Akar Gerakan Islam Radikal

radicalism.jpg Akar Gerakan Islam Radikal
Oleh: Said Aqil Siradj, Ketua PBNU

RADIKALISME telah menjadi gejala umum di dunia Islam, termasuk di Indonesia. Insiden bom di JW Marriott dan Riz-Carlton 17 Juli lalu membuktikan masih bercokolnya radikalisme atas nama agama.

Islam radikal, tampaknya, terus mencoba melawan. Perlawanan itu muncul dalam bentuk melawan kembali kelompok yang mengancam keberadaan mereka atau identitas yang menjadi taruhan hidup. Mereka berjuang untuk menegakkan cita-cita yang mencakup persoalan hidup secara umum, seperti keluarga atau institusi sosial lain. Mereka berjuang dengan kerangka nilai atau identitas tertentu yang diambil dari warisan masa lalu maupun konstruksi baru. Dan, berjuang melawan musuh-musuh tertentu yang muncul dalam bentuk komunitas atau tata sosial keagamaan yang dipandang menyimpang. Mereka yakin bahwa perjuangan mereka diridai Tuhan.

Pengaruh keagamaan dan politik dari Timur Tengah ke Indonesia bisa menjadi pemicu. Sejak Islam masuk ke Nusantara, hubungan masyarakat Indonesia dengan Timur Tengah sangat kental. Transmisi itu dimungkinkan karena posisi Timur Tengah sebagai sentrum yang selalu menjadi rujukan umat Islam, baik untuk berhaji, ziarah, maupun belajar. Dari aktivitas tersebut, lalu muncul berbagai bentuk jaringan, baik jaringan keulamaan, jaringan gerakan dakwah, maupun jaringan gerakan politik.

Kini, gerakan radikal Islam telah terfragmentasi dalam beragam organisasi. Namun, ada sejumlah benang merah yang bisa ditarik dari berbagai kelompok Islam radikal. Yaitu, pemahaman yang sangat literal terhadap ajaran Islam, keyakinan yang sangat kuat bahwa Islam adalah satu-satunya solusi untuk menyelesaikan berbagai krisis di negeri ini, perjuangan yang tak kenal lelah menegakkan syariat Islam, resistensi terhadap kelompok yang berbeda pemahaman dan keyakinan, serta penolakan dan kebencian yang nyaris tanpa cadangan terhadap segala sesuatu yang berbau Barat.

Duka Sejarah

Jauh sebelum opini dunia tentang “terorisme Islam” muncul ke permukaan, kita pernah mendengar sebutan “fundamentalisme Islam”. Dalam bahasa Arab, “fundamentalisme” atau al-ushuliyyah berarti “mendasar atau disiplin dalam menjalankan kewajiban agama”.

“Muslim fundamental” adalah seorang muslim yang sangat disiplin dalam menjalankan ajaran Islam, seperti salat lima waktu secara berjamaah atau menghindari sesuatu yang tidak jelas kehalalannya. Dalam konteks itu, umat Islam diserukan untuk melaksanakan ajaran agamanya secara fundamental.

“Radikalisme” dalam bahasa Arab disebut syiddah al-tanatu. Artinya keras, eksklusif, berpikiran sempit, rigid, serta memonopoli kebenaran. Muslim radikal adalah orang Islam yang berpikiran sempit, kaku dalam memahami Islam, serta bersifat eksklusif dalam memandang agama-agama lainnya. Kelompok Islam radikal muncul sejak terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, menyusul kemudian Ali bin Abi Thalib yang dilakukan oleh umat Islam sendiri. Saat itu, Islam radikal diwakili oleh kelompok Khawarij.

Sementara itu, Islam yang harmonis dapat dibuktikan dari peristiwa Fath Makkah (pembebasan Kota Makkah) oleh umat Islam yang dipimpin langsung Nabi Muhammad. Kota Makkah dibebaskan setelah puluhan tahun dijadikan markas kegiatan orang-orang musyrik. Saat umat Islam mengalami suasana euforia atas keberhasilannya menguasai kota tersebut, ada sekelompok kecil sahabat Nabi yang berpawai dalam kota dengan meneriakkan slogan “al-yaum yaumul malhamah” (hari ini adalah hari pertumpahan darah).

