Religion and Science, Part Two (2/4)

religion_and_science2.jpgArtikel lanjutan dari Religion and Science, Part One.

Keimanan (agama) dan sains adalah dua cara untuk mengetahui. Mereka harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berbeda. Sains menjawab pertanyaan tentang ‘bagaimana’, iman menjawab pertanyaan tentang ‘mengapa’. Saya menyukai pemahaman seperti ini. Jika Anda menggunakan sains dan iman, Anda membaca buku yang diberikan Tuhan kepada kita, satu buku tentang firman Tuhan, dan satu buku lagi tentang karya Tuhan, khususnya tentang alam semesta, seharusnya tidak menjadi masalah kan?

Tetapi, sepertinya ada masalah. Apakah Anda pernah melihat kartun yang sangat lucu tentang perdebatan yang tak pernah berakhir antara keju dan biskuit evangelis? Di dalamnya ada ikan Richard Dawkins yang berkata, “Kami datang dari keju,” sementara ikan Ken Ham mengatakan, “Kami hanya muncul dari dalam tas.” Ini adalah kartun yang lucu, tetapi pemusuhan mereka bisa berkembang menjadi pertempuran yang konyol.

Tetapi bagaimana Anda bisa menjadi seorang yang beriman dan ahli biologi? banyak yang menanyakan hal itu kepada saya, karena orang-orang mengetahui bahwa saya adalah ahli genetika yang mempelajari DNA setiap hari dan saya beragama Kristen (setelah sempat menjadi atheis selama beberapa tahun). Bagaimana ini bisa berlangsung? Bukankah kepala Anda bisa meledak? Apakah Anda tidak menyadari bahwa evolusi tidak sesuai dengan keimanan? Apakah Anda tidak percaya pada evolusi? Jika Anda percaya pada evolusi, bagaimana Anda bisa menjadi seorang beriman? Itu adalah jenis perhatian yang biasa mereka berikan.

Teori evolusi yang disebutkan oleh Charles Darwin memang cukup menarik, tetapi tidak bisa dibuktikan secara ilmiah karena keterbatasan sains pada waktu itu.

Pada saat ini, kita telah melakukan perbandingan genome antar spesies. Proses komputer terhadap data genome telah menghasilkan rangkaian silsilah secara berurutan sejak dari manusia sebagai titik terakhir, menuju ke vertebrata sebelumnya, bahkan bisa sampai ke invertebrata jaman dahulu.

Sekarang Anda mungkin mengatakan, dengan melihat silsilah ini, tidak membuktikan apa-apa tentang keturunan dari nenek moyang. Jika Anda percaya bahwa Genesis di Injil (termasuk juga di kitab suci Al-Qur’an) mengatakan bahwa semua organisme itu diciptakan secara khusus sebagai individu, bukankah masuk akal jika Tuhan menggunakan beberapa motif DNA yang sama, lalu memodifikasinya sepanjang sejarah? Dan bukankah oleh karena itu ada kemungkinan DNA yang serupa di antara makhluk-makhluk yang lebih mirip satu sama lain, jadi ini tidak membuktikan apa-apa. Dan itu sebenarnya adalah sebuah titik pertahanan yang bisa Anda gunakan jika memiliki semua informasi semacam ini.

Tapi ketika Anda mulai melihat rinciannya, argumen tadi benar-benar tidak dapat dipertahankan lagi. Saya bisa memberikan banyak contoh, tetapi saya hanya memberi satu saja karena keterbatasan waktu. Berikut ini adalah salah satu yang saya pikir benar-benar tidak dapat dipahami dengan mudah tanpa hipotesa tentang nenek moyang itu dianggap benar dan ini tentu saja melibatkan manusia di dalamnya.

