Religion and Science, Part Four (4/4)

Science and Religion.jpg

Artikel terakhir dan lanjutan dari Religion and Science, Part Three.

KATHLEEN PARKER, The Washington Post: Terima kasih Barbara. Saya ada pertanyaan untuk Dr Collins. Anda menyebutkan kemungkinan bahwa Tuhan di luar alam dan waktu, dan tampaknya Dia sama cerdas dan bahkan lebih cerdas dari Anda dan dia jelas akan membuat beberapa ketentuan tentang pemanasan global. Saya ingin tahu bagaimana pendapat Anda mengenai hal ini dari sudut pandang ilmiah Anda?

COLLINS: Kelihatannya bahwa alam semesta dan planet kita berada dalam kondisi yang sangat stabil secara umum. Untuk hal-hal yang Anda pikir mungkin dapat merusak keseimbangan alam, tampaknya ada kecenderungan alam dapat memperbaiki dirinya sendiri. Tetapi ancaman yang nyata pada saat ini adalah adanya perubahan dalam sifat planet kita yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Tuhan, apa pun alasannya, tampaknya tertarik untuk memberikan kehendak bebas bagi manusia. Itu adalah cerita tentang Taman Eden. Itu sesuatu yang tidak asing bagi kita semua.

Saya pikir cukup sulit untuk menyatakan bahwa kehendak bebas itu adalah ilusi. Saya tidak menganggap semuanya seperti itu. Bersamaan dengan kehendak bebas itu, muncul dugaan bahwa kita dapat mengacaukannya, dan itulah yang kita lakukan sejak pertama kali memiliki kesempatan untuk itu dan masih berlangsung terus sampai hari ini. Saya tidak berpikir Tuhan akan selalu datang dan menjadi seperti kakek-kakek yang ramah dan beres-beres setelah cucu-cucunya setiap kali selalu membuat kotor dan membuat kesalahan yang lain.

Jadi, ini adalah tanggung jawab kita semua, jika ada kehendak bebas yang kemudian ternyata digunakan dengan cara yang salah, maka kewajiban kita untuk mencoba mencari solusinya. Saya pikir kita tidak bisa mengatakan bahwa Tuhan tidak cukup mampu untuk mengatasi pemanasan global. Jika Anda ingin mendalilkan suatu keadaan di mana manusia tidak memiliki kehendak bebas, Anda bisa menggunakan model semacam itu, dan tentu saja itu tidak akan menjadi hal yang menarik.

PARKER: Banyak orang di golongan kanan, yang sekarang diwakili oleh Rush Limbaugh, mengklaim bahwa pemanasan global terjadi karena Tuhan terlalu besar dan kita terlalu kecil untuk dapat benar-benar memengaruhi Bumi sedemikian rupa, sehingga kita harus mundur dan membiarkan Tuhan yang menyelesaikan itu semua. Tetapi tentunya Anda akan menyangkal pendapat itu bukan?

COLLINS: Saya pikir Tuhan memberi kita kecerdasan dan rasa ingin tahu dan kemampuan untuk membuat peralatan untuk mempelajari lingkungan kita, apakah itu alam semesta atau planet kita sendiri. Saya pikir kita harus menggunakan alat-alat tersebut, dan ketika alat-alat itu memberi kita bukti, yang akhirnya mengarah pada kesimpulan bahwa kita sedang menuju suatu kehancuran, kita tidak bisa kemudian menghindar dan mengatakan bahwa Tuhan tidak akan mengijinkan itu. Itu tidak tampak sebagai tindakan orang yang rasional.

