Realitas dan Imajinasi

reality and imagination.jpgKe lima indra membuat kita merasa bahwa dunia ini nyata. Melihat kepadatan benda-benda di sekitar kita, merasakan dampak dari indera, sulit untuk menyangkal keabsahan apa yang kita lihat. Semuanya tampak nyata dan kita tidak pernah mempertanyakan realitas ini.

Pikiran melekat pada lima indra dan menerima segala sesuatu sebagai nyata tanpa mempertanyakan. Ketika kita bertabrakan dengan sebuah meja atau dinding dan kita merasa sakit, sulit untuk mengatakan bahwa itu hanyalah imajinasi. Ketika kita melihat dengan mata kita, mendengar suara, bau, atau ketika kita merasa panas atau dingin, kita menerima perasaan seperti nyata.

Beberapa orang mengatakan bahwa dunia adalah ilusi, atau maya dalam terminologi belahan timur dunia. Dapatkah kita menerima hal ini ketika semuanya terlihat begitu nyata? Dapatkah kita menganggap dunia sebagai imajinasi?

Kita membutuhkan lima indra dan pikiran untuk menjadi sadar akan dunia, yang berarti bahwa dunia ini tergantung pada indra dan pikiran itu. Tanpa indra dan pikiran dunia tidak ada bagi kita.

Jika kita mengatakan bahwa benda yang sesungguhnya adalah sesuatu yang selalu ada tanpa kesenjangan, maka dunia selain dunia adalah tidak nyata. Ada saat-saat selain tidur, ketika kita begitu sibuk sehingga kita tidak sadar akan apa yang terjadi di sekitar kita. Ketika tidak ada sensasi indrawi, seperti ketika sedang dalam tangki terapung, atau ketika di dalam meditasi, kita masih sadar, tetapi bukan terhadap dunia luar. Ini berarti bahwa kadang-kadang kita menyadari tentang dunia luar dan kadang-kadang tidak.

Setelah kita bangun dari tidur, atau keluar dari meditasi yang mendalam dan kembali ke kesadaran biasa, kita merasa bahwa ada kesenjangan dalam kesadaran kita terhadap dunia luar. Tidak ada dunia luar pada saat itu. Jika kita berusaha untuk memperhatikan kesadaran kita, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa dunia luar datang dan pergi, sementara kesadaran batin kita tidak pernah sirna.

Dunia luar ada bagi kita hanya kalau indra dan pikiran diarahkan untuk itu, dan tidak ada lagi bagi kita saat kita mendiamkan indra dan pikiran. Selama tidur lelap kita tidak mengalami dunia luar karena indra tidak aktif. Dapatkah Anda membuktikan realitas dunia luar ketika anda tertidur lelap? Ketika Anda bangun dari tidur orang lain mungkin mengatakan kepada Anda bahwa dunia luar ada, tapi bisakah Anda membuktikan bahwa orang-orang ini ada saat Anda sedang tidur?

Setelah bangun kita bisa menemukan segala macam teori untuk membuktikan realitas dunia luar. Namun, ini hanya teori mental. Selama tidur itu tidak ada bagi kita. Dunia luar menghilang bersamaan dengan waktu.

Selama tidur mimpi tampak sangat nyata, tetapi ketika bangun tidur kita menyadari bahwa itu hanyalah mimpi. Demikian juga dengan dunia ini yang kita sebut realitas. Adalah mungkin untuk bangun dari hal itu juga. Sri Ramana Maharshi, seorang bijak dari India, mengatakan bahwa perbedaan antara mimpi saat tidur dan mimpi yang kita sebut terjaga hanyalah dari durasi, yang satu pendek dan yang lain panjang.

Lebih lanjut dari hal di atas, setiap orang menafsirkan dan berhubungan dengan perilaku, kata-kata dan sikap orang lain dengan cara yang berbeda, sesuai dengan isi dari pikiran bawah sadar. Tidak seorang pun di dunia ini yang sama satu dengan yang lainnya. Sekali lagi, kita melihat ilusi bekerja. Dunia tercipta, didasarkan pada penafsiran kita tentang apa yang kita lihat, dengar dan rasa.

