Korelasi dan Kausalitas

funny-monkey.jpgArtikel ini membahas secara sepintas mengenai perbedaan antara korelasi dan kausalitas. Jangan tertukar dengan kasualitas yang memiliki makna berbeda. Perbedaan ini cukup penting dalam berbagai hal, termasuk studi terhadap manusia. The Age menerbitkan sebuah artikel yang berjudul “Kegemukan Menyebabkan IQ Turun“. Artikel ini dibuat di London untuk pembaca yang ada di Australia, tetapi menjelaskan tentang studi yang dilakukan di University of Boston. Sebelum kita melanjutkan membahas artikel tersebut, mari kita bahas beberapa hal mendasar.

Korelasi adalah hubungan matematis antara dua hal yang diukur. Hal ini diberikan sebagai nilai antara 0 dan 1. Sebuah korelasi disebut 0 berarti ada dua hal yang tidak berkaitan – jika diberikan nilai yang pertama, maka tidak ada cara untuk meramalkan nilai yang kedua. Sebuah korelasi disebut 1 berarti ada dua hal yang benar-benar terkait, nilai yang pertama selalu memprediksi nilai yang kedua. Sebagai contoh, katakanlah Anda mengukur tinggi dan berat dari sekelompok orang. Ini memiliki korelasi yang tinggi, sekitar 0.8 – tinggi adalah prediktor yang baik terhadap berat badan, dan sebaliknya. Sekarang Anda gunakan kelompok yang sama dan warna mata diukur. Ada korelasi yang rendah antara warna mata dan tinggi, hampir mendekati 0. Pada dasarnya mereka independen, mengetahui salah satu nilai tidak akan menceritakan apapun dari nilai yang lain.

Kausalitas juga merupakan hubungan antara dua hal, tetapi itu bukan matematika, itu adalah fisik (atau filsafat). Sesuatu akan menyebabkan sesuatu yang lain jika ada rangkaian peristiwa antara hal pertama dan hal kedua, masing-masing akan menyebabkan hal berikutnya terjadi secara berantai. Kausalitas melibatkan waktu – hal pertama terjadi, dan kemudian hal yang kedua terjadi sebagai akibatnya. Kita sebut hal pertama adalah penyebabnya, dan yang kedua adalah efek. Perhatikan bahwa tidak seperti korelasi, hubungan yang ada adalah asimetris.

Orang terkadang tercampur-aduk menggunakan dua jenis hubungan ini, dan hal ini dapat menyebabkan kesalahan dalam pengambilan kesimpulan. Sebagai contoh, kita mencatat korelasi yang tinggi antara tinggi dan berat badan. Apakah ini berarti tinggi menyebabkan berat badan? Tentu saja tidak. Di sisi lain, ada korelasi yang tinggi antara merokok dan menderita kanker paru-paru. Apakah ini berarti merokok menyebabkan kanker paru-paru? Tidak! Meskipun merokok dapat menjadi penyebab kanker paru-paru, tetapi Anda tidak bisa menarik kesimpulan itu hanya dari kenyataan bahwa mereka mempunyai korelasi tinggi.

Sekarang mari kita lihat artikel tentang “kegemukan” tadi. Perhatikan paragraf yang ini:

Ketika diberi tes fungsi kognitif yang melibatkan logika, kefasihan ucapan dan ingatan, skor yang dicapai pengidap obesitas berada 23 persen di bawah kaum pria yang tidak mengalami obesitas, bahkan setelah memperhitungkan faktor-faktor seperti tingkat pendidikan, pekerjaan dan tekanan darah.”

Jadi, ada korelasi yang tinggi antara fungsi kognitif dan obesitas. Apakah ini memungkinkan kita untuk menyimpulkan bahwa obesitas menyebabkan fungsi kognitif menjadi rendah? Tidak! Bagaimana kalau dibalik, dapatkah kita simpulkan bahwa fungsi kognitif rendah menyebabkan obesitas? Lagi-lagi tidak! Dua-duanya bisa benar, tetapi dua-duanya tidak logis. Judul artikel dan kesimpulan yang diambil jelas salah.

Ada masalah lain dalam artikel. Menggunakan kata-kata seperti penurunan dan mengurangi, yang menyiratkan perubahan dalam fungsi kognitif yang diukur pada individu yang sama. Tetapi studi ini tampaknya tidak mengukur orang yang sama dari waktu ke waktu, tampaknya hanya mengukur orang yang berbeda pada saat yang sama. Ini adalah kesalahan logika yang benar-benar serius. Pada kenyataannya, kebanyakan studi telah menemukan bahwa IQ manusia sudah tidak berubah lagi sejak usia 5 tahun ke atas. Oleh karena itu, Anda sebenarnya bisa menyimpulkan sebab akibat yang sebaliknya, dan mungkin judul artikel tersebut harus diganti “Pria yang Kurang Cerdas Rawan Terhadap Resiko Obesitas“. *Lambang: Kalau judul yang ini keknya malah lebih kacau lagi*

