Religion and Science, Part Three (3/4)

religion_and_science3.jpgArtikel lanjutan dari Religion and Science, Part Two.

BARBARA BRADLEY HAGERTY: Menurut saya, Tuhan adalah sebuah pilihan. Kita dapat mencari atau menghilangkan keterkaitan Tuhan. Anda dapat melihat bukti dan menyimpulkan bahwa segala sesuatu bisa dijelaskan oleh materi, atau Anda bisa memperhatikan dunia dan alam semesta dan Anda melihat tangan Tuhan di sana. Ilmu pengetahuan tidak dapat menjelaskan pertanyaan ini. Saya pikir, pada dasarnya Anda percaya atau tidak kepada Tuhan adalah masalah keimanan.

Menurut Francis, 40 persen ilmuwan percaya Tuhan. Sedangkan di National Academy of Sciences, hanya 7 persen yang percaya Tuhan, dan biasanya mereka inilah yang mengajak debat tentang agama dan sains.

Anda tahu, 90 persen orang berdoa. Bahkan atheispun juga berdoa. Tetapi, National Opinion Research Center di University of Chicago telah melakukan polling pada orang-orang yang memiliki pengalaman spiritual – bukan hanya percaya pada Tuhan, tetapi pengalaman spiritual. Ternyata bahwa 51 persen orang memiliki pengalaman spiritual yang benar-benar telah mengubah kehidupan mereka, bahkan mereka dapat mengatakan dengan tepat, misalnya dengan mengatakan “pada tanggal 14 Juni 1995 jam 2, saya merasakan sesuatu yang berbeda dan itu telah mengubah hidup saya”. Banyak orang yang mengatakan semacam itu.

Jadi sekarang saya pikir ada sesuatu yang bisa dilakukan oleh para ilmuwan untuk mempelajari hal ini disebut sebagai pengalaman spiritual. Mereka memiliki brain scanners dan EEG, yang memungkinkan mereka untuk mengintip ke dalam otak.

Kembali di tahun 2006, saya mengambil cuti setahun untuk melihat apa yang saya anggap sebagai ilmu dari spiritualitas. Saya ingin mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti, apakah ada God Spot di otak? Apakah ada Tuhan berbentuk kimia? Apakah Tuhan ada semua dalam kepala Anda? Ini pertanyaan-pertanyaan yang konyol, tetapi sebenarnya ini untuk menjawab beberapa pertanyaan filosofis besar. Saya akan sampaikan beberapa cerita mengenai hal ini.

Pertama-tama saya bahas pertanyaan tentang God Spot di otak: Apakah ada bagian otak yang menangani atau menjadi perantara dari pengalaman spiritual? Pertanyaannya adalah, jika Anda dapat mencari tempat yang menjadi perantara pengalaman spiritual, apakah itu berarti bahwa Tuhan tidak lebih daripada jaringan otak?

Orang telah lama menduga bahwa lobus temporal ada hubungannya dengan pengalaman religius. Lobus temporal berada di sepanjang sisi kepala Anda, dan menangani hal-hal seperti pendengaran dan penciuman dan memori dan emosi. Bukti konkrit pertama bahwa ada hubungan antara lobus temporal dan pengalaman spiritual ini dibuat oleh seorang ahli bedah saraf Kanada bernama Wilder Penfield.

Kembali di tahun 1940-an dan 50-an, pada saat ia mengoperasi otak beberapa pasien. Di otak tidak ada reseptor rasa sakit, sehingga dia bisa menggunakan elektroda untuk mengaliri listrik pada beberapa bagian otak untuk melihat bagian mana dari tubuh yang terhubung pada otak itu. Dia mencoba menusuk pada salah satu bagian kecil, dan ternyata dia mendapatkan jempol kaki yang tepat. Dan seterusnya. Dia benar-benar membuat peta otak dan bagaimana hubungannya dengan bagian-bagian tubuh yang berbeda. Nah, ketika ia menusuk lobus temporal, sesuatu yang sangat aneh terjadi. Orang-orang melaporkan mengalami out-of-body experiences (OOBE) dan mendengar suara-suara dan melihat penampakan. Dia berhipotesis bahwa dia mungkin telah menemukan lokasi fisik pengalaman religius.