Akal dan pikiran menciptakan dunia

Pikiran muncul dalam akal dan kita menjadi sadar akan mereka. Pikiran yang sama cenderung timbul lagi dan lagi. Jika kita membiarkan proses ini terus berlanjut, ini akan berlangsung terus-menerus. Pikiran ini membuat kita berharap, berperilaku, berbicara dan bertindak dalam suatu cara yang dipersonalisasi, dan dengan demikian menyebabkan orang yang kita ajak berinteraksi, akan memperlakukan dan berhubungan dengan cara yang sama.

Kita terbiasa untuk melanjutkan berpikir dengan cara yang sama, dan menjalankan kehidupan dengan cara yang sama setiap hari, tanpa perduli apakah kita suka atau tidak. Pikiran ini membentuk keadaan dan hubungan kita. Hal ini seperti menonton film yang sama berulang-ulang. Jika kita ingin menonton film yang berbeda kita harus mengubah roll film atau kaset. Ini terjadi dengan mengubah pikiran kita. Ini adalah bagaimana visualisasi kreatif bekerja, dan tidak ada yang supranatural tentang hal ini.

Dunia yang kita rasakan dan kehidupan kita jalani, adalah refleksi dari pikiran kita. Pikiran menciptakan dunia ilusi. Dengan mengubah pikiran kita, kita mengubah pengalaman ilusi dan realitas yang berbeda. Kita tidak menciptakan dunia, hanya ilusi yang tampak nyata. Tidak ada kekuasaan yang tidak biasa terlibat di sini. Kita hidup di dunia ilusi dan sedang mengubah dunia ilusi.

Ketika kita mampu menghentikan pikiran dan indra, kesadaran kita tampaknya bergeser ke dimensi baru. Sebenarnya ini sudah ada sepanjang waktu, tetapi akal yang membuat kita berpikir sebaliknya. Ketika tidak ada pikiran di dalam akal, dunia yang kita tahu dan percayai bahwa itu nyata, akan kehilangan realitas. Kita menjadi sadar terhadap dunia yang berada di luar pikiran dan ilusi.

Bangun dari ilusi

Kita bisa bangun sepenuhnya, mengerti dan menjadi sadar akan ilusi dunia dan kehidupan ini, sebagaimana kita yang sebenarnya, yang murni, yang tak berbentuk, yang memiliki kesadaran yang tidak dibatasi oleh awal dan akhir. Berdasarkan ilusi itu tampak seolah-olah kita semua ini terpisah, mempunyai kepribadian sendiri, dan masing-masing ada dalam kehidupan yang berbeda. Bahkan ketika kita bangun dari kondisi maya, roda kehidupan ini tetap akan berjalan seperti biasa. Kita terus melihat dan mengalami hal itu, namun itu sudah tidak menjadi perhatian lagi. Keluarnya, kita tetap menjalankan kehidupan dengan cara yang sama, tetapi kita telah benar-benar terjaga.

Ini seperti pertunjukan film. Seseorang yang menonton film dan kemudian menjadi terlalu terlibat dengan karakter dan apa yang terjadi di layar. Dia mungkin menjadi bahagia atau sedih terhadap jagoannya, menjadi tertekan, berteriak atau tertawa.

Jika pada saat tertentu ia memutuskan untuk berhenti melihat layar dan berhasil menghilangkan perhatiannya terhadap film tersebut, ia akan keluar dari ilusi yang diciptakan oleh film. Mesin pemutar film tetap akan memproyeksikan gambar ke layar, tetapi ia tahu bahwa itu hanyalah cahaya yang menembus film dan diproyeksikan ke layar. Apa yang dilihat pada layar adalah hal yang tidak nyata, tetapi nyatanya gambar itu ada di sana. Ia mungkin tetap menonton film, atau ia dapat memutuskan untuk menutup mata dan telinga dan berhenti melihat pada layar.

Apakah Anda pernah menonton film, ketika pada saat tertentu roll film tersangkut atau mati listrik?Apa yang terjadi pada Anda ketika menonton film fi TV yang cukup menarik dan kemudian tiba-tiba ada iklan? Anda otomatis akan keluar dari ilusi dan kembali pada dunia di sekitar Anda. Ketika Anda tidur dan bermimpi, dan seseorang membangunkan Anda, Anda merasa terlempar keluar dari satu dunia yang berbeda. Ini adalah hal yang sama dalam kehidupan yang kita sebut dengan realitas. Adalah sangat memungkinkan untuk bangun dari realitas yang berupa ilusi ini.

