Perubahan Muncul Dari Dalam Diri

the way home to oneness.jpgTidak ada sesuatu yang tidak diinginkan dalam eksistensi kehidupan ini. Kita bukanlah muncul secara tidak disengaja dalam proses kehidupan ini. Sebaliknya, kita adalah bagian dari hidup ini, bagian yang dinamis, yang menyambut dan merayakan kehidupan ini. Seperti dalam Upanishad , disebutkan: “Even if a blade of grass is missing, the whole existence will thirst for it” (Bahkan jika ada rumput yang hilang, seluruh eksitensi akan mencarinya)

Kita harus menyadari bahwa kebahagiaan kita sendiri dan masa depan adalah tanggung jawab pribadi kita. Sifat kehidupan selalu berhubungan dengan hal-hal yang baru di setiap saat, dan itulah yang perlu kita pelajari.

Mengeluh Tentang Orang Lain

Dalam masyarakat kita, banyak yang terperangkap dengan kebiasaan mengeluh tentang orang lain atau menilai orang lain. Mari kita melangkah mundur sejenak dan mempertimbangkan kembali apakah kita dapat mengubah orang lain. Dan bahkan jika kita bisa mengubah beberapa orang yang dekat dengan kita, apakah seluruh dunia juga akan berperilaku sesuai dengan yang kita harapkan? Apakah ini mungkin dan diharapkan bisa terjadi?

Jadi, mari kita tanyakan pada diri kita sendiri, apakah tujuan kita hanyalah untuk mengajari dan memperbaiki orang lain ataukah ingin mendapatkan kejernihan hati sehingga kita bisa menerima dan sanggup menghadapi kejengkelan karena ada orang lain yang membuat pilihan yang berbeda dengan kita?

Sangat mudah bagi kita untuk melihat kekacauan dan ketidakberesan pada orang lain karena kita mendapatkan manfaat sebagai pembanding terhadap diri kita sendiri. Namun, kita tidak akan mendapatkan manfaat yang sama jika mengamati diri kita sendiri. Kita mungkin akan risih dan sebel jika ada orang lain yang tidak sensitif terhadap kita, tetapi keberpihakan kita pada rasa risih dan sebel itu juga merupakan semacam ketidakpekaan kita terhadap realisasi kehidupan dan ini umumnya tidak kita sadari.

Terjebak dalam Pikiran Negatif

Ini adalah tanggung jawab yang utama bagi kita agar tidak berpikiran begatif terhadap kehidupan ini. Begitu kita sudah berada pada posisi keseimbangan, kita akan menemukan banyak alasan kenapa sesuatu hal dapat terjadi, atau kenapa seseorang bisa melakukan perbuatan tertentu. Kita akan bisa memaklumi kenapa bisa muncul rasa risih dan sebel yang muncul karena sesuatu kejadian atau karena perilaku orang lain.

Apa pun yang terjadi, selalu hilangkan semua pikiran negatif dalam diri kita. Secara halus sang ego juga akan ikut sirna bersamaan dengan menghilangnya pikiran negatif tersebut. Dan jika kita sudah tidak berpikiran negatif, maka akan muncul kesan bahwa diri kita sudah menghilang. Kita hanya sebagai pengamat.

Kita ada di dunia ini bukan hanya untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Kita di sini untuk memahami diri sendiri dan memahami arti dari kehidupan secara lebih mendalam. Dengan berhenti sejenak dan selalu mengingatkan diri sendiri tentang tujuan utama ini, kita akan mendapatkan pecerahan tentang belitan halus ini yang salah-salah akan dapat mengambil alih hidup kita. Hanya ketika kita sudah mampu untuk jujur tentang diri kita sendiri, maka kita akan mampu belajar dan akhirnya mampu untuk menerima berbagai hal yang bermanfaat yang telah menampakkan diri dan menghampiri kita. Jika tidak, maka kita akan menemukan diri kita bersembunyi di balik tabir “Saya ini dan orang itu, yang menyebabkan saya berbuat seperti ini adalah karena kesalahan orang itu.”

Menghubungkan Diri Dengan Orang Lain

Ketika kita sudah meluangkan waktu untuk memahami dan menhubungkan diri dengan orang lain secara lebih mendalam, kita tidak akan membatasi diri kita dengan penilaian atau asumsi-asumsi seperti “dia itu begini” atau “dia itu begitu”, atau “dia itu benar” atau “dia itu salah” dan lain-lain. Dengan kata lain, kita mulai dapat melihat situasi atau orang lain dari kedalaman dan sudut pandang yang berbeda. Perlu dipahami bahwa pendekatan ini bukan berarti kita taqlid buta terhadap sesuatu, lalu kemudian membuang yang lain. Ini hanyalah suatu penerimaan bahwa kita menghargai orang lain sebagai sesama manusia, mencoba melihat bagaimana kita dapat menghasilkan kepekaan yang diperlukan untuk berbagi dan berkomunikasi secara mendalam dengan orang lain.