—===oooOooo===—

Referensi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia:

ka·su·a·li·tas n kecelakaan, terutama yg menyangkut hilangnya nyawa seseorang

kau·sa·li·tas n perihal kausal; perihal sebab akibat: kalau kita hendak berbuat sesuatu, harus kita perhatikan hukum —

ko·re·la·si /korélasi/ n hubungan timbal balik atau sebab akibat: ada — yg erat antara iklim dan dunia tumbuh-tumbuhan;
lingkungan hubungan antara dua sifat kuantitatif yg disebabkan oleh lingkungan yg sama-sama mempengaruhi kedua sifat;
ber·ko·re·la·si v sering berhubungan secara timbal balik; ada korelasinya;
me·ngo·re·la·si·kan v menghubungkan untuk mencari pertaliannya

Referensi dari Dictonary.com:

cau-sal-i-ty / -noun, plural -ties.
1. the relation of cause and effect: The result is the same, however differently the causality is interpreted.
2. causal quality or agency.

cor-re-la-tion / -noun, plural -ties.
1. mutual relation of two or more things, parts, etc.
2. the act of correlating or state of being correlated.
3. Statistics. the degree to which two or more attributes or measurements on the same group of elements show a tendency to vary together.
4. Physiology. the interdependence or reciprocal relations of organs or functions.
5. Geology. the demonstrable equivalence, in age or lithology, of two or more stratigraphic units, as formations or members of such.

Dikemas oleh: Lambang (LambangMH.wordpress.com)
Sumber: w-uh.com
Gambar: PhotoBucket.com

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Informasi and tagged , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Korelasi dan Kausalitas

  1. Bener-bener sifat pengangon!
    Jangan sampai angonannya sesat!
    Kan?

  2. Tanya:
    Apakah kegemokan berkorelasi tinggi dgn hipertensi dan hipertensi dgn kunang-kunang dan kunang-kunang dgn IQ?

    Salam Iseng!

  3. Lambang says:

    Kegemukan berkorelasi tinggi dengan hipertensi. Hipertensi berkorelasi tinggi dengan mata berkunang-kunang. Tapi kunang-kunang ngga ada korelasinya sama IQ. Kalau sama mumet keknya ada.
    Tapi kalau mata ijo dengan duwit korelasinya cukup tinggi.:mrgreen:

  4. Aku suka yg tinggi-tinggi, Brat!

    Apa pernah kita punya uang warna ijo gitu spt USD.
    Tak mungkin illuminasi itu datangnya dari amerika.
    Soalnya di Amerika sendiri idiom ini tak dikenal.
    Pls!

    Salam Hijau!

    • Lambang says:

      Keknya uang bergambar serimpi jaman Soekarno itu ada yang warnanya merah, ada yang warna ijo. Yang merah (dan ada gambar tebu 9 batang) malah katanya punya daya magis, bisa melengkung kalau diletakkan di telapak tangan. Padahal pernah saya buktikan taruh diatas cangkir teh juga bisa melengkung (karena ada dua lapisan kertas yang berbeda kecepatan muai-nya). Eh malah saya disangka punya ilmu kelas tinggi. Susah kalau ketemu orang-orang yang pikirannya sudah terdogma tentang hal-hal magis.😉

  5. Robinson Agus Sihotang says:

    @ Lambang
    .
    .

    Saya bingung dengan posting mas kali ini, ndak mengerti betul bah !! Tapi cuman satu yg dapat sedikit terpahamin diriku, kalau gbr di atas itu yg berkacamata misalnya mas Lambang ,trus yg disebelahnya pake gincu bibir pula itu siapanya ??? Nah …ini korelasinya dgn malam minggu begini … mana hujan lagi..

  6. pembahasan yang sangat menarik…. sudah lama saya mencari materi tentang korelasi kegemukan dan IQ
    trim’s atas infonya

  7. batjoe says:

    hehehehheee dari kemarin gambarnya “begituan terus”
    cm ngasih kritik dikit aja dengan ambarnya lho ya..
    nyemot = orang gemuk (hahahahahahahahaha)

    sory jangan tersingung ya… saya gemuk2 tapi IQ masih foolll lho tapi kalau urusan komputer nyerah sama yang punya blog…

    mana kok blum berubah tapi artikelnya ngelaju samapi teluk bayur….

  8. batjoe says:

    malem minggu kemana ya si wayang kulit???? biasanya pertama udah tidur disini hehehehehehee

    kompinya udah apik lum????

  9. Lambang says:

    Hehe.. mau berubah apanya… tema blognya maksudnya… Ya ngga mungkin berubah wong sudah salah judul. Nanti kalau mau berubah terpaksa buat blog baru.

    Ngerapiin data di hard disk, di index, di synchronize, di mirror, di burning, keknya itu kerjaan yang ngga ada habisnya sampai kiamat… hihi… dulu salah ngambil jurusan…🙂

    • batjoe says:

      aku ada kirim email

      ======================
      :: Iya mas, udah saya jawab dua-duanya.🙂
      ======================

  10. DL says:

    Saya mengerti penjelasannya, tapi saya tidak menemukan solusinya?
    Kalau penelitan asosiatif kan ada 3 bentuk hubungan (simetris,kausal,interaktif/timbal-balik). Jika menggunakan bentuk hubungan kausal utk penelitian yang menyatakan hubungan variabel X dengan Y tidak bisa merepresentasikan adanya sebab-akibat karena masih ada fakor lain yang bisa mempengaruhinya. Jadi utk jenis penelitian yg mencari hubungan X dg Y (yang bukan merupakan sebab-akibat) menggunakan bentuk hubungan apa dari ketiga bentuk hubungan tersebut (simetris,kausal,interaktif) ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s