Orang yang telah berhasil mengatur pikiran dan perasaan melalui pelatihan yang tepat, dapat terus hidup dan bertindak di dunia sebagaimana orang yang berada di ruang bioskop, tetapi sudah tidak tertarik lagi pada film. Ia belajar bagaimana untuk keluar dari ilusi dan terbangun. Jika ia tidak lagi menjadi budak ilusi dan mimpi, ia bebas. Dia melihat segala sesuatu seperti apa adanya. Berlawanan dengan apa yang Anda pikirkan, orang tersebut menjalankan fungsi kehidupan sehari-harinya dengan cara yang lebih baik, lebih kuat, lebih bahagia, sangat praktis dan
bebas dari kekhawatiran.

Di Timur, metafora digunakan untuk menunjukkan apa hubungan antara ilusi dengan Realitas. Sebuah permata yang terbuat dari emas dapat disebut anting-anting atau kalung, tetapi sebenarnya itu hanyalah emas. Sebelum menjadi sebuah perhiasan atau setelah meleleh dia tetaplah hanya emas. Tanah liat dibentuk menjadi piring, gelas, atau vas, tetapi mereka tetap hanyalah tanah liat.

Untuk memudahkan percakapan, kita menyebut obyek itu sebagai barang yang terbuat dari emas atau tanah liat dengan banyak nama, tetapi mereka benar-benar hanyalah tanah liat atau emas. Segala sesuatu yang ada adalah “dibuat” dari zat, dan bukanlah merupakan barang “nyata” yang berdiri dengan sendirinya, persis seperti pada contoh di atas. Tidak ada yang mempunyai realitas sendiri.

Sebuah fatamorgana adalah tidak nyata, tapi kita sudah melihatnya. Sebuah mimpi yang terjadi saat tidur itu tidak nyata, namun kita mengalaminya selama masa mimpi sebagai kenyataan. Sebuah hologram tampak 3D, sedangkan itu sebenarnya datar.

Di Timur, salah satu metafora untuk menjelaskan realitas dan ilusi adalah menggunakan tali dan ular. Dalam gelap mungkin kita bisa menduga itu adalah tali atau ular. Ketika ada cahaya yang cukup, kita menyadari bahwa itu hanya sebuah tali, dan ular itu menghilang. Ini hanyalah disebabkan oleh sejenis ilusi bahwa kita melihat dunia. Semuanya ada dalam pikiran.

Dikemas oleh: Lambang (LambangMH.wordpress.com)

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Filsafat, Kehidupan, Pencerahan, Renungan, Spiritual, Tasawuf and tagged . Bookmark the permalink.

53 Responses to Realitas dan Imajinasi

  1. S™J says:

    What is The Matrix😎

    • Lambang says:

      The Matrix sebetulnya virtual reality yang masuk dalam pikiran. Sang lakon sampai bingung membedakan mana yang realitas mana yang ilusi…

  2. batjoe says:

    trus bagaimana dengan tubuh mas adakah pengaruhnya dengan pikiran dan imajinasi ????

    • Lambang says:

      Kalau kata peribahasa, dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Tubuh memiliki pengaruh terhadap pikiran dan imajinasi (oleh kelenjar pineal). Kalau beberapa kelenjar endokrin tidak berfungsi secara normal, pasti ada pengaruhnya terhadap pikiran. Sayangnya, saya belum tahu seberapa besar pengaruh itu, karena belum ketemu hasil risetnya.

