Rendra, Adwiah dan Bima

enlightenment.jpgKetika pertama kali suhu Bangau Putih, Subur Rahardja, datang ke Bengkel Teater, pendekar itu heran, mengapa Rendra (pen: almarhum) mengajarkan anak buahnya latihan tenaga dalam.

“Tenaga dalam apa?” Rendra ganti heran. Ia memang tak bermaksud memberikan latihan tenaga dalam seperti itu. Tapi di Bengkel Teater memang ada latihan khusus untuk kembali membangkitkan naluri-naluri primitif yang cenderung melemah atau mungkin sudah mati, dalam diri manusia modern.

Di tengah hujan lebat, pada malam hari yang gelap misalnya, segenap anggota Bengkel Teater harus menempuh jarak tertentu. Sambil telanjang kaki (tak peduli menabrak batu, duri atau beling) mereka tempuh kegelapan itu. Insting dan segenap naluri untuk bertahan hidup merupakan “obor” satu-satunya yang menerangi kegelapan itu.

Ini salah satu contoh olah batin anggota Bengkel yang diberikan oleh sang mahatma resi Rendra kepada anak buahnya di luar “studio”. Di dalam “studio” ada lagi corak laku batin yang lain. Namanya nggrayang rogo. Maksudnya menyentuh segenap unsur jaringan raga kita dengan rasa. Bagian-bagian dalam jaringan itu, sampai pada titik yang paling halus sekali pun (Rendra fasih seperti dokter menyebutkan nama-namanya) disentuh dengan rasa untuk suatu program revitalisasi. Jaringan yang loyo “diurut” dengan rasa. Dan dengan itu bangkit segar bugar kembali.

Prinsipnya latihan ini buat kepentingan “fitness.” Pemain drama harus tetap prima. Apalagi Rendra memang sering mementaskan lakon-lakon panjang yang mensyaratkan kondisi prima itu.

Ketika seorang teman memberi komentar atas latihan itu, dengan mengatakan bahwa mungkin lebih baik jika latihan itu tidak tertuju semata pada usaha penyembuhan dan penyehatan badan, melainkan “penyembahan” pada yang Ilahiah, artinya segenap unsur dalam jaringan disentuh dengan rasa, dibangunkan agar mereka serentak ikut dzikir memuji kebesaran-Nya, Rendra setuju

“Itu lebih dahsyat,” katanya

“Di dunia tarekat, latihan seperti itu memang ada. Di bawah pimpinan kiai, jamaah dibimbing berdzikir qolbi, mengerahkan segenap rasa sehingga praktis semua jaringan tubuh kita bersujud, memuji dan bersyukur pada Allah. Semua berbisik, mengakui betapa kecil mereka dan betapa mahabesar Allah. Pada taraf pengerahan rasa yang prima, yang paling mutlak (utuh berserah diri). Kita seperti telah menceburkan diri dalam lautan cahaya Ilahi. Segenap pori-pori tertembus cahaya cemerlang itu.”

“Pengerahan rasa kita memang tertuju bukan pada usaha penyehatan dan penyembuhan, melainkan pada penyembahan,” kata seorang kiai. “Kalau tujuannya penyembuhan,” kata kiai itu lagi, “kita bisa saja sembuh berkat kemurahan Allah. Tapi kita cuma sembuh, dan belum melakukan sembah. Kalau tujuannya buat penyembahan, yakni buat berserah diri secara mutlak kepada Allah, kita mendapatkan dua-duanya: sembuh dapat, sembah juga dapat.”

Rendra telah lama mengamalkan laku batin seperti itu. Ia sendiri harus mengulang dan mengulang, sebagian alasannya karena ada saja anak buahnya yang baru. Amalannya itu tentu saja membawanya pada maqom yang jauh lebih tinggi daripada anak buahnya yang paling senior sekali pun. Dengan begitu, jika dilihat dari prosedur dalam dunia tarekat, mungkin Rendra sudah sampai pada maqom tertinggi: ia sudah bisa langsung mencebur dan larut, menyatu dalam cahaya Ilahi. Pencarian Rendra lebih jauh dalam Islam (beraudensi dengan Tuhan di Tanah Suci, Mekah, ketika dua kali munggah kaji itu) mungkin merupakan salah satu seri lakon “Manunggaling Rendra dengan Gusti” dalam bentuk lain, selain lakon “Dewa Ruci” yang kita kenal itu.

Laku batin yang ditempuh Rendra sebenarnya tidak sangat unik dalam dunia sastra. Warna mistisisme dalam sastra seperti itu tidak khas milik Rendra. Artinya, dalam berbagai karya sastra lain, gejala yang sama juga ditemukan.