Slogan itu dimaksudkan sebagai upaya balas dendam mereka atas kekejaman orang-orang musyrik Makkah kepada umat Islam selama puluhan tahun. Gejala tidak sehat tersebut dengan cepat diantisipasi oleh Nabi Muhammad dengan melarang beredarnya slogan itu dan menggantinya dengan slogan yang lebih ramah dan penuh kasih: al-yaum yaumul marhamah (hari ini adalah hari penuh belas kasih). Akhirnya, peristiwa pembebasan Kota Makkah dapat terwujud tanpa insiden berdarah.

Gejala kemunculan radikalisme Islam sesungguhnya ditengarai ada sejak Nabi Muhammad masih hidup. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dikisahkan, ketika di daerah Ja’ranah Nabi Muhammad membagikan fai’ atau harta rampasan perang dari wilayah Thaif dan Hunain, tiba-tiba seorang sahabat yang bernama Dzul-Khuwaishirah dari Bani Tamim melayangkan protes kepada beliau. “Bersikap adillah, wahai Muhammad!” Nabi Muhammad pun dengan tegas menjawab, “Celaka kamu! Tidak ada orang yang lebih adil dari aku. Karena apa yang kami lakukan berdasar petunjuk Allah!”

Setelah Dzul-Khuwaishirah pergi, Nabi Muhammad bersabda, “Suatu saat akan muncul sekelompok kecil dari umatku yang membaca Alquran, namun tidak mendapatkan substansinya. Mereka itu sejelek-jeleknya makhluk di dunia ini”.

Hadis sahih di atas kemudian terbukti setelah Nabi Muhammad wafat. Pada 35 H, Khalifah Usman bin Affan terbunuh secara mengenaskan oleh sekelompok umat Islam yang ekstrem. Peristiwa itu kemudian terulang pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib yang juga terbunuh oleh kalangan ekstrem dari umat Islam. Komunitas ekstrem tersebut sungguh pun pada mulanya bernuansa politik, tetapi perkembangan selanjutnya dirajut dalam sebuah ideologi yang dikenal dengan faham Khawarij.

Hal yang menarik, saat Khalifah Ali bin Abi Thalib masih hidup, kelompok ekstrem Khawarij itu memvonis kafir Khalifah Ali bin Abi Thalib atas dasar kesalahan beliau yang membenarkan arbitrase atau tahkim dengan Mu’awiyah. Soalnya, bagi Khawarij, yang berlaku adalah doktrin laa hukma illa Allah bahwa arbitrase itu hanya milik Allah. Khalifah Ali bin Abi Thalib pun menangkis diplomasi mereka dengan kata-kata singkat, “Untaian kata yang benar, namun tendensius dan mengarah pada yang batil”.

Gelombang umat Islam radikal yang berkembang saat ini sebenarnya terpengaruh oleh pola-pola Khawarij pada masa periode awal sejarah umat Islam. Sikap mereka yang ingin menempuh jalur apa saja, menyalahkan siapa saja yang tak sama pemahamannya, merupakan refleksi dari pemahaman mereka yang “sathiyyah” (dangkal) dan belum tuntas terhadap ajaran Islam.

Sumber: Kendari Pos
Gambar: dari sini
Google Similarity Search Result pada tgl 11-Dec-09 : 3 articles.

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Clipping, Islam, Pencerahan, Renungan and tagged , . Bookmark the permalink.

28 Responses to Akar Gerakan Islam Radikal

  1. Akar gerakan radikalisme itu kurasa tidak lain adalah sifat Buto-buto yg tiga itu. Yaitu ingin lebih berkuasa, maka perlu menggoyang setiap kuasa-kuasa dunia yg ada, kali-kali rubuh, lalu gantian.

    Sejauh kuasa-kuasa Dunia itu masih terasa menjanjikan sesuatu, maka sejauh itu pula radikalisme dan fundamentalisme akan terus berjuang menggoyang-goyang segalanya dgn harapan ada peralihan kekuasaan. Pembagian pampasannya soal belakang. Kalau pun nanti pembagian kekuasaan itu terasa tidak adil maka kuasa itu akan digoyang-goyang lagi.
    Bener-bener Buto, keknya.

    Salam Damai!