      • m4stono says:

        “dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.”

        sebenarnya ini peribahasa yg bid’ah dan menyesatkan alias kafir http://www.wahabimode dot org:mrgreen: ini kan sebenarnya sebuah doa kalo gak salah kalimat sebelumnya “jadikanlah didalam tubuh yg sehat terdapat jiwa yg kuat” kalo cuman mengutip diatas lha preman2 yg kekar2 di amrik kalo di indo premannya ceking2 tapi punya jiwa yg ndak sehat to….si tyson itu tubuhnya sehat secara kekar dan jago tinju tapi malah nyokot kuping dan suka bikin ulah…………wakakakakakak

      • Lambang says:

        Salah ya peribahasanya… maap ya, lha wong saya ngasal aja koq, lagipula peribahasa ngga selalu benar. tapi kalau kitab suci tidak mungkin salah, katanya
        Seperti peribahasa yang ini: Sebodoh-bodohnya keledai, dia tidak akan terantuk di batu yang sama. Ternyata malah ada manusia yang terantuk batu yang sama. Mungkin dia lebih bodoh dari keledai ya…:mrgreen:

  3. m4stono says:

    mantep mas ilusi dan persepsinya…:mrgreen: sementara no komeng dulu….mungkin dibawah saya punya komeng yg lebih ciamik VV:mrgreen:

    ======================
    :: Sip Kang, ditunggu komen ciamik-nya…🙂
    ======================

  4. lovepassword says:

    Di dunia kita sekarang Persepsi sangat penting🙂

    ======================
    :: Wah penting banget itu, karena persepsi orang akan berpengaruh terhadap keberadaan ego kita…🙂
    ======================

  5. batjoe says:

    mohon bantuannya .. bahasa kerennya HELP ME FOR BLOG me
    tetap ndak bisa-bisa dan ini komentar seusai dgn judul blognya “realitas = kenyataan”
    aduh udah tengelem beneran nih mas SOS…sos… sos

  6. Sebuah hologram tampak 3D, sedangkan itu sebenarnya datar.
    _________😀

    Salam hangat, Haniifa.

    ======================
    :: Hihi… mungkin maksud si penulisnya yang datar itu proyeksi di retina-nya.
    Maklumlah ini artikel terjemahan, jadi ngga ada yang saya ubah.🙂
    Salam kembali.

    ======================

  7. Sorry belum sempat baca semua!

    Komenku sementara, pls kontraskan:
    Kata peribahasa, dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Kata Plato, tidak ada kesehatan tanpa jiwa. Seolah, mana lebih penting, kesehatan badan apa kesehatan jiwa. Atau, mana lebih ngeri, sakit badan apa sakit jiwa. Cing!

    Salam Damai!

    • Lambang says:

      Dua-duanya bisa ngeri, tergantung tingkat keparahannya. Sakit badan kalau cuma pilek sih santai. Tapi kalau strook atau liver berat, amitaba deh.
      Sakit jiwa kalau cuman senyum-senyum sendiri juga aman. Tapi kalau bugil dan lari kesana-kemari, itu baru masalah besar.

      Salam Santai!

      • Utk dibayangin aja, Brat!

        Orang sakit tubuh dibesuk.
        Kadang dikasih jerukh.

        Orang sakit jiwa kita lari,
        Khawatir dikasih gebugh

        Coba!
        Bayangin aja!

        Salam!

      • Lambang says:

        Kletannya memang begitu.
        Orang sakit tubuh umumnya dikunjungi.
        Orang sakit jiwa umumnya dijauhi.

        Tapi ada kasus baba-likan.
        Orang sakit AIDS ngga ada yang ngunjungi.
        Orang setengah edan ditamuin minta nomor.

        Salam Bayang-Bayang!

      • Berita Yahoo kemarin ada orang mengalami koma selama 23 tahun. Ibunya tak jemu-jemu merawatnya. Ngelihatnya kasihan banget lah. Konon tubuh tak ada yg salah, otak pun demikian. Apa ini bisa disebut sakit rohani?

        Salam Koma!

      • Lambang says:

        Mungkin itu penyakit kesambet. Di barat belum pernah ada penelitian apa penyebab kesambet itu. Di Indonesia bisa ada karena sebagian besar rakyatnya percaya bahwa itu ada. Katanya, sesuatu itu bisa mewujud kalau dipercaya secara beramai-ramai. Kalau jutaan orang Indonesia percaya demit, genderuwo, kuntilanak, dll, maka enerji2 tsb itu bener-bener akan mewujud. Mungkin ceritanya mirip buku ‘The Hidden Messages in Water’ oleh Masaru Emoto itu. Materi diberi enerji, akan berubah bentuk. Analoginya enerji diberi enerji, akan menjadi materi, mewujud.

