Bahagia Duluan atau Manembah Duluan

spirituality concept.jpg Kemarin baru ngobrol-ngobrol santai dengan rekan-rekan satu aliran. Banyak topik yang dibahas, salah satunya adalah mana yang perlu diprioritaskan dalam hidup ini, bahagia duluan atau manembah duluan. Bahagia ini dalam artian kaya atau hampir sebagian besar apa yang diharapkan dalam hidup ini sudah terpenuhi. Seperti misalnya rumah, mobil, istri yang setia dan sosoknya seperti Miyabi, anak-anak yang sholeh dan sebagainya. Kalau manembah, yang dimaksudkan adalah dalam pengertian mendekatkan diri kepada Allah, mempertinggi taqwa dan meningkatkan kearifan sosial.

Mas Karjo, yang masuk kelompok Islam liberal, mengawali dengan berkata, “Kalau menurut saya manusia itu harus kaya dulu. Harus bahagia dulu. Gimana mau manembah kalau masih mikir biaya perawatan rumah tangga, biaya sekolah anak-anak, biaya mengelola ego dan biaya entertainment. Pikiran harus tenang, baru dilanjutkan dengan meditasi dan kontemplasi. Omong kosong kalau ada yang bilang harus manembah dulu. Itu hanya kembang lambe, padahal dalam hatinya sih mengiyakan pendapat saya.”

Mas Sapto, yang dari tadi mulutnya komat-kamit, entah lagi makan permen atau lagi wiridan, lalu menyahut, “Boleh ngga saya kasih komentar sekarang?”.

“Silahkan”, sahut saya. Mas Sapto kemudian melanjutkan, “Sebetulnya yang omong kosong itu ya yang bilang bahwa hidup ini harus diisi dengan kebahagiaan dulu. Kita dilahirkan ke dunia ini kan untuk mengabdi kepada Allah. Secara kodrat manusiawi, kita ini memang harus manembah. Itu sudah takdir manusia sejak dari lahir. Kitab suci juga sudah mengatakan bahwa carilah hal-hal yang berbau surgawi, dan setelah itu hal-hal yang berbau duniawi akan muncul sebagai bonus. Kalau kita mencari kebahagiaan dulu, diragukan bahwa manusia tersebut masih ingat Tuhannya ketika sudah bahagia. Oleh karena itu, carilah hal-hal yang bertujuan untuk akhirat, dan setelah itu carilah hal-hal keduniaan tetapi jangan terlalu mencintai hal duniawi tersebut”.

Mas Karjo, yang merasa argumennya dipatahkan, langsung menjawab, “Sik… sik… referensinya apa mas Sapto bahwa secara kodrat manusia itu harus manembah? Pasti dari Al-Qur’an kan? Sayapun juga menggunakan referensi yang sama. Tapi saya menggunakan pemahaman yang berbeda. Menurut saya, terlalu naif kalau mengatakan Tuhan menciptakan manusia hanya untuk manembah. Untuk apa Tuhan menciptakan alam semesta yang sedemikian luasnya, lalu ada sekumpulan manusia yang jumlahnya hanya sebesar tetesan air di laut, dan kemudian manusia ini disuruh manembah. Apa artinya penyembahan yang sangat kecil itu. Dalam hal ini, sampeyan tampaknya mengikuti pemahaman deisme, yang menyatakan bahwa alam beserta seluruh isinya ini diciptakan oleh Tuhan, dan setelah itu Tuhan hanya mengawasi, atau sedikit campur tangan jika ada hal-hal yang ngga beres. Kalau saya, lebih mengikuti pemahaman pantheisme yang menyatakan bahwa Tuhan itu adalah semuanya dan semuanya adalah Tuhan. Berdasarkan konsep saya itu, ngga ada cerita bahwa manusia itu diciptakan hanya untuk manembah. Bahwa manusia itu juga perlu “manembah”, dalam tanda kutip, artinya manusia itu harus berbuat kebaikan dalam rangka membuat dunia ini menjadi aman, damai dan tenteram. Tentu ini yang diharapkan oleh Tuhan. Nah gimana kita bisa berbuat kebaikan kalau sehari-hari sudah disibukkan dengan urusan pribadi yang ngga ada habis-habisnya. Sedangkan sebagian besar urusan pribadi ini selalu berkaitan dengan pencarian kebahagiaan. Oleh karena itu, menurut saya kebahagian harus didulukan sebelum manembah.