  2. m4stono says:

    gojleng….gojleng…..jegang percoko belah iblis laknat jeg2an…huahahahahahahah…buto rambut geniii dilawan….huahahahahahah…..karena aku benaaar maka kamu suaalaaaah….huahahahahahahah…….perkenalkan kamiii islam aliran buto….sing ora buto dudu islam….huahahahahahahh 😆 😆

  3. yos says:

    ngandakke opo cah ko tekan buto, cakil ngko ngamuk2 lho ra katut kesebut, hahahaha
    harusnya umat Islam tuh idem aja…
    jadi diem aja, klo ada yang nyenggol/rese,,,
    baru deh BACOOKKK, hihihihihihih
    *jadi radikal juga nie gue, ckikikikiki*

  4. Lambang says:

    Seperti yang disampaikan oleh Brat MK, semua memang berpulang pada ego yang perlu dikasih makan. Goyang menggoyang itu ya bagian dari ego yang lapar.

    Analoginya kaum radikal ini ya sama dengan artikel KangTon tentang buto rambut geni itu. Aku benar maka kamu salah. Aku waras makan kamu edyan.. hihi…

    Mas Yos mampir aja ke rumah KangTono, disana para buto lagi ngumpul di tempat boss-nya buto.
    Bacok kalau ngga mampir… hihi… jadi ketularan…🙂

  5. batjoe says:

    percaya atau tidak radikal udah masuk kedesa-desa..
    lha masak radikal bisa sembunyi didesa???

    ======================
    :: Oh, begitukah?🙂
    ======================

  6. batjoe says:

    beberapa hari ini mungkin kekesalan saya tetang hal ini memang beralasan mas… bolg saya penuh dengan asep heheheheeee

    kesel dengan prilaku barbar manusia yang tidak bertanggung jawab atas pengerusakan di salah satu usaha kami..

    dulu waktu saya tugsa diluar kota tuh orang yang begituan saya ajak duel satu lawan satu!!!
    NDAK ADA YANG BERANI MAS… PENGECUT SEMUANYA….
    mengatas namakan organisasi Islam untuk memblok product luar negeri hanya kamuflase..
    otak mereka otaknya ditaruh didengkul kali.

    • Lambang says:

      Ada temen yang pernah mengintip cara kerja mereka, pada salah satu kasus di Surabaya, mengatakan bahwa mereka itu hanya sekedar cari makan dengan kedok agama. Ada pendana di belakangnya. Dan mereka bisa diatur untuk membuat kerusakan di lokasi tertentu. Jadi kalau dilawan, mereka ya mikir juga, kecuali terus main kroyokan bawa orang sekampung. Otak sih tetep di kepala, tapi mungkin jarang diasah…🙂

      • Dulu waktu ku kecil kupikir tungki’en itu cairan otak yg keluar, maka ada istilah otaknya kosong, makanya hrs dibantu dengkul, eh … salah!

        Jadi, otak itu tetep di kepala.
        Kecuali udang jeroannya di kepala,
        Makanya dia jalannya mundur … kali!

        Salam Otak!

  7. sikapsamin says:

    Nek mingturut kamuse simbah yang pernah saya intip ternyata RADIKAL kuwi tegese oRA DInalar aKAL…

    Yo wis…NGAMUK iku wajib, apa basa ngarabe ……lali aku

    Salam…oRA DInalar aKAL

    ======================
    :: Boso ngarabe majenun mas…🙂
    ======================

  8. m4stono says:

    kang samin ki apalane “jare simbah”:mrgreen:

    kalo menurut inspirasi saya setelah ngeden di WC:mrgreen: radikal kuwi asale seko nepsu amarah, nepsu amarah kuwi cedhak karo geni sing panas, mongko geni kuwi ra gelem sujud dadi watak geni kuwi sombong….watake buto rambut geni….huahahahahahahah😆

  9. seuruh umat sebenarnya sekarang lagi nunggu pemimpinnya,..

    ======================
    :: 🙂🙂🙂
    ======================

  10. sikapsamin says:

    Ban-Radikal…Islam-Radial
    Whaahh…Off-Road terussss

    ============
    …seluruh umat sebenarnya sekarang lagi nunggu pemimpinnya…
    ——————-
    lho Pemimpi-Nnya kan sdh semakin banyak
    Pemimpi-Narsis

    Salam…Pemimpi-N

    ======================
    :: Jarene simbah yo mas… hihi…🙂
    ======================

  11. Heheh, Kang Samain!
    Aya aya wae radialna.

    Radikal itu bagai cocok di atas segala jalan.
    Bahkan tega untuk cocok di atas kemanusiaan.
    Jangan-jangan …

    Salam Pemimpi!n

  12. Ada dua macam radikalisme:
    1. Yang timbul dari penindasan eksternal, sebut misal penjajahan imperialisme
    2. dari faktor pemahaman orang itu sendiri
    Untuk yang nomer 2 …..
    Jelas radikalisme didukung dan diamini orang2 yang ceroboh dalam menerjemahkan agama. Tidak memiliki tradisi, sehingga tahu hruf ba’ langung cap sesat orang yg lain…..
    Maaf radikalisme justru dari orang2 yg tidak memiliki akar tradisi islam yang kuat.
    Yang ortunya NU, atau Muhammadiyah atau pernah modok dah neg dengan fundamenalisme, lain dengan yg tau huruf ba’, bawaannya yg lain sesat, kafir,sekuler, murtad, ateis dll!!!

