Religion and Science, Part One (1/4)

religion_and_science.jpgReligion and Science: Conflict or Harmony?

Artikel ini adalah terjemahan dari transcript atas event yang diselenggarakan oleh Pew Forum on Religion & Public Life’s di Key West, Florida, pada bulan Mei 2009 dengan tema Faith Angle Conference on religion, politics and public life. Event ini dihadiri oleh beberapa wartawan media terkemuka.

Speaker:
Francis S. Collins, Former Director, National Human Genome Research Institute.

Respondent:
Barbara Bradley Hagerty, Religion Correspondent, National Public Radio

Moderator:
Michael Cromartie, Vice President, Ethics and Public Policy Center; Senior Adviser, Pew Forum on Religion & Public Life

Saya hanya ambilkan bagian yang cukup menarik dan ada korelasinya dengan tema blog ini. Kalau ada kerancuan dalam terjemahan, bisa langsung membaca artikel aslinya di sini. Maaf kalau judulnya masih menggunakan bahasa Inggris, karena itu hanyalah bagian dari SEO yang sedang saya uji coba.

Francis Collins: Proyek pendataan Genome manusia sebanyak 3.1 milyar code sudah diselesaikan oleh sekitar 2000 ilmuwan pada tahun 2003. Ini dua setengah tahun lebih cepat dan 400 juta USD di bawah anggaran.

Mengenai DNA, saya mencoba melihat gambarnya dari sudut yang berbeda, bukan dari samping tetapi dari sumbu double helix. Ini gambaran yang sangat indah, dan saya pikir ini cukup provokatif untuk disampaikan pagi ini, apakah dua gambaran dunia yang tampak di sana itu tidak compatible? Di sebelah kiri adalah gambar Rose Window di Westminster Cathedral, kaca patri yang sangat indah, dan di sebelah kanan adalah gambar DNA.

rose_window_and_DNA.jpg

Tentu saja ada suara-suara di luar sana yang mengatakan bahwa Anda tidak bisa memilih kedua-duanya, sains dan spiritual. Anda harus memilih salah satu. Anda harus mencoba menyelesaikan permasalahan murni dari perspektif ilmiah, atau murni dari perspektif spiritual, dan dua bagian itu sudah melakukan perang yang abadi selama ini. Kebetulan saya tidak setuju dengan hal itu, jadi tampaknya saya harus menyampaikan sedikit penjelasan mengapa demikian.

Saya dibesarkan dilingkungan yang tidak terlalu memperhatikan keimanan. Ketika saya lulus perguruan tinggi bidang kimia, saya menjadi agnostik dan kemudian atheis. Dalam sudut pandang saya waktu itu, satu-satunya hal ang penting adalah mempelajari pendekatan secara ilmiah tentang bagaimana alam semesta itu bekerja, dan di luar itu semuanya adalah tahayul.

Francis Collins.jpg

Francis Collins

Setelah saya melanjutkan sekolah di kedokteran, saya sudah tidak menganggap bahwa pertanyaan hipotesis tentang arti kehidupan dan kematian, termasuk juga tentang keberadaan Tuhan, sudah tidak menjadi hal yang hipotesis lagi. Saat saya duduk di samping orang-orang yang sedang menghadapi kematian, dan saya menyaksikan bagaimana kuatnya iman mereka seperti batu di tengah badai, mau tak mau saya menjadi bertanya-tanya. Bagaimana seandainya saya yang terbaring di tempat tidur itu, saya tidak yakin akan bisa sedamai mereka.

Jadi ini tampaknya sudah saaatnya untuk menggali lebih dalam lagi pertanyaan sebelumnya, karena saya menyadari bahwa ke-atheis-an saya muncul hanya sebagai jawaban umum, jawaban yang saya inginkan, bukan jawaban yang bersandarkan pada bukti. Saya dulu menduga bahwa di sana tidak ada bukti keberadaan Tuhan, tetapi tampaknya sekarang sudah waktunya untuk menyadari lebih jauh lagi.

