Tentang Atheisme dan Tuhan yang Tak Harus Ada

spirituality2.JPGArtikel Kliping.
Oleh: Goenawan Mohamad

Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan-ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran. Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala. [Al-Ghazali dalam al-Maqsad al-Asnâ]

Atheisme dimulai dengan kesulitan bahasa. Dan, jika kita membaca buku Christopher Hitchens, God is Not Great, kita akan tahu: ada juga salah sangka.

Atheisme tak datang dari kecerdasan semata-mata, tapi juga dari kaki yang gemetar dan tubuh yang terdesak. Kegamangan kepada agama yang sedang tampak kini mengingatkan suasana sehabis perang agama di Eropa di beberapa dasawarsa abad ke- 16. Agama nyaris identik dengan kekerasan, kesewenang- wenangan, dan penyempitan pikiran. Dari sinilah lahir semangat Pencerahan: terbit karya Montaigne dan Descartes, buah skeptisisme yang radikal. Doktrin agama diletakkan di satu jarak.

Kini berkibarnya “revivalisme”, terkadang dalam bentuk “fundamentalisme”, dan tentu saja bercabulnya kekerasan menyebabkan reaksi yang mirip: buku Hitchens terbit di dekat The End of Faith oleh Sam Harris (tahun 2004). Juga The God Delusion karya Richard Dawkins, seorang pakar biologi. Satu kutipan oleh Dawkins: “Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.”

Namun, agaknya bukan karena waham bila dalam masa tiga dasawarsa terakhir ada “gerak” lain yang cukup berarti: mendekatnya filsafat ke iman. Dalam gerak “pascamodern” ke arah Tuhan ini diangkat kembali pendekatan fenomenologis Heidegger yang mendeskripsikan “berpikir meditatif”, atau lebih khusus lagi, “berpikir puitis”, yang lain dari cara berpikir yang melahirkan metafisika dan ilmu-ilmu.

Bersama itu, ada kritik Heidegger terhadap “tuhan menurut filsafat”, atau tuhan dalam metafisika-yang baginya harus ditinggalkan. Dengan meninggalkannya, kata Heidegger, manusia justru akan lebih dekat ke “Tuhan yang ilahi” (göttlichen Gott).

Mungkin dengan itu kita bisa memahami Derrida: ia menyebut diri atheis, tapi juga mengatakan “tetapnya Tuhan dalam hidup saya” yang “diseru dengan nama-nama lain”.

Jelas gerak “menengok kembali agama” itu bukan gerak kembali kepada asas theisme yang lama. Dalam Philosophy and the Turn to Religion, Hent de Vries mengikhtisarkan kecenderungan itu dalam sepatah kata Perancis yang mengandung dua makna: kata á Dieu ‘ke Tuhan’ atau adieu ‘selamat tinggal’, “satu gerakan ke arah Tuhan, ke arah kata atau nama Tuhan”, yang juga merupakan ucapan “selamat tinggal yang dramatis kepada tafsir yang kanonik dan dogmatik… atas pengertian ‘Tuhan’ yang itu juga”.

Syahadat Nurcholish Madjid

Tampak, tak hanya ada satu makna dalam nama “Tuhan”. Bahkan, sejak berkembang pendekatan pascastrukturalis terhadap bahasa, kita kian sadar betapa tak stabilnya makna kata.

Kata Tuhan hanyalah “penanda” (signans) yang maknanya baru kita “dapat” tapi dalam arti sesuatu yang berbeda dari, misalnya, “makhluk”. Beda ini akan terjadi terus-menerus. Sebab itu, pemaknaan “Tuhan” tak kunjung berhenti.

Penanda itu tak pernah menemukan signatum atau apa yang ditandainya. Signatum (“petanda”?) itu baru akan muncul nanti, nanti, dan nanti sebab kata Tuhan akan selamanya berkecimpung dalam hubungan dengan penanda-penanda lain.

Maka, tiap kali “Tuhan” kita sebut, sebenarnya kita tak menyebut-Nya. Saya ingat satu kalimat dari sebuah sutra: “Buddha bukanlah Buddha dan sebab itu ia Buddha”. Bagi saya, ini berarti ketika kita sadar bahwa “Buddha” atau “Tuhan” yang kita acu dalam kata itu sebenarnya tak terwakili oleh kata itu, kita pun akan sadar pula tentang Sang “Buddha” dan Sang “Tuhan” yang tak terwakili oleh kata itu.

Agaknya itulah maksud Nurcholish Madjid ketika menerjemahkan kalimat syahadat Islam dengan semangat taukhid yang mendasar: “Aku bersaksi tiada tuhan selain Tuhan sendiri”. Dengan kata lain, nama “Allah” hanyalah signans, dan tak bisa dicampuradukkan dengan signatum yang tak terjangkau. Jika dicampuradukkan, seperti yang sering terjadi, “Allah” seakan-akan sebutan satu tuhan di antara tuhan-tuhan lain-satu pengertian yang bertentangan dengan monotheisme sendiri.