        Salam.

      • Yah! Kesambet itu sakit rohani. Kutengok, orang iba dan rela merawat orang sakir rohani, kesurupan atau kesambet. Orang iba dan rela membesuk orang sakit tubuh, tapi orang tidak sebegitu rela atau iba kepada orang yg sakit jiwa, malah ngeri, seolah sakit gituan adalah karena ulah sendiri.

        Bila dugaan ku itu benar,
        Satu lagi penguat ttg jiwa,
        Bahwa:

        Tubuh adalah takdir nyata,
        Rooh adalah takdir maya,
        Jiwa bukan lah takdir.

        Itu saja!

        Salam Pikir Tiga!

      • Lambang says:

        Wah, kalau sudah mengarah ke takdir saya sendiri juga bingung apa bedanya takdir dan hukum alam.
        Manusia lahir ke bumi karena ada persekutuan ayah dan ibu, itu takdir atau hukum alam.
        Orang mati karena sakit parah dan sel tubuhnya sudah banyak yang rusak, masih ngga jelas juga, itu takdir atau hukum alam.
        Orang hidupnya pas-pasan karena kebetulan IQ, DNA, lingkungan, orang tua, dan mertua juga pas-pasan semua, perlu dicari apakah itu takdir atau hukum alam.

        Keknya saya lebih sepakat kalau semua itu hukum alam yang diciptakan Tuhan secara sangat detail, lengkap, terperinci dan canggih. Karena keterbatasan pengetahuan manusia, untuk gampangnya di scripture agama lalu disebut takdir sebagai kambing hitam, dan kambing putihnya tidak perlu disampaikan karena ngga bakalan mudeng.

        Salam Alam!

      • Gini, Brat!

        Takdir yg dimaksud mungkin suatu ukuran keharusan atau ketetapan atau hukum atau apa lah namanya dari Allah bagi kita manusia master piece-Nya. Kalau emang itu yg dimaksud maka ada dua takdir waktu bagiku, satu takdir waktu utk tubuh hidup sementara, satu takdir waktu utk roh hidup selamanya. Dan ada dua juga takdir ruang bagiku, satu takdir utk tubuh hidup ke benua bawah – alamiah dan satu takdir ruang utk roh hidup ke benua atas – rohaniah.

        Bukan takdir jika jiwaku yg berasal dari serapan dunia ini memutuskan berkeinginan rohaniah ke benua atas yg irrasionil. Bukan takdir juga jika jiwaku yg berasal dari serapan benua tengah ini memutuskan berkeinginan “instant” alamiah benua bawah yg rasionil. Kata kuncinya bagiku adalah “serapanku” di dunia ini. Boleh kate di dunia ini kita hanya sarapan, kali yea!

        Periksalah sarapan-serapan kita itu, Brat!
        Apa kah dominan yg masuk akal mulu, rasionil, takdir nyata,
        Atau dominan yg spiritual wungkul, irasionil, takdir maya.

        Begitu kira-kira yg kurasa-rasa,
        Takdir maya dan takdir nyata itu.
        Hukum rohani dan hukum alam itu.

        Jadi,
        Roh adalah takdir,
        Tubuh adalah takdir,
        Jiwa bukan takdir melainkan kesempurnaan.

        Pantesan kurang iba kita membesuk orang gila …
        Ngeri dilempar jerukh karena jiwa punya kebebasan.
        Kebebasan memilih dan kebebasan tidak memilih, gituloh.

        Salam Damai!
        NB:
        Periksa “Pada apa aku ada”:
        http://tertiga.wordpress.com/2009/03/07/tertiga-pada-apa-aku-ada/

      • Lambang says:

        Agak nyambung dikit kurasa.

        Roh adalah takdir. Dia ditiupkan atau tidak, kita tidak ada kuasa apapun terhadap kejadiannya.

        Tubuh adalah takdir. Ini juga sama, kita tidak ada kuasa untuk memilih tubuh yang mana. Kalau aslinya buntek, biar diapain juga tetep buntek. Kecuali kalau teori reinkaranasi itu benar, mungkin kita bisa memilih.