Mas Sapto kemudian menjawab, “Argumen sampeyan bener mas. Tapi gimana kalau sebelum sampeyan mencapai kebahagiaan yang diidamkan, terus keburu mati? Lha kan jadinya rugi dobel-dobel, bahagia belum, manembah belum tapi udah keburu mati.”

“Hehe… bener juga logika sampeyan mas”, jawab Mas Karjo, “Tapi kalau saya ngikutin pemahaman sampeyan, saya ngga bisa maju seperti orang-orang Barat itu. Kemajuan dalam bidang sains dan teknologi maksud saya, bukan kemajuan dalam industri pornografi. Ekstrimnya, walaupun sedang menderita, yang penting manembah dulu, cari kebahagiaan belakangan saja. Saya yakin manembah dengan cara ini tidak akan bisa khusyu. Hanya sekedar syarat saja. Jadi hasil akhirnya ya sama saja mas, bahagia belum, manembah asal-asalan, dan akhirnya bisa keburu mati juga.”

Saya kemudian menengahi mereka dengan mengatakan, “Ya sudah mas Karjo dan Mas Sapto, kita gunakan pemahaman masing-masing, lalu kita jalankan saja. Nanti kita lihat mana yang hasilnya lebih baik. Percuma kita debat masalah pemahaman yang ngga ada habisnya. Wong semua itu akhirnya ya mbalik ke persepsi dan imajinasi masing-masing. Ngga ada yang benar ngga ada yang salah. Buktikan sendiri, dan akhirnya kita akan mendapatkan manfaat yang terbesar dari pengalaman.”

Sebetulnya masih banyak yang dibicarakan dalam pembahasan topik ini, tetapi untuk membatasi agar artikel tidak terlalu panjang, ya saya sudahi saja sampai sekian. Silahkan tulis komen kalau ada rekan-rekan yang ingin berbagi pemahaman.

Dikemas oleh: Lambang (LambangMH.wordpress.com)

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Filsafat, Islam, Kehidupan, Spiritual and tagged , , . Bookmark the permalink.

37 Responses to Bahagia Duluan atau Manembah Duluan

  1. Miyabin ya dicoret ya!
    Semlohoy lebih baek.
    Ntar ta’komenin.

    Salam Damai!

    ======================
    :: Oke Brat! Ditunggu…🙂
    ======================

  2. m4stono says:

    saya sih sebenarnya condong ke pendapat mas karjo….tapi permasalahannya kalo kaya duluan tapi ndak kaya2 gimana coba…malah ndak manembah2 to sibuk nyari duiiit ntar malah jadi buto ijo :mrgreen:

    • Lambang says:

      Iya Kang, memang itu pilihan yang sulit. Paling gampang ya dijalankan dua-duanya tapi memang manembahnya jadi ngga bisa seperti yang diharapkan.🙂

  3. batjoe says:

    ehmmm… apa ya????

    heheheheheee
    ngalah aja dulu deh..
    malem mas lambang????

    ======================
    :: Hehe… malem mas Batjoe.
    Lha koq ngalah. Silahkan nulis pendapat apa aja… bebas koq… ngga ada yang salah ngga ada yang bener… cuma sharing pemahaman…🙂

    ======================

  4. Hehe!
    Ahklak Revolusi mu dah setengah jalan, Joe!
    Miyabin ya uda dicor et.
    Moga semlohoy tercita apik.

    Salam Damai!

    ======================
    :: Semlohoy keknya harus dicoret juga.🙂
    ======================

    • batjoe says:

      setengah jalan????
      wow istilah bagimana lagi nih…
      kek nya miyabi dan semlohoy juga mesti di coter deh kini istilahnya kuganti “cantik” saja lebih enak dan lebih muda an tapi bukan daun muda hehehhehee

    • Lambang says:

      Mungkin maksute Brat MK, revolusi akhlak mas Batjoe udah hampir nyampe… Tanya lagi aja gimana caranya biar bisa cepet nyampe…🙂

  5. Segoro Gumelar says:

    Yang dimaksud ”manembah” itu gimana to Mas… Terus caranya manembah itu juga gimana to…

    • Lambang says:

      Seperti yang saya tulis di atas, yang dimaksudkan dengan manembah adalah dalam pengertian mendekatkan diri kepada Allah, mempertinggi taqwa dan meningkatkan kearifan sosial. Kalau Kristen ya sering ke gereja dan berdharma bakti bagi sesama. Kalau Islam ya menjalankan syariat dan hakikat dari syari’at itu. Ditambah dengan wiridan, meditasi, kontemplasi dan sejenisnya.