Di abad ke-13, di Jerman, Meister Eckhart, seorang pengkhotbah Ordo Dominikan, berdoa dengan menyebut Gottes (tuhan) dan Gottheit (Maha Tuhan). Yang pertama kurang-lebih sama dengan “pengertian” tentang Tuhan, sebuah konsep. Yang kedua: Ia yang tak terjangkau oleh konsep. Maka, Eckhart berbisik, “aku berdoa… agar dijauhkan aku dari tuhan”. Di tahun 1329 Paus Yohannes XXII menuduhnya “sesat”. Ia diadili dan ditemukan mati sebelum vonis dijatuhkan.

Masalah bahasa itulah yang membuat akidah dan teologi jadi problematis. Teologi selamanya terbatas-bahkan mencong. Jean-Luc Marion mengatakan teologi membuat penulisnya “munafik”. Sang penulis berlagak bicara tentang hal-hal yang suci, tetapi ia niscaya tak suci. Sang penulis bicara mau tak mau melampaui sarana dan kemampuannya. Maka, kata Marion, “kita harus mendapatkan pemaafan untuk tiap risalah dalam teologi”.

“Satu”, Zizek, dan ontologi Badiou

Theisme cenderung tak mengacuhkan itu. Theisme umumnya berangkat dari asumsi bahwa dalam bahasa ada makna yang menetap karena sang signatum hadir dan terjangkau-asumsi “metafisika kehadiran”.

Ini tampak ketika kita mengatakan “Tuhan yang Maha Esa”. Bukan saja di sana ada anggapan bahwa makna “Tuhan” sudah pasti. Juga kata esa menunjuk ke sesuatu yang dapat dihitung. Jika “tuhan” dapat dihitung, Ia praktis setaraf dengan benda. Ketika kita mengatakan “Tuhan itu Satu”, kita sebenarnya telah menyekutukan-Nya.

Justru di situlah atheisme bermula. Slavoj Zizek mencoba membahas ini dengan menggunakan tesis ontologis Alain Badiou. Dalam tulisannya yang menawarkan sebuah “teologi materialis” dalam jurnal Angelaki edisi April 2007, Zizek mengatakan, “Satu” adalah pengertian yang muncul belakangan.

Zizek mengacu ke Badiou: “banyak” (yang juga berarti “berbagai-bagai”) atau multiplisitas adalah kategori ontologis yang terdasar. Multiplisitas ini bukan berasal dari “Satu” dan tak dapat diringkas jadi “Satu”. Lawan multiplisitas ini bukan “Satu”, tapi “Nol”-atau kehampaan ontologis. “Satu” muncul hanya pada tingkat “mewakili” -hanya sebuah representasi.

Monotheisme tak melihat status dan peran “Satu” itu. Tak urung, monotheisme yang menghadirkan Tuhan sebagai “Satu” memungkinkan orang mempertentangkan “Satu” dengan “Nol”. Maka, orang mudah untuk menghapus “Satu” dan memperoleh “Nol”. Lahirlah seorang atheis. Tepat kata Zizek ketika ia menyimpulkan, “atheisme dapat bisa terpikirkan hanya dalam monotheisme”.

Namun, memang tak mudah bagi kita yang dibesarkan dalam tradisi Ibrahimi untuk menerima “teologi materialis” Zizek. Umumnya tak mudah bagi para pemeluk Islam, Kristen, dan Yahudi menerima argumen ontologis Badiou yang menganggap “Satu” hanya sebuah representasi meskipun dengan demikian mereka telah memperlakukan Tuhan sama dan sebangun dengan representan-Nya-satu hal yang sebenarnya bertentangan dengan dasar taukhid Surah al-Ikhlas dalam Al Quran, yang menegaskan “tak suatu apa pun yang menyamai-Nya”.

Kaum monotheis memang berada dalam posisi yang kontradiktif. Apalagi, bagi mereka, Tuhan yang Satu itu juga Tuhan yang personal.

Syahdan, Emmanuel Levinas mengkritik keras Heidegger. Kita tahu, acap kali Heidegger berbicara dengan khidmat tentang Sein (Ada). Sein (Ada) adalah yang menyebabkan hal-hal-yang-ada muncul ber-ada. Bagi Levinas, dengan gambaran itu Sein (Ada) seakan-akan mendahului dan di atas segala hal yang ada (existents). Artinya, dalam ontologi Heidegger, Ada menguasai semuanya. Bagaikan “dominasi imperialis”.

Tampaknya Levinas menganggap Heidegger-pemikir Jerman yang pernah jadi pendukung Nazi itu-berbicara tentang Ada sebagai semacam tuhan yang impersonal. Juga ketika Heidegger menyebut Yang Suci (das Heilige).

Menurut Levinas, ini menunjukkan kecenderungan “paganisme”. Tanpa mendasarkan Ada dan Yang Suci dalam hubungan interpersonal, Heidegger telah mendekatkan diri bukan ke “bentuk agama yang lebih tinggi, melainkan ke bentuk yang selamanya primitif”.

Levinas-yang filsafatnya diwarnai iman Yahudi-tampaknya hanya memahami agama dengan paradigma monotheisme Ibrahimi. Tentu saja itu tak memadai. Bukan saja Levinas salah memahami pengertian Ada dalam pemikiran Heidegger. Ia juga tak konsisten dengan filsafatnya sendiri, yang menerima Yang Lain sebagaimana Yang Lain, tanpa memasukkannya ke dalam kategori yang siap.