Hal yang perlu diungkap, dirangkai dan dijelaskan hingga kita memperoleh gambaran tentang kehadiran mistisisme (di Islam disebut sufisme) dalam sastra ialah, getaran jiwa macam apa yang menggerakkan para sastrawan (novelis, penyair, dramawan) merambah dunia batin yang tak kasat mata dan menghadirkan corak pengalaman batin seperti itu pada para pembacanya?

Dugaan saya, (ini bisa saja salah), bahwa kecenderungan itu merupakan sebuah usaha untuk menukik jauh dalam proses pencarian makna hidup yang lebih hakiki. Kehidupan ini tak sekadar sebagaimana nampaknya, seperti kata Robert K. Merton. Hakikat harus ditemukan melalui usaha terus-menerus untuk menyelam dalam dan terbang tinggi, intens dan total; barangkali seperti cerminan hidup Mas Danarto, Sutardji, Chairil Anwar, atau Taufiq Ismail. Puncak perjalanan rohani seperti itu berupa penyerahan diri secara utuh, dan mutlak kepada dzat Ilahi.

Penyair sufi wanita, Rabiah Al Adawiah dari Basrah yang kondang itu, merupakan contoh mengenai totalitas penyerahan seorang hamba pada Tuhannya, Allah yang Maha Murah. Segenap geraknya, juga tiap tarikan napasnya, merupakan gambaran penyerahan itu. Ia telah tenggelam di dalam cinta Ilahi. Dan seperti layaknya cinta terhadap sesuatu yang lain, yang bendawi sifatnya, cinta Ilahi ini pun membuat mabok. Tak ada yang terasa getarnya, tak ada yang terdengar suaranya, selain getar dan suara Ilahiah itu sendiri. Ia berkata dalam sajaknya:

Ketika kudengar suara azan
Yang kudengar hanyalah panggilan kiamat
Ketika kulihat salju
Yang kuingat ialah bulu beterbangan
Ketika kulihat belalang
Yang teringat hanyalah hari perhitungan

Baginya, hidup tak lagi diwarnai pamrih atau kepentingan apa pun selain buat penyerahan diri. Ia bahkan juga bersumpah, bahwa jika ia beribadah semata karena takut siksaan neraka, lebih baik ia dibakar di api neraka itu. Ia beribadah tidak karena mengharap hadiah surga. Jika terbetik dalam batinnya itikad seperti itu, ia bersumpah, lebih baik ia dicampakkan jauh-jauh dari surga. Ibadah ya ibadah: ini dilakukan demi ketulusan cinta, untuk berserah, untuk menyatu, manunggal dalam rasa dan karsa, dengan Allah.

Dalam sastra Jawa(?) yang mengambil bentuk pertunjukan wayang kita temukan lakon perjalanan mistik seorang Bima ketika oleh Pandita Durna, sang guru, ia disuruh menemukan “banyu suci perwita sari” (air kehidupan), di dalam laut.

Seperti disebutkan oleh Sri Mulyono, lakon “Manunggaling Bima dengan Dewa Ruci” secara simbolis menjelaskan bahwa dalam hidup, orang harus punya guru (Bima berguru pada Durna). Dan bahwa seorang murid harus patuh, taat tanpa bertanya dan tanpa ragu-ragu dalam melaksanakan ajaran sang guru. (Etika Timur nampaknya menganggap Guru itu pasti benar dan tak boleh dibantah. Lain dari etika dalam dunia pendidikan Barat).

Bima menghancurkan hutan Tebrasara dan menyingkirkan segenap penghalang di jalan. Bima juga meruwat Dewa Bayu dan Dewa Indra yang muncul sebagai dua raksasa. Tindakan ini dinilai sebagai sejenis amal saleh. Kemudian Bima terjun ke tengah samodra (tanpa ragu melaksanakan perintah guru), melambangkan terjunnya seorang murid dalam merambah ilmu makrifat. Di dasar samodra itu Bima membunuh seekor naga raksasa, simbol dari kemampuan Bima menahan dan mengendalikan segenap nafsu dan hasrat meraih kenikmatan duniawi yang ada dalam dirinya.

Orang bisa memberi corak tafsir lain atas lakon Dewa Ruci itu. Tapi apa pun kata orang, satu hal nampak pasti bahwa pertemuan Bima dengan Dewa Ruci (bentuk miniatur dari dirinya sendiri) itu, melambangkan bahwa di dalam dunia kesufian, sejauh-jauh orang merambah alam roh yang gaib itu, ia sebenarnya tidak akan sampai ke mana-mana. Dengan kata lain, seperti pernah dikatakan dalam salah satu tulisan Mas Danarto, orang bertualang jauh hanya untuk sampai pada dirinya sendiri. Ini tentu saja tidak begitu aneh karena medan laga pergaulan kesufian terbatas dalam jagat kecil kita sendiri. Perlombaan dalam hal itu, jika ada, ialah perlombaan melawan dirinya sendiri.