Jadi, ilmu pengetahuan menemukan bahwa salah satu cara untuk mencoba mencari pengalaman spiritual dan melihat mekanisme otak tehadap pengalaman religius adalah dengan melihat orang-orang yang mengalami epilepsi lobus temporal, yang mengalami kondisi ekstrim, saat terjadi badai listrik di otak di mana semua sel mengeluarkan listrik secara bersamaan.

Kejang karena epilepsi memang mengerikan. Tetapi dalam beberapa kasus yang jarang, orang-orang mengalami kejang yang nikmat, dan mereka percaya bahwa mereka mendapatkan pengalaman religius. Mereka mungkin mendengar musik atau potongan kata, mungkin dari bank ingatan mereka, dan mereka menafsirkan itu sebagai pesan dari Tuhan atau musik dari surga. Mereka mungkin melihat cahaya dan berpikir bahwa itu adalah malaikat.

Anda mungkin dapat menduga akan kemana ini arahnya. Saat ini banyak neurolog yang menduga bahwa beberapa pemimpin besar agama pernah mengalami epilepsi lobus temporal. Seperti Saulus dalam perjalanan menuju Damaskus – yang dibutakan oleh Tuhan dan mendengar suara Yesus, salah seorang neurolog sempat mengatakan bahwa dia mengalami halusinasi visual dan auditori dengan photism dan kebutaan sementara.

Joseph Smith, pendiri Mormonisme, apakah benar dia telah melihat pilar cahaya dan dua malaikat ataukah dia menderita epilepsi parsial? Bagaimana dengan pemuka agama yang lain? Apakah mereka benar-benar melihat perwujudan spiritual atau hanya mengalami perubahan neurologis sementara?

Francis, sebagai seorang pakar DNA, saya ingin tahu, apakah ada gen – Anda berbicara tentang gen yang dapat diidentifikasi dengan berbagai penyakit – Saya ingin tahu apakah ada gen untuk penyakit suci, yang akan menjadi pengalaman religius?

CROMARTIE: Andrew Newberg telah menjelaskan tentang neurotheology semacam itu.

BARBARA BRADLEY HAGERTY: Ya, dia telah melakukan penelitian itu. Saya pikir lobus temporal mungkin menjadi tempat perantara untuk pengalaman spiritual. Salah satu dari orang-orang yang meyakinkan saya tentang ini adalah pria bernama Jeff Schimmel. Jeff adalah seorang penulis di Hollywood. Ia dibesarkan di lingkungan Yahudi, tidak percaya kepada Tuhan, dan tidak punya minat kepada spiritualitas. Lalu beberapa tahun yang lalu dia punya tumor jinak di lobus temporal sebelah kiri dan sudah diangkat.

Operasi tumor ini berlangsung singkat, tetapi beberapa tahun kemudian, ia mulai menderita sedikit kejang-kejang. Dia mulai mendengar dan melihat hal-hal gaib. Dia ingat dua kali berbaring di tempat tidur ketika ia menatap langit-langit dan melihat semacam pusaran biru, emas dan hijau yang kemudian semua bergabung menjadi sebuah bentuk, sebuah pola. Dia melihatnya dan dia berpikir, apa itu? Dia berkata, “lalu saya sadar, itu adalah Perawan Maria” Kemudian dia berpikir, mengapa Perawan Maria yang muncul kepada orang Yahudi? (tertawa). Maria seharusnya bisa melakukan yang lebih baik. Tetapi beberapa hal lain mulai terjadi pada Jeff. Dia menjadi tertarik dengan spiritualitas. Dia mendapati dirinya menangis ketika dia melihat penderitaan pada orang lain. Dia menjadi sangat tertarik pada Buddhisme.

Kemudian dia mulai bertanya-tanya, jangan-jangan spiritualitas barunya ini ada hubungannya dengan otaknya. Jadi pada saat dia mengunjungi ahli saraf, dia diminta untuk melihat gambar scan otaknya yang terbaru. Dan pada kenyataannya, lobus temporalnya sangat berbeda – dia melihat sebelum dan sesudah pembedahan. Itu sangat berbeda. Seperti menjauh dari tengkorak. Lobus temporal-nya lebih kecil, bentuk yang berbeda, tertutup dengan jaringan parut, dan perubahan tersebut mulai memicu lontaran listrik di otaknya. Dia pada dasarnya berpotensi untuk mengalami epilepsi lobus temporal.