Padahal, dengan memakai iman Ibrahimi sebagai model, Levinas meletakkan keyakinan lain-Buddhisme dan Taoisme misalnya-dalam kotak. Apabila baginya agama lain itu “primitif”, itu karena tak sesuai dengan standar Kristen dan Yahudi. Ia menyimpulkan: di ujung “agama primitif” ini tak ada yang “menyiapkan munculnya sesosok tuhan”.

Levinas tak melihat, justru dengan tak adanya “sesosok tuhan” dalam “agama primitif”, atheisme jadi tak relevan. Dengan kata lain, persoalannya terletak pada theisme sendiri. Saya teringat Paul Tillich.

Teolog Kristen itu menganggap theisme mereduksi hubungan manusia dan Tuhannya ke tingkat hubungan antara dua person, yang satu bersifat “ilahi”. Dari reduksi inilah lahir atheisme sebagai antitesis. Maka, ikhtiar Tillich ialah menggapai “Tuhan-di-atas-Tuhan-dalam- theisme”.

Tuhan “Tak Harus Ada”

Kini suara Tillich (meninggal di tahun 1965) sudah jarang didengar. Setidaknya bagi saya. Tapi, niatnya menggapai “Tuhan-di-atas-Tuhan-dalam-theisme” dan ucapannya bahwa Tuhan “tidak eksist”-sebab Ia melampaui “esensi serta eksistensi”-saya temukan reinkarnasinya dalam pemikiran Marion.

Marion, seperti Heidegger, menafikan tuhan kaum atheis yang sejak Thomas Aquinas (dan secara tak langsung juga sejak Ibnu Rushd, dengan dalil al-inaya dan dalil al-ikhtira’-nya) dibenarkan “ada”-nya dengan argumen metafisika. Baginya, Tuhan yang dianggap sebagai causa sui, sebab yang tak bersebab, adalah Tuhan yang direduksi jadi berhala: Ia hanya jadi titik terakhir penalaran tentang “ada”. Ia hanya pemberi alasan (dan jaminan) bagi adanya hal ihwal, jadi ultima ratio untuk melengkapi argumen. Tapi, di situlah metafisika tak memadai.

Sebab Tuhan bukanlah hasil keinginan dan konklusi diskursus kita. Tuhan benar-benar tak harus ada (n’a justement pas á être). Ia mengatasi Ada, tak termasuk Ada. Ia mampu tanpa Ada. Bagi Marion, Tuhanlah yang datang dengan kemerdekaannya ke kita karena Kasih-Nya yang berlimpah, sebagai karunia dalam wahyu.

Di momen yang dikaruniakan itu kita bersua dengan manifestasi les phénomènes saturés, ‘fenomena yang dilimpah-turahi’. Di hadapan fenomena dalam surplus yang melebihi intensiku itu, aku mustahil menangkap dan memahami obyek-kalaupun itu masih bisa disebut “obyek”. Bahkan, aku dibentuk olehnya.

“Fenomena yang dilimpah-turahi” itu juga kita alami dalam pengalaman estetik ketika melihat lukisan Matisse, misalnya: sebuah pengalaman yang tak dapat diringkas jadi konsep. Apalagi pengalaman dengan yang ilahi, dalam wahyu: hanya dengan aikon kita bisa menjangkau-Nya.

Aikon, kata Marion, berbeda dengan berhala. Berhala adalah pantulan pandangan kita sendiri, terbentuk oleh arahan intensi kita. Sebaliknya pada aikon: intensi kita tak berdaya. Yang kasatmata dilimpah-turahi oleh yang tak-kasatmata, dan aikon mengarahkan pandanganku ke sesuatu di atas sana, yang lebih tinggi dari aikon itu sendiri. “Aikon” yang paling dahsyat adalah Kristus. Marion mengutip Paulus: Kristuslah “aikon dari Tuhan yang tak terlihat”.

Di sini Marion bisa sangat memesona, tetapi ia tak bebas dari kritik. Dengan memakai wahyu sebagai paradigma “fenomena yang dilimpah-turahi”, Marion-seperti Levinas-berbicara tentang “agama” dengan kacamata Ibrahimi. Bagaimana ia akan menerima Buddhisme, yang tak tergetar oleh wahyu dari “atas”, melainkan pencerahan dari dalam?

Bagi Marion, berhala terjadi hanya ketika konsep mereduksikan Tuhan sebagai “kehadiran”. Tapi, mungkinkah teologi yang ditawarkannya sepenuhnya bebas dari tendensi pemberhalaan?

Dengan pandangan khas Katolik, ia bicara tentang aikon. Tapi, bisa saja aikon itu-juga Tuhan-di-atas-Ada yang diperkenalkannya kepada kita, sebagaimana Gottheid yang hendak digayuh Eckhart-merosot jadi berhala, selama nama itu, kata itu, dibebani residu sejarah theisme yang, jika dipandang dari perspektif Buddhisme Zen, tetap berangkat dari Tuhan yang personal, bukan dari getar Ketiadaan.

Di sinilah kita butuh Derrida. Marion mengira “Tuhan-Tanpa-Ada” yang diimbaunya bisa bebas dari sejarah dan bahasa, tapi dengan Derrida kita akan ingat: kita selamanya hidup dengan bahasa yang kita warisi, dari tafsir ke tafsir. “Tuhan” tak punya makna yang hadir.