        Jiwa, keberadaanya memang takdir, tapi bagaimana hasil olahannya, itu murni tergantung kita. Mau direbus atau dijemur, tergantung pengalaman masa lalu.

        Sudah kubaca soal ‘Pada apa aku ada’. Bagus ituh.

        Salam.

      • Bagiku jiwa bukan lah takdir, melainkan kebebasan. Dia bebas membuat yg nyata sebagai ilusi atau yg ilusi sebagai nyata. Suka-suka dia memakai indra siapa yg dia mau pakai, indra tubuh atau indra rohani. Benar-benar bebas, dia adalah triger!

        Salam Merdeka!

  8. iiN says:

    —- bisa kah disebut kalau indera kita berperan sbg kendaraan u/ mencapai pikiran yang damai…🙂 -salam kenal mas-

    • Lambang says:

      Salam kenal kembali mbak iiN.
      Indera bisa dianggap sebagai sarana untuk mencapai pikiran yang damai. Mendengarkan musik lembut, menghirup aroma therapy, melihat pemandangan alam yang indah, merasakan desiran angin sejuk dan menikmati es krim Ragusa. Wuih, hidup terasa jadi lebih nyaman dan damai.🙂

      • batjoe says:

        lha iki mas ku kalau yang bening2 komentarnya sejuk banget ilang deh aslinya hahahahhaaa
        mas aku dah ada kirim email di email yang baru dan makasih banget atas bantuannya ndak tahu mau ngucapin apa lagi selain
        TERIMA KASIH SEBANYAK-BANYAKNYA…..

      • Lambang says:

        Hihihi… biasalah… kaum pria suka bermulut manis (kebanyakan makan gula batu) kalau lihat yang manis-manis.

        Oh iya, emailnya sudah saya balas.

        Salam.

  9. m4stono says:

    kalo ngomong masalah ilusi bisa2 mumet mas…..tapi saya da pertanyaan yg gak mumet dan silahkan dipilih….”kita ada didalam jagat raya beserta isinya atau jagat raya beserta isinya ada didalam layar kesadaran kita? monggo dipilih…:mrgreen:

    • Lambang says:

      Jawaban agak mumetnya gini. Secara realitas fisik, kita ada didalam jagat raya beserta isinya. Tapi secara imajinasi, jagat raya beserta isinya ada didalam layar kesadaran kita. Kalau lagi tidur, jalan-jalan astral, kumat schizophrenic-nya atau lagi kumat edane, realitas bisa tukar tempat dengan imajinasi. Ngga tahu kalau sudah mati, apakah masih ada di realitas dan imajinasi yang sama, atau sudah ganti. *belum pernah ngalamin sih*

      • S™J says:

        kalo mau ngalamin yg mirip kematian ya pas tidur itulah. kita gak selalu ingat apa yg sudah kita ketahui, pelajari, pahami, jalani, dsb. ‘realitas’ yg ada hanya saat itu, di situ, begitu…

      • m4stono says:

        ya inilah kang jenang susahnya……biasanya kalo kita tidur mak liyep langsung lupa, sebenarnya kalo mampu ketika kita mak liyep itu kita “potret” dengan kesadaran kita dan bersaksi atas keliyepan kita:mrgreen: maka insya Allah kita akan turu eling……………………………..katanya :mrgreen:

      • Lambang says:

        Tadi tiduran sebentar malah seolah lagi ngeblog dan buat artikel.
        Kletannya sudah sesuai dengan potret yang KangTono mangsut. Turu eling ngeblog… hihi…
        Tapi mungkin maunya bukan yang ini.

        Imajinasi yang terbawa dari realitas dan imajinasi tersebut seolah menjadi realitas.
        Setelah bangun baru kaget, oooh… ternyata hanya ilusi.:mrgreen:

  10. sikapsamin says:

    Saya mau komeng terpaksa hrs ber-ulang2 baca. Agak berasep juga sih.