  13. Lambang says:

    Nah, susahnya kelompok Nurdin Laptop dan Amrozi juga lulusan pesantren, artinya ya pernah mondok.
    Sebetulnya semua kembali ke persepsi dan imajinasi masing-masing, ditambah lagi dengan pengaruh dari guru/pimpinan pengajian/pesantren…🙂

  14. ahmed shahi kusuma says:

    @lambang
    salam kenal! Trimakasih merespon ya!
    Maksud saya, bahwa Amrozy yang orang Pantura dari keluarga Nadhiyin adalah spersekian persen dari total kaum Nadhiyin di Pantura Jawa. Gampangya, lebih punya potensi mana gerakan Amrozy cs, mereka yg berasal dari less islamized areas (maaf,Madiun,Solo cs) denga masyarakat Gresik(sedayu), Madura . Di Pasuruan mungkin ada bom, tapi untuk cari ikan, bukan untuk mereka yang dicap kafir atau sesat!
    Artinya apa??? jangan2 masyarakat pantai selatan Jawa sekarang menalamai kebangkitan Islam wahabi, karena institusi abangan tergerus sejak orba, sementara menjadi santri Jawa model panturaan gak menarik bagi mereka, yg dianggap kotor dan primitif serta ndeso!
    Hidup yg ndeso, primitif..kan akhirnya jadi Pak Agil Siradj cs….!!!he…he..he

  15. Lambang says:

    Salam kenal kembali mas.
    Saya juga heran kepada pemerintah ini, kenapa satu-satunya pesantren yang telah melahirkan beberapa teroris itu tidak dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Jaman dulu kita baru pegang buku Karl Marx saja sudah dicap PKI. Sempat juga buku Di Bawah Bendera Revolusi oleh Ir. Soekarno juga dianggap sebagai buku terlarang. Padahal hanya sekedar baca, bukan menyebar-luaskan ideologinya.

  16. @lambang…….
    Setuju berat!!!!
    Apa karena PKI, semua ajaran marxisme dilarang???? dicap bahaya laten komunis. Sampai akibatnya teman2 sosialis macam PSI (syahrir) atau nasionalis marxis(MURBA) pun kena getahnya.
    lalu apakah Islam boleh dilarang hanya karena M Top??? Seharusnya tetap orang2 fasis berjubah agama itu saja yg dibersihkan bukan Islamnya!
    La tentang “pesantren” resek yg mengajarkan terorisme itu, kan hanya segelintir, jauh dari pemahaman ortodoksi sunni yg mengambil jalan tengah…..
    Beda jauuuuuuuuhhhh atau “pesantren” wahabi dengan pesantren NU, sejauh PKI dan PSI…..
    nah kalo sampeyan ngomong ttg Ir Soekarno, dengan di bawah bendera revolusinya, tuh juga bagus , mnyebarkan juga ok!
    Jujur saja saya tidak berasal dari kultur abangan jadi tidak tau banyak ttg aspek abang/kejawen Soekarno, tetapi aspek keislaman dari buku itu jelas Soekarno mengingkan Islam progresif,sebagaimana yg ia cuplik berkali-kali dari buku itu pandangan2 progresif Abduh, Amir Ali misalnya!!!!
    Saya pikir nasionalitas, keislaman, dan kekirian tidak harus dipertentangkan , dan saling dimusnahkan, kecuali menambah barisan kebodohan!

    • abu ahmad says:

      anda telah salah paham bahwa mereka para teroris mengikuti paham wahabi …..pendiri wahabi (syaikh muhammad bin abdul wahab rahimahukah) tidak membolehkan memberontak kepada penguasa sedangkan mereka memberontak kepada penguasa dan menganggap penguasa telah kafir…..mereka sebenarnya terpengaruh oleh paham yang dibawa oleh sayyid quthb…. sedangkan sayyid quthb ini punya paham campuran antara hulul dan khawarij… sedangkan ajaran syaikh muhammmad bin abdul wahab sangat jauh dari itu semua….