Seseorang menganjurkan saya untuk membaca tulisan CS Lewis, yang bagaikan wahyu dalam hal kedalaman argumentasi intelektual yang melandasi suatu keyakinan terhadap Sang Pencipta dan keberadaan hukum moral. Saya mulai menyadari bahwa dalam dunia sains yang selama ini saya geluti, sebenarnya ada petunjuk yang mengarah kepada Tuhan. Hal ini tidak pernah saya perhatikan padahal sebenarnya cukup menarik.

Ungkapan Wigner yang indah, ‘Efektivitas yang tidak masuk akal dari matematika (the unreasonable effectiveness of mathematics)’ muncul dalam pikiran. Eugene Wigner, penerima Nobel bidang fisika, berbicara tentang hal-hal yang menakjubkan dalam semua studi fisika bahwa matematika adalah hal yang masuk akal. Matematika dapat menjelaskan sifat-sifat enerji dan materi dalam kaidah yang sederhana, bahkan terkadang indah. Mengapa bisa begitu? Mengapa gravitasi mengikuti hukum kuadrat terbalik? Mangapa Maxwell harus menggambarkan lima persamaan elektromagnet dalam bentuk yang sangat sederhana dan kemudian dibuktikan bahwa rumusan itu memang benar? Sebuah pemikiran dan pertanyaan yang menarik. Ini bisa dipastikan juga mendasari penemuan rumusan oleh Einstein.

Big Bang, merupakan fakta bahwa alam semesta memiliki permulaan yang keluar dari ketiadaan, sejauh yang bisa kami sampaikan. Bermula dari singularitas yang tidak terbayangkan, alam semesta muncul menjadi ada dan telah melayang bertebaran sejak saat itu. Ini menuntut penjelasan. Karena kita tidak mengamati bahwa alam mampu untuk menciptakan dirinya sendiri, lalu dari mana ini berasal? Ini tampaknya akan meminta Anda untuk mendalilkan satu pencipta yang bukan merupakan bagian dari alam, atau Anda tidak akan mendapatkan solusi sama sekali. Bahkan, seseorang dapat juga membuat argumen filosofis yang cukup baik bahwa seorang pencipta seperti ini juga harus berada di luar waktu atau Anda juga tidak akan mendapatkan solusi apapun.

Jadi sekarang kita memiliki gagasan tentang pencipta yang berada di luar ruang dan waktu, yang juga sangat ahli dalam bidang matematika, dan tampaknya juga harus menjadi ahli fisika yang sangat baik. Satu pengamatan tambahan yang cukup mengejutkan adalah bahwa konstanta fisik yang menentukan sifat interaksi antara materi dan cara berperilaku enerji, membutuhkan nilai yang sangat akurat yang akan digunakan agar berbagai jenis kompleksitas atau kehidupan itu bisa terjadi.

Berbagai orang telah menulis tentang hal ini. Martin Rees menulis buku berjudul Just Six Numbers. Tergantung pada bagaimana cara Anda menghitung sesuatu, ada diantara enam dan dua belas konstanta ini yang independen satu sama lain, dan saya berbicara tentang hal-hal seperti konstanta gravitasi. Teori mengatakan bahwa gravitasi adalah hukum kuadrat terbalik, tetapi ada konstanta di sana untuk mengatakan apakah suatu gravitasi itu kuat atau tidak, dan Anda tidak dapat memperolehnya berdasarkan teori apapun. Itu adalah sesuatu yang harus Anda ukur secara eksperimental.

Ini membuat kita bertanya-tanya, bagaimana seandainya konstanta itu tidak memiliki nilai yang seharusnya? Seperti apakah alam semesta ini jadinya? Mungkin Anda pikir gravitasi itu boleh sedikit mengecil, dengan resiko paling-paling berat benda-benda menjadi lebih ringan. Tetapi sebenarnya gravitasi harus berada pada nilai yang akurat, karena jika Anda mengamati model matematika tentang apa yang akan terjadi setelah Big Bang jika gravitasi sedikit melemah, maka semua benda-benda akan berterbangan tanpa kendali dan tanpa batas. Yang saya maksudkan sedikit melemah adalah satu bagian dalam satu miliar. Jika gravitasi sedikit menguat, semua benda akan menyatu dan menjadi galaksi, bintang-bintang dan planet-planet. Tetapi sebelum kita sampai pada sekenario itu, sebuah Big Crunch akan terjadi setelah Big Bang.

