Samudera Kasih

dalia.jpg Hampir 99% orang salah menjawab pertanyaan pada kisah pendek ini.

Ada sepasang kekasih yang sedang naik bus dalam perjalanan yang memasuki daerah pegunungan. Di tengah jalan, sepasang kekasih ini memutuskan untuk turun karena keindahan alam di tempat itu sangat memukau. Setelah pasangan turun, bus akan berjalan kembali. Ketika bus mulai bergerak, sebuah batu besar dari atas gunung jatuh mengenai bus dan benar-benar menghancurkan bus itu. Semua penumpang tewas seketika. Setelah melihat kejadian itu, pasangan itu kemudian berkata, “Kami berharap kami berada di dalam bus itu.”

Menurut Anda, mengapa mereka mengatakan itu? (jawaban ada di bawah)

Studi tentang sistem syaraf melalui teknologi yang sekarang tersedia bagi kita menimbulkan teka-teki yang sama. Dalam buku A General Theory of Love, Thomas Lewis menulis bahwa tidak ada cukup pemrograman dalam DNA bayi untuk tumbuh menjadi dewasa. Kimia saja tidak cukup. Manusia perlu menerima informasi, biasanya “dipancarkan” oleh ibu setelah kelahiran, atau pertumbuhan bayi akan terganggu dan dia akan mati. Daniel Goleman, dalam bukunya Social Intelligence, menyebutkan bahwa asupan informasi ini sebagai “saraf wi-fi”! Teknologi canggih, seperti scan otak, mengungkapkan bahwa ada samudera enerji yang mendukung kehidupan ini. Kita hanya bisa menerima pancaran siaran tersebut melalui ikatan dengan sang penyiar. Pengetahuan biologi sudah menemukan bahwa samudera ini adalah lautan kasih!

Pada bukunya yang berjudul Vibrational Medicine , Richard Gerber mendeskripsikan secara ilmiah bahwa tubuh adalah sebagai “pola interferensi yang kompleks dari energi yang tertanam dalam medan bio-energi yang terorganisasi.” Dari perspektif ini, pertumbuhan rohani dapat dilihat sebagai pengembangan dari kesemrawutan (incoherent) ke koherensi. Pikiran itu acak dan tidak koheren. Koherensi adalah kemampuan belajar.

Apa bedanya? Cahaya biasa adalah tidak koheren; setiap partikel bergerak secara acak ke setiap arah. Sinar laser itu koheren karena setiap partikel cahaya akan mengarah ke tempat yang sama. Dan cahaya laser ini memiliki kekuatan karena dapat melakukan operasi atau memotong baja.

Demikian pula, ilmu pengetahuan sekarang melihat bahwa pikiran yang koheren lebih mampu menganalisa lebih baik daripada yang tidak koheren. Artinya, pikiran yang koheren dapat mengurai sandi yang lebih banyak dari pancaran frekuensi kosmos. Contoh kemampuan seperti itu adalah “remote viewing“. Gerber menulis bahwa Ingo Swann dan Harold Sherman mampu secara akurat “melihat” kondisi di Yupiter dan Mars. Beberapa data planet yang diberikan oleh “paranormal pembaca alam” kadang berlawanan dengan hasil prediksi ilmiah secara astro-fisik. Tetapi beberapa tahun kemudian, data telemetri satelit memvalidasi penglihatan mereka.

Untuk merasakan perbedaan antara kesemrawutan dan koherensi, cobalah berhenti sejenak. Amati pernapasan Anda. Pantaulah seberapa banyak pikiran berputar dalam kepala Anda, mulai dari yang pertama, satu persatu, amati semuanya secara bergantian. Akhirnya Anda akan berhenti pada satu pikiran yang paling menonjol.

Fokus pada pernapasan lagi. Tenangkan iramanya. Biarkan nafas itu turun ke perut Anda. Biarkan laju pernafasan menjadi lebih lambat dan lebih lambat lagi. Fokuskan perhatian Anda sepenuhnya pada nafas itu.