Maka tak mengherankan juga bila kemudian corak pengalaman rohaniah yang diperoleh seseorang dalam perjalanan batin seperti itu bersifat khas, unik, dan mempribadi. Jika tataran telah sampai, Allah berkenan membukakan hijab (tabir) yang menutup segenap rahasia, dan kini mata (hati) itu diperkenankan melihat apa yang tak nampak oleh mata wadak. Keunikan seperti itu tak terjelaskan. Nalar tidak mampu menggapainya. Oleh karena itu, hal-hal yang sangat pribadi seperti ini biasanya tak usah diceritakan pada orang lain. Kiai biasanya menyarankan agar itu tetap disimpan baik-baik untuk diri sendiri. Salah satu alasannya, mungkin, agar orang tak kemudian merasa sombong karena telah berhasil mencapai tataran itu di dalam perjalanan rohaniahnya .

Kata “mencapai,’ itu sendiri sebenarnya tidak begitu tepat, karena apa sebenarnya yang bisa kita capai, selain bahwa itu semua semata karena kemurahan Allah? Kita, dengan kata lain, tak pernah mencapai apa-apa. Bahkan proses “mystical union” itu sendiri (curigo manjing warongko, warongko manjing curiga, gambaran mengenai keris yang menyatu ke dalam rangkanya –atau jumbuhing kawulo Gusti), sebenarnya juga bukan sebuah achievement, melainkan hadiah dari Yang Maha Murah.

Etika seperti ini hanya berarti untuk sekali lagi mengingatkan bahwa status kita sebagai hamba sebenarnya lemah, tak berdaya, seperti tercermin dalam prinsip Jawa: kita ini bukan siapa-siapa, tak punya apa-apa, dan tak bisa apa-apa. Serupa dengan la khawla wala quata illa billah itu.

Di dalam serat Wulang Reh, karya “kasusastran” Jawa (dalam bentuk syair) yang ditulis oleh Kanjeng Sunan Paku Buwono IV, terdapat juga ajaran untuk hidup secara asketik, dengan mana usaha menuju kasampurnaning urip (kesempurnaan hidup) dan mendekat Yang Moho Widi (Allah Yang Maha Kuasa) bisa dicapai. Dalam tembang Kinanthi ajaran itu bertutur:

Pada gulangen ing kalbu
ing sasmita amrih lantip
aja pijer mangan nendra
kaprawiran den kaesti
pesunen sarira nira
sudanen dhahar lan guling

(Intinya, orang harus melatih kepekaan hati agar tajam menangkap gejala dan tanda-tanda. Orang pun tak boleh mengumbar nafsu makan serta tidur).

Di dalam dunia tarekat pun “laku” batin seperti ini juga ada. Praktek “riadloh” (intinya latihan untuk hidup lebih prihatin, berupa mengurangi tidur, mengurangi makan, atau puasa, dan hanya makan umbi-umbian saat berbuka), merupakan bagian dari corak perjalanan batin yang panjang, yang harus ditempuh seorang murid yang menempuh jalan sufi

Jalalluddin Rumi, seperti diterjemahkan Taufiq Ismail, menggambarkan kemurahan Allah dalam sajaknya yang bagus. Intinya, Nabi Musa mendengar seorang gembala yang berdoa, menanyakan di mana Ia (Allah) tinggal. Ia (si gembala) itu ingin menjadi kacung-Nya. Ia ingin membersihkan sandal-Nya, serta menyisir rambut-Nya.

Mendengar doa itu Musa marah. Anak itu dianggap tidak sopan. Kata-kata seperti itu dianggap tidak layak untuk diucapkan pada Allah. Dan anak itu -yang merasa sangat malu– lari pontang-panting dan menyobek-nyobek bajunya. Kabur dia.

Allah menegur Musa. Nabi itu, yang tugasnya –seperti nabi-nabi lain– mendekatkan hamba-hamba pada Allah, justru telah menjauhkan mereka dari-Nya.

Aku tidak perlu puji-puji itu, kata Allah
Karena Aku terlampau tinggi
Hati yang mengucapkannya itu yang perlu
Aku tidak perlu kata-kata indah
Aku perlu hati penuh perasaan

Macam-macam cara manusia
Menunjukkan cara pengabdian mereka padaKu
Asal pengabdian itu tulus dan ikilas
Aku terima
Aku terima …

Saya terpesona membaca sajak itu. Saya merasa dihadapkan pada kenyataan bahwa mungkin saja gambaran kita tentang Allah selama ini keliru belaka. Bahwa bahkan seorang nabi pun bisa salah persepsi seperti itu, jelas akan lebih mempertegas betapa lebih besar kemungkinan salah kita menilai hakikat Allah.