    Tapi mungkin begini : ‘kita’ adalah kumpulan beberapa ‘aku’…
    Saya coba membuat kalimat begini: Kalau ‘aku’ meletakkan/menidurkan tubuh’ku’ melintang diatas rel-kereta api, kira2 REALITAS apa yang akan terjadi?!
    Apakah tidak akan ada kereta-api lewat, atau kereta-api lewat namun ‘aku’ tetap selamat sementara tubuh’ku’ hancur?!?

    Kok…jadi tambah bingung ya.
    Yang mana Imajinasi, yang mana Realitas?!?

    Maaf kalau nggak nyambung atau salah2 tulis.

    Salam…Real-Image

    • Lambang says:

      Sama mas. Waktu nerjemahin saya juga berasep. Tapi isinya lumayan bagus, jadinya saya posting deh.
      Kalau soal kereta api itu, begitu kesamber realitasnya tubuh fisik akan hancur, tapi ‘aku’ akan pindah ke realitas yang lain. Mungkin bisa langsung menembus langit menuju Sang Pencipta, atau mental-mental ngga karuan selama bertahun-tahun, atau langsung pindah ke jasad baru pada bayi yang baru lahir.
      Tapi realitasnya nanti seperti apa ya ngga tahu, wong saya hanya bisa berandai-andai dan semuanya itu hanyalah ilusi dan persepsi…. *halah*:mrgreen:

  11. Joddie says:

    salam kenal bang… saat membuka artikel2 di blog ini.. hmmm.. saya menemukan ‘sesuatu’ yg kurang lebih sama dengan yang saya pegang selama ini.. siip.!! keep’n writing!

    • Lambang says:

      Salam kenal kembali mas.
      Mudah-mudahan sesuatu itu bisa membawa kepada kebaikan lahir bathin, dunia wal akhirat.
      Terimakasih atas kunjungannya.🙂

  12. pamuji rahayu..,

    wah kang lambang… wong2 podo slulupan nok fesbuk…, lha iki malah ngajak mumet mumetan…, wis jan.. , aku malah mumet.. lha mumet iku bagian dari ilusi je.., coba mmumet ora digagas.., malah ora krasa.. , sing endi yo.. haaaaaaa….,
    nuwun
    salam..

    • Lambang says:

      Injih Romo,
      tadinya saya berniat mau fesbukan, tapi malu pasang photonya. Maunya sih pasang photo jadul, waktu masih muda, keren dan gagah, sambil naik motor trail nggaya seperti Ali Topan. *haiyah, narsis puol*😆

      Saya sebetulnya memang udah terbiasa mumet klinis, jadinya ngajak-ngajak orang lain biar ikut ngerasain mumet non-klinis, mumet imajiner.🙂

      Tapi bagus itu sarannya Romo, mbok mumet iku ora usah digagas, mengko rak malah ora kroso.

      Makasih Romo sudah mampir.:mrgreen:

  13. qarrobin says:

    Realitas dunyaa kalo kata fisikawan adalah ilusi, panjang lintasan elektron pada kulit pertama sama dengan satu kali elektron berputar, jadi apanya yang berputar selain vortex ruang-waktu itu sendiri, sedangkan ruang-waktu dipandang dari kerangka acuan foton, tidak lebih hanyalah ilusi, sungguh menakjubkan ilusi dapat menjadi seolah nyata…

    Salam bocor alus

    • Lambang says:

      Tapi bener katanya mas SikapSamin di atas itu, kletannya si fisikawan belum pernah nyoba tiduran di rel kereta api. Entar kan dia tahu persis mana yang realitas mana yang ilusi…🙂

  14. m4stono says:

    waktu liat sinetron spongebob waduh ketahuan selera pilem nya kek apa:mrgreen: disitu gary si siput mengatakan kalo tidur itu adalah suatu laboratorium yg sangat berharga……jadi kamsud saya adalah ketika kita mak liyep dan kita sadar akan keliyepan kita dan berlanjut di sadar akan ketiduran kita dan tentu saja sadar kalo ini sebuah mimpi maka rancanglah suatu great desain utk hari esok ketika bangun, maka dipastikan rencana kita akan sukses besar dan bangun dengan keadaan segar bugar, ya inilah yg saya kamsud turu eling ketika tidur….bahasa awamnya mengolah bawah sadar kita seperti di kesadaran kita sehari hari…….:mrgreen: tapi kok susahnya minta ampun yah….pengalaman sih bisa sadar pada waktu liyep thok…selebihnya bablas lupa langsung ngorok ngiler ndomble….hihihihihi