Jika Anda melihat di seluruh genome dari diri kita sendiri dan spesies lain, Anda akan menemukan gen dalam urutan tertentu dengan ruang di antara mereka. Sebagai contoh, pada genome manusia, sapi dan tikus terdapat tiga gen yang sama. Mereka berbaris dalam urutan yang sama, dan ini konsisten dengan yang terdapat pada nenek moyang yang sama, meskipun tidak membuktikan hal itu. Tetapi saya mengambil ketiga gen ini untuk alasan tertentu. Gen ini memiliki nama yang lucu – jadi apa yang sebenarnya mereka lakukan?

Saya hanya membahas satu gen yang diberi nama GULO. Ini kode untuk enzim yang disebut gulonolactone oksidase. Jadi apa yang dilakukannya? Itu adalah enzim yang mengkatalisis langkah terakhir dalam sintesis vitamin C, asam askorbat. Anda mungkin tahu bahwa vitamin C adalah vitamin yang sangat kita butuhkan. Kita tidak dapat membuatnya sendiri, dan penyebabnya adalah gen GULO kita telah hilang hampir separuhnya, dan ada sedikit sisa yang tertinggal yang dapat Anda lihat. Sisa ini membuktikan bahwa seharusnya GULO berada di sana, tetapi ternyata tidak ada pada kita. Pada kenyataannya, itu tidak ada dalam setiap primata.

Jadi di suatu tempat yang lebih tinggi pada garis keturunan kita telah terjadi sesuatu pada salah satu individu, dan kemudian tersebar ke seluruh organisme berikutnya, primata dan manusia. Itulah sebabnya mengapa kita bisa mendapatkan penyakit kudis jika tidak memiliki akses untuk vitamin C. Rupanya di sebagian besar sejarah manusia dan sejarah primata, banyak ditemui vitamin C di mana-mana, sehingga manusia tidak kekurangan vitamin C. Sapi dan tikus tidak memerlukan vitamin C. Mereka membuatnya sendiri. Mereka memiliki gen GULO yang bekerja.

Berdasarkan fakta itu, kita bisa beranggapan bahwa ada nenek moyang yang sama dari ketiga spesies itu. Menurut saya, memang seharusnya demikian, terlebih lagi jika Anda berpendapat bahwa genome manusia diciptakan secara khusus oleh Tuhan, dan Tuhan menciptakan kita dengan cara yang berbeda dari organisme lain. Anda juga harus mendalilkan bahwa Tuhan sengaja memasukkan gen cacat yang persis berada ditempat yang sama dengan gen nenek moyang kita. Lalu, itu dilakukan Tuhan untuk apa? Untuk menguji iman kita? Apakah itu ternalar sebagai tindakan Tuhan dari semua kebenaran? Rasanya tidak seperti itu. Saya bisa memberikan contoh-contoh lain. Tetap, begitu melihat rincian ini, saya pikir tak terhindarkan bagi seseorang yang memiliki pikiran terbuka untuk menyimpulkan bahwa keturunan dari nenek moyang yang sama adalah benar dan kita adalah bagian dari itu.

Meskipun begitu, kita punya masalah, terutama di sini di AS, tentang apa yang diyakini orang terhadap pertanyaan ini. Anda semua mungkin telah mengetahui survey yang dilakukan oleh Gallup Poll setiap tahun. Ada yang memperdebatkan bahwa pertanyaan yang diajukan terkadang menggiring orang untuk menjawab seperti apa yang diharapkan. Tetapi dengan diberi tiga pilihan jawaban, apa hasil yang diperoleh?

Pilihan pertama, bahwa Tuhan membimbing proses yang terjadi selama jutaan tahun – 38 persen. Pilihan kedua, bahwa Tuhan tidak terlibat sama sekali dalam proses itu – 13 persen. Tetapi jumlah terbesar – 45 persen, hampir setengah – memilih pilihan ketiga, bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam bentuknya yang sekarang dalam 10.000 tahun terakhir. Anda tidak dapat sampai pada kesimpulan itu tanpa membuang cukup banyak semua bukti dari kosmologi, geologi, paleontologi, biologi, fisika, kimia, genomika dan catatan fosil. Namun itu adalah kesimpulan yang paling cocok dengan mereka.