lauren green.jpgLAUREN GREEN, Fox News: Pada buku God according to God, yang dibuat oleh Gerald Schroeder, disebutkan bahwa kita selama ini telah mengabaikan sifat-sifat Tuhan yang dianggap tidak menarik, menggantinya dengan yang sesuai dengan keinginan kita, yaitu Tuhan yang penuh cinta, dan tidak pernah berubah sepanjang masa. Ini mengarah pada permasalahan abadi: Bagaimana bisa ada Tuhan yang seperti itu jika dunia ini penuh dengan tragedi? Namun Schroeder mengungkapkan bahwa Tuhan yang dinyatakan dalam kitab suci adalah 100 persen kompatibel dengan dunia yang kita kenal sekarang. Ini adalah kesalahpahaman kita terhadap Tuhan yang menyebabkan perbedaan. Sebenarnya, konsep Tuhan yang dibantah oleh kaum atheis dan yang dibela oleh kaum agamis tidak akurat. Menurut dia, Tuhan adalah Tuhan yang dinamis, yang selalu mencari cara untuk berhubungan dengan ciptaannya. Kunci dari tindakan Tuhan di dunia, dapat ditemukan dalam Injil Exodus 3:14 yang diterjemahkan menjadi “Aku adalah Aku.” Schroeder kemudian mengoreksi terjemahan itu menjadi “Aku akan menjadi seperti apa yang Aku mau”, dan ini mengungkapkan Tuhan yang selalu mengubah kehadirannya disesuaikan dengan jaman.

Dia menyebutkan bahwa Injil bukanlah buku ilmu pengetahuan dan bahkan dalam Injil disebutkan tentang penciptaan bahwa bumi menjadi tempat kehidupan, bukan diciptakan langsung oleh Tuhan. Jadi dia mengatakan bahwa itu benar-benar mendukung ide penciptaan selama miliaran tahun. Tetapi mereka menghitung enam hari pertama sebagai semacam pemahaman tentang pelebaran waktu yang bisa terjadi, dan kemudian pada saat Adam tiba di tempat kejadian, entah bagaimana, kemudian terjadi secara paralel –

COLLINS: – dengan ukuran waktu tradisional, benar. Itu akan konsisten dengan beberapa versi yang lebih tua, yang disebut Day-Age Theory atau The Gap Theory . Saya kira buku John Walton, The Lost World of Genesis One , menggunakan cara yang sama sekali berbeda mengenai hal ini dan mengatakan bahkan dengan perspektif itu kita telah menyaring ayat-ayat Kitab Suci pada arah yang tidak tepat untuk mencoba memahami enam hari penciptaan. pada tiga hari pertama sebelum ada matahari, bagaimana bisa muncul waktu 24 jam? Cukup sulit untuk mencari tahu.

GREEN: Sebenarnya, dia menjelaskan tentang hal itu juga, tetapi kita akan bahas nanti.

COLLINS: OK.

DAVID VAN BIEMA, Time Magazine: Kepada Barbara, Anda mengatakan bahwa Anda dapat menafsirkan hasil penelitian dengan satu cara tertentu atau Anda dapat memilih untuk menafsirkan mereka dengan cara lain. Bagi saya, ini tampaknya suatu kondisi dimana banyak ateis atau agnostik mengatakan bahwa bukti yang ada terlalu kecil untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada, sedangkan bagi kaum yang beriman mengatakan bahwa bukti ini sudah cukup untuk mengatakan bahwa Tuhan itu ada.

Bradley HAGERTY: Salah satu perkembangan yang menarik, tentu saja, dalam beberapa tahun terakhir banyak muncul kaum atheis yang baru, dan apa yang Dawkins dan lain-lainnya inginkan adalah Anda percaya bahwa mereka dapat membuktikan Tuhan itu tidak ada. Alasan saya memutuskan untuk melihat “sains dari spiritualitas” adalah karena ilmu pengetahuan sudah menjadi agama kita di abad ke-21 ini. Ini adalah yang kita percaya, dan ini juga yang menentukan apa yang benar dan apa yang tidak.