Maka Yudaisme, misalnya, cenderung tak menyebut Nama-Nya; dalam nama itu Tuhan selalu luput. “Dieu déja se contredit“, kata Derrida: belum-belum Tuhan sudah mengontradiksi diri sendiri.

Maka, lebih baik kita hidup dengan keterbatasan karena bahasa. Dengan kata lain, hidup dengan janji: kelak ada Makna Terang yang akan datang-betapapun mustahil. Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman kepada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan-ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran.

Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala.

—===oooOooo===—

Oleh: Goenawan Mohamad, penyair dan pendiri Majalah Tempo
Sumber: Kompas, Sabtu 06 Oktober 2007
Gambar: dari sini
Google Similarity Search Result pada tgl 09-Dec-09 : 57 articles.

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Clipping, Filsafat, Pencerahan, Renungan, Spiritual and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

29 Responses to Tentang Atheisme dan Tuhan yang Tak Harus Ada

  1. m4stono says:

    wah kirain mo bikin artikel sendiri kelanjutan yg kemaren duh enaknya klipping dari yg ahli, kalo ada yg nanya macem2 ntar jawabnya tinggal…tanya sama mas goen aja:mrgreen:

    saya jadi teringat seorang komengtator mas suprayitno yg biasa “bergentayangan” di blognya mas sabda ato mas tommy….ya begitulah beliau berpendapat….kalau bagi saya pribadi sendiri tuhan itu tan kena kinaya ngapa….mbok arep dikapak kapakke tetep ora iso…yg direka reka itu hanya tuhan ilusi bahkan yg disembah juga didalam islam sudah jelas disebutkan “Aku itu menurut prasangka hambaKu” tapi sayang rumus ini kalah pamor dan jarang dibahas, kalah dgn rajam, potong tangan, jilbab, penerapan syariat islam yg cenderung ke kulit….sebenarnya pencapaian dari makrifat/MKG itu utk mendekati tuhan yg sejatinya, berangkat dari tuhan angggapan utk mencapai/mengenal kesejatian tuhan…….saya kutip pendapat prof Damarjati Supadjar “Ora perlu kabotan tresna marang daden-daden, tresnaa marang sing dadi. Nanging aja gething marang daden-daden, sebab ing kono ana sing dadi”

    ntar saya bikin artikel tandingan ala tuhannya buto….halaah :mrgreen:

    • tomy says:

      aku juga lagi cari bahan buat tulisan terbaru nih

      Tuhan memang ada dalam subyektivitas *prasangka* umatNya

      namun aku juga sarujuk dengan pantheisme “kemanapun aku berpaling aku melihat wajah Allah”
      Tuhan yang mengatasi oposisi biner baik & buruk, benar & salah
      & tetap harus ada kesepakatan bahwa manusia harus mengusahakan yang terbaik bagi dunia
      maka agama diadakan, agama yang sejati ageming aji, pakaian hidup untuk berbudi pekerti luhur

    • Lambang says:

      Hehe.. sebetulnya saya ini pengagum orang-orang pinter seperti mas Goen, Cak Noer, Cak Nun, Rendra, Kang Jalal dan lain-lain yang selalu menggunakan bahasa filsafat tingkat tinggi dalam mengurai wacana ketuhanan. Pinginnya bisa nulis seperti mereka, tapi koq ngga bisa-bisa. Yo wis lah, sementara kliping dulu.

      Tujuan yang lain, artikel ini saya pakai untuk mendukung teori dari wong bocor alus yang namanya Lambang itu, yang mengatakan bahwa “semua masalah keimanan dan ketuhanan itu hanyalah ilusi, imajinasi dan persepsi dari setiap manusia, dan setiap manusia memang wajar jika memiliki sudut pandang yang berbeda-beda”.

      Sebetulnya yang bikin rame dunia debat agama itu menurut saya hanyalah masalah ego yang berlebih. Si A bilang gini, si B membantah. Berdasarkan egonya, si A merasa lebih pinter dan ngerti, dan ngga mau ngalah. Si B juga. Akhirnya jadilah rame seperti contoh yang ada di tempat mas Sabda itu. Masing-masing memaksakan pendapatnya agar diterima oleh lawan debatnya. Terus siapa yang salah? Ngga ada yang salah. Menungso memang harus begitu. Kalau ngga punya ego, sudah bukan menungso lagi dan ngga butuh apresiasi.:mrgreen:

      Kenapa ya orang-orang pinter yang suka debat itu ngga membuat artikel yang hebat, sarat dengan falsafah tingkat tinggi, dan dipublikasikan di media cetak atau website/blog?🙄

  2. tomy says:

    kebiajaksanaan dalam Tao :
    apa yang tak mampu dibahasakan itulah Tuhan

    maka yang coba diringkus dalam penanda, yang akhirnya menjadi berhala konsep bukanlah Tuhan Sejati 😀

    • Lambang says:

      Ada juga yang berpendapat bahwa menyembah Tuhan itu adalah menyembah angan-angan (seperti yang disampaikan oleh SSJ), dan sifat dasar manusia memang begitu, mencari sesuatu sebagai pegangan manakala dia lepas kendali.