Rumi dan juga Taufiq Ismail, yang menerjemahkannya, bukan sekadar penulis dan penerjemah yang bisa secara obyektif bicara mengenai kesufian. Mereka, lebih dari itu, juga orang-orang yang mencoba sendiri mengalami hidup seperti itu secara intens, dan sungguh-sungguh. Sajak ini, dengan kata lain, bukan sekadar cerminan kemampuan intelektual sang penulis, melainkan juga potret pergulatan batin mereka.

Jarang para da’i (guru dakwah) mampu menggugah rasa haru dan menggebrak kesadaran kita seperti itu. Dalam hidup keseharian kita, cara orang menyampaikan ajaran agama kelewat normatif, dipagari patokan-patokan yang kaku dan seolah tak ada kompromi, tak ada alternatif. Tafsir tentang ajaran seolah menjadi sesuatu yang pasti.

Tapi ungkapan seorang penyair yang sudah jauh menyelam ke dasar samodra hakikat, mampu mengantarkan kita pada kesadaran bahwa inti dari segala inti pemujaan bukan keindahan ornamen dan segenap saji-sajian, bukan pula warna jubah serta surban dan jilbab yang rapat. Pujian kita akan sampai jika kita sertai dengan ketulusan. Ikhlas dan tulus merupakan “pesawat” paling canggih yang mengantarkan kita ke singgasana Sang Raja Diraja.

Barangkali hal ini juga bisa menjadi ilustrasi betapa manusia tak dibedakan dari sudut pandai-bodohnya, kaya-miskinnya, tinggi-rendah status sosialnya, melainkan pada tingkat iman dan ketulusan cintanya pada pusat samodra Yang Maha Kasih itu.

Sajak ini merupakan bagian dari pergulatan spiritual Rumi, penyair sufi kita, yang gigih mencari makna lebih hakiki dalam pola penyembahan seorang hamba terhadap Tuhannya. Dari sajak Rumi ini kita jadi tahu bahwa sebenarnya Tuhan tidak galak sebagaimana gambaran yang kita peroleh dari ceramah dan khotbah-khotbah di sekitar kita selama ini. Tuhan, dengan kata lain, juga mesem, penuh pengertian, penuh Kebapakan dalam memahami keterbatasan para hamba-hambaNya.

Pencarian hakikat seperti ini nampaknya terus berlangsung dari zaman ke zaman. Para penyair memang berhadapan dengan kesulitan dan sejumlah keterbatasan yang khas milik zaman mereka. Penyair biasa mungkin sudah larut diterpa ombak zaman, dan koit karenanya. Artinya, mungkin mereka berkarya ala kadarnya. Tapi mereka yang memiliki kecenderungan melawan tantangan dan bosan terhadap hal-hal yang cuma biasa saja dalam hidup keseharian kita akan terus menyelam dan menyelam dalam untuk keluar dengan renungan yang tidak biasa.

Sejak dekade 1970-an kita bahkan menyaksikan sejenis gelombang kesungguhan pada sejumlah penyair untuk tidak sekadar menampilkan karya-karya yang sufistik sifatnya, melainkan juga serius belajar (dan mungkin juga menempuh laku batin) kesufian itu sendiri. Tokoh seperti Al Mukarom Emha Ainun Nadjib, Abdul Hadi WM, Mas Danarto, Sutardji Calzeum Bachri, Kuntowijoyo, Taufiq Ismail, Hamid Jabar, dan lain-lain, bisa disebut sebagai sedikit contoh. Selain Rabiah Al Adawiah, Bima dan mungkin juga Rendra, Emha nampaknya masuk ke dalam deretan orang-orang yang sudah “sampai”, sudah “menemukan” dalam pencariannya. Buktinya ia sering mengaku bahwa jika ia selesai mengerjakan sesuatu, pada hakikatnya bukan dia yang mengerjakan. Ia hanya lantaran.

———————–

Kang Sejo Melihat Tuhan, Mohammad Sobary, 1995, Gramedia
Gambar : PhotoBucket

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Pencerahan, Renungan and tagged , . Bookmark the permalink.

28 Responses to Rendra, Adwiah dan Bima

  1. Lambang says:

    Zzzzz… Zzzzz…

  2. sikapsamin says:

    Sangat..Mencerahkan…..

    Ada Rabiyah, ‘obor’, Ikhlas, Tulus…jadi ingat satu tulisan yang kira2 begini :

    Disuatu siang hari yang terik, terlihat Rabiyah berjalan bergegas. Tangan kanannya membawa OBOR, sedangkan tangan kirinya menjinjing KENDI-AIR.
    Semua orang terheran-heran bahkan ada yang ternganga melihat tingkah Rabiyah, yang akhirnya bertanya Mau Kemana dan Untuk Apa OBOR & KENDI tsb.
    Jawaban Rabiyah setiap kali ditanya ” AKAN KULEMPAR OBOR INI KEDALAM SURGA DAN KENDI-AIR INI KEDALAM NERAKA. KARENA KEDUA MAKAM INILAH YANG MENGURANGI KEIKHLASAN DAN KETULUSAN IBADAH”

    Semua orang terbelalak dan makin ternganga mendengar jawaban ini…

    Salam… ‘OBOR’ & KENDI-AIR

    ======================
    :: Saya baru denger kalau Rabiyah yang bawa obor. Dia dulu ikut kontingen mana mas waktu Olympiade di Beijing?:mrgreen:
    ======================

  3. Fitri says:

    Oh, ya mas Lambang.