Jika Dawkins benar dan Tuhan hanyalah khayalan dan dia dapat membuktikannya secara ilmiah, itu akan menjadi berita buruk bagi semua penganut agama. Apa yang membuat saya tertarik untuk mengetahui, apakah pengalaman spiritual dapat menjadi ilmu pengetahuan tersendiri, walaupun tidak membuktikan bahwa Tuhan memang ada, tetapi setidaknya bisa berdiri sendiri? Pandangan saya tentang hal ini adalah bahwa – 96 persen dari alam semesta adalah dark matter – ada banyak hal yang tidak kita mengerti tentang dunia, dan bagi orang-orang yang mengatakan bahwa mereka benar-benar dapat membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada, maupun yang mengatakan bahwa tidak ada kecerdasan tinggi dalam penciptaan alam semesta, saya pikir mereka itu agak arogan.

[YouTube=http://www.youtube.com/watch?v=pHXv-NuSnP0&w=300]

Saya pikir arogan juga untuk mengatakan bahwa Tuhan itu benar-benar ada, dan jika Anda tidak datang kepada Yesus sebagai juru selamat pribadi Anda, maka Anda akan masuk ke neraka. Keduanya ada dalam posisi arogan. Saya pikir setiap orang berhak untuk memilih keyakinan pribadinya. Tetapi kabar baik bagi orang-orang yang beriman adalah bahwa orang-orang kafir masih belum bisa membuktikannya, dan masih ada lebih banyak lagi penelitian yang harus dilakukan. Penelitian ilmiah akan memungkinkan kita untuk mengeksplorasi permasalahan lebih mendalam.

MICHAEL GERSON, The Washington Post: Seperti hasil penelitian oleh Andrew Newberg, ahli saraf dan ahli radiologi di University of Pennsylvania, penelitian otak menunjukkan bahwa manusia memiliki keinginan yang besar untuk suatu kepastian, semacam kepastian buatan yang berasal dari otak. Dan itu membuatnya sangat skeptis terhadap afirmasi agama tertentu, bukan karena tidak mungkin tetapi karena mereka telah dikondisikan secara kultural. Kami terikat dengan kepastian.

Jadi pertanyaannya bukan mempertanyakan keberadaan Tuhan tetapi mempertanyakan kepastian kami sendiri, mengingat kecenderungan otak tersebut. Saya tertarik pada apa reaksi Anda terhadap argumen itu. Pada kenyataannya, orang-orang dalam berbagai budaya percaya bahwa tradisi mereka adalah yang mutlak benar, dan tampaknya ini berhubungan dengan otak. Bagaimana hal itu mempengaruhi sifat kepercayaan dan keyakinan kita?

Bradley HAGERTY: Saya merasa bahwa penelitian Andy secara teologis mernjadi hal yang paling mengganggu bagi saya secara pribadi, karena setiap orang memiliki sistim keyakinan masing-masing. Mereka memiliki cara untuk memahami dunia. Jika Anda spiritual, Anda sering melakukannya melalui agama. Andy telah menemukan bahwa praktek keagamaan apapun akan menghasilkan pola yang sama di otak. Jadi, apakah Anda seorang biarawati, atau seorang bhiksu (monk) atau seorang sufi, pada dasarnya ada aktivitas yang sama di otak pada saat Anda melakukan ritual keagamaan. Lobus frontal menjadi aktif, dan aktivitasnya meningkat. Lobus parietalis, yang mengatur orientasi Anda pada ruang dan waktu, menjadi gelap, sehingga mereka tidak merasakan lagi badannya ada di mana dan mulai merasakan kehadiran alam. Jadi ada perasaan menyatu dengan Tuhan atau menyatu dengan alam semesta.

Khusus pada biarawati Pantekosta, terjadi hal yang sebaliknya. Lobus frontal menutup, dan lobus parietalis menjadi aktif. Jadi seolah-olah mereka tidak mengontrol proses ini, tetapi mereka menjaga hubungan dalam arti batas mereka sendiri, dan mereka menjaga hubungan ini dengan Yesus.