      Tak pikir-pikir, ada benarnya pendapat seperti itu🙂

    • S™J says:

      “Ora perlu kabotan tresna marang daden-daden, tresnaa marang sing dadi. Nanging aja gething marang daden-daden, sebab ing kono ana sing dadi”

      aku iki mung daden-daden… sing dadi iku ingsun… ya wis tak manembah marang ingsun… amarga ingsun sejatine… *sensor*:mrgreen:

  3. tomy says:

    ORA ANA PANGERAN AMUNG INGSUN SEJATINING DZAT KANG MAHA SUCI

    Memang dunia ini dibentuk dalam pikiran manusia, dunia adalah subyektivitas manusia “Dzat Kang Tanpa Kumpulan Kahanane Ora Ana”
    Kumpulnya Dzat itulah yang mampu memaknai hidupnya sendiri, manusia si makhluk subyek. Yang dikisahkan secara imajinatif dalam Serat Dewa Ruci, manusia yang memaknai Hidupnya juga Tuhannya
    Namun seperti ungkapan dalam huruf capital diatas, eksistensi mendahului esensi, ADA yang mendahului ada
    Yang tak mampu dibahasakan, biarlah hidup dalam symbol, dalam penanda yang selalu melayang-layang, dan pada saatnya Makna menyingkap Diri sebagai bukan yang sudah jadi, namun tetap selalu dalam penundaanNya
    & manusia akan dimampukan dalam kemanusiaanya

    • Lambang says:

      Kalau yang ini saya mulai ngga mudeng, apalagi yang ini: “ADA yang mendahului ada”.
      Tapi ben ketok pinter, lan ben ketok nek sik nduwe ego, yo wis pura-pura wae ngerti… hihi…🙂

      Mas Tomy nganggo boso awang-awang sih, dadi aku ra mudeng babar blazz…:mrgreen:

      • tomy says:

        ADA iku Sein
        ada iku Dasein/manusia
        iki ya olehe maca bukune Heidegger wae

        kalau dalam bahasa mudahnya seperti yang ditulis dalam Wisikan Ananing Dzat, yang ADA itu adalah Dzat Yang Maha Suci *eksistensi*
        yang berkumpul sempurna menjadi manusia atau ada, menciptakan kesadaran
        lalu ada pemaknaan *esensi* :mrgreen:

        maka timbul logos, penanda, kata, bahasa, & Lambang 😀

        ======================
        :: Wah, saya belum sempat baca Heidegger itu…🙂
        ======================

  4. G3mbel says:

    Bersama itu, ada kritik Heidegger terhadap “tuhan menurut filsafat”, atau tuhan dalam metafisika-yang baginya harus ditinggalkan. Dengan meninggalkannya, kata Heidegger, manusia justru akan lebih dekat ke “Tuhan yang ilahi” (göttlichen Gott).

    .
    yap, realitas itu hanya ada di wilayah “rasa” sementara nalar dan logika itu hanya mampu mengungkapkan bayang2nya saja😉
    .

    “selamat tinggal yang dramatis kepada tafsir yang kanonik dan dogmatik… atas pengertian ‘Tuhan’ yang itu juga”.

    .
    yap,dengan “membunuh tuhan” justru akan lebih memudahkan menyaksikan semesta manifestasi Tuhan. perlu di ingat disini bahwa kita hanya mampu menyaksikan manifestasi-Nya saja itu artinya bukan “Dia” yang asli.
    .
    demi untuk kemaslahatan dan kedamaian umat manusia alangkah lebih baiknya jika segala konsepsi tentang tuhan itu dimusnahkan saja sebab satu kata tentang “tuhan” itu sangat rentan disalahgunakan dan sering kali ya sih salah ditafsirkan dan dimaknai😕
    .

    Kata Tuhan hanyalah “penanda” (signans) yang maknanya baru kita “dapat” tapi dalam arti sesuatu yang berbeda dari, misalnya, “makhluk”. Beda ini akan terjadi terus-menerus. Sebab itu, pemaknaan “Tuhan” tak kunjung berhenti.

    .
    bukan hanya untuk kata “Tuhan” saja sejatinya semesta kata itu hanyalah sebatas penanda sedangkan makna selalu ada dibaliknya ( still always hiden ).
    .

    sedikit2 dulu aja ya mas soalnya artikel ini karya mas Goen jadi ya begitulah… bahasanya bahasa kelas tinggi dan kelas berat sulit bagi saya yang katro bin ndeso untuk mencernanya. 😦
    .
    .
    .
    .

    * mas lambang ini baik tenan pagi2 dah ngajak olahraga *

    • Lambang says:

      Udah balik dari padang pasir tho mas.