Ini lalu menimbulkan pertanyaan di benak saya: Apakah pengalaman transenden – bukan hanya Jeff Schimmel, tapi termasuk juga misalnya bunda Theresa – apakah itu hanya peristiwa fisiologis ataukah itu mungkin mencerminkan sebuah pertemuan dengan dimensi lain?

Saya pikir Anda dapat masuk ke dalam masalah itu tergantung pada apakah Anda menganggap otak sebagai CD player atau tidak. Kebanyakan ilmuwan berpikir bahwa segala sesuatu dapat dijelaskan melalui proses material, dan mereka berpikir bahwa otak itu seperti CD player. CD lagu dimainkan pada suatu sistim yang tertutup, dan jika Anda menghantamkan palu ke mesin, lagu tidak akan bisa dimainkan lagi. Dengan kata lain, tidak ada Tuhan di luar otak, tidak ada Tuhan yang sedang mencoba untuk berkomunikasi di luar otak. Semua pengalaman spiritual ada di dalam otak, dan ketika Anda mengubah otak, maka Tuhan dan spiritualitas menghilang.

Barbara Bradley Hagerty

Sekarang ada beberapa dukungan ilmiah terhadap pemikiran ini. Hari ini ilmuwan dapat membuat realitas transenden, atau Tuhan, menghilang atau muncul semaunya. Baru-baru ini sekelompok peneliti Swiss menemukan bahwa ketika mereka melakukan stimulasi listrik pada bagian tertentu dari otak seorang wanita, tiba-tiba wanita itu merasakan kehadiran sesuatu, dia merasa ada makhluk lain di ruangan yang menyelubungi dirinya. Banyak orang menggambarkan Tuhan seperti itu: sebuah rasa kehadiran, sesuatu yang akrab dan sangat dekat sedang menyelubungi mereka. Jadi mereka bisa membayangkan Tuhan hanya dengan menyentuh bagian otak.

Membuat pengalaman spiritual menghilang, tentu saja jauh lebih mudah. Itulah yang sebenarnya dilatihkan oleh para spesialis epilepsi: Ini disebut pengobatan. Anda menghilangkan sebagian dari lobus temporal atau Anda mengobati otak dan menghilangkan loncatan listriknya, dan, voila, Tuhan menghilang, semua pengalaman spiritual hilang.

Tapi bagaimana kalau ternyata otak bukanlah CD player. Anggaplah otak itu radio. Sekarang pada analogi ini, setiap orang memiliki peralatan saraf untuk menerima siaran radio dalam berbagai derajat sensitivitas. Jadi, beberapa hanya bisa menangkap sinyal lemah. Saya menduga bahwa Richard Dawkins dan Christopher Hitchens telah menekan silent mode. Beberapa orang bisa menangkap siaran favorit berkali-kali. Beberapa orang menyetel dengan volume suara yang terlalu tinggi, atau mereka hanya bisa menangkap sinyal yang kurang jelas dan berisik, dan orang-orang yang seperti ini benar-benar membutuhkan bantuan medis.

Namun, dalam analogi ini, si pengirim terpisah dari penerima, dan isi siaran tidak berasal dari otak lagi. Konsep yang tadi menyatakan bahwa sang penyiar duduk di dalam kepala Anda. Jadi jika Anda menghancurkan radio, Anda tidak akan mendengar siaran, tetapi transmisi tetap akan beroperasi. Jika otak adalah penerima, maka dia akan mengambil transmisi Tuhan yang tidak pernah berhenti, bahkan ketika otak telah diubah dengan pembedahan atau obat-obatan atau kematian.

Jadi pada orang-orang yang sering mengalami momen transenden yang terkesan nyata, bisa diduga bahwa mereka dapat menyetel ke dimensi lain yang sering kita abaikan. Mungkin juga St Paulus dan Joan of Arc tidak gila, tetapi mungkin mereka memiliki antena yang lebih baik.

Jadi itu adalah salah satu perdebatan tentang otak dan apakah pengalaman spiritual hanyalah sesuatu yang ada di dalam otak atau sesuatu yang mungkin dari luar otak. Argumen lain bahwa Tuhan adalah berada di kepala Anda berasal dari ahli neurofarmakologi. Mereka mengatakan bahwa Tuhan tidak lebih dari reaksi kimia dalam otak Anda.