      Manembah itu juga termasuk didalamnya adalah mengontrol ego, menghilangkan emosi, dan memperbesar empati kepada sesama.

      Caranya ya sesuai dengan aturan main dari agama atau kepercayaannya masing-masing.

      Mudah-mudahan bisa menjawab pertanyaan mas Segoro Gumelar.🙂

      Salam.

  6. m4stono says:

    kalo manembah pada atasan dlm arti jilat atas sikut kanan kiri injak bawah itu anak buah buto terong

    kok dadi tuman promosi artikel yo….gek2 wis kelebon buto tenan aku ki…blaiiiik:mrgreen:

    ======================
    :: Hihi… ati-ati ketularan beneran sama buto ijo…🙂
    ======================

  7. m4stono says:

    wah mbok enggal2 di terusin ceritanya ntar kesalip dengan artikel buto saya lho….hihihihi….

    itu yg pantheisme kok rasa2nya agak kurang sreg dgn imajinasi ilusi dan persepsi saya:mrgreen: kalo semua adalah tuhan dan tuhan adalah semuanya bisa kacau ntar, ndak ada yg ibadah, berbuat baik percuma, berbuat jahatpun sama aja:mrgreen: …karena berbuat baik lebih susah maka berbuat jahat aja yaa kan yg berbuat jahat tuhan juga toh…jadinya ya ndak salah….hihihihi

    • Lambang says:

      Entar tak kebut lagi, biar nyusul BRG dan BT…

      Istilah pantheisme ini sering disebut orang, tapi masing-masing punya definisi yang berbeda. Ada yang menyebutkan ini adalah paham wahdah al-wujud dari Ibn Arabi. Ada yang bilang bukan. Ada juga yang mengaitkan dengan MKG. Tapi ada satu penjelasan yang lumayan pas, seperti satu sendok garam dalam segelas air. Garam tidak kelihatan karena larut dalam air. Tapi seluruh air dalam gelas itu akan terasa asin.

      Barangkali KangTono lebih cocok dengan paham panentheism yang menyatakan bahwa Tuhan jauh lebih besar dari alam, dan alam merupakan manifestasi sebagian dari Tuhan.
      Aau mungkin lebih cocok dengan paham pandeism, yang merupakan gabungan pantheism dan deism, yang menyatakan bahwa Tuhan mendahului dan menciptakan alam, kemudian alam menjadi perwujudan Tuhan, dan akhirnya alam akan digulung kembali menjadi Tuhan yang sesungguhnya.

      Saya sendiri lebih cocok dengan paham pandeism ini.🙂

    • m4stono says:

      kalo saya malah cenderung ke bukan isme yg mana saja, kecuali bocor alusisme dan butoisme halaah..:mrgreen:

      kalo manunggaling kawulo gusti itu sebenarya agak tabu utk dibahas, biasanya hanya berkisar pada pamoring kawulo gusti yaitu kesadaran ruh/ruhani…sedangkan kesadaran illahi itu diatas kesadaran ruhani….dan tabu utk dibahas dimuka umum….mungkin sekilas bisa dibaca di serat wirid hidayat jati di mas kumitir…kalo saya terus terang ndak berani……

      kalo menurut saya hanya pake perumpamaan…..dimensi satu diliputi dimensi 2, dimensi 2 diliputi dimensi 3, dimensi 3 diliputi dimensi 4 dst….hingga pada tak terhingga maka semua dimensi menjadi nol…maka itulah tuhan sejati….atau bahkan tuhan sejati itu diluar dari sistem perdimensian itungan dari nol hingga tak terhingga….

      tuhan memang yg mendahului alam semesta dan Dia pula yg mengakhirinya dgn saat yg bersamaan….kok bisa menggelar dan menggulung bersamaan? karena waktu Tuhan itu jelas beda dgn waktu manusia yg pake detik menit jam hari abad millenium dll…..kalo ada yg bilang kiamat belum terjadi itu salah besar menurut saya…sebab malaikat isrofil itu terbebas dari ruang waktu kita, dia sudah meniup terompet bisa dikatakan sejak dari dulu cuman telinga kita aja yg kopoken:mrgreen: kiamat itu dari kata qiyamuhu binafsihi…ato berdiri dgn sendirinya…mosok kalo Allah berdiri maka alam sememta hancur lebur…ini kan bertentangan dgn rumus Allah itu “rabbul alamin” pemelihara alam semesta…..halaaah kok jadi ngelantur gini yah goro2 bar nongton pilem 2012 :mrgreen:

      • Lambang says:

        Hehe… KangTon ini selalu ngga berani mengupas yang level tinggi. KRK ngga berani. Semar ngga berani. MKG ngga berani. Lha piye tho…
        Kan hukumnya wajib untuk memberi pemahaman kepada yang belum ngerti *halah*

        Oiya gini aja Kang. Buat halaman yang protected. Keknya yang gini lagi ngetren. Jadi biar disangka isinya itu ilmu tingkat tinggi yang nggegirisi, dan tingkatan ascending master. Bisa langsung ketemu Tuhan, face-to-face katanya… embuh waktu itu ada yang bilang dia bisa ketemu face-to-face. Entar passwordnya dikasih hanya untuk teman-teman secama bocor alus. Dijamin ngga bakalan rame bunuh-bunuhan.

        Jan-jane karena takut salah nulis, takut disalahgunakan atau takut kesambet tho?:mrgreen:

      • m4stono says:

        halaah….bukannya gak brani kang…situ aja yg gak nangkep pesen yg saya selipkan disetiap kata2 saya waduh sok puitis….kamsudnya adalah saya ndak tahu apa2 suwiiir kang…asli lho wong suka liat miyabi kok mbahas yg gituan, yaaa tapi karena saya ini agak jaim dikit halaah ikut2an pak beye jadi saya buat muter2 aja biar mumet hihihihi…..

        KRK dan semar itu byk penggemarnya kang, jadi saya ndak brani nyinggung lebih jauh ntar byk yg tersinggung, khusus buat KRK keknya pernah saya bahas to di wedhatama series, keknya itu cukup gamblang…sedangkan buat mbah kaki semar itu antara ada dan tidak…maka dinamakan semar atau samar2, suatu simbol dari bathok bolu isi madu, orgasme spiritual tingkat tinggi secara terus menerus dgn kata lain sudah kalenggahan Gusti secara permanen, itulah dahnyang tanah jowo sejati yaitu sebuah kesadaran illahiah, sedangkan sosoknya ya tetep aja samar2……..

        sedangkan MKG itu sebaiknya dipurba kedalam diri kita, tak cukup hanya teori, mungkin kita sudah terlalu banyak teori2 ttg ketuhanan hingga mbelenger tapi prakteknya mbuh …..boso indone mblenger opo yo kalo dibabar di sebuah forum spt blog secara gamblang malah akan disepelekan….kalo mo belajar tentang ini ya harus urut syariat tarikat hakekat lalu makrifat yg sejati, kalo gak urut dan runtut ntar keakuan sepihak lah yg kita dapat(sombong)….kalo mo belajar meguru ya kepada yg sudah meninggalkan dunia sebelum meninggal dunia yg jelas bukan blogger …sedangkan saya hanya spiritualis abal2 cuman ngakunya aja pinter tapi sebenarnya pinter tenan bo’ongan….hihihihi

        salam buto bocor alus

      • Lambang says:

        Wah sayang, jan-jane saya mau meguru sama KangTono. Mau mendalami spiritualisme Jawa dan kejawen.:mrgreen:

  8. tomy says:

    it’s not what happened to me that matter but what happened in me

    ======================
    :: Setuju mas… tapi kalau kesandung batu saya masih mringis-mringis je…🙂
    ======================

  9. tomy says:

    Manembah itu menurut saya mituhu dhateng uripipun piyambak
    Mituhu maksudnya mengusahakan yang terbaik dari hidupnya yang sudah dihidupi ini untuk juga menghidupi hidup-hidup yang lain
    Sekaligus bersyukur atas apapun yang terjadi dari segala yang telah ia jalani & lakukan dalam menghidupi hidup itu

    Maka manembah & bahagia adalah seiring sejalan bukan sesuatu yang berlainan
    Bukan manembah kalau ia tak mampu bahagia
    Bukan bahagia kalau selalu mensyaratkan segala sesuatunya

  10. Joddie says:

    sabar kang.. perbedaan itu wajar kok.. semua pendapat itu benar bagi saya.. tergantung siapa yang menggunakan dan bagaimana penerapannya..