Jadi setidaknya, saya menemukan bahwa hal ini sangat mengganggu dari sudut pandang teologis. Dan interpretasi dia terhadap hal ini, semuanya ini adalah barang yang sama. Spiritualitas. Ini hanyalah soal bagaimana Anda menafsirkannya pada akhir kalimat. Jadi para biarawati akan melihatnya sebagai sebuah persatuan dengan Yesus, dan seorang bhiksu (monk) akan melihatnya sebagai penghubung dengan bumi kehidupan.

Di sisi lain, diperlukan adanya kerendahan hati karena tampaknya sulit bagi sebuah agama untuk mengklaim kebenaran mutlak, karena pada dasarnya terjadi hal yang sama di dalam otak selama merasakan berbagai jenis pengalaman spiritual, dan mereka pada dasarnya berhubungan dengan cara yang sama. Jadi jawaban pendek untuk pertanyaan Anda adalah ini cukup sulit bagi saya dari sudut pandang teologis. Ini telah memaksa saya untuk menjadi rendah hati terhadap klaim kebenaran saya sendiri atau klaim kebenaran yang saya ikuti selama ini.

Adrian Wooldridge.jpgAdrian Wooldridge, The Economist: Saya ingin bertanya kepada Profesor Collins, Anda sangat Christo-sentris atau Kristen-sentris tentang apa yang terjadi. Saya hanya ingin tahu apakah Anda bisa menceritakan kepada kami bagaimana perdebatan mengenai hubungan antara sains dan agama pada berbagai tradisi agama yang berbeda, dan hal apa sayja yang menarik di sana?

COLLINS: Pada dasarnya, jika Anda melihat Yudaisme dan Islam, Anda akan menemukan berbagai macam pandangan tentang asal-usul. Tentu saja dalam Yudaisme, Yahudi yang konservatif dan reformasi pada umumnya menerima evolusi, dan banyak orang Yahudi Ortodoks juga. Maimonides sering dikutip di sini sebagai alasan untuk berasumsi bahwa jika Anda memiliki konflik antara ilmu pengetahuan dan Taurat, berarti telah terjadi kesalahan dan salah tafsir, bukan menganggap bahwa ilmu pengetahuan adalah kejahatan.

Tetapi pasti ada Yahudi Ultra-Ortodoks yang menentang evolusi dan bumi yang sudah tua. Sebuah perdebatan khusus berpusat pada Rabbi Slifkin, yang disebut Zoo Rabbi karena mempopulerkan kecintaan pada binatang. Tetapi karena dia juga mendukung evolusi, dia menerima kritik sangat kuat, dan bukunya telah dilarang oleh kaum Ultra-Ortodoks.

Dalam Islam, Al-Qur’an jelas menganjurkan untuk mempelajari sains. Al-Qur’an juga menggambarkan enam hari penciptaan dan bahwa Adam terbuat dari tanah liat. Ada banyak hal yang terjadi sekarang di mana orang-orang tertentu menyebut ayat-ayat dalam Al-Qur’an dan mencoba untuk mengaitkan dengan beberapa penemuan ilmiah yang baru saja dibuat. Anda bisa melihatnya dan bisa memutuskan sendiri apakah itu merupakan bukti yang kuat. Tetapi saya pikir ada keprihatinan besar di kalangan ilmuwan atas tren yang berkembang untuk menolak evolusi di banyak negara Islam.

Jika Anda telah melihat website Harun Yahya, Anda akan melihat darimana semua itu berasal. Harun Yahya adalah individu yang memiliki pendanaan sendiri, yang Atlas Penciptaan-nya telah dikirim kepada ribuan orang – buku yang sangat tebal dan indah, yang pada dasarnya berpendapat bahwa tidak ada spesies tua yang telah punah, yang mewakili setiap fosil organisme yang masih hidup sekarang, yang berarti bahwa tidak mengharuskan ada konsep bumi yang sangat tua (jutaan tahun).