Saya masih ingat ketika beberapa tahun yang lalu saya duduk selama 11 jam, dari jam 9 sampai jam 20, pada sebuah upacara Navayo di Lukachukai, Arizona. Ada sekitar 30 orang yang ada. dari kita. Semua orang kecuali saya telah menelan banyak peyote – bahan aktifnya adalah mescaline. Ini pada dasarnya merupakan psychedelic. Saya lihat semua orang tampak bahagia, kepala mereka terombang-ambing mengikuti irama drummer. Tapi, sayangnya, saya ada di sana hanya untuk mengamati, jadi saya duduk bersila selama 11 jam.

Sekitar tengah malam, wanita yang menjadi pusat upacara kemudian muncul. Namanya Mary Ann, dan dia menderita herpes selama beberapa bulan. Itu tidak bisa diobati, dan ini adalah upacara penyembuhan. Dia kemudian mengakui bahwa 20 tahun sebelumnya dia tidak sengaja menabrak mati seorang pria di jalan raya. Dan selama 20 tahun terakhir, seorang pria tanpa kepala terus menghantui mimpi-mimpinya, dan dia ingin mendapatkan pengampunan. Dia menginginkan peyote, yang dianggap oleh kaum Navajo sebagai mediator antara dunia roh dan dunia manusia – ia ingin menggunakan peyote sebagai mediator kesepakatan antara dia dengan orang yang kepalanya terlindas itu.

Beberapa jam kemudian, setelah makan lebih banyak peyote, Mary Ann mengumumkan bahwa penyakit herpes-nya sudah pergi. Dia berkata, “ruh (spirit) telah datang dan telah memaafkan saya, dan sekarang saya sembuh.” Saya duduk di sana sambil berpikir, mudah-mudahan benar dan akan saya buktikan dalam beberapa hari lagi. Saya meneleponnya beberapa bulan kemudian, dan pada kenyataannya dia tidak pernah menderita herpes sejak saat itu.

Jadi apa yang Anda miliki di sini adalah tiga opsi: Opsi pertama, ada komponen obat pada peyote yang dapat menyembuhkan herpes; Opsi kedua, ilusi yang dia lihat dan rasakan, menyebabkan stres-nya menjadi berkurang dan demikian juga dengan herpes-nya; atau opsi ketiga, bahwa ia benar-benar mengakses dunia spiritual.

Peyote adalah seperti obat-obatan psychedelic lainnya, termasuk LSD dan jamur ajaib – jamur ajaib adalah sejenis dengan psilocybin. Mereka tampaknya memicu pengalaman spiritual. Baru-baru ini para ilmuwan telah menemukan bahwa obat-obatan psychedelic ini memiliki beberapa hal menarik yang sama.

Secara kimiawi, mereka semua terlihat sangat mirip dengan serotonin, yang merupakan neurotransmiter yang mempengaruhi bagian otak yang berhubungan dengan emosi dan persepsi. Sekarang para ilmuwan di Johns Hopkins University telah menemukan bahwa mereka semua sedang menyelidiki reseptor serotonin yang sama, yaitu serotonin HT2A. Jadi apa yang dilakukan oleh reseptor ini adalah, mengijinkan serotonin atau psilocybin yang terkandung dalam psychedelics itu untuk menciptakan reaksi kimia bertahap, yang kemudian dapat menciptakan persepsi suara, penglihatan, bau, dan persepi lain dari pengalaman spiritual. Pada dasarnya, mereka telah menemukan Tuhan yang berbentuk neurotransmitter.

Jadi sekarang mereka bisa mengetahui apa yang terjadi dalam otak ketika mendapatkan pengalaman spiritual. Riset ini pernah terhenti selama hampir 35 tahun karena adanya perang obat-obatan, tetapi sekarang pemerintah mengijinkan Johns Hopkins dan tempat-tempat lain untuk melanjutkannya. Mereka akan mampu memberikan kapsul psilocybin, menggeser Anda ke alat scan otak, dan benar-benar menonton pengalaman spiritual terungkap dalam sebuah fMRI. Hal ini telah benar-benar membuka gerbang untuk memahami mekanisme otak dari pengalaman spiritual.

