dia sedang bertemu dengan jati dirinya yang dulu, yaitu diri yang sesungguhnya.
    Entah lah!

    Itu masih mungkin dan mungkin saja,
    Bahwa Si Senyum itu lah FITRAH kita,
    Bukan Si Sedih atau Si Kejut, tapi Si Senyum itu.

    Ini rekaanku thp tiga kecurigaan
    Yang ada pd bayiku di sini:
    http://tertiga.wordpress.com/2009/02/17/bayi-mimpi-apa/
    Semoga bisa kulanjut nanti,
    Bagaimana perjuangannya menumbuhkan superegonya,
    Jati-dirinya itu atau kusebut saja rohaninya.

    Salam Damai Brat!

  16. Lambang says:

    Wah! Bagus sekali penjabarannya brat Mike!
    Coba buat artikel yang model gini, bukan model pantun yang bikin orang puyeng karena keterbatasan panjang kalimat.
    Salute! Salam!

  17. G3mbel says:

    @ Lambang

    setuju mas , kuat dalam kekuasaan dan materi

    .
    sebenarnya kekuatan itu hanya tercermin pada ‘kekuasaan’ , adapun kaitannya dengan materi, itu sebatas penunjang yang tidak begitu penting.
    .
    kekuatan yang bersandar pada materi adalah kekuasaan yang bertumpu pada pijakan yang sangat rapuh, dengan satu sentuhan saja bisa ambruk. Justru ketika rasa kepemilikan materi itu dilepas kekuatannya akan semakin besar dan daya pengaruhnya menjadi semakin kuat .
    .
    contoh yang paling mudah adalah Sidhartha, Muhammad, atau yang paling eskrim seorang Yesus dan Nazaret yang miskin banget.
    .
    kenapa pengaruh mereka begitu kuat bahkan melampaui usia hidup mereka di bumi ?
    .
    mungkin yang mas maksud kuat kekuasaan dan materi itu ada hubungannya dengan masalah fulus/ duit ya..? :mrgreen: , kalau begitu mah beda persepsi atuh. 
    .
    Setau saya Nelson Mandela atau Mahatma Gandhi tuh bukan orang yang hidup bergelimang dengan harta, akan tetapi mengapa kekuasaan/ pengaruhnya sangat kuat di masyarakat?🙄
    .
    Setau saya orang kekuasaannya (
    kekuasaan semu ) bertumpu pada duit biasanya akan hancur sebelum ajalnya tiba. untuk contoh kongkritnya, tidak perlu lah saya sebutkan disini.
    .
    .

    kalau ini statement bahwa masyarakat tidak bisa mengontrol diri seseorang.

    .
    jangankan masyarakat mas, tuhan yang sejatinya tuhan saja tidak bisa mengontrol diri sejati manusia apalagi cuma masyarakat.:mrgreen: .
    .
    makanya bisa dikatakan masalah free will itu adalah pokok yang paling sentral terkait dengan masalah teologi , filsafat dan spiritualitas.
    .

    kalau manusia sejak dari kecil tinggal hutan, terpisah dari masyarakat , maka ego tidak akan bangkit, karena tidak ada pujian samasekali

    .
    bukannya pada awalnya manusia itu tinggal di utan mas, makanya ada yang namanya orang utan. :mrgreen:
    .
    setau saya feedback bagi ego itu sangat berlimpah sekali, tidak sebatas apa yang datang dari masyarakat dan tidak selalu berupa pujian, makanya saya menyebut kata alam bagi apa2 yang ada di luar diri. untuk lebih menyegarkan memori ada baiknya kita telaah konsep id, ego, dan super ego biar semuanya tampak jelas.
    .
    .
    .
    .
    .
    .
    sebetulnya masih banyak hal yang ingin saya kritisi dari tulisan di atas, tapi ini kan dalam rangka sharing dan diskusi ya mas…? , jadi lebih baik sedikit2 aja dulu. alon waton kelakon supaya diperoleh hasil optimal.
    .
    segitu dulu aja komen balasannya ntar di sambung lagi.

    .

  18. S™J says:

    mantap nih buat referensi tulisan saya…😎
    btw, osho itu tapi senengnya kemana2 naek mobil mewah…:mrgreen:

  19. Pingback: Siapa Tidak Menyembah? « Halte Perjalanan

  20. Lambang says:

    Tentang “pengaruh” itu, setuju mas.
    Ada dua jenis pengaruh. Yang pertama adalah pengaruh yang bisa kita terima karena sepaham. Contohnya para Nabi, Gandhi dan Mandela itu. Yang kedua adalah pengaruh yang dipaksakan agar diikuti manusia. Contohnya pengaruh Amerika kepada berbagai negara bonekanya. Itu bisa terjadi karena mereka memiliki kemampuan dana, teknologi dan militer yang luar biasa. Mereka bisa memaksakan kebijakannya pada dunia. Mungkin saja pijakan semacam ini cukup rapuh, tapi rasanya belum akan ambruk dalam waktu dekat ini.