    • batjoe says:

      hehehehe mas joe …
      mas lambang ini orang yang paling sabar lho…
      bagi saya dan yang saya rasakan usahakan mampu dulu materinya dan untuk urusan menyembah pasti akan damai juga ini menurut versi saya
      kenapa?
      karena dari kecil saya udah dijarin bagaimana beribadah dan bila masih diliputin oleh hal-hal duniawi rasanya sulit juga
      sekali lagi ini pendapat saya dan saya setuju mas tomy juga berbuat baik sesama, diri sendiri dan banyak bersyukur. berpikir positif bahwa keadaan akan lebih baik lagi…

      salam berbuat baik….

    • Lambang says:

      Iya mas Joe, ini kita lagi membahas mana yang duluan dari dua item itu untuk mencapai target akhir ‘mati dengan sukses’.

      Mas Batjoe berpendapat bahwa bahagia harus duluan, dan setelah itu manembah akan mengikutinya. Saya setuju dengan pendapat ini. Cuma yang jadi masalah adalah, gimana kalau sebelum bahagia sudah mati duluan? Kan akhirnya ‘mati ngenes’. Swargo ngga nunut, neroko katut-katut. Silahkan dilanjut mas…:mrgreen:

      • batjoe says:

        wah kalau mati entahlah wong saya aja belum tahu rasanya mati, kalau tidur klmaan sampai ngiler-ngiler iyalah hihihihihihihi

  11. m4stono says:

    kalo saya malah manembah duluan dalam arti niat ingsun itu harus bener dulu, setelah itu kerja nyari rejeki halal sambil diiringi doa/ibadah secara ikhlas

    • S™J says:

      menurut saya kalo sudah manembah otomatis bahagia. dadi wong sing begja… menurut ki mentaram.

      • batjoe says:

        ngak juga lho mas justru banyak yang menembah justru lebih galak atau malah ngak nyadar Allah itu ada…
        contohnya di jakarta tuh main pukul dan ngemplang sembarangan katanya mbela wong cilik to apalah…
        miris mas ngelihatnya pakai baju koko, kopiah haji tapi kok gitu ya…
        banyak yang ngeluh mas, apa sih jadinya arti manembah bagi mereka???
        tapi tidak semuanya begitu sih tapi tetap aja nama ISLAM yg mereka bawa…

        hehehehe ini diskusi ya mas jgn dibawah kehati ya

      • S™J says:

        itu sih bukan manembah. kalo penafsiran saya orang manembah itu akunya sudah kalah… kalo mereka itu plesetan sembahyang -> menyembah bayang-bayang..

        *ngaciiir*

      • Lambang says:

        Hehe… setuju sama mas Jenang. Yang kek gitu itu manembah ngaku-ngaku. Apalagi yang demo sambil teriak dan memuji nama Tuhan. Mungkin dalam persepsinya Tuhan itu ketua gerombolan atau ketua partai.:mrgreen:

        Ah, persepsi memang bisa sangat merusak…🙂

    • Lambang says:

      KangTon, pasti ada sebagian orang yang sependapat dengan KangTono. Tapi kalau di-survey, kemungkinan besar mereka sudah ada di batas aman (dari sisi materi). Batas aman tiap orang memang beda-beda, tapi batas aman yang umum di masyarakat adalah punya rumah, punya kendaraan, urusan sekolah anak-anak beres, perlengkapan rumah cukup, ada HP, komputer, modem dan lain-lain. Coba kalau masih tinggal di rumah kardus dan menderita sakit, boro-boro mikirin Tuhan, mikiran berobat dan makan untuk besok aja ngga beres-beres.

      Tapi ada juga beberapa orang yang sangat bahagia walaupun hidupnya serba minim dan laku sehari-hari hanya manembah. Biasanya mereka tinggal di lereng gunung atau di pedalaman. Yang ini jelas sudah ascending master dan dia bisa mati kapan saja semaunya. Seperti SSJ itu.