Ada satu cerita di website ini yang berjudul, “Lima belas bukti untuk menyangkal Darwin pada ulang tahun kelahirannya yang ke 200”. Cerita selanjutnya mengatakan: “Tidak peduli apapun yang dikatakan, Darwinis tidak akan mampu mengubah kenyataan bahwa Darwinisme sudah mati dan dikuburkan. Secara harfiah tidak ada lagi yang tersisa di dunia untuk mendukung evolusi. Ini memiliki dampak yang sangat kuat di dunia Islam.

Saya tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi pada waktu saya melihat-lihat website itu, saya menemukan bukti yang digunakan Harun Yahya untuk mendukung perspektif ini, yaitu sebuah clip pendek dari CNN, tentang saya. Judulnya berbunyi: “Collins: Mengapa ilmuwan ini percaya kepada Tuhan”. Implikasinya adalah, bahwa saya harus tidak percaya pada evolusi. Itu agak menakutkan. Saya kira intinya adalah bahwa subjek asal-usul adalah topik yang sangat diminati pada semua agama, dan Anda akan menemukan interpretasi yang sangat luas. Tinjauan para ekstrimis juga muncul dalam interpretasi ini, dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda.

Selesai.

—===oooOooo===—

Freely translated by Lambang (LambangMH.wordpress.com)

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Informasi, Kehidupan, Spiritual and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

13 Responses to Religion and Science, Part Four (4/4)

  1. batjoe says:

    PERTAMA LAGI>>>>>>

    • m4stono says:

      hooooyeeeee mas batjoe sudah bisa ngelink…….gak percuma diajarin mas lambang:mrgreen:

      • batjoe says:

        hushhhh… ada yang lagi berasep dan marah-marah mas ton tapi udah update kok…

        maaf guru ngadat juga komputer dan ndak enak pakai punya kantor hihihihihi

    • Lambang says:

      Padahal ngajarinnya udah sampe sebel setengah mati, dikasih PR ngga pernah ngerjain.
      Dasar murid bandel…👿😆

  2. batjoe says:

    saya mau koment apa lagi ya…..
    artikel titpan lagi ya????

    aku nitip kopi ma gorengan sambil gelar tiker terus ngamtin mas lambang kemana ya???
    lagi ngartiin terjemaan inggris lagi nih soalnya belum genep enam episode…

    lanjutkan mas…. lanjutkan…..

  3. Lambang says:

    Seri artikel ini udah selesai. Cukup empat aja, ngga jadi enam apa tujuh seri. Ternyata cape juga ya nerjemahin artikel non-teknis seperti ini.
    Hoah… hoah… ngademin kepala yang berasep…😆

  4. m4stono says:

    Pada buku God according to God, yang dibuat oleh Gerald Schroeder, disebutkan bahwa kita selama ini telah mengabaikan sifat-sifat Tuhan yang dianggap tidak menarik, menggantinya dengan yang sesuai dengan keinginan kita, yaitu Tuhan yang penuh cinta, dan tidak pernah berubah sepanjang masa

    ===========================

    yg di bold itu menarik mas……yg saya yakini selama ini ya sifat dan asma tuhan itu indah baik benar tanpa batas, sedangkan kalo ada yg kurang menarik atau uelik ya itu karena persepsi kita sendiri….coba kalau tuhan punya sifat yg jahat spt dewa2 yunani kuno:mrgreen: mungkin alam semesta dan seisinya ini akan terlihat sangat menyeramkan dan manusia dilahirkan utk disiksa kek dineraka pokoke:mrgreen: lha nyatanya byk yg indah2 di alam semesta ini walopun yg gak indah juga byk, tapi yg gak indah itu anggaplah hanya persepsi kita aja, maka dari itu kita diajarkan utk berbaik sangka supaya hidup kita indah terus dan bisa bahagia……yg pasti baik buruk benar salah pria wanita dsb itu adalah rekayasa tuhan, sedangkan tuhan tentu saja diluar itu semua, kalo bahasa manusianya “maha benar Allah dgn segala firmanNya”