    Konsep id, ego dan super-ego dari Sigmund Freud itu memang saat ini sering tercampur aduk dengan istilah selfishness dan egotism (ingin dihargai, dipuji, diakui, ingin menang sendiri). Semua pengertian ego yang ada di artikel bisa saya artikan sebagai selfishness dan egotism. Mungkin maksud penulisnya memang seperti itu. Bukan seperti yang dimaksud oleh Freud.

    Ok mas, silahkan dilanjut…

  21. G3mbel says:

    yang kedua pengaruh yang dipaksakan agar diikuti manusia

    .

    power is power we can’t says : power is corrupt, but we can only says power is tend to corrupt
    .
    kekuasaan tetaplah kekuasaan, yang menjadikan kekuasaan itu berakibat baik atau buruk bukan terletak pada kekuasaan itu sendiri tapi terletak pada ‘siapa…?’ kekuasaan itu berada.
    .
    suatu ketika Kong Hu Chu ( Confucius ) di undang oleh seorang raja, untuk dimintai nasehat bijaknya.
    .
    .
    Raja : Pak tua tolong beritahu aku satu nasehat yang bisa membuat negeriku makmur.
    .
    Kong Hu Chu : Apabila seorang raja adil dan bijaksana maka rakyatnya akan makmur sejahtera, namun jika rajanya jahat maka rakyatnya akan hancur dan melarat.
    .
    mendengar nasehat Kong Hu Chu raja itu marah lantas mengusir Kong Hu Chu secara tidak hormat.
    .
    sebelum keluar dari pintu istana seorang penasehat raja , membisikan kalimat pendek
    .
    Penasehat Raja : Hati2 dengan lidah, banyak orang yang celaka sebab tak bisa menjaga lidahnya.
    .
    Kong Hu Chu : terima kasih atas nasehatnya.
    .
    .

    keadaan rakyat suatu negara bisa dijadikan cerminan bagi kwalitas para pemimpinnya. begitupun sebaliknya, kwalitas para pemimpinnya mencerminkan keadaan rakyat yang dipimpinnya.
    ..
    rumus sederhananya :
    .
    .
    1. rakyat bodoh + pemimpin bodoh = bencana dan malapetaka
    2. rakyat bodoh + pemimpin jenius = tirany or prosperity
    3. rakyat cerdas + pemimpin bodoh = suksesi
    4. rakyat cerdas + pemimpin adil = sinergi
    .

    kalau boleh tau negara kita Indonesia tercinta itu gambarannya ada pada nomor berapa mas…? :mrgreen:
    .

    lantas apanya yang salah dan salah siapa..?🙄
    .
    awas jangan menjawab : tidak ada apa2 dan bukan salah siapa2. karena jawaban seperti ini adalah ngeles maha tinggi :mrgreen: 😆
    .
    biar saya dulu yang ngejawab : salah saya
    .
    perubahan itu penting bahkan sangat penting jika tidak ingin hancur di lindas mesin perubahan. mau up to bottom , bottom to up, atau kedua2nya tidak ada masalah tuh, yang penting dilakukan dengan cara yang tepat.😀
    .
    .
    .
    terkait dengan kasus Amerika, saya melihat Amerika itu tidak seburuk seperti yang banyak orang tuduh.
    .
    mungkin saja seseorang itu menuduh buruk sesuatu karena si penuduh itu pada dasarnya jauh lebih buruk dari yang tertuduh. pepatah mengatakan :
    .
    seseorang yang berpenglihatan buram hanya melihat gelap meskipun berada di tempat terang. dan seorang yang berpengliatan tajam mampu melihat satu titik cahaya meskipun berada di tempat gelap gulita.
    .
    kalau saya lihat mayoritas masyarakat Amerika itu baik dan pintar walaupun ada sebagian kecil yang bersikap licik dan culas. dan sayangnya sebagian masyarakat kecil inilah yang kebetulan memegang kendali kekuasaan.
    .
    dan sepertinya yang mayoritas ini , mulai gerah dengan tingkah yang minoritas ini, tapi tetep saja tidak akan terjadi perubahan jika cukup gerah saja tanpa ditindak lanjuti dengan kehendak dan aksi.
    .
    kelicikan dan keculasan hanya bisa diredam dan dibenamkan dengan kecerdasan dan kecerdikan. jadi pintar saja gak cukup apalagi bodoh.
    .
    .
    .
    .
    .

    sekedar komentar selingan sekilas tentang kekuasaan

  22. Lambang says:

    Ada kebijakan yang bisa dianggap baik, tapi sekaligus dianggap buruk. Misalnya bumi ini sudah terlalu padat sehingga diperkirakan akan ada masa dimana muncul kesulitan pangan secara global. Amerika, sebagai negara adidaya, mau tidak mau harus mengembangkan ilmu pengetahuan untuk mencari alternatif pangan, dan juga harus mengambil inisiatif dengan memilih kebijakan mana yang harus dilakukan:

    1. Dibiarkan saja agar hukum alam bekerja, dengan resiko satu dunia akan mati semua karena perang, terrorism, kanibalism, epidemic dan lain-lain.
    2. Dua pertiga dunia dimatiin, dengan harapan dapat mempertahankan eksistensi manusia, kebutuhan pangan bagi sisanya masih tercukupi dan dunia masih terkontrol.