Komunikasi semacam ini adalah suatu seni. Ini adalah sesuatu di mana hati kita, fantasi kita, imajinasi kita, humor kita, serta pemahaman dan pengetahuan kita, semuanya ikut bermain. Kita perlu sadari bahwa masing-masing dari kita memiliki dunia dalam dirinya sendiri. Kita dapat mencoba dari sisi kita untuk menjembatani dan berbagi, tetapi akhirnya itu sangat tergantung kepada orang lain dan akan dijadikan apa oleh mereka. Kita tidak bisa mengubah siapapun dan itu memang tidak perlu. Kita dapat berbagi pengalaman dan cinta kita dengan yang lain. Tetapi jika dalam perjalanan itu kita sendiri menjadi tidak jelas dan negatif, maka kita harus mencari faktor apa yang menyebabkan ketidak-jelasan itu, dimulai dari dalam diri sendiri sebelum mencoba berbagi dengan yang lain. Kejelasan batin ini adalah dasar yang paling penting untuk dapat berkomunikasi secara kreatif dan cerdas dengan yang lain.

Sudah alamiah jika semua cenderung berorientasi ke luar. Tetapi apa yang kita butuhkan, melalui kewaspadaan dan pengertian kita, adalah untuk mengalihkan perhatian ke dalam. Dalam bahasa Sansekerta ada dua kalimat: yang pertama, bahir mukhi, berarti kesadaran yang menghadap keluar, dan yang lain, antar mukhi , berarti kesadaran yang menghadap ke dalam. Jika kita ingin mendapatkan pencerahan, jika kita ingin mengalami hubungan ilahiyah, maka kita harus mengubah perhatian ke dalam. Dan kesadaran ini, yang meliputi bagian luar dan dalam, adalah kesadaran holistik. Ini adalah kesadaran tanpa pilihan yang menciptakan dasar bagi kemungkinan adanya transformasi batin.

Godaan Untuk Memberikan Stempel Baik Bagi Diri Sendiri

Hitler menulis biografi berjudul Mein Kampf (My Struggle – perjuangan saya). Semakin dalam seseorang terjebak dalam peran ini, membutuhkan perjuangan yang semakin besar, dan kemudian dia menjadi kehilangan seluruh perspektif dan menjadi sangat merusak.

Niatnya mungkin baik, tetapi niat saja tidak cukup. Niat harus dikombinasikan dengan kesadaran, karena jika seseorang memiliki niat bahwa ada hasil olahan pikiran yang baik dan mencoba untuk memaksakan itu, bisa menjadi sangat berbahaya. Bila kita memiliki gagasan bahwa kita ini baik dan benar, maka kita telah kehilangan pilihan yang lain dan realitas pada saat ini. Ini adalah proses belajar menyadari bahwa kita perlu ke luar dari pagar yang membatasi pikiran kita, jangan hanya menyadari apa yang ditunjukkan oleh pikiran kita, tetapi biarkanlah diri kita melihat bagaimana kehidupan ini ditayangkan.

Perlu dicatat bahwa kita juga tidak perlu mencoba untuk mengubah diri kita sendiri. Perlu upaya yang luar biasa jika kita mencoba m
engubah peripheral, lokasi dari pemahaman kita. Biarkan perubahan terjadi sejalan dengan pemahaman yang semakin mendalam. Mengubah peripheral tanpa belajar ke pemahaman yang lebih mendalam tidak akan menghasilkan apa-apa.

Kita dapat mengubah kebiasaan tertentu, seperti tidak merokok, belajar kata-kata yang sopan untuk menyembunyikan emosi kita. Kita dapat mencoba agar tampil beda, tetapi jika di dalam diri kita terus terjadi kesalahpahaman dan kita selalu mengacu kepada mereka secara taqlid buta, maka kita tidak akan bisa bebas. Lalu semua tampilan kita di luar akan membuat kita lebih berpisah. Kita akan sampai pada satu titik di mana kita telah merasa berkorban begitu banyak (dengan bekerja, belajar, menjalani laku dan lain-lain), dan berharap orang lain harus atau setidaknya juga melakukan hal yang sama. Dan sebagai hasilnya, kita akan merasa bahwa kita lebih memiliki hak untuk menghakimi, menganggap diri kita suci, lebih istimewa dan lebih besar dari yang lain.

Seni Perubahan – Kebebasan dari Kebekuan

Buatlah diri kita bebas dari identifikasi yang berhubungan dengan kepribadian, nama atau bentuk. Dengan kata lain, kita harus membebaskan diri dari apa yang kita bayangkan tentang diri kita, sehingga kita dapat benar-benar menjadi diri kita. Jika tidak, setiap kali ada kejadian, pikiran akan berubah ke pola pikir jadul, ke dalam cara-cara bereaksi jadul, dan ini hanya akan menghancurkan diri sendiri dan orang lain.