Masing-masing konstanta ini memiliki keakuratan yang sangat mengagumkan. Lalu orang akan bertanya, so what gitu loh? Pada dasarnya Anda terjebak dengan dua pilihan: Entah konstanta itu sudah ditetapkan oleh satu intelijensi tinggi yang tertarik untuk menjadikan alam yang tidak steril, atau alternatif lain bahwa sebenarnya ada banyak parallel universe di luar sana yang tak terhingga jumlahnya yang memiliki nilai konstanta tersebut yang berbeda-beda.

Hipotesis yang kedua itu, multiverse hypothesis atau parallel universe, memang memerlukan sejumlah iman karena itu bukanlah parallel universe yang kita harapkan bisa diamati. Jadi, hipotesis yang mana yang lebih membutuhkan keimanan? Saya akan meminta Anda untuk berpikir tentang hal itu dari perspektif saya, dengan menggunakan pendekatan Ockham’s Razor, yang mengatakan bahwa penjelasan yang paling sederhana mungkin malah yang benar. Ini tampaknya semua hal memang menggiring kita ke arah keberadaan sang pencipta yang mempunyai niat tentang keberadaan alam semesta ini juga dilengkapi dengan pengaturan konstanta tersebut sehingga nantinya akan banyak hal-hal menarik yang mungkin terjadi.

Dilanjutkan ke Religion and Science, Part Two.

Freely translated by LambangΒ (LambangMH.wordpress.com)

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Informasi, Kehidupan, Spiritual and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

40 Responses to Religion and Science, Part One (1/4)

  1. m4stono says:

    hiyaaaa saya malah gak apdet2…..OS nya lagi trobel dikit……

  2. Lambang says:

    Lho, katanya linux itu bebas trobel. masih pakai linux to Kang? Mbok ganti Windows 7 aja, lebih stabil, konon katanya yang jualan. Hihi…

  3. m4stono says:

    kamsudnya bebas trobel dari operasi sopwer oleh aparat…namanya juga gratisan kang…windo 7 malah blom nyoba bajakannya kalo saya dual boot ama xp dah lumangyan bgt gak mau nyoba macem2 coz kompie lawas bin njadul asline pingin upgred ning ra nde dhit…yo wis ngampet sik wae lah:mrgreen:

  4. Weiyeuh!
    Artikel baru lagi!

    Nyang kemaren belum kubaca dan belum kurespon udah “disuruh” membaca dan merespon lagi keknya. Ya, deh, asal besok jangan ngeluarin artikel masak-memasak demi kejar setoran.

    Salam Damai!

  5. Lambang says:

    Mangkanya pakai dual boot kek KangTon itu biar response-nya cepet. *ngga nyambung*

    Kata orang sih dikasih NOS biar cepet. *makin ga nyambung*

    Oh iya, entar ada artikel memasak pikiran dan merajut hati…:mrgreen:

  6. batjoe says:

    mampir sebentar tapi blm bisa komentar mas… entar tak baca dikantor aja ya

    ada email kukirimkan padamu mas….

    ======================
    :: Sip mas. Udah saya balas emailnya.πŸ™‚
    ======================

    • Nah! Itu kok jadi bisa, Joe, se-klik.
      Tak ber-klik-klik lagi menuju blogmu.
      Bravo!

      Salam Damai!

      ======================
      :: Hehe.. sekarang bisa langsung di-klik ya.πŸ™‚
      ======================

  7. Joddie says:

    wew.. keren bang.. jadi masukan buat aku neh..