    Kita bisa memilihnya tergantung dari sudut pandang mana. Dari sisi kemanusiaan, pilih 1. Dari sisi politik, pilih 2. Dari sisi spiritual, bisa 1 atau 2.

    Jadi, Amerika itu dianggap baik atau buruk, tergantung apakah kita akan menjadi korban kebijakan mereka atau tidak. Sayangnya, kita tidak punya nilai tambah apapun agar tidak menjadi korban mereka. Kita masih ada di pilihan no 1 (rakyat bodoh + pemimpin bodoh).

    Break, ngopi dulu.
    Silahkan dilanjut…

  23. sikapsamin says:

    Untuk Test KECERDASAN & KECERDIKAN yang disebut mas G3mbel diatas, begini pertanyaannya:

    – Diantara 4-orang ini Bill Clinton, G.W. Bush, Geronimo, Winnetou, siapa saja yang benar2 orang Amerika?!?
    Atau…
    – Antara Anggodo dan Soekarno, mana yang benar2 orang Indonesia?!?

    Salam…CONFUSE(SIUS) mas Lambang/mas G3mbel

    ======================
    :: Penduduk asli Amerika, katanya dari suku Indian.
    Saya enda tahu yang mana keturunan Indian. Winnetou mungkin.
    Kalau Anggodo dan Soekarno, tinggal pilih mana yang matanya ngga sipit.😉

    ======================

  24. Maren Kitatau Said:
    06 November 2009 at 18:17
    Semoga bisa kulanjut nanti,
    Bagaimana perjuangannya menumbuhkan superegonya,
    Jati-dirinya itu atau kusebut saja rohaninya.

    Lambang Said:
    07 November 2009 at 11:00
    Wah! Bagus sekali penjabarannya brat Mike!
    Coba buat artikel yang model gini, bukan model pantun yang bikin orang puyeng karena keterbatasan panjang kalimat.
    Salute! Salam!

    Sorry, Bung Lambang, kalau kau masih sering bingung membaca (pantun) puitisasi pengetahuanku. Menurutku, itu adalah cara lain utk memberi tau. Itu adalah aplikasi tersederhana, bukan teori panjang lebar dan tinggi yang sering harus pake nomer-nomer keramat, ayat referensi segala. Emang beberapa bloger menyatakan tulisanku itu rada membingungkan, dan ketika kutanya bingungnya di mana, mereka pada tak tau atau diem aja; Puyeng kali, yah!

    Sebahagian lagi (mungkin terbanyak) bloger mengacungkan jempolnya di blog-ku. Emang aku belum nanya, sih, di mana nuansa dahsyatnya. Malu aku kalau-kalau mereka ditanya diem juga, atau ternyata jempol mereka itu malah bohong. Apa boleh buat, Brat! Berikut, kusisipkan lagi kalimat-kalimat pendek ku utk mengupas manusia bayi itu dan atau menunjukkan kerumitan mencari jati-diri kita ini secara enteng. Gini:

    Saat anak berkejut,
    Itu berarti, tubuh meregang bertumbuh.
    Berkejut, sehaluan dgn kejang-kejang,
    Lalu mati dan diam.

    Saat anak bersedu,
    Itu berarti, kalbu diraut-raut melentur.
    Bersedu, sehaluan dengan menangis,
    Mengadu kpd Ibu yang penuh cinta,
    Berdoa kpd Tuhan yang penuh daya.
    Sembuh dan bertumbuh!

    Maka kukatakan kemarinan, kalo kau di ludahin,
    Menangis lah mengadu dan ber do’a lah utknya,
    Hanya dgn begitu kita bisa lupa kpd ego,
    Menumbuhkan superego yang bagus tentu.

    Saat anak bersenyum,
    Itu berarti jati-diri sedang bertumbuh.
    Bernyanyilah dan berbagilah rahmat itu.
    Karna begitulah anak Tuhan …
    FITRAH kita!

    Sekali lagi, sorry Bung!
    Kupendekkan lagi kalimatku.
    Puitisasi pengetahuanku, kali.

    Salam Super!

  25. Lambang says:

    Siiplah Bung Mike!
    Enda masalah koq mau tetap pantun atau artikel.
    Cuma kalau baca pantun itu mesti pelan-pelan.
    Sedangkan saya paling males kalau pelan-pelan.
    Ngebut dan fast-reading aja.
    Kalau mumet karena kekencengan, ya udah, apes!

    Salam Pantun!

  26. Siplah Bung!
    Alon-alon asal kelakon
    Bocor alus pun nyampe, kitu.

    Salam Sakitu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s