Sejarah untuk hal ini benar-benar menarik. Selama 150 tahun terakhir ini pilihan ketiga itu adalah yang paling cocok bagi banyak orang Kristen evangelis, yang mengajarkan bahwa kalau pandangan Anda tidak seperti itu, maka Anda akan bisa tergelincir dan pada akhirnya akan menyebabkan kehilangan keimanan Anda.

Tentu saja, argumen yang muncul kembali adalah, tunggu sebentar, jangan menyerah begitu saja di sini. Jika Anda mengatakan evolusi adalah benar, bukankah itu berarti menghapuskan kebutuhan terhadap Tuhan? Dan banyak penulis atheis seperti Richard Dawkins (dalam bukunya The God Delusion), Christopher Hitchens, Sam Harris dan Daniel Dennett, yang menggunakan perspektif evolusi ini untuk mendukung hipotesa mereka, dan mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada.

Karena pendapat kaum atheis itu tidak mungkin bisa dibuktikan secara benar, maka kaum theisme (kaum bertuhan) membuat kesimpulan, Tuhan yang tidak terbatasi oleh ruang atau waktu, menciptakan alam semesta ini 13,7 milyar tahun yang lalu dengan parameter yang dibuat sangat akurat – dan akan bekerja secara sangat rumit selama jangka waktu yang sangat lama. Rencana itu mencakup mekanisme evolusi untuk menciptakan keragaman makhluk hidup yang mengagumkan di planet ini, termasuk juga manusia.

Beberapa orang akan mengatakan, evolusi seperti itu tidak tampak seperti metode yang sangat efisien. Mengapa Tuhan menghabiskan begitu banyak waktu? Ingat, saya sudah sebutkan hipotesa yang menyatakan Tuhan harus berada diluar ruang dan waktu. Jadi pada dasarnya, mungkin itu waktu yang lama bagi kita, tetapi mungkin sekejap mata bagi Tuhan.

Perspektif intelligent design (design yang cerdas) menyatakan bahwa evolusi mungkin OK di beberapa hal, tetapi tidak bisa menjelaskan kerumitan hal-hal seperti bakteri flagela, yang memiliki begitu banyak bagian yang kompleks, tetapi mereka tidak dapat bekerja jika salah satu bagian dihilangkan. Di sini Anda tidak bisa membayangkan bagaimana evolusi bisa menghasilkan mereka.

Ini menunjukkan bahwa ada celah dalam sains yang tidak dapat dijelaskan. Jadi istilah intelligent design terpaksa diganti menjadi God of the gaps Theory (teori Tuhan pengisi celah), yang memasukkan Tuhan pada celah yang tidak dapat dijelaskan secara sains, dan kemudian sains akan menjelaskan lanjutan dari celah itu.

Saya kira selain mengatakan bahwa intelligent design itu buruk jika dilihat dari sisi sains, itu juga merupakan teologi yang patut dipertanyakan. Itu menyiratkan bahwa Tuhan adalah seorang pencipta tanpa perancangan yang sempurna. Setelah proses evolusi berjalan dan kemudian menyadari bahwa bisa terjadi penyimpangan, maka Tuhan harus terus memperbaikinya sepanjang waktu. Ini tampak seperti pembatasan kemahatahuan Allah.

Tentu saja, pertanyaan terbesar bagi kebanyakan kaum beriman adalah, segera setelah Anda mengatakan bahwa Darwin itu benar, bukankah kitab suci perlu dibuang? Tidakkah Anda mulai menyusuri jalan yang pada akhirnya akan menyebabkan Anda menyangkal kebangkitan? Yah, tidak begitu. Saya pikir kita hanya perlu kembali ke masa sebelum Darwin dan melihat apa dipikirkan oleh para ahli kitab. Dalam hal-hal yang begitu jelas dan jauh melampaui visi kita, kita temukan bahwa ayat-ayat Kitab Suci dapat diinterpretasikan dalam cara yang berbeda tanpa mengurangi keimanan kita.