    ======================
    :: Iya mas, ini buat artikel sambil belajar bahasa Inggris waktu nerjemahin…πŸ™‚
    ======================

    • batjoe says:

      benr mas Jo…
      emang pinter yang punya blog ini coba aja baca-baca sebelumnya pasti anda kagum dengan ini blog.
      dulu saya aja sampai terheran-heran nih blog kok aneh banget ya katanya islamabangan ndak tahunya banyak banget pengetahuannya diluar islamabangan.

      tuh nambah lagi pengemarkan???

      ======================
      :: Ah gosip itu mas Jo. Wong saya ini sebetulnya ngga ngerti apa-apa, bisanya cuma omdo dan asbun… Bisanya cuman sok-sokan biar dianggep pinter gitu… Hihi… jangan percaya…
      Tapi tetep mampir ya mas Jo, kita ngobrol-ngobrol omdo aja di sini…πŸ™‚

      ======================

      • Oleng says:

        he… he… he… Kang Lambang ternyata jago merayu juga yaa… Tuh buktinya Kang Jo di rayu supaya sering mampir he… he… he…

        ======================
        :: Hihi…ngerayu cowok… nggilani tenan…πŸ™‚
        ======================

      • Oleng says:

        hehehe aku usul buat Kang Jo kalo mampir ke rumahe kang lambang bawa Kofimix dan rokok *tapi nek seneng ngopi karo ngrokok* sendiri yaa… solae nanti kalo nggak bawa sendiri bisa-bisa rebutan sama Kang Tono… mlayu dulu sebelum di pergoki Kang Tono

      • Lambang says:

        Ngga mau kalau dibagi kopi sama rokok. Maunya Kebab sama es krim Ragusa… hehe..πŸ™‚

  8. eMina says:

    dua artikel terakhir sangat dahsyat. berat pisan.
    jadi berkunang -kunang, ga begitu paham @_@
    haha, maap.
    .
    saya sih berpikir sederhana aja. banyak hal memang (terutama menyangkut religi) tidak hnya melibatkan pikiran (otak, logika), tapi juga perasaan.

  9. Lambang says:

    Bener itu mbak. Ngga usah nyari hal-hal yang bikin mumet. Hidup ini memang harus dinikmati dengan perasaan dan kasih sayang.

    Tapi jangan kapok mampir ke sini ya mbak, nanti saya buatin artikel bunga lagi…πŸ˜‰

    • eMina says:

      huee~~~ ternyata lagi ada penunggunya~~~😯
      .
      .
      okie..okie ditunggu ya,,artikel ttg bunga, cinta, coklat, yg gitu2lah… awas klo engga *ngancem*
      *diusir krn OOT*:mrgreen:

  10. eMina says:

    mas ada ym ga? boleh sy add ?:mrgreen:

  11. eMina says:

    ndak ada~ >>
    <<

  12. m4stono says:

    absen dolo kepada pak guru dosen prof lambang P.hD ….banyak banget yak yg minta ye em utk nyantrik….berharap gretongan mangkanya sering mampir dimari…..ayo pak prof jangan loyo gicu ah….semangat duuunk:mrgreen:

  13. Lambang says:

    Wah, ya bukan soal gretongan itu ah…
    Kalau ada YM kan bisa ngobrol ngalor ngidul nga karuan. Kalau nulis di blog kan kurang etis. *halah*
    Kalau mas Batjoe sih udah lama minta, ngga pernah tak kasih. Biasanys sih cuman email-emailan saja.
    Berhubung saya ngasih ke mbake, ya mas Batjoe tak kasih juga… hihi… nggak gitu ah…πŸ™‚

    • m4stono says:

      muakakakak kalo ama cw aja trus byayakan seperti saya……btw tega amat sih dah lama minta baru dikasih sekarang:mrgreen: btw untung aja saya gak pernah minta, atutnya ntar ditolak…bahkan add link aja saya ndak pernah minta tapi ya sama2 tahu yaa….ya saya punya alasan tersendiri mengapa gak pernah minta2 kecuali kalo kepepet:mrgreen:

      kamsud saya kalo minta jgn nanggung, minta aja duwit minimal semilyar ato apartemen di segitiga senen….kalo ditolak ya sekalian aja toh malunya juga sama dengan minta yg dikit2….namanya juga usaha:mrgreen:

      • Lambang says:

        Keknya KangTono itu juga sama aja dengan saya. Minta alamatnya di Jogja biar bisa mampir ngga pernah dikasih. Keknya saya minta udah 2 tahun yang lalu deh. *lebay banget*

        Padahal kalau orang yang ngga mau minta apapun itu katanya… hmmm… katanya… *wis embuh lah*πŸ™‚

    • Lambang says:

      Sebetulnya sih lebih enak pakai email. Jadi bisa konsen di satu kerjaan, lalu jawab email, lalu kerja lagi dst.
      Kalau YM biasanya saya matiin karena jadi ngga konsen kerjanya.
      padahal kerjanya cuman browsingπŸ™‚

  14. eMina says:

    “Sebetulnya sih lebih enak pakai email. Jadi bisa konsen di satu kerjaan, lalu jawab email, lalu kerja lagi dst.
    Kalau YM biasanya saya matiin karena jadi ngga konsen kerjanya.”

    Oh, begitu.

    ======================
    :: Hehe… kalau ada deadline kerjaan yah terpaksa semua komunikasi maya dimatiin. Termasuk HP juga dimatiin.
    Kecuali kalau memang lagi banyak waktu luang…πŸ™‚

    ======================

  15. Mana yang duluan ada,
    Religion atau science?
    Apa seiring sejalan, kali!

    Salam Damai!

  16. m4stono says:

    kalo menurut pandangan saya *halaah* duluan science dalam arti cara membikin sesuatu yg sangat mendasar misalnya api anggap saja nabi adam bukan nabi tapi manusia primitif abis itu akan mempelajari itu api dari mana, siapa yg membikin matahari, bulan dsb….nah ini nantinya cikal bakal religion:mrgreen:

  17. G3mbel says:

    saya pikir spirituality n religion itu dua hal berbeda yg terkadang sering disamakan.
    .
    ada yg menganggap spiritualitas itu adalah salah satu bagian dari agama. dan ada pula yg menganggap bahwa semesta agama itu hanyalah salahsatu bagian dari spiritualitas.
    .
    kalau menurut saya religion dalam terminologi umum biasanya selalu bertentangan dengan sains.
    .
    yang memungkinkan berjalan selaras dengan sains itu hanyalah spiritualiatas. sebab sains bisa dijadikan satu metapora ampuh untuk membuka tabir alam spiritualitas.
    .
    kalau menurut mas Lambang sendiri bagaimana…?πŸ˜€

  18. Lambang says:

    Kalau dalam pengertian saya, spiritualitas adalah berhubungan dengan persepsi bahwa ada sesuatu yang Maha Besar yang jauh di luar jangkauan pemikiran kita. Kalau di jaman dahulu, menyembah batu itu bisa disebut sebagai ritual yang merupakan bagian dari spiritualitas.

    Kalau agama, sekarang di luar negeri lebih sering disebut sebagai organized religion, adalah bagian dari spiritual yang menjelaskan tentang sesuatu yang Maha Besar itu berdasarkan konsep ketuhanan yang disampaikan oleh nabi dan dan disebutkan dalam scripture yang ada.

    jadi, menurut saya agama adalah bagian dari spiritualitas.πŸ™‚

  19. sikapsamin says:

    Soal-menyoal mana yang duluan, mungkin jawabannya bisa ditemukan dari pertanyaan begini : Duluan mana otak-kanan atau otak-kiri? Atau duluan mana tangan-kanan atau tangan-kiri?
    Sekali lagi, ini ‘mungkin’ lho ya…

    ======================
    :: Kalau tangan sepertinya duluan yang kiri.
    Biar bisa segera dipakai untuk ngupil dan pup…πŸ™‚

    ======================

  20. topyk metal says:

    punk itu bangsat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s