    • Lambang says:

      Iya Kang. Buku itu sepertinya menarik juga. Nanti saya coba cari.
      Yah, kembalinya sih memang ke ilusi dan persepsi masing-masing… hihi…:mrgreen:

  5. emina says:

    Sekedar saran,
    Kalau seri science dan religion ini akan sgt panjang lebih dari 3 seri, sebaiknya diselingi dengan tulisan lain. Karena apa? karena lama -lama orang akan bosan.
    apalagi utk jenis tulisan seperti ini, dan panjang.
    kenapa tdk diselingi tulisan lain yang lebih ringan dan seru?

    lama2 jadi membosankan juga.

    Tapiii, ini cuma saran. no offense:mrgreen:

    Salam.

  6. Lambang says:

    Terima kasih sekali mbak atas sarannya.🙂

    Memang hidup ini kadang-kadang harus diselingi dengan artikel yang membosankan. *halah*😎

    Sebetulnya saya sudah terlanjur terperangkap dengan judul blog, sehingga tidak bisa bermain keluar kandang, jadi yah terpaksa menikmati hidup di lingkungan kandang yang sangat terbatas ini.😦

    Mau ganti blog baru, sudah terlanjur sayang dengan yang ini, walaupun jelek dan kurus, tapi nggemesin banget… hihi…:mrgreen:

    Salam mbak.

    • batjoe says:

      gitu lagi kalau mbak min yang komntar keliahtan jaimnya hahahahahahaha..

      pakai kata-kata yang tidak biasa lagi “nggemesin banget” bahasa inggrisnya apa mas????

    • m4stono says:

      iya salah sendiri pake nama aneh2…hihihihi…..biasanya malah pake nama sendiri/nick yg gak menyiratkan sesuatu kecuali diri sendiri…spt kanktono ;mrgreen: sabdalangit, tomyarjunanto, guskar, abdulcholik, dll …..saya sendiri juga kadang mo nulis yg ringan2 jadi sungkan wong sudah kadung dari awal serius je….padahal saya org nya jan byayakane pool jauh spt tulisan2 saya:mrgreen: padahal spiritualis sejati katanya gak suka ngeblog, mereka lebih suka topo ngrame menyusuri jalan2 dan membantu orang2 tanpa pamrih spt NOTO:mrgreen: istilahnya menjauhi dunia tapi juga dekat dgn dunia halaah spt sunan kalijogo, dan banyak lain yg gak terkenal…..tapi mungkin kita bisa mengembangkan spiritualis alternatif yg abnormal bocor alus dgn menjadi spammer komengtator panjang2 ben ketok keminter:mrgreen: supaya org lain juga ikutan komeng panjang2 juga biar dikira keminter juga …..lagian mo ngglandang topo ngrame juga susah dijaman serba duit ini

    • Lambang says:

      Hihi.. diledekin mas Batjoe jadi malu..
      Padahal aslinya saya ya seperti itu, cool dan nggemesin… *halah*
      Kalau biyayakan itu kan kena pengaruh sama KangTono, Brat MK dan mas Batjoe… Nah, sebaliknya saya nularin bocor alusnya…

      Kalau pakai nama sendiri keknya ngga ngetop KangTon, ngga SEO friendly katanya.😎
      Coba di-search Lambang, entar yang muncul kan Lambang Negara Indonesia.. nggilani..😆
      Mau pakai nama Brad Pitt, Colin Farrell atau Don Johnson koq malu, soale masih naik angkot, bukan naik Ferrari. Ah, tapi bisa juga ding, di-imajinasikan aja naik Ferrari.. walaupun badan tetep kemringet…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s