Dalam kasus tersebut, kita tidak boleh tergesa-gesa tanpa berpikir lebih jauh lalu mengambil sikap kita pada satu sisi yang pada saat pencarian kebenaran telah mengalami kemajuan, kita justru akan terjatuh bersamanya. Satu-satunya penafsiran yang dapat diterima untuk orang yang beriman secara serius sekarang ini adalah penerimaan literal dari enam hari penciptaan.

Ada sebuah buku bagus yang ditulis oleh John Walton, seorang profesor teologi Perjanjian Lama di Wheaton College. Ia mengambil pandangan yang sama sekali baru tentang pengertian harfiah dari Adam dan Hawa, dan ini menjadi menarik karena ia datang dengan penafsiran yang sangat berbeda. Ia memperhitungkan bahasa asli dan budaya dari manusia yang menjadi target dari kitab suci pada waktu itu. Ini berisikan penafsiran alegoris yang jauh lebih banyak dari yang saya perkirakan muncul dari seorang profesor teologi di Wheaton College.

Semua ini telah menyebabkan banyak pembicaraan. Saya ingin ingin menceritakan sedikit tentang kerjasama kami dengan BioLogos Foundation yang telah menghasilkan beberapa informasi tambahan di sini. Saya menerbitkan sebuah buku berjudul The Language of God tiga tahun lalu, dan mencoba menjelaskan keselarasan ilmu pengetahuan dan keimanan yang telah saya temukan dalam kehidupan saya sendiri. Akibatnya saya menerima ribuan surat dan e-mail dari orang-orang yang membaca buku atau mendengar presentasi dan ingin bertanya lebih lanjut tentang bagaimana menyatukan berbagai konsep dari ilmu pengetahuan dan keimanan. Untuk menjawab pertanyaan mereka, akhirnya kami membuat website baru dari BioLogos Foundation.

Ada 25 pertanyaan yang sering diajukan setelah disaring dari ribuan surat dan e-mail yang masuk. Ada juga pertanyaan yang tidak perlu dijawab karena pertanyaan itu bisa memiliki beragam jawaban. Dalam setiap permasalahan yang muncul, kami merasa bahwa ada beberapa kemungkinan cara yang dapat menyelesaikan konflik yang dikhawatirkan orang. Setiap pertanyaan memiliki sekitar tiga atau empat halaman jawaban, yang direferensikan secara baik dengan catatan kaki, dan diberi link ke situs lain.

Kami memiliki proyek lainnya yaitu sebuah lokakarya berikutnya pada bulan November ini di New York, di mana kami akan menyatukan para ilmuwan, teolog dan pendeta dalam sebuah pertemuan tertutup, masing-masing sekitar 15 orang, dan mencoba untuk melihat apakah selama periode tiga hari bersama dengan orang-orang yang mau berpikiran terbuka, kami bisa menggabungkan sains dan keimanan ini sehingga bisa merayakan apa yang telah kita pelajari tentang ciptaan Tuhan, bukannya khawatir bahwa hal itu akan menjadi ancaman tentang keberadaan Tuhan.

Kami juga telah memulai sebuah blog, yang ditempatkan oleh Belief.Net pada seri yang disebut Science and the Sacred. Ini menghasilkan 22 juta hits dalam sebulan. Karl Giberson, Darrel Falk dan saya secara alternatif akan mengisi blog tersebut.

Tim kami cukup kecil, tetapi kami berharap dapat memperbesarnya di kemudian hari. Kelihatannya, setidaknya dari reaksi awal dalam beberapa hari pertama, ini adalah seperti menemukan ceruk yang tidak banyak disentuh. Ada banyak suara di luar sana yang datang dari ujung-ujung ekstrem seperti kaum atheis fundamentalis atau kaum agamis fundamentalis. Kami berharap dapat memberikan kontribusi untuk mengisi kekosongan itu.