      Quote yang ini, “demi untuk kemaslahatan dan kedamaian umat manusia alangkah lebih baiknya jika segala konsepsi tentang tuhan itu dimusnahkan”, sepertinya itu perlu diusulkan untuk menjadi salah satu materi dalam sidang tahunan PBB… hehe…😆

      Pagi-pagi memang enaknya olahraga, biar sehat dan kuat.🙂

  5. sikapsamin says:

    Membaca artikelnya mas Lambang ini, ada dua cerita yang muncul dlm ingatan :
    Pertama cerita simbah saat saya kecil, sbg pengantar tidur ” ada empat orang buta meraba gajah. Sebelumnya mereka berempat rukun saling menolong, saling merasakan kekurangan/kelemahan/keterbatasan masing2. Tapi setelah meraba-gajah, mereka berubah saling bertengkar, MASING2 MERASA PALING TAHU TENTANG GAJAH.
    Kedua sebuah buku karya Idries Syah, dg judul agak berbeda ” Meraba Gajah Dalam Gelap”, namun esensi isinya sama…

    Tapi itu menurut anak sekarang Cerita Kuno/Usang katanya…
    Jadi konon mas M4stono katanya mau bikin cerita baru dg judul “MERABA KUMBOKARNO DALAM GELAP”…pasti lebih seru hihihi…

    Salam…GELAP

  6. m4stono says:

    kamsudnya mas tommy ADA yg mendahului ada itu sang maha ADA, causa prima melu2 ben ketok pinter karo kemaki

    saya waktu melihat tulisan mas lambang ttg “semua ilusi persepsi dan imajinasi” itu agak terganggu juga jiwa saya, lha gimana lagi sedang giat2nya menata hati critane ben ketok koyo wali:mrgreen: jebul kabeh gur ilusi….hihihihihih…..

    tapi lama2 ya ada benarnya juga, terutama kalo melihat debat2 di blognya mas sabdo itu, disana mending saya nongton aja, lagi males ikut2an aja….tapi ampuh tenan kata2mu lho kang….coba situ ke pengajiannya abu basirun, si dia lagi semangat2nya mengobarkan jihad jahat terus situ bilang “pak ustadz, semua itu hanya ilusi, persepsi dan imajinasi situ, lha semua kan hanya katanya nabi to, situ belum pernah masuk surga aja sok njanjiin surga, emang surgane mbahmu po piye, wong situ aja nyembah tuhan anggepan situ sendiri to ya itulah tuhan ilusi dan persepsi situ bukan tuhan yg sebenarnya” ……………………dijamin dibalang klewang karo diunekke “HALAL DARAHNYA MAS *******…” hihihihihihihi mlaaaayuuuuuuuuu ojo2 getihe kumbokarno yo halal :mrgreen:

    • Lambang says:

      Kemarin lihat-lihat kartunnya mas Aji, ternyata ada yang sama dengan pikiran saya.

      Jaman dulu bapak saya punya buku “Di bawah Bendera Revolusi” dan buku “Karl Marx” tapi terus buru-buru dibuang. Katanya bisa ditangkep kalau punya dua buku itu. Nah sekarang pasang spanduk “Selamat Datang Pahlawan Islam, Jihad Still Continues” koq ngga ditangkep tapi malah jadi Hot News di berbagai mass media.

      Apa pemerintahan sekarang sudah lebih komunis dari jaman dulu? Ataukah pemerintah taku di-cap kafir karena memberangus mereka? Ajarannya kan ngga sesat. Yang sesat ya pesantren dan pimpinannya yang melahirkan teroris itu.

      Sikat saja mereka pakai Pepsodent sekalian ngomong emang surgane mbahmu po piye koq mbunuh orang bisa masuk surga:mrgreen:

  7. sikapsamin says:

    Makanya…supaya gak melok2 gegeran, dengan tetap pada jalur leluhur “sedulur-4(buta), limo pancer”, pinginnya saya jadi pancernya dan “TIDAK IKUT2AN MERABA GAJAH”…..
    Tapi ambil posisi seperti itupun…masih beresiko distigma ATHEIST…HALLAL-DARAHNYA…

    Soal ungkapannya mas Tomy…”eksistensi mendahului esensi” melalui susunan huruf “AKU mendahului aku”…menurut saya ya itulah gaya mas Tomy intuitif/mistis…
    Sebenarnya permainan huruf saja, tapi implikasi bisa mempermainkan illusi/imaginasi seseorang yang sdh kadung terbentuk.
    Memang perlu ada kesepakatan diantara kita, misalnya AKU adalah eksistensi sementara ‘aku’ adalah esensi…

    Korelasinya dengan cerita simbah diatas, mungkin begini : “Pokoke AKU yang paling tahu soal gajah (aku)”…
    Bagaimana sudah jelas anak2…atau ada pertanyaan, siapa mau bertanya..? (hihihi… mblayuuuuu…ndak dibalang sepatu)

    Salam…AKU

    • Lambang says:

      Wuah, pak guru lagi membabar kisah Gajah Abuh ni…

      Mau nanya pak guru, seandainya orang-orang buta itu bisa melihat, dan mereka kemudian membuat deskripsi tentang gajah itu, jangan-jangan itu juga masih disebut ilusi dan persepsi karena sebenernya gajah itu kan ngga ada. Dia meng-ada kerena bisa diindera, sedangkan kalau sudah tidak bisa di-indera lagi (misalnya ditinggal pergi jauh), dia kan hanya ada dalam angan-angan🙂 *halah*

      Jadi yang sudah ada-pun, bisa menjadi tidak ada kalau sudah tidak bisa di-indera lagi🙂 *ben soyo mumet*
      Atau gampangnya, ada itu hanya sesaat dan setelah itu menjadi imajinasi kembali. *jan-jane definisi “ada” kuwi opo tho*

      Monggo pak guru, ojo mblayu sik, silahkan dibabar ben podo mumete…:mrgreen:

  8. G3mbel says:

    Mungkin dengan itu kita bisa memahami Derrida: ia menyebut diri atheis, tapi juga mengatakan “tetapnya Tuhan dalam hidup saya” yang “diseru dengan nama-nama lain”.