Jadi pertanyaannya adalah, apakah itu berarti bahwa Tuhan hanyalah sebuah reaksi kimia? Saya pikir mungkin banyak ilmuwan akan mengatakan, ya. Tetapi Roland Griffiths, peneliti di Johns Hopkins, tidak berpikir begitu berdasarkan beberapa alasan. Salah satunya adalah bahwa orang bisa memiliki pengalaman spiritual tanpa bantuan dari reaksi kimia. Mereka dapat melakukannya melalui meditasi, doa, nyanyian dan puasa – semua ini dapat memicu pengalaman rohani. Kedua, ia mengatakan itu masuk akal juga bahwa reaksi kimia dan loncatan listrik di otak mencerminkan interaksi dengan Tuhan atau alam rohani.

Dan dia menggunakan analogi ini: Dia mengatakan, ketika Anda makan sepotong apple pie, segala macam hal terjadi dalam otak Anda. Bagian dari otak yang menjadi perantara bau dan rasa akan bereaksi. Mungkin bagian otak yang menangani memori akan menyala saat Anda berpikir tentang terakhir kali Anda memiliki sepotong apple pie. Tapi apakah fakta bahwa aktivitas otak ini dapat diprediksi dan diukur membuktikan bahwa apple pie tidak ada? Tentu saja tidak. Jadi, mungkin aktivitas otak ini mencatat interaksi dengan ilahi.

Dia kemudian mengangkat isu ketiga, mengapa kita ditentukan untuk memiliki pengalaman spiritual di otak? Apakah mungkin bahwa ada Tuhan atau intelejensia tinggi yang memang menciptakan dengan cara ini? Maksud saya, jika ada Tuhan yang ingin berkomunikasi dengan kita, Dia tidak mungkin akan menggunakan jempol kaki, Dia mungkin akan menggunakan otak. Masuk akalkah bahwa ini adalah sarana dan cara Tuhan untuk berkomunikasi dengan kita?

Sekarang, pada akhirnya, saya pikir sains tidak akan bisa membuktikan apakah Tuhan ada atau tidak, tetapi perdebatan ini benar-benar menarik – dan saya akan menutupnya dengan ini – yang berputar di sekitar permasalahan spiritual. Ini adalah debat yang melibatkan pikiran dan otak, ataukah kesadaran dapat beroperasi ketika otak terhenti?

Saya punya satu cerita lagi untuk ilustrasi. Pada tahun 1991, ada seorang wanita bernama Pam Reynolds. Dia menderita aneurisma di batang otak. Dokternya mengatakan bahwa itu bisa pecah setiap saat dan bisa menyebabkan kematian, sehingga dia memutuskan untuk menjalani apa yang kemudian disebut dengan operasi yang sangat eksperimental yang disebut dengan standstill operation. Dia terbang ke Arizona menuju Barrow Neurological Institute di Phoenix.

Pada dasarnya apa yang mereka lakukan adalah mereka meletakkan dirinya di bawah pengaruh anestesi, mata ditutup rapat, dan ke dalam telinganya dimasukkan speaker mini yang mengeluarkan bunyi klik sangat keras, sekitar 90-100 desibel. Itu setingkat dengan kebisingan pesawat jet ketika lepas landas. Begitu keras pancaran bunyi klik di telinganya. Kemudian ketika otaknya tidak lagi menanggapi klik, para ahli bedah tahu bahwa mereka bisa melanjutkan. Kemudian suhu tubuhnya diturunkan dan darah dikuras keluar dari kepalanya. Kantung aneurisma akan mengkerut karena kekurangan darah.

Jadi dia pada dasarnya tanpa darah di kepalanya atau dalam keadaan seperti koma selama lebih dari satu jam. Ketika dia terbangun, dia memiliki banyak cerita yang disampaikan. Dia mengatakan bahwa dia mengapung ke atas – keluar dari tubuhnya sendiri dan mengamati sebagian dari operasi – tidak semuanya karena dia ada pengalaman mati suri di tengahnya. Tapi apa yang menarik adalah, dia bisa menggambarkan urutan operasi – berapa banyak orang yang ada sana – dia bisa tahu mana laki-laki dan perempuan. Jelas dia tidak tahu nama mereka.