Jadi saya pikir dengan itu, saya akan mengakhiri presentasi ini. Saya hanya ingin mengatakan betapa istimewanya saya bisa berada di sini untuk berbicara di depan Anda semua dan betapa saya menantikan presentasi dari Barbara Bradley Hagerty dan diskusi selanjutnya. Terima kasih banyak.

CROMARTIE: Terima kasih, Dr Collins.

Dilanjutkan ke Religion and Science, Part Three.

Freely translated by Lambang (LambangMH.wordpress.com)

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Informasi, Kehidupan, Spiritual and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Religion and Science, Part Two (2/4)

  1. Lambang says:

    Nah, menjawab pertanyaan Brat MK di artikel sebelumnya,
    ‘mana yang duluan ada, religion atau science?’, saya coba jawab. Tidak ada yang duluan, karena lingkupnya berbeda. Sains menjawab pertanyaan tentang ‘bagaimana’, religion menjawab pertanyaan tentang ‘mengapa’, sama seperti yang saya bold di atas itu.

  2. m4stono says:

    sama halnya seperti pertanyaan saya disini duluan mana antara ayam dan telur, duluan mana antara papan dan tulis, bisakah tuhan menciptakan batu yg sangat besar sehingga tuhan sendiri gak bisa mengangkatnya mlayu sik mengko dibalang sandal klomoh mbek MUI:mrgreen:

  3. batjoe says:

    mlm maz lambang? apa kabar mas tono?

    ======================
    :: Siang mas Batjoe…🙂
    ======================

  4. Fitri says:

    Kayaknya bakal ada tugas kerjaan baru buat mas Lambang. Blog kangboed yang baru kok tidak bisa di buka ya? Apa di gembok lagi seperti yang dulu?

    ======================
    :: Kalau ‘Bandwidth Limit Exceeded’ hanya bisa diperbaiki dengan nambah bandwidth dan bayar lagi…🙂
    ======================

  5. sikapsamin says:

    …lingkupnya berbeda. Sains menjawab pertanyaan tentang ‘bagaimana’, religion menjawab pertanyaan tentang ‘mengapa’…
    ==============

    Lha…sikapsamin ingin mendapat jawaban ‘bagaimana’ alam-semesta ini diciptakan, dan ‘mengapa’ alam-semesta ini diciptakan?!?

    Ini kira2 masuk lingkup mana mas Lambang?
    Maaf kalau sekiranya nggak nyambung tur sableng..hi..hi..hi..

    Salam…SABLENG

    ======================
    :: Masuk dalam lingkup sains dan agama tadi mas. Bagaimana-nya dijawab oleh sains, mengapa-nya dijawab oleh agama. Apakah bisa kejawab atau ngga, itu soal lain lagi…:mrgreen:
    ======================

  6. S™J says:

    agama dulu atau sains dulu? manusia yg paling duluan…:mrgreen:

  7. batjoe says:

    malem mas lambang..
    ndak saya pungkirin banyak sekali nikmat yang sudah saya dapat dan semua yang pernah kita bahas bersama ternyata membawa sesuatu yang sangat luar biasa dan bener terbukti…
    jujur saya tidak pernah mengalami hati yang bener2 bisa diterima oleh seluruh badan ini..
    tanks a lot mas lambang…..

    malem mas…

    • Lambang says:

      Malem mas.

      Wah, bagus sekali itu.
      Kalau ada informasi yang lebih detail boleh juga dibagi lewat email, barangkali ada yang bermanfaat.

      Salam.

      • batjoe says:

        hihihihihihihihihi
        ngeles melulu ya..
        mas tuh yang harusnya mbagi lagi, ntar kutanya-tanya lagi ah…

  8. Well done. I just try to be good reader for a while. Regards

    ======================
    :: Silahkan mas.🙂
    ======================

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s