    .
    wekekeke…😆 mas Derida itu terkenal dengan teori Dekontruksi nya gaya khas orang poststruktualis :mrgreen: ya.. hampir mirip dengan konsep revaluation for all value nya engkong Nietzche ya ujung2nya mentok di konsep eternal recurrence . kata si engkong sih begini : all other modes of thought will ultimately perish. It is the great cultivating idea: the races that cannot bear it stand condemned; those who find it the greatest benefit are chosen to rule. ya semua nya bermuara lagi ke “power”, dari power menuju ke power😀
    .
    intinya sih untuk lebih memahami sesuatu itu harus dibongkar sampai ke akar2nya sampe di temukan sumber dari semesta sumber.
    .

    Maka, Eckhart berbisik, “aku berdoa… agar dijauhkan aku dari tuhan”.

    .
    do’a yang sangat keren sejauh yang saya tau:mrgreen:
    .

    ntar deh dilanjut lagi soalnya masih blom anget 😆

    ======================
    :: Oiya, keknya perlu dijemur dulu 2 jam biar anget…🙂
    ======================

  9. sikapsamin says:

    Hihihi…mas Lambang mumet tenan kayaknya,

    …”seandainya” orang buta itu bisa melihat…dst
    ==================

    “seandainya” itu munculnya darimana, masih ada hubungan keluarga dg “illusi” atau tidak?…(hihihi…ditanya malah gantian tanya, iki tandane wus berasep).

    Mengenai ‘ada’ iku definisine opo, menurut ngelmu perasepan dan permumetan: “ada ialah bagian tak terpisahkan dari tidak-ada”

    Lha wong saya sudah “TIDAK IKUT2AN MERABA GAJAH”.., malah nggak boleh mblayu.

    Ada lagi mas, obat mumet(mangsudnya nambahi) salah satu contoh saja: Pak Indera sudah mulai menurun peng-indera-annya”.

    Maaf mas, aku tambah berasep…

    • Lambang says:

      Iya mas, memang sekarang lagi latihan membuat kepala berasep. Siapa tahu kapan-kapan bisa tampil di TV nyaingin Limbad…:mrgreen:

      • batjoe says:

        nyangin limbad?????

        ======================
        :: Iyo, Limbad, di acara Magic itu…🙂
        ======================

  10. m4stono says:

    ada kuwi definisine “pokoke ujug2 ono” halaah lha ujug2 ki opo definisine…hihihihihihi:mrgreen:

    kalo ada itu tanpa lawan, ada yg bilang lawan ada itu “tidak ada” tapi ada, ini membatalkan teori ada itu sendiri….bagaimana bisa ngomong “tidak ada” kalau keberadaannya aja tidak ada….hihihihi ben tambah mumet…

    contoh : seorang maling berkata “gua ambil nih sendal mumpung nggak ada orang” maka maling itu telah “batal” menjadi manusia sebab dia sendiri bukan manusia menurut perkataanya dia sendiri :mrgreen: mangan cerebropit campur kratingdeng ben tambah ngelu……hihihihi

    • Lambang says:

      Kita bisa mengatakan ada, kalau bisa membuktikan bagaimana tidak adanya. Atau sebaliknya, mengatakan tidak ada karena bisa membuktikan kalau ada itu seperti apa, padahal hal yang akan dibuktikan ada itu memang masih belum ada.
      Jadi, pokoke sak karepe imajinasi masing-masing wae, paling aman dan ngga ada resiko kesamber golok. Ngombe wedang yok…:mrgreen:

  11. zal says:

    Mas Lambang ternyata yang atheis itu Tuhan… hihihihi… (daripada ngupas panjang ketok bodhone..)

    • Lambang says:

      Weh mas… tumben sudah melayang-layang lagi…
      Keknya sih emang gitu, yang atheis itu Tuhan, wong Dia satu-satunya yang ada. *jarene simbah yo ngono*

  12. G3mbel says:

    ^
    .
    sebenar2nya Tuhan mustahil bertuhan, bukan begitu… ?:mrgreen:
    .

    mas Lambang mau numpang tanya kalau si Tuhan itu nyamar berpakaian ( kulit, darah, daging, dan tulang ) bisa mustahil marah gak…? 🙄😆

    • Lambang says:

      Kalau Tuhan itu menyamar menjadi manusia, keknya ngga mungkin. Konsepsi Tuhan meliputi semua dan semua juga bagian dari Tuhan menjadi tidak berlaku. Yang mungkin hanya bagian kecil (sak ireng2 kuku) Tuhan menyamar menjadi manusia. Tapi si penyamar itu tetep bukan Dia yang sebenarnya, itu hanya proyeksi yang masuk dalam imajinasi dan persepi kita. *halah*:mrgreen:

  13. G3mbel says:

    Tuhan dengan Tuhan kan beda mas :mrgreen:
    .
    begitupun wujud dan maujud atau ada dan mengada . begitu pula wujud dan maujud atau ada dan mengada. .
    .
    * yg di bold ( terkait dengan alam metafisis dan supra metafisis ) dan kata yg garis miring terkait dengan hal fisis saja *
    .
    sebagai pemisalan alam fisis materi ( maujud ) adalah perwujudan energi ( wujud ). sebab materi terkena hukum ada dan tiada. materi bisa mengada sekaligus sirna samasekali . Ketika materi mutlak sirna bukan berarti tidak eksis tapi materi berubah ke wujud mutlaknya yaitu energi. sebagai mana dalam kesepakatan para ulama sains, energi itu kekal ( energi tidak bisa diciptakan sekaligus tidak bisa dimusnahkan )
    .
    yang maujud dan wujud sekali lagi bisa terkena hukum ada dan tiada.
    .
    manusia mustahil mencapai wujud/Tuhan sebab sebenar2nya Tuhan adalah eksistensi maha absolute dalam arti berada jauh dari pengetahuan manusia. jadi manusia paling maksimal hanya mampu mencapai maujud yaitu manifestasi yang pertama dari Tuhan bisa jadi hanya orang-orang seperti Muhammad, Yesus, Budha , Confusius , Zoroaster dan sekelasnyalah yg mungkin bisa sampai pada level ini.
    .
    menurut paham pantheisme materi adalah perwujudan Tuhan yang paling rendah dari sekian tingkat perwujudan yg tak bisa di ketahui dengan pasti.
    .
    apakah manusia bisa marah…?
    .
    selagi manusia masih berpakian dari unsur materi maka itu sangat mungkin sebab marah adalah salah satu sifat yang diwariskan dari alam materi sebagai bentuk lain dari hukum aksi reaksi . marah itu adalah bentuk penolakan sebab lawannya adalah penerimaan .
    .
    tapi tidak menutup kemungkinan bahwa manusia itu mustahil bisa marah jika dia sudah terbebas dari nafsu amarah yang berarti bisa dikatakan bahwa orang itu orang suci dari orang suci yang eksistensinya lebih dekat dengan yang maha suci . ya semacam Yesus gitulaahh mungkin 🙂
    .
    marah itu adalah pertanda kegelapan yg identik dengan ketidaksadaran . orang yang sudah mengalami pencerahan yg sudah mendekati sempurna sepertinya sudah terbebas dari nafsu amarah sehingga mustahil bisa marah. begitu mungkin mas.:mrgreen:

  14. G3mbel says:

    Tuhan yg ini aja bisa terbebas dari nafsu amarah kenapa kita mencap Tuhan yang ini sebagai yg doyan murka apalagi doyan menyiksa, ini lebih parah lagi.
    .
    marah/murka itu kan dari hawa nafsu yang kotor masa Tuhan memiliki sifat paradok maha suci sekaligus maha kotor .
    .
    jadi murka Tuhan itu murka tuhan yg mana dulu ini teh …?😆 setahu saya wong Yesus atau Buddha aja gak pernah murka masa kita mensifati Tuhan doyan murka.
    .
    aya aya wae jelema teh keblingerna makanya kata saya juga mending segala konsepsi tentang tuhan itu kita musnahkan saja sebab bisa sangat menyesatkan :mrgreen:😆

  15. Lambang says:

    Maaf mas Gen, saya agak berbeda pendapat.

    Manifestasi Tuhan yang pertama adalah sebutan Tuhan itu sendiri. Tuhan yang kita kenal. Tuhan yang diwajibkan untuk disembah. Tuhan yang sebenarnya ya tetap tidak ternalar dan tidak dapat dipersepsikan.

    Kalau para nabi atau orang suci itu, menurut saya mereka bukan manifestasi Tuhan dan mereka tidak ditunjuk khusus oleh Tuhan, tetapi mereka bisa seolah mendapatkan mandat dari Tuhan karena dari hasil kontemplasi mereka yang luar biasa (termasuk juga faktor genom yang menunjang), mereka mampu menjangkau level langit yang sudah lengkap berisi firman dan enlightenment. Akhirnya mereka cukup mencatat apa yang ada di sana, mengajarkan kepada pengikutnya, dan seolah telah menciptakan suatu cara baru untuk manembah kepada Tuhan.

    Beberapa orang sudah mencoba menggapai langit itu, seperti Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dan Lia Aminuddin. Tetapi karena level langit yang mereka capai kurang tinggi, akhirnya mereka tidak mampu menyaingi pesona Nabi Muhammad dan Nabi Isa. Nanti suatu saat pasti ada orang yang mampu mencapai level yang lebih tinggi dari kedua Nabi tersebut, dan nama orang tersebut sudah diprediksi saat ini, yaitu Imam Mahdi (atau nama lain yang sejenis).

    Konsepsi tentang Tuhan tidak mungkin bisa dihilangkan dan tetap akan ada di hati manusia, karena pada dasarnya masusia selalu mencari pegangan manakala dia sedang kebingungan dalam pencarian, atau juga sedang hilang kendali dan hilang akal.

    Yah, itu hanya sekedar pendapat saya yang cubluk ini.:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s