Mereka yang kecanduan dengan pendekatan tertentu dalam kehidupan mereka, misalnya mereka yang terbiasa berlari mengejar kekuasaan dan harga diri, akan menyadari bahwa tindakan mereka menuju ke arah yang salah begitu mereka menyadari tentang pembebasan diri ini.

Ketika kita mulai melihat sesuatu yang mengganggu, kita tidak perlu bereaksi secara otomatis. Kita dapat tetap bebas dari penderitaan ketika dalam hati kita dapat mengamati reaksi yang muncul, serta identifikasi kita ada di belakang reaksi itu. Dengan jarak batin ini, kita memiliki pilihan untuk mengikuti atau tidak mengikuti reaksi-reaksi ini. Itu memberikan kebebasan kepada kita.

Jadi itu adalah pertanyaan tentang bagaimana agar menjadi orang yang bertanggung jawab secara mendalam terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain sejalan dengan pertumbuhan pemahaman yang semakin mendalam.

Siapapun yang membiarkan hidup ini berjalan dengan hanya merespons tanpa terperangkap dalam fiksasi apapun, maka dia akan menyentuh banyak faktor dan banyak orang dengan cara yang berbeda.

Dikemas oleh: Lambang (LambangMH.wordpress.com)

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Kehidupan, Pencerahan, Renungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

20 Responses to Perubahan Muncul Dari Dalam Diri

  1. m4stono says:

    pertamaxxxxx….

    lagi2 ilusi persepsi dan imajinasi….lha realitasnya kapaaannn :mrgreen:

    ======================
    :: Realitasnya ya ngeblog ini…🙂
    ======================

    • batjoe says:

      udah gajian mas tinggal tunggu PHK
      wahakakakakakakakaka

      ======================
      :: Lha koq sama dengan saya ya…🙄
      ======================

  2. keduaxx…. salam kenal ya sob

  3. batjoe says:

    ehm postingan yang cukup bisa mengeritkan dahi…
    nuduh siapa lagi nih mas???
    jangan orang balikpapan ya.. udah baikan sekarang mas udah jadi bapak yang lebih bijak..
    wah kena deh pada point 1 sd 5

    bobo dulu ya mas lamabng heheheheheh

    • Lambang says:

      Enda nuduh siapa-siapa.
      Hanya sekedar catatan harian seseorang yang sedang mencari jalan kebenaran.. *halah*
      Kalau ada yang tersentuh, ya berarti kita sedang naik angkot yang sama, walaupun mungkin beda terminal tujuan.

      Hihi.. komen saya jaim banget ya..🙂

  4. Yes! A good articel!
    Baik dan benar itu tidak cukup.

    Ada niat baik dan mencoba untuk memaksakan, itu berbahaya. Ada gagasan yg diyakini baik dan benar, maka kita telah kehilangan pilihan yang lain. Kita perlu ke luar dari pagar yang membatasi pikiran kita, jangan hanya menyadari apa yang ditunjukkan oleh pikiran kita, tetapi biarkanlah diri kita melihat bagaimana kehidupan ini ditayangkan.

    Baik dan benar emang tidak cukup,
    Harus lah juga memerdekakan!!!

    Dengan jarak batin ini, kita memiliki pilihan untuk mengikuti atau tidak mengikuti reaksi-reaksi ini. Itu memberikan kebebasan kepada kita. … dan kpd org itu.

    Salam Damai Brat!

    ======================
    :: Sip Brat. Baik, benar dan merdeka!🙂
    ======================

  5. lovepassword says:

    Jika mengubah orang lain itu sulit. Mengubah diri sendiri juga sulit. Lalu kita perlu melakukan apa mas Lambang ?🙂

    • Lambang says:

      Mengubah diri sendiri itu harusnya ngga boleh sulit.
      Minimal berusaha memahami bahwa semua hal tidak selalu sesuai dengan apa maunya kita.🙂

      • S™J says:

        …bahwa semua hal tidak selalu sesuai dengan apa maunya kita.

        setuju. bukan maunya kita, melainkan apakah kita cukup jeli melihat peran apakah yg disiapkan dan mampu kita lakoni… halah…😎

      • Setuju lagi dgn SJ!
        “bukan maunya kita”

        Seolah,
        Kita itu dilahirkan utk orang lain, bukan utk diri sendiri pribadi mandiri. Dan, tak usah tuntuk orang lain itu dilahirkan apa tidak … hehe!

        Salam Damai!