Dia bisa menggambarkan gergaji tulang yang tidak biasa dilihat, yaitu gergaji Midas Rex. Itu tampak seperti sikat gigi listrik, jadi bukan sesuatu yang biasa Anda lihat. Dia mendengar percakapan ketika seorang wanita ahli bedah mengatakan bahwa pembuluh darah arteri kiri terlalu kecil untuk sebuah tabung, sehingga kepala ahli bedah menyarankan kepada dokter bedah lain untuk mencoba sisi kanan – ia mendengar semua percakapan ini. Jadi, dia melihat sesuatu, mendengar sesuatu, meskipun indranya terblokir.

Dan kemudian dia menyampaikan cerita khas tentang OOBE, cahaya putih, melihat saudara mati, bla bla bla dan seterusnya. Sekarang saya tidak terlalu tertarik pada pengalaman mati suri, namun kemampuannya untuk menggambarkan operasi sementara dia sendiri ada di bawah anestesi yang mendalam ketika matanya tertutup dan pendengarannya diblokir – itu menimbulkan pertanyaan bagi saya: Apakah pikiran atau kesadaran Pam terpisah dari otaknya? Saya pernah mendengar lusinan cerita tentang orang-orang yang meninggal di meja operasi atau dalam kecelakaan mobil dan merasa diri mengapung di atas tubuh mereka dan menyatakan bahwa mereka bisa melihat segala sesuatu yang sedang terjadi. Saya pikir mereka menarik, tetapi ceritanya tidak dapat disimpulkan.

Sangat mungkin bahwa ketika otak mereka mulai berhenti bekerja – muncul ilusi dan sensasi. Sangat mungkin bahwa ini adalah kegiatan normal yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Tetapi cerita Pam Reynolds terasa sedikit lebih menarik bagi saya. Seorang dokter bernama Michael Sabom mendapatkan semua catatan medis dan transkrip dari operasi ini dan menemukan bahwa ketika Pam menceritakan semua kejadian yang dilihatnya, semua diceritakan secara berurutan, persis sesuai dengan kenyataannya.

Saya mewawancarai kepala ahli bedah saraf, Robert Spetzler, yang mengkonfirmasikan bahwa dia dalam keadaan koma yang dalam selama satu jam dan tidak dapat melihat atau mendengar apapun selama operasi. Saya bertanya kepadanya bagaimana dia menjelaskan itu, dan dia berkata, “sama sekali tidak ada penjelasan dari sudut pandang ilmiah.” Dia juga mengatakan bahwa hal ini telah mengubah cara dia berpikir tentang realitas.

Saya hanya ingin menyimpulkan dengan mengamati bahwa pada saat saya mewawancarai para ilmuwan, saya belajar sesuatu tentang para ilmuwan. Ketika mereka mendengar tentang suatu kasus yang tidak mereka suka – yang tidak sesuai dengan pandangan mereka – mereka menyebutnya sebagai sebuah anekdot. Ketika mereka menyukai sebuah cerita, mereka menyebutnya sejarah kasus (case history).

Sekarang mungkin kebanyakan ilmuwan akan mengatakan tantangan ini kepada pandangan dunia materialis adalah sebuah anekdot. Setelah semua ini, cerita Pam dapat mengarah pada gagasan mengejutkan bahwa bagaimanapun kita memiliki kesadaran atau mungkin jiwa yang bisa bertahan terhadap kematian. Ilmuwan lain – sebenarnya dalam jumlah yang semakin banyak – akan menyebut cerita Pam sebagai sejarah kasus, sesuatu yang dapat dieksplorasi dan tidak bisa begitu saja dieliminasi. Tetapi saya meyakini beberapa hal. Pertama, pertanyaan tentang kesadaran ini adalah pertempuran besar berikutnya dalam sains tentang spiritualitas. Dan kedua, bagaimana seorang ilmuwan masuk dalam perdebatan tentang kesadaran akan sangat banyak dipengaruhi oleh keimanannya.

CROMARTIE: Terima kasih, Barbara.

Akan dilanjutkan ke Religion and Science, Part Four.

Freely translated by Lambang (LambangMH.wordpress.com)
Gambar: dari sini.

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Informasi, Kehidupan, Spiritual and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

15 Responses to Religion and Science, Part Three (3/4)

  1. batjoe says:

    pertama….

