Asumsi

power-of-mind.jpgKetika Joanna keluar dari ruang bos, matanya berkaca-kaca. Teman-temannya semua mendekatinya. Mereka bertanya-tanya, ingin tahu apa yang terjadi. Joanna terpaksa bercerita juga.

Tadi pagi dia dipanggil bos, padahal biasanya jarang sekali bos ingin bertemu dengannya. Biasanya dia hanya dimintai mengirimkan laporan mingguannya. Tapi kali ini beliau ingin bertemu.

Ketika dia masuk ke ruangan bos, dia melihat bos sedang sibuk bicara di telepon. Dengan bingung Joanna berdiri dekat meja bos. Dalam hatinya dia bertanya-tanya apakah sebaiknya langsung duduk atau menunggu dipersilahkan.

Setelah berpikir sebentar dia memutuskan untuk menunggu. Tapi bos masih bicara di telepon. Joanna bingung lagi, apakah sebaiknya dia keluar lagi atau duduk saja, atau lebih baik berdiri saja.

Masih bingung, tiba-tiba Joanna mendengar bos berkata:” Kok diam saja? Duduk dong!” Ternyata beliau sudah selesai bicara di telepon. Tapi Joanna merasa kurang enak. Dia merasakan nada suara bos sepertinya sedang marah.

Joanna merasa bersalah karena tadi dia tidak langsung duduk saja. Hatinya berdebar-debar. Dengan takut-takut dia mencoba minta maaf. Tapi bos tampaknya tidak memerhatikan hal itu lagi dan segera menanyakan perkembangan pekerjaannya.

Ketika selesai. Joanna benar-benar merasa sedih. Dia merasa dirinya sangat bodoh dan memalukan. Begitu berbalik menuju pintu keluar, Joanna sudah hampir menangis, tapi dia mampu menahannya.

Teman-temannya heran mengapa hal sepele seperti itu membuat Joanna sangat sedih. Mereka semua mencelanya, bahkan sebagian menyalahkannya mengapa dia begitu kaku, takut dan ragu-ragu.

Joanna semakin sedih. Kemudian datanglah Pak Wiryo. Dia sudah bekerja di perusahaan itu selama 16 tahun. Semua orang mengenalnya. Meskipun termasuk karyawan senior, Pak Wiryo sangat baik dan rendah hati. Pak Wiryo mengajak Joanna ke mejanya. Kemudian Pak Wiryo menanyakan masalah yang dihadapinya.

Berbeda dengan temannya yang lain, Pak Wiryo berkata: “Apakah kamu yakin bahwa bos marah karena kamu tidak langsung duduk?” “Tentu saja!” kata Joanna. “Bagaimana kamu bisa yakin?” tanya Pak Wiryo.

“Yah, karena bos berbicara dengan ketus dan tanpa senyum.” “OK,” kata Pak Wiryo, “Apakah beliau jelas-jelas mengatakan bahwa beliau marah kepadamu?” “Ya tidak, sih,” kata Joanna.

“Nah! Mengapa kamu bisa yakin bahwa bos marah? Kamu salah besar. Kamu tidak boleh mengambil kesimpulan seperti itu. Itu namanya ‘asumsi’. Kamu melihat sesuatu lalu kamu berasumsi. Padahal belum tentu asumsi kamu benar. Kamu boleh mengatakan bos marah kepadamu kalau dia benar-benar memarahimu. Dan kalaupun begitu, pasti ada sebabnya. Lihat dulu sebabnya, kalau kamu memang bersalah akui saja kesalahanmu, lalu segera memperbaiki kesalahan tersebut.”

Tak Melihat Fakta

Setelah 20 menit berbincang-bincang dengan Pak Wiryo, Joanna mulai tenang. Dia mulai bisa melihat betapa seringnya dia berasumsi. Betapa seringnya dia tidak melihat fakta secara sungguh-sungguh tapi langsung berasumsi.

Joanna ingat ketika dia meminta agar temannya yang lebih senior mengajarinya cara membuat laporan mingguan. Tapi teman ini mengatakan bahwa dia sedang sibuk. Joanna merasa kesal karena dia merasa temannya sombong, tidak mau membantu.

Kini Joanna baru melihat bahwa dia telah berasumsi. Fakta menunjukkan bahwa temannya tidak bisa membantu karena sibuk, tapi Joanna langsung berasumsi bahwa dia sombong, tidak mau membantu. Padahal waktu itu sebenarnya dalam hati kecilnya, Joanna tahu bahwa temannya jujur. Dia memang sedang sibuk.

Dua minggu yang lalu juga begitu. Melihat temannya salah menghitung hasil penjualan mingguan, Joanna langsung beranggapan bahwa dia bodoh. Padahal kalau dipikir lagi, wajar saja kok kalau sekali-kali salah hitung. Dia sendiri juga pernah salah hitung. Namanya juga manusia. Joanna baru sadar bahwa dia telah membuat asumsi yang salah.

Keluar dari ruangan Pak Wiryo, wajah Joanna bersinar. Kini dia ingin belajar lebih rendah hati. Tidak mudah berasumsi semaunya. Do not just make assumption, see the fact! Be wise! Be nice!