    Kenapa komentar ku di blog batjoe di moderasi ya? Sepertinya dia marah gara-gara isi komentar yang masuk di blog aku. Sebenarnya sejak artikel pertama blog fietria, memang sudah begitu isi komentarnya.

    ======================
    :: Mas Batjoe jarang marah koq. Beliau itu bijaksana dan rendah hati, walaupun sering ngeyel. Mudah-mudahan enda ada masalah. Kan udah kopdar, mosok marah-marahan.
    Avatarnya ayu… gambar siapa ya…😉

    ======================

    • batjoe says:

      fit ndak marah kok….
      tadi ketangkep satpam genit .. lha yang bisanya namu cowo melulu terus dateng gadis cantik ya di gombalin dulu…

      aku dah komentar di blogmu silahkan dilihat…

      buat mas lambang… ngeyel2nya aku masih santun dgn peradaban blog apalgi sama guru heheheh walaupun masih hijau…(daun) emang anak band????

      anak didiknya yang lain kali ngeyelnya perlu distrum 1000 watt… hahahahahahaha

      jangan marah ya dek fitri dan mas lamabng mau tahu aja foto siapa? cari tahu dong kan jago kopuiter

      ======================
      :: Hehehe…
      Jadi kapan nickname-nya dikasih link?🙂
      *siapin setruman lele 1000 watt*

      ======================

  4. sikapsamin says:

    @yth. Mas Dr. M4stono. SpJ,

    Hi..hi..hi..ngamuk dispam. Lha wong Kumbokarno NGOROK?!, ambruk blognya mas Lambang…
    Coba gimana pengetikan ngoroknya Kumbokarno?!

    Matur nuwun mas Lambang
    Salam…ngorok

    ======================
    :: Matur nuwun ugi mas Samin.
    Salam Kumbokarno Ngorok.🙂

    ======================

  5. Dewi Yana says:

    Assalamu’alaikum,
    Tulisan yang bagus Mas. saya mau mengundang mas Lambang, untuk mengunjungi blog baru saya (blog hadiah, dari seorang teman Blogger kita), – ( Dewi Yana, http://jalandakwahbersama.wordpress.com )

    ======================
    :: Makasih mbak atas undangannya.
    Sepertinya saya sudah beberapa kali ke sana. Ataukah ada blog yang lain?
    Ah! Ternyata saya kurang memperhatikan link di nama itu.
    http://dakwahdewi.herfia.com
    Saya segera mampir mbak.🙂

    ======================

  6. batjoe says:

    guru….
    wah makin ndak karuan tuh anak murid wanitanya hehehehehee
    coba aja deh nyebrang dulu sebentar.. saya bales2an komentar dgn Jelasngak di blog nya si cantik fitri.
    saya koment apa dijawab apa… jadi lucu juga….

    saya agak tegas tadi ke fitri supaya hati2 dalam memasukan komentar seseorang yang saya pikir sudah tidak dalam bahsan yang berbobot!!!!

    sayang guru, padahal fitri itu cerdas daya pikirnya. saya sudah sarankan untuk cari artikel yang lain saja.

    berarti ngeyelnya saya masih waras tho hahahahahahahaha

    ======================
    :: Hehehe… kalau dik Fitri itu masih muda banget, jadi masih belum bisa menahan tiupan angin. Ada semilir ke kiri, ikut miring ke kiri. Ada hembusan ke kanan, ikutan melongok ke kanan.
    Yah biar sajalah, mumpung masih muda, masih bisa mengikuti arah angin.

    Kalau JelasNggak itu keknya memang ada yang ngga jelas. Mungkin ada masalah kejiwaan yang kronis. Bisa dilihat dari sub judul blognya. Dia seneng masuk ke lingkaran samsara yang diciptakannya sendiri.🙂
    ======================

    • batjoe says:

      hihihihihihihihi
      tadi saya test lagi ternyata emang ndak jelas banget…

      komentnya ini jawabnya itu… kejiwaan yang kronis..hehehehehehehehe…

      lucu aja mas lambang blog jadi dagelan orang-orang yang ngak jelas semua dari artikel terus keomnatarnya ndak ada yang nyambung sama sekali bahkan bawa=bawa artis segala whakakakakakakakakak..
      salam tengah malaem mas lambangku

  7. m4stono says:

    pamuji rahayu mas lambang…………

    semoga Allah selalu meridhoi panjenengan………..