  2. batjoe says:

    jangan berat-berat melulu dong….
    artikel yang ademan dikit mas ….
    bener-bener nih sekuel terlama yang saya baca hihihihihihihihih

    selamat pagi

    ======================
    :: Selamat sore.
    Emang harus berat, biar dianggep pinter… hihihi…🙂
    *padahal jan-jane cubluk tenan*

    ======================

  3. batjoe says:

    ada email… ada email…
    tolong dibantu jawab hahahahahahahaa

    ======================
    :: Oiya, udah dibuka dan dijawab.🙂
    ======================

  4. m4stono says:

    wah mangstaaab dan semakin dalam aja pencerahan dari mas lambang sing bagus dewe sak DKI ini:mrgreen:

    sekalian saya mo promosi artkel dumatheng mriki semoga berkenan:mrgreen:

    sak umur2 baru kali ini promosi artikel terang2an kecuali kalo niatnya memang nyepam:mrgreen:

    • Lambang says:

      Wah, linknya maknyet lagi. Sepertinya blogspot kena blokir lagi. Apa masih berhubungan dengan kasus yang sama, menteri yang sama dan Oom Sukro yang sama? Hihihi… dan pelestarian kedodolan-pun berlanjut…

      • m4stono says:

        ah gosip itu kang…wong mas batjoe aja bisa pertamaxx je….cek lagi koneksinya jangan2 belum dicolokin kabel stop kontaknya:mrgreen:

  5. Oleng says:

    Kang Tono… padahal Saya itu udah lama mbatin sing ora-ora… lha isine uneg-uneg suara atiku Kang Tono ki neng ngendi wae tooo… kog suwe ora update… tak tututi goleki wooo bulane mojok sama Kang Wong Alus di bawah pohon beringin… hihihi… Ayo do ngrasani opo… nek ngrasani Kenyo Ayu ajak-ajak yoo…😀

    ======================
    :: KangTono lagi belajar ngelmu karo Mas WongAlus.🙂
    Tiga bulan lagi KangTono udah bisa ngilang… cocok kalau kerja di BAIS…:mrgreen:

    ======================

  6. G3mbel says:

    ini artikel teh mo sampai part berapa emangnya…?😆

    • Lambang says:

      Dulu pernah ada teman dari pesantren yang minta dicarikan artikel tentang science dan religion ditinjau dari sudut pandang yang tidak memihak. Setelah googling beberapa lama, saya dapatkan artikel ini yang sepertinya sudah paling netral dan paling lengkap.
      Jadinya ya gitu deh, nerjemahin sekalian belajar bahasa Inggris sekalian menyiapkan PDF untuk teman itu tadi.

      Rencananya sih sampai part enam atau tujuh.
      *hihi.. edyan tenan, keknya niyat banget gitcu loh*

  7. m4stono says:

    menurut saya arah dari alur kemajuan sains itu harus bermuara ke religi dlm arti ketuhanan yg maha esa/sang hyang manon….jadi agak kurang betul apabila semakin tinggi ilmu sains nya malah menghasilkan kesimpulan “tuhan itu tidak ada karena tidak terbukti secara ilmiah keberadaannya”

    • Lambang says:

      Quote dari artikel di atas, “Sekarang, pada akhirnya, saya pikir sains tidak akan bisa membuktikan apakah Tuhan ada atau tidak, tetapi perdebatan ini benar-benar menarik…”

      Jadi, kesimpulan yang itu memang enda ada KangTon…🙂

      • m4stono says:

        ya memang tidak ada, paling tidak di artikel ini:mrgreen:

        sapa tahu ada yg bikin artikel trus menyimpulkan spt yg saya simpulkan….hihihihihi

        tapi saya percaya ada yg menyimpulkan ini…..percaya lah ada ilmuwan yg skeptis ttg keberadaan tuhan, supaya dunia ini sumangkin menarik….lha sekarang malah ada penelitian terhadap partikel tuhan yg konon katanya asal dari asalnya semua partikel….wis mbuh lah sing penting awake dhewe gur iso nyawang wae lan dadi komengtator :mrgreen:

    • Lambang says:

      Iya Kang. Dari hasil survey di National Academy of Sciences, hanya 7% yang percaya Tuhan. Dan dari hasil survey yang lain, sekarang ada kecenderungan kaum muda di Barat berubah menjadi agnostik, karena mereka merasa bahwa banyak hal-hal yang kontradiksi dalam scripture yang dulu mereka ikuti.🙂

  8. Filarbiru says:

    @lam

    Manusia diciptakan apapun rasnya sudah dibekali modal awal dari Tuhannya.

    Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s