  6. yos says:

    tulisan yang berbobot bang….
    berapa kilo ya, heheheheh
    *ngaciirrr*

    ======================
    :: Entar tak cari timbangan dulu…🙂
    ======================

  7. thepenks says:

    kunjungan perdana.. salam kenal aja deh..

    ======================
    :: Salam kenal kembali mas…🙂
    ======================

  8. m4stono says:

    :mrgreen: dah lama gak komeng serius en panjang di blog ini….saya mulai yah…pasang aksi dulu untuk dehem biar keliatan wibawa….eeheemmm….:mrgreen:

    pamuji rahayu mas lambang ingkang winasis waskitha, mugi2 tansah pinaringan kanugrahan saking Gusti🙂

    leres sanget bilih panjenengan serat dumatheng griyo niki, dari point satu sampai 5 saya setuju sepenuhnya, kalau boleh saya yg cubluk ini mau menambahi sedikit kemawon….

    didalam hidup itu harus berpegang pada sikap tawadu’, syukur, ikhlas, sabar dan amanah…

    tawadu’ terhadap segala ciptaanNya tanpa peduli apakah itu anjing buduk atau orang2 alim yg soleh, bahkan terhadap yg kita benci sekalipun kita harus merendah walopun kenyataannya itu sulit sekali

    syukur itu adalah cara pandang yg surgawi, apabila bersyukur maka nikmatKu akan ditambah, apabila kufur maka adzabKu sangat pedih, itu adalah prinsip dasar didalam syukur, kalau cara pandang kita orientasinya yg serba khusnudzon maka inilah cara pandang surgawi yg selalu indah, tapi apabila cara pandangnya yg suudzon maka inilah cara pandang neraka yg selalu curiga, was was, tidak tenteram dan semua dianggap salah, maka dalil yg menyatakan keutamaan bersyukur itu adalah dalil yg shahih dan bisa dibuktikan….

    ikhlas itu karena allah, dalam arti kualitas sujudnya sempurna atau nol nilai kepemilikan pribadinya, kalau rasa milik saja ndak punya maka itulah ikhlas yg sebenarnya karena memandang semua itu hanya milik Allah, harta atau duit atau bilangan berapapun kalau dibagi nol maka hasilnya menjadi tak terhingga, tak terhingga itulah hadiah bagi yg ikhlas

    sabar itu adalah salah satu kunci utama didalam beramal sholeh, menanam biji jambu lalu beramal sholeh dengan memupuk dan merawatnya maka bersabarlah didalam menunggu hasilnya, yakin bahwa biji jambu itu ya tumbuhnya pohon jambu, bukannya malah wiridan jambu, jambu, jambu dst

    amanah itu menjadi krisis didalam republik buto ini, memang sebelum menjabat disumpah dahulu yg diawali dgn kata2 “bertakwa thd tuhan….” tapi nyatanya pejabat2 korup itu harus diketak kepalanya biar sadar, amanah itu sungguh berat songgone, maka ndak boleh menjanjikan tidak2 ketika kampanye, secara kampanye itu tidak islami, wong jabatan kok diperebutkan……

    nah dari kelima point itu maka seharusnya dimulai dari diri sendiri, transformasi diri itu penting, looking inside for looking outside harus dikedepankan, iso ngrumongso bukannya malah rumongso iso, nuruting kareping rasa bukannya malah nuruting rasaning karep, mulat sarira sarirasa tunggal hangrasa wani……

    salam karaharjan

    ketoke komeng dowo2 ben ketok pinter padahal yo asline koyo buto:mrgreen:

    ======================
    :: Sip Kang penjabarannya.
    Lhq wong asline pinter ngono koq…🙂

    ======================

  9. yang-kung says:

    Kita sering merasa tidak berdaya di hadapan penderitaan.Tidak jarang pula kita protes terhadap Allah atas penderitaan yang kita alami.Kita sering bertanya”mengapa penderitaan ini menimpa saya?”
    Agar hidup tidak menjadi percuma dan sia2,hendaknya kita menghayati pengetahuan iman yg baru dng menggunakan cara hidup yg baru pula.Sehingga segalanya akan menjadi lebih baik,dng memunculkan buah-buah iman yg baru pula.
    “kita tidak bisa menghentikan gelombang,tetapi kita bisa belajar berselancar”

    salam rahayu.

    • Lambang says:

      Benar YangKung,

      Manusia ini sukanya memang menyalahkan Tuhan. Sering berkata, “ya sudahlah, memang sudah nasibnya begini, memang sudah takdirnya begini, dll…”

      Quotenya bagus YangKung, “Janganlah berusaha melawan gelombang, belajarlah berselancar…”.

      Terima kasih atas kunjungannya.

  10. Lambang says:

    Berhubung sejak tadi siang ada masalah teknis di jaringan, terpaksa off 1-2 hari. 😦
    Mudah2an besok atau lusa sudah beres.

    Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s