    wah saya merasa takluk melihat postingan diatas, saya sungguh kagum dengan mas lambang yg bisa membuat postingan yg panjang dan bagus seperti ini.

    memang para da’i khususnya jaman sekarang sering dihadapkan pada poermasalahan cara menyampaikan materi dakwahnya apakah dengan cara2 normatif atau yg lebih luwes, kalo normatif maka akan sering memakai dalil2 dan seolah terkesan kaku dan pembenaran atas sebuah tafsir, sedangkan kalo mau cara lebih luwes maka akan dihadapkan pada dilema “dulu jaman nabi dakwahnya gak begini, semua itu harus ada dalilnya kalo gak ada maka kembali ke Qur’an dan sunnah, apabila tidak ada di Qur’an dan sunnah maka hendaknya tidak dilakukan karena bisa berarti bid’ah”

    maka dari itu dakwah2 dengan cara alternatif dan tidak normatif itu tidak dilakukan oleh orang yg mengaku da’i, ustadz atau kyai, tapi dilakukan oleh budayawan, walaupun ada juga kyai yg budayawan, ini penting dakwah dengan budaya sebab tidak bersinggungan langsung dengan ayat2 atau dalil2 yg bersifat ancaman tapi lebih masuk kehati dan imajinasi pendengar/pemirsa, coba bagaimana rasanya orang yg gak tahu apa2 tahu2 dicap kafir, bid’ah dsb hanya karena ndak tahu permasalahannya……….

    tapi bagi saya sendiri dakwah itu harus santun dan beradab, tidak boleh menggurui seolah olah merasa paling benar dan paling pintar dan juga filosofi “pendengar/pemirsa adalah raja” itu yg terpenting, sebab tanpa orang yg mendengar/memirsa maka dakwah akan sia2…………

    mantur nuwun mas lambang atas pencerahannya………………..

  8. Lambang says:

    Halah, koq koyo mlebu blog spiritual kejawen. Biasane bludas bludus.
    Ini bukan karya saya sendiri Kang, cuman kopas, tuh ada kreditnya di bawah artikel. Yang ngabisin waktu cuma browsingnya aja milih-milih artikel mana yang bermanfaat bagi saya, sekaligus bermanfaat bagi teman-teman.
    Katanya sih, kalau dakwah atau menjadi pembicara seminar atau pidato di depan warga, kita memang harus sok tahu. Harus kemlinthi. Ditanya apapun harus bisa jawab walaupun ngawur babar blas. Lha kalo jadi penceramah tapi kluwar-kluwer, ya ditinggal kabur sama pengunjung. Tinggal tukang rokok sama tukang koran yang nungguin sambil ngorok.
    Contohnya udah banyak koq. Seperti Mario Teguh, Andri Wongso, Tung Desem, Roy Suryo, Zaenuddin MZ, Ustadz Jefry dan beberapa motivator / pendakwah lainnya. Walaupun setelah pidato banyak yang mengritik, tapi dia tetap menjadi pendahulu, dan itu yang sulit untuk ditiru.
    Mngomong-ngomong, pendakwah dengan motivator itu hampir mirip ya… Harus ngotot, melotot dan suaranya keras.🙂

    • m4stono says:

      lha piye je…blog iki yo klebu spiritual rodo kejawen…..senajan rodo kecampuran miyabi………hihihi……..

      sik sik sik….kalo MT, AW, TD, ZMZ, Uje isih rodo setuju nek klebu pendahlu walopun gak amat sih:mrgreen:

      lha si roy sukro suryo ki rak pakar telematika jarene mosok klebu pendakwah to kang…tapi bener juga sih pendakwah telematika hihihihi…..

      ya kalo para pendakwah itu suaranya keras dan ngotot ya wajar aja kang…..coba bayangin pendakwah yg kedua tangannya nutupin burung sambil menunduk suaranya lirih, ntar yg melihat akan bilang “iki jan2e anake sopo to yo, mbok dadi kacung rak wis ngenteni juragane paring dawuh”

      tapi yg paling sebel itu melihat pendakwah yg “yok2o” ketoke bener dhewe padahal yo mbuh…hihihi…sithik2 ndalil, nek ra setuju dicap kafir….ustadz koyo ngene ki kudu dikethak sirahe:mrgreen: jadi teringet pakde saya meninggal di penjara thn 80an..hiks…gara2 di bujuk sama anaknya utk “masuk sorga” dgn cara masuk komando jihad abu bakar baasyir ….yo wis lah…sing penting awake dewe ra koyo ngono….hihi

      ======================
      :: Sebetulnya kalau ada yang menerbitkan buku dengan judul “Inilah Dakwah Paling Ngawur Sejagad” keknya bakalan laku keras Kang. Isinya ya dakwah para ustadz yang ngawur itu. Misalnya dilarang pakai gigi emas. Dilarang pakai baju sutera. Vaksinasi itu haram. Kalau sholat jidatnya harus dijedotin biar item-item. Lha terus apa hubungannya gigi emas dengan Tuhan? Kenapa ngga sekalian aja dilarang naik Lexus atau Jaguar padahal yang ini jelas-jelas bisa menimbulkan riya’ dan kecemburuan sosial.