  17. Lambang says:

    Sepertinya memang perlu ada buku pedoman Dakwah, yang disetujui dan disahkan oleh majelis agama Islam (atau MUI ya?). Jadi para kyai atau ustadz tidak menterjemahkan Al-Qur’an dan Hadist semaunya sendiri, lalu mengajarkannya di forum khotbah atau pengajian.

    Sebetulnya salahnya majelis agama Islam juga kenapa tidak menerbitkan hadist lengkap termasuk yang maudhu dan dha’if, dengan harga yang murah, sehingga umat Islam ngga tergantung pada ucapan kyai atau ustadz saja, tapi bisa cross check langsung ke scripture aslinya.

  18. dBo says:

    Panci leres, sarujuk kalian panjenengan kidimas Lambang,

    Mrihatosaken sanget, malah ndadosaken miris ing manah,
    Bab Hadits ‘shahih’ miturut Wikipedia, Buhari/Muslim mulai menulis/menyusun Hadits setelah sekitar 180-th Nabi saw wafat, itupun melalui proses sekurang-kurangnya 7-estafet tutur tinular. Sementara Hadits pegangan kaum Sjiah tetap terpelihara dari penuturan langsung Ali, menantu Nabi saw.
    Sekali lagi, menika miturut Wikipedia. Nyumangga’aken mbok bilih wonten sumber sanes ingkang langkung shahih…

    Nyuwun ngapunpen nderek ngresahi urun2 rembag sekedik.
    Mbok bilih kirang andamel kirang rena ing penggalih, nyuwun agunging pangaksami.

    Rahayu ing Karaharjan

  19. Lambang says:

    Matur suwun sampun dateng dumados gubug ingkang nggilani meniko.

    Injih meniko mas, kita itu katanya negara dengan jumlah muslim terbesar, tapi situs online untuk Al-Qur’an dan hadist masih nebeng di arab sana (www.al-islam.com). Kenapa koq berbagai kelompok Islam itu ngga mau berembug, menyusun rencana, dan membuat website sendiri yang berisi hadist dan petunjuk pelaksanaan yang sangat lengkap dan detail bagi umat Islam di Indonesia yang jumlahnya sekitar 16% dari muslim sedunia.

    Sekarang ini banyak beredar berbagai kumpulan hadist yang keasliannya cukup meragukan karena saya sendiri pernah menemukan beberapa ayat pada dua kitab Al-Qur’an yang tulisan Arab-nya sama, tetapi terjemahan Indonesia-nya yang berbeda. Padahal penerbitan Al-Qur’an seharusnya sudah diperiksa oleh Departemen Agama. Kalau Hadist, saya lihat di beberapa buku kumpulan Hadist tidak memerlukan ijin itu.

    Ini yang akhirnya menjadi dilema bagi saya (dan mungkin beberapa orang yang lain), apakah kita harus menjadi ahli tafsir dulu sebelum bisa memahami Al-Qur’an dan Hadist dengan baik? Akhirnya ya saya terpaksa menggunakan metode pilih-pilih tebu, mana yang baik diambil, yang tidak baik ya disingkirkan.

    Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan.
    Salam Sejahtera.

    • ahmed shahi kusuma says:

      kalau dalam khazanah Islam coba cek tulisan2 progresif Hassan Hanafi…..tentang model2 pilihan itu.Hassan berkata kalo selama ini orang ribut sanad melupakan matan, maka esensi islam akan semakin jauh.Sementara ilmu tentang sanad saja dengan jarh wa Al ta’dil saja penuh dipenuhi pandangan politis sektarian.
      Nah, celakanya karya2 Hassan Hanafi dicap sesat oleh banyak aktifis Islam yg marak di kampus umum, sementara hal ini sudah jadi sego jangan bagi anak2 IAIN, atau anak2 pesantren.