    • S™J says:

      posisinya jangan tiduran (katanya)… apalagi kasur empuk trus sampingnya ada kanca wingking… ya sudah bablas…:mrgreen:

  15. Kangdudung says:

    Ass..
    Waktu lihat sinetron, kehidupan dalam sinetron adalah nyata… arus listrik dirumah tidak nyata. Benarkah? bukankah sebaliknya……
    Alam semesta hanyalah proyeksi holografis dari pikiran.Yang sebenarnya nyata adalah Ruh….
    Oleh sebab itu, Makrokosmos adalah Manusia, mikrokosmos adalah alam semesta…
    Wassalam….

    • Lambang says:

      Sinetron atau film, kalau kita terhanyut dengan alur ceritanya, bisa terkesan kita juga ada di sana.
      Kalau listrik sudah jelas realitas, oleh karena itu kalau listrik mati, maka kita mejadi seolah terbangun dari kehanyutan dalam film tadi.

      Ruh itu nyata? Makrokosmos adalah manusia dan mikrokosmos adalah alam semesta? Yayaya, silahkan berpendapat demikian mas, bebas koq.

      Salam.

  16. Lambang says:

    Dicoba berhenti ngeblog, terus topo di Parang Tritis atau Gunung Kidul selama 1000 hari (seperti artikel KangTono yang dulu itu). Ngga usah ngurusi anak, istri, kerjaan, relasi, cita-cita, keinginan, kemauan dan lain-lain. Entar kan lulus… (embuh lulus opo):mrgreen:

    • m4stono says:

      o iya kang saya baru tahu kalo serat pangracutan itu laku khusus utk menyongsong kematian….konon katanya kalo 3 tahun/1000 hari menjelang ajal kita, akan ada firasat2 khusus, tapi ini khusus bagi orang yg tanggap sasmita/waskita lho….kalo buat saya yg bocor alus ya ntah modarnya gimana kesamber bledek, ngesun aspal, dijawil sepur…:mrgreen:

  17. G3mbel says:

    saya pernah dengar ada orang yang mengatakan bahwa eksistensi manusia itu ada di tiga alam:mrgreen:
    .
    salam tiga jari metaaaaalll 😆

  18. Lambang says:

    Kalau ada yang berpendapat manusia hanya ada di satu alam, salamnya satu jari dunk… ngeres ah…😆

  19. Ibeng says:

    Kadang realitas and imajinasi dapat melebur bersamaan.
    Pada saat kita dengan nafsunya bersetubuh,dengan istri loh..!
    Sampai klimaks.
    Yes..yes….
    Tapi buat si impoten,biarpun 1000 tahun berimajinasi.
    Tidak akan mendapatkan realitasnya.
    Kenikmatan imajinasi yang terbukti.
    Bisa juga di katakan,kenikmatan adalah imajinasi kreatif.

  20. Sebuah pembahasan yang menarik saying agak telat mampirnya
    Dalam sabda Budha ada disebutkan seperti ini Mas :
    TUBUH INI BAGAI GUMPALAN BUSA
    PERASAAN BAGAIKAN GELEMBUNG UDARA
    PERSEPSI BAGAIKAN FATA MORGANA
    BENTUK MENTAL BAGAIKAN TANDAN PISANG
    DAN KESADARAN BAGAIKAN TIPU MUSLIHAT

    • Lambang says:

      Bener mas.
      Kalau sudah ngomongin hal yang ghaib itu, kadang saya bingung dengan orang-orang yang cerita bahwa dia melihatnya dengan nyata (walaupun sebenarnya hanya penglihatan di alam setengah sadar).
      Kecuali gambar tuyul yang bisa direkam dengan HP itu.

      Lha terus akhirnya saya harus ambil kesimpulan, saya yang ngga bisa berimajinasi, atau dia yang imajinasinya ketinggian…🙂

  21. Pingback: Realitas dan Imajinasi – Madzhab Kepanjen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s