      Kalau Abu Basirun itu… hihihi… ngga komen ah, takut dikirimi bom. Gitu koq ya ada yang mengimani dan mengamini…🙂
      ======================

      • m4stono says:

        kalo yg jidat item tuh saya pernah perhatiin orang yg suspect salafy…buakn berburuk sangka sih…cuman merhatiin tok jan2e karo mbatin sih hihihi….kenapa kok jidatnya item ternyata eh ternyata sujudnya itu jidatnya ditekan agak keras ato keras banget jadi wajar aja ampe item….dan herannya org2 pengagum jenggot itu kok bisa lebat jenggotnya padahal orangnya ya kelihatannya nggak pawakan jenggot tebel, apa mungkin diperkosa ya jenggotnya pake minyak cap firdaus…ini kok jadi kontradiktif dgn filosofi jenggot itu sendiri…

        kalo kumis kan menyiratkan kesombongan karena letaknya diatas mulut, sedangkan jenggot kan dibawah mulut dan menyimbolkan rendah hati…mo rendah hati kok pamer jenggot…kalo tumbuh ya biarkan tumbuh, kalo ndak ya ndak usah dipaksa biar tumbuh…….jangan2 ntar ada tren kaki bengkak karena nabi SAW dulu sholat tahajud ampe kakinya bengkak2….ato tren makan roti pake minyak samin……..keknya yg dua itu gak mungkin deh karena berat sih…hihihihi :mrgreen: mending naik jaguar sama istri2 cantik jenggotan bawahnya hihihihi

        ======================
        :: Kalau naik jaguar sama istri2 cantik itu hukumnya kapiran Kang, karena saya ngga diajak… hihihi…
        Hmmm… semuanya satu mobil Kang? Buset dah… ekshibionisme poligami…
        Tapi emang paling enak ngasih stempel kapir. Harapannya orang akan marah besar. Kalau cuman dikatain isi kebon binatang sih masih nyantai, karena wujudnya udah jelas beda. Buntutnya juga beda. Tapi kalau kapir… hihihi… susah mbedain antara yang berjubah sama yang pakai mantel bulu jin…🙂

        ======================

  9. abifasya says:

    mas lambang benar-benar abangan….
    artikelnya mantep banget deh
    kayanya aku gak sanggup deh bikin artikel kaya gitu
    salaaaaaaaaaaaaaaaaam

    ======================
    :: Hihihi… abangan emang ngga jelas. Ada yang bilang pengikut SSJ. Ada yang bilang kaum agamis pinggiran, rakyat, proletar. Ada juga yang bilang Islam KTP atau Islam pas-pasan.
    Tapi itu bukan artikel saya mas, hanya koleksi pribadi dari Internet.🙂
    Salam…

    ======================

    • batjoe says:

      mas ini guruku lho?
      cuma muridnya sering direndem dan diumpetin jadinya ndak muncul-muncul kepermukaan…

      biasa mas guru ndak pernah mau ngalah sama anak murid whakakakakakakakak…..

      ======================
      :: Hehe… bukannya murid yang biasanya ngeyel sama gurunya?:mrgreen:
      ======================

  10. m4stono says:

    wah keknya baru agak sedikit ngeh dgn artikel ini kang…maklum belum baca:mrgreen: cuman secuwil cuwil…abisnya kepanjangen sih…..hihihi

    saya tertarik dengan olah batin yg dilakukan rendra, ya kata seorang kyai/habib di kota mana yah lupa….salah satu metode penyembuhan penyakit itu ya seperti itu….misalnya kalo tangan kita sakit maka berdzikirlah seolah olah tangan kita yg berdzikir dan memohon kepada allah maka insya Allah akan sembuh…coba aja kang sapa tahu kliyengannya bisa sembuh…….🙂

    ======================
    :: Iya Kang. Nanti saya coba.
    Mudah-mudahan bisa sembuh.🙂

    ======================

  11. sikapsamin says:

    …menerbitkan buku dengan judul “Inilah Dakwah Paling Ngawur Sejagad”…
    (yang disusun atas dasar AZAS PRADUGA KEBEBASAN BEREKSPRESI/BERPENDAPAT DALAM BERBAHASA)

    Pasti…luuuaaarrrriiiiisss tttuuueeennnaaannn

    Hi..hi..hi.. ndhelik dhisik ahhhtidak

    ======================
    :: Mau ikut jadi kontributor mas?🙂
    Polis asuransi perlu di-cek lagi masih berlaku apa ngga…:mrgreen:

    ======================

  12. lovepassword says:

    Rabiah memang keren🙂

  13. sikapsamin says:

    Yth. Mas DR. Lambang,
    Siiippp…polis asuransi langsung saya perpanjang tapi hanya sampai 2012 saja, nggak boleh lebih…percuma saja katanya;

    Yth. Mas Love…,
    He..he..he.. Rabiyah dilawan

    Salam… Rabiyah

    ======================
    :: Siip mas…
    Pokok’e Rabiyah…🙂

    ======================

  14. sisableng says:

    ======================
    :: Sebetulnya kalau ada yang menerbitkan buku dengan judul “Inilah Dakwah Paling Ngawur Sejagad” keknya bakalan laku keras Kang. Isinya ya dakwah para ustadz yang ngawur itu. Misalnya dilarang pakai gigi emas. Dilarang pakai baju sutera. Vaksinasi itu haram. Kalau sholat jidatnya harus dijedotin biar item-item. Lha terus apa hubungannya gigi emas dengan Tuhan? Kenapa ngga sekalian aja dilarang naik Lexus atau Jaguar padahal yang ini jelas-jelas bisa menimbulkan riya’ dan kecemburuan sosial.

    setujuuuuu!
    tapi kenapa ndak Mas Lambang aja yang bikin yak?
    Tak tungguin lho Mas.
    Hehehe…

    ======================
    :: Asuransi saya dah kadaluwarasa je. Entar kalau diserbu gimana? Mau ikutan lagi pasti ngga lulus tes kesehatan, wong udah bocor alus semua.:mrgreen:
    ======================

  15. Bagai mana mungkin kita bisa pergi ke Bulan atau meneliti dasar lautan jika kita nyufi melulu.

    Di dalam dunia tarekat pun “laku” batin seperti ini juga ada. Praktek “riadloh” (intinya latihan untuk hidup lebih prihatin, berupa mengurangi tidur, mengurangi makan, atau puasa, dan hanya makan umbi-umbian saat berbuka), merupakan bagian dari corak perjalanan batin yang panjang, yang harus ditempuh seorang murid yang menempuh jalan sufi

    Apakah dgn menyufi kita bisa tambah sehat dan cerdas dan berenerji, inovatif dll? Sufi Fisika harus duluan sebelum menjadi Sufi Metafisika, kurasa.

    Salam Damai!

    • Lambang says:

      Masing-masing sesuai bagiannya Bro Mike!
      Hidup adalah pilihan.
      Yang mau wiridan silahkan wiridan sampai kiamat.
      Yang mau jadi scientist silahkan menjadi sampai kiamat.
      Kalau Sufi Fisika keknya ngga bakalan ada, karena ilmu fisika sebagian besar menggoyang kursi Tuhan.
      Mangkanya banyak orang yang terjebak dalam egoisme spiritual. Yang penting do’i selamet, orang laen mah terserah. Dengan pola pikir kek gini, boro-boro kepikiran menciptakan dunia yang damai, aman, nyaman dan bermanfaat bagi sesama umat manusia.
      Ilmu pengetahuan semula memang tujuannya untuk kebaikan dunia. Kalo ternyata kemudian malah menghancurkan dunia, seperti kimia CFC (bukan Californian Chicks lho), ya itu side-effect yang baru diketahui belakangan ini.

      Salam CFC!

      • Hehe!
        Sayentis sampai kia mat.
        Wiridan sampai akhir at.

        Fisika itu terbua untuk menggoyang apa saja, termasuk Tuhan. Yang kumaksud Sufi Fisaika itu adalah mereka yg telah mulai bisa menikmati bagai mana elektron menar samapai dengan mereka yg telah bingung mampelajari kerumitan disain propeller bakteri. Demikian Sufi Fisika.

        Salam Anget!

      • Jadi,
        Ngagk usah jadi Sufi Metafisika,
        Jika Fisika aja belum pernah “A”.

        Salam A!

  16. dBo says:

    RENDRA…DALAM KONTEMPLASI

    Masih tersisa…perih dalam hati,
    Ketika kudengar…tiba-tiba engkau pergi,
    Burung-Merak kita…telah terbang tinggi,

    Mantapkan Kepak Sayapmu…’nuju alam abadi,
    Alam abadi, damai, hening…suci,
    Bersanding…disisi Sang Adi Kodrati,

    Kepak Sayapmu…bangkitkan Getar-Resonansi,
    Resonansi…BHINNEKA JATI DIRI SEJATI,
    Triwikrama…menuju KEJAYAAN NKRI,

    Kadang sejati,
    Kurelakan engkau pergi…..

    =========
    Yth. Kidimas Lambang,
    Mohon maaf & titip goresan disini.
    Matur nuwun….

    ======================
    :: Yth Mas dBo,
    Silahkan mas… terima kasih atas kunjungannya.🙂

    ======================

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s