      ======================
      :: Lha wong IAIN saja sudah dicap sebagai gudangnya antek liberalisme koq… jadi ya memang susah kalau berdebat tentang kebenaran yang sebetulnya hanya persepsi itu…🙂
      ======================

  20. lovepassword says:

    Ini topik sulit, yang bikin sulit bukan si topik tetapi karena ini terkait dengan aneka ragam pikiran, latar belakang dan kepribadian manusianya. Ayat yang sama ditangan orang yang berbeda bisa saja berbeda nuansanya. Atau diartikan sama tetapi titik tembaknya justru beda. Bahkan ditangan orang yang sama dengan pemahaman dan kurun waktu yang berbeda bisa saja timbul pemikiran baru.
    Budi muda dan budi tua mungkin saja beda pemikirannya.
    Tetapi sebagai fenomena sosiologis saya cuma melihatnya sebagai saling menyeimbangkan satu dengan yang lain.
    Perlawanan ekstrim terhadap kekerasan atas nama agama , saya tidak yakin akan mampu meredam itu. Begitu juga sebaliknya anti liberalisme yang lebay juga bakal menciptakan militansi baru di bidang itu.
    Semakin keras bandul itu didorong ke kanan atau ke kiri , saya rasa kembalinya juga makin keras. Semakin besar dorongan itu, energi tersimpan untuk kembali juga menjadi makin besar. Karena itu saya cuma menghimbau masing2 pihak menyadari ini.

    Menghentikan pikiran apapun dengan blokade itu saya rasa saya juga nggak terlalu setuju . Ntar semua pihak lebay meminta pemerintah memblokir pendapat orang lain.
    Yang satu dengan dalih anti kekerasan menyuruh pemerintah menutup pesantren tertentu
    Yang satu lagi dengan dalih ajaran sesat melakukan hal yang sama.

    Lha kalo aparat pemerintahnya tidak bagus, aparat malah bisa bermain mata menyalahgunakan ini sebagai pengalih isyu-isyu nasional. Kadang pemerintah ke A, berlindung dengan dalih A lalu membenturkan kepada B, pada sisi lain bisa saja terjadi sebaliknya dengan dalih desakan sebagian masyarakat lalu pemerintah menutup suatu tempat, kemudian atas nama desakan lain lagi pemerintah menutup tempat lain lagi. Lha menutupnya kapan? ya tergantung selera dan apa yang ingin dicapai pemerintah dengan penutupan itu. Itu bisa malah merepotkan semua pihak baik pemerintah maupun semua kalangan. Bagusnya sih ketimbang bergantung kepada pemerintah yang nyatanya tidak kuat jadi gantungan, masing2 pihak ya memperkuat diri sendiri saja🙂 Nggak usah terlalu tergantung sama pemerintah.

    ======================
    :: Bener juga mas. Ini baru satu topik aja kita udah sulit mau pakai teori yang mana. La apalagi ngurus negara, jelas lebih sulit lagi.
    Jadi mikir lagi, apa orang-orang yang sering protes kepada pemerintah itu sudah pernah menjadi pemimpin di lingkungannya ya…🙄

    ======================

    • ahmed shahi kusuma says:

      Saya setuju berat dengan tulisan ente!

      Imam Ali ra. berkata,” Mushaf (Al Qur’an) adalh buku, maka kita yang meberi komentar atasnya”..
      pandangan di atas dicuplik oleh nashr hamid Abu Zayd sebagai bukti bahwa teks agama beda dengan tafsiran kita tenatng gama itu sendiri. Jadi ayat yang sama bisa dibaca secara berbeda karena salah satunya tingkat pemahaman seseorang.
      Kedua….Kadang orang2 radikal Islam(juga Kristen)tidak paham bahwa Nabi SAW juga memberi kesempatan pada orang Kristen Najran untuk berdoa secara Kristen di masjid Nabi SAW. la cerita ini pasti gak menarik bagi kaum radikal, karen kita sudah dijerumuskan pemahaman bahwa Nabi SAW bersifat hegemonik terhadap kelompok laen…
      Jadi membaca siroh Nabawiyah tidak segar lagi, maunya berantem terus, masukkin orang laen ke neraka aja, suka halalin darah orang yg berbeda pemahaman!
      La apa orang radikal mau buang sarung dan diganti dengan jubah??? nasi pincuk pecel, dengan kurma atos??? sholawat diba’ diganti dengan manusia tanpa budaya???

      ======================
      :: Bagus nih komen sampeyan mas.
      Menunjukkan pada saya bahwa yang ngelotok ilmu agamapun tidak harus menjadi radikal dan ekstrim kiri maupun kanan.
      Terus berkarya mas (dalam bentuk posting dan komen), sumbangan pikiran Anda pasti akan bermanfaat bagi khasanah pemikiran dogmatis di negara ini…🙂

      ======================

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s