      • m4stono says:

        betul kang ada yg kek gitu…wong saya ya nglakoni sendiri kok…hihihihihi….intinya kalo kita selalu melihat kebawah didalam berharta dan melihat keatas didalam beramal soleh ya insya allah bahagia…..entah mo dikatain ndak kreatif sebab ndak punya cita2/ambisi karena melihat kebawaaah terus ya biarin aja wong ambisi itu mengumbar hawa nafsu dan tidak menjamin kebahagiaan to…tapi nek ra ono wong sing kereaktip lan ambisi, ketoke awake dhewe ra bakal ngeblog karo memberi pencerahan ala bocor alus….hihihihi

        SSj kuwi kamsude Syeh Siti Jenang….ati2 lho kang lambang…panjenenganipun wis kagungan ngelmu idu geni, kamsude biasa nyebul anglo nang pawon…hihihihihi…mlaaayuuuuu

  12. S™J says:

    muahahahahaha™

  13. ahmed shahi kusuma says:

    kaya dulu…..berasal dari keluarga yg non religius, akibatnya melahirkan anak2 mutan baru, yg radikal dalam beragama..
    Coba lihat, negara2 agama rasis macam israel, anak2 pengajian mahal, aktifis2 islam kampus yg anak orang 2kaya itu jsutru jadi biang kerok radikalisme…..
    sementara yg tinggal di surau2 ndeso, dengan pola pikir sederhana yg manembah dengan tulus, baik di NTT (katolik), Kudus, Gresik ,Mojokerto(NU)……….justru arif.
    Mari kita cari kearifan di kalangan orang sederhana itu , bukan di kalangan orang2 elit itu yg merasa dipilih Tuhan, Narsis!
    Phobia wahabi

    • Lambang says:

      Bagus juga itu istilahnya, melahirkan anak mutan baru yang radikal. Mungkin karena orang tua mereka terlalu kaya, jadinya lepas kontrol. Kalau saya masih berpendapatan bahwa kita harus menjadi bahagia dulu (dalam artian cukup kaya tapi tidak berlebih) agar bisa manembah dengan tenang.
      Tapi ya itu hanya persepsi saya, tidak harus sama.

      Salam.

  14. @Lambang…
    Yo wis ora opo2!
    Sahabat saya abangan kayak sampeyan, cemas dengan fenomena anaknya!
    Perempuan, juara kelas, mengurung diri dll. Ia cemas anaknya jadi mutan, padahal teman saya ini mbah2nya kebatinan, dengan keris,dll…

    ======================
    :: Kasihan juga temannya itu.
    Mungkin anaknya perlu dikirim ke pesantren modern atau ashrafnya Anand Krishna.🙂

    ======================

    • lovepassword says:

      Tipsnya sih gampang : Suruh saja tuh anak ngeblog.🙂 Alasan kan bisa dicari , misalnya sebagai ajang narcis, idealis atau makan buncis . Biarkan dia nulis apapun pendapatnya soal agama atau topik lain. Biar mengalami dikomentari biar bisa memaki dan dimaki. Dalam lima tahun kalopun anak itu kelihatan galak, setidaknya sudah berkurang mutannya. Setidaknya ada alternatif banyak jalan yang bisa dilihat di dalam kurungan masing-masing

      ======================
      :: Tips yang bagus itu mas Lop. Ailapyu…🙂
      ======================

  15. ahmed shahi kusuma says:

    @lovepassword
    Aku suka dengan kata2 sampeyan…..”Ada alternatif banyak jalan yang dilihat dalam kurungan masing2.”
    Semoga membaca alternatif2 itu bisa semakin diterima oleh generasi berikutnya…..yg semakin lama semakin ngiblat ke padang pasir (baik yg Islam maupun yg Kristen)
    la yg suka makan lumpia kayak lovepassword…..
    atau aku suka semanggi Suroboyo……..
    pak Ioanes Rakhmat mungkin suka ketoprak jakarte…
    en Lambang suka opo????..
    kan itu semua alternatif gicu ya Cak?????

    jadi semua yg bermental abad pertengahan dengan klaim kebenaran. absoluten…….bisa memfosil di musium!!!
    kan

    ======================
    :: Klaim kebenaran secara sepihak ini yang bisa membuat bumi menjadi hancur. Seandainya mereka mau sedikit berpikir. Seandainya mereka mau sedikit menekan ego.
    Tapi ya memang begitulah harmonisasi alam. Harus ada yang baik dan buruk.

    Kalau saya suka tahu campur di pojokan Gubeng Surabaya. Rasanya gimana gitu.🙂
    ======================

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s