—===oooOooo===—

Sumber: Asumsi, oleh Lisa Nuryanti, Pemerhati Etika dan Kepribadian
Gambar: dari sini
Google Similarity Search Result pada tgl 19-Dec-09 : 4 articles

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Clipping, Kemanusiaan, Renungan and tagged . Bookmark the permalink.

10 Responses to Asumsi

  1. batjoe says:

    ehm.. artikel yang enak dibaca pagi-pagi sambil sarapan nasi kuning dan secangkir teh hangat..

    manusia selalu beramsusi bukan hanya kepada manusia lainnya tekadang Tuhanpun diamsusikan.. aneh?

    ndak juga sih aneh? karena pernah saya baca artikel ttg 10% otak manusia di rumah mewah ini, ya itu semuanya masih dipakai untuk miyabi dan tamara yang saya klik kemarin hihihihihi (salah ding…)
    sory untuk amsusi .. amsusi yang banyak belokkannya jadinya hati kadang jadi tidak relepan untuk bertindak…

    nanti tak kasih tahu bos saya ah.. ttg artikel ini “pak…pak baca artikel ini dech entar bpk tidak beramsusi lagi kalau saya ini bener2 playa boy” whuhahahahahahaha

  2. m4stono says:

    wah asumsi…ini keknya hampir sama dengan persepsi ya mas…..bedanya apa ya mas….:mrgreen: sekali2 nanya buleh dong…masa ditanya terus bosen aahh…

  3. S™J says:

    asumsi -> asal sumpal supaya isi😎

  4. Lambang says:

    Keknya sih kalau asumsi itu lebih banyak imajinasinya.
    Kalau persepsi lebih banyak berdasarkan referensi lain.

    Kalau konsumsi lebih banyak mengandung hal-hal yang membuat imajinasi menjadi realisasi.
    *yang ini bener-bener ngga nyambung*

  5. sikapsamin says:

    Mingturut ‘asumsiku’…asumsi itu ‘kesimpulan-imaginatif yang terburu-buru’…
    Tapi dari perspektif perilaku Joana, sayapun berasumsi bahwa Joana sedang mengasumsikan dirinya agar orang lain yang memperhatikan perilakunya, Akan timbul asumsi…”ooo Joana sangat mirip dengan Widodari-Sangiran”…

    Hihihi…aku ki komeng opo golek masalah…kok mmbbuuullleeettt…

    Salam…ASUMSI SURO

  6. sikapsamin says:

    Masih nyambung kok mas, konsumsi itu perpaduan bahasa dikonkon berasumsi…
    Misalnya begini : “coba kamu asumsikan”…kira2 itu bisa dikonsumsi nggak? Untuk menghemat pengetikan, diganti begini “saya dikonsumsi”…dst

  7. m4stono says:

    kalo asumsi berdasarkan imajinasi, trus persepsi berdasarkan referensi…lha kalau berdasarkan referensi trus menghasilkan lebih banyak imajinasi…lha yg mana yg asumsi dan persepsi? bisakah dari asumsi menghasilkan persepsi? atau dari persepsi menghasilkan asumsi? mohon pencerahannya kang…🙂

  8. Lambang says:

    Pokok’e (*halah*) kalau lebih banyak imajinasi, berarti itu asumsi, kalau lebih banyak referensi, berarti persepsi. Banyaknya seberapa, ya kira-kira sak genggem gitu.
    Yang jadi masalah sekarang, imajinasi itu kadang bersumber dari referensi juga. Udah gitu, referensi itu kadang-kadang hanya imajinasi yang membuat referensi (seperti ahli sains, filsuf, guru, mursyid, ustadz, wali, perawi dll) tetapi sudah dibukukan dan banyak pengikutnya, karena memiliki imajinasi yang sama.

    Jadi, kesimpulannya… ya ngga ada yang tepat sekali. Wong semua itu hanyalah kata untuk menjelaskan sesuatu yang imajiner. Apalah arti sebuah kata. *halah*:mrgreen:

  9. Ada temenku Jojon yg seperti Joan. Nama aslinya sih Joni tapi perilakunya jojon banget. Emang temen ini agak lelet, sering lupaan dan kadang menggampangkan segala hal kerja.

    Setiap dia dipanggil Boss selalu sontak misu-misu bagai mencari kambing hitam, “Wadu, mati aku, wah, cilaka, mati aku!”. Akhirnya setiap dia kembali keruangan kami, selalu kami sambut sorak “Urip maning!!!”, samapi dia malu dan berhenti berkata, “Wadu, mati aku!”

    Salam!

    • Lambang says:

      Ada juga temenku yang gitu Brat. Tiap dipanggil boss, dia sudah menduga bakalan dimarahin. Kitapun juga tahu dia bakal dimarahin karena kerjaannya selalu ngga bener. Aneh juga kupikir. Dia sudah tahu sering salah, tapi kenapa ngga mau belajar memperbaiki? Atau ada kenyamanan tersendiri kalau dimarahi. Berarti ada perhatian gitu, kali!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s