Empat Lilin

empat lilin.jpg

Ada empat buah lilin yang sedang menyala.
Sedikit demi sedikit tetesan lilin yang meleleh meluncur ke bawah.
Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.

Lilin yang pertama berkata,
Aku adalah Damai.
Namun manusia tak mampu menjagaku.
Maka lebih baik aku mematikan diriku saja.
Demikianlah lilin itu kemudian memadamkan apinya.

Lilin yang kedua berkata,
Aku adalah Iman.
Sayang aku tak berguna lagi.
Manusia tak mau mengenalku.
Untuk itu tak ada gunanya aku tetap menyala.
Selesai berkata demikian, datang tiupan angin yang memadamkannya.

Lilin yang ketiga berkata dengan nada sedih,
Aku adalah Cinta.
Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.
Manusia tidak lagi memandang dan menganggapku berguna.
Mereka saling membenci.
Terkadang mereka menilai cinta berdasar pamrih.
Tidak berapa lama, maka matilah lilin yang ketiga.

Tanpa terduga, seorang anak masuk ke dalam kamar.
Anak itu melihat ketiga lilin telah padam.
Karena takut akan kegelapan, dia berkata,
“Eh, kenapa kalian padam? Aku takut ditempat gelap!”
Lalu ia menangis tersedu-sedu.

Lilin yang keempat, dengan terharu berkata,
Jangan takut,
Janganlah menangis,
Selama aku masih ada dan menyala,
Kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga lilin lainnya.
Aku adalah Harapan.

Dengan mata bersinar, sang anak mengambil lilin Harapan,
lalu menyalakan kembali ketiga lilin lainnya.

Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN.
Dan semoga kita dalam situasi apapun,
mampu menghidupkan kembali Iman, Damai dan Cinta,
dengan berbekal Harapan tadi.

 

Dikemas oleh: Lambang (LambangMH.wordpress.com)
Sumber: dari koleksi pribadi jadul

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Kehidupan, Pencerahan, Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

19 Responses to Empat Lilin

  1. Semua lilin itu kudu melelh utk menjadi berguna. Lilin itu diciptakan bukan utk dirinya, tapi utk orang lain. Apa mungkin kita kudu begitu meleleh dipanasi atau kepanasan oleh kepanasaran kita?

    Salam Damai!

  2. m4stono says:

    tapi ada juga lho harapan yg tidak bisa menghidupi ketiga lilin tadi yaitu harap2 cemas ketika si sopir angkot menyetir angkotnya ugal2an….ya jalan satu2nya ya berdoa dan berdoa kalo mo ekstrim kuping si supir dijewer aja:mrgreen:

  3. Lambang says:

    @Brat MK:
    Keknya memang harus begitu, kalau targetnya agar bermanfaat bagi orang lain. Entahlah kalau target hidup yang lain.🙂

    @KangTon:
    Berarti harapannya masih belum bulat. *halah*
    Mestinya harapannya diubah, mudah-mudahan setelah mati naik angkot bisa langsung ketemu Tuhan, bukannya jadi demit di prapatan.😆

  4. batjoe says:

    ya…ya…ya
    aku masih butuh harapan itu mas…
    sedih ttng ketiga lilin sudah dijalani tapi harpan untuk kembali menyalakan ketiga lilin itu masih tetap ada..

    artikel yang sangat menyentuh sampai nagis begini hik..hik…hik… kok lebay sih

    (canda ya suhu…)

  5. batjoe says:

    yuni shara masih cantik ya mas… dapet daun muda lagi.
    yuni sarah aja bisa masa saya ndak bisa
    hehehehehehehehehe

    artikelnya adem….

  6. Lambang says:

    Plis deh ah!
    Jangan lebay gitu…

    Nah, Yuni Shara aja bisa.
    Mosok mas Batjoe yang paling ngguantheng sak Kecamatan Rapak ngga bisa? Merdeka!

    Maju terus pantang mundur!
    Ganyang imperialisme!
    *loh, kita ini sudah merdeka apa belum sih*🙄

  7. lovepassword says:

    artikel masa muda. pas lagi romantis romantisnya ya ?

  8. Lambang says:

    Hihi.. jadi malu…😳
    Plis deh ah! (kalimat sakti hari ini)🙂

  9. sikapsamin says:

    Mm..mm..mm..iya, satu2nya yang tidak bisa padam adalah HARAPAN…

    Lho…mas Lambang, jadi lilin yang ke-empat dibuat dari bahan apa agar tidak habis meleleh dan padam.
    Belinya kemana ya…bingung aku, coba tanya simbah…

    mbuaahh…mbuaahh…mbuaahhh…

    Salam…HARAPAN

  10. Lambang says:

    Mas Samin,

    Lilin yang keempat itu, kalau dirubuhin, panjangnya kira-kira sama dengan bayangan pohon Thuba yang ada di surga itu. Nyalainnya juga harus pakai bom napalm kali ya.

    “Sesungguhnya di surga ada sebatang pohon yang apabila pengendara berjalan di dalam bayangannya selama seratus tahun, maka dia belum bisa menempuhnya.” (HR. Syaikhain)

    Terus lilinnya jangan diukir dan dibentuk patung ya mas, nanti bisa celaka.

    “Orang-orang yang paling keras disiksa pada hari kiamat adalah para pematung.” (HR. Muslim)

    Mbuaahh… mbuaahh… Ail bi bek…😆

    • batjoe says:

      wahahahahhahaa
      kadang2 saya mau koment apa ya wes ketawa ketiwi duluan sih…

      entahlah sekali lagi masih ada harapan untuk ketawa
      salam mas lamb and the gank!!!
      jangan pakai salam merdeka mas.. itu hak patennya mas MK ndk enak kena plinthir se

      • Bebas ambil koq, Joe!
        Boleh nawar klo ngga mo ambil.
        “Salam separuh merdeka” gitu, misalnya.
        Temen ku Fay juga bilang gitu dulu-dulunya,
        Tapi ntah knapa dia begitu ngambeg kepada ku.

        Salam Separuh Merdeka, Joe!
        Bukan setengah tiang, loh
        Seperti ga-nya lah kali.

  11. sikapsamin says:

    …Nyalainnya juga harus pakai bom napalm kali ya…

    Whhuuiihh…kalau gitu ini urusan Nurdin LapTop dong
    Emang itu jenis Lilin-Radial ya mas..?!

    Kalau gitu sementara Ail don’t bi bek

    Salam…Napalm

  12. tomy says:

    tulisan sing apik tenan, koleksi jadulnya boleh juga tuh 😀

    ketika Nietzche membunuh Tuhan, satu hal yang membuat manusia tetap berharga, kata beliaunya, adalah Harapan

    saat jangkar dari biduk hidup kita hilang *Tuhan & hal2 yang dituhankan* ada yang dinamakan harapan bahwa samudra kehidupan akan membawa kita dalam sebuah horison baru

    • Lambang says:

      Sebetulnya kalau dibahas dari logika, Nietzche itu bener juga. Tapi ngono yo ngono, ning ojo ngono *halah*

      Dari jadul saya memang hobby ngliping, sampai kadang2 bingung sendiri, yang ini dulu saya klipping buat apa ya…🙂

  13. like this… suka banget dengan tulisannya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s