Lihatlah sesuatu yang berkilau seperti pantulan sinar matahari dan masukkan itu dalam memori Anda. Konsentrasikan pada sinar tadi. Biarkan sinar itu mengisi pikiran Anda dan bersenang-senanglah dengan sinar itu. Selama pikiran Anda hanya terpusat pada satu gambaran sinar, maka pikiran Anda telah bergerak dari kesemrawutan ke koherensi. Setelah beberapa menit, fokus pada pernapasan Anda lagi.

Lalu fokuskan pada apa yang Anda rasakan dalam tubuh dan jiwa Anda. Kebanyakan orang akan merasa sangat santai setelah melakukan ini, walaupun hanya dalam waktu yang sangat singkat.

Dalam Yoga dikenal ada tiga tahapan untuk mencapai koherensi pikiran. Dharana , yang bertujuan untuk memusatkan pikiran pada satu titik atau imajinasi bantu (seperti sinar itu tadi). Lalu Dhyana , yang menghilangkan semua fokus pada pikiran dan pancaindera. Dan terakhir adalah Sammadhi , yang membiarkan pikiran berada dalam keadaan diam dan kosong.

Ketiga tahapan ini akan mendorong pertumbuhan rohani dengan peningkatan kualitatif dalam persepsi, bukan hanya sekedar peningkatan kuantitatif. Ini adalah kepuasan yang sejati, yang lebih baik daripada kepuasan semu seperti obat-obatan, alkohol, rangsangan seksual, semangat religius, kekayaan atau kekuasaan.

Semakin sering kita melakukan peningkatan kualitas rohani, maka intensitas perasaan kita menjadi lebih besar. Mungkin ini yang disebut dengan rahsa dalam aliran Kejawen yang banyak beradaptasi dengan Hindu, Buddha, Kristen dan Islam itu. Thomas Lewis mengatakan bahwa memiliki perasaan yang mendalam, adalah sama dengan memiliki kehidupan. Memiliki perasaan yang mendalam ini sangat berhubungan dengan lautan kasih yang sudah dibuktikan secara biologis sangat menunjang kehidupan.

Semakin sering kita gagal, maka akan semakin banyak perasaan yang terbungkam. Jika sudah cukup banyak perasaan yang terbungkam, maka kita akan mengalami rasa sakit. Jika kita terus mengabaikan umpan balik dari tubuh dan gagal untuk memperbaiki arah kita, hasilnya adalah penyakit kronis. Semakin keras kepala menolak semua perubahan, maka kita akan mati. Ini adalah teori yang baru tentang penyebab berbagai penyakit.

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah, jika mereka tetap tinggal dalam bus dan tidak turun, maka waktu yang hilang karena menurunkan mereka akan dapat dihindari, dan akibatnya batu akan jatuh setelah bus berlalu.

Paradigma adalah mekanisme mental kita dalam menafsirkan secara berbeda terhadap fakta yang sama – yang satu menyimpulkan semua orang di bus meninggal, yang lain menyimpukan mereka semua bisa tetap hidup. Munculnya paradigma baru dalam biologi akan mengubah pandangan kita, yang mengaitkan kesehatan dan spiritualitas melalui kasih.

Dikemas oleh: Lambang (LambangMH.wordpress.com)

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Informasi, Kejawen, Renungan, Spiritual and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

53 Responses to Samudera Kasih

  1. lovepassword says:

    Sorri Mas Lambang, aku bukan termasuk yang salah menjawab. Hi Hi hi.

  2. lovepassword says:

    Kirain mau posting tentang hari ibu🙂

    • Lambang says:

      Kalau itu bagiannya mas Batjoe, yang lagi seneng merajut gombal dengan para mbak-mbak.🙂

      • batjoe says:

        ya gitu….????
        mentang2 lama ndak disatroni nih rumah mewah aku dibawa-bawa dalam pergumulan para bandit hehehehehehehehe

        ======================
        :: Hihi… ojo nesu mas… entar kegulung enerji negatif…🙂
        ======================

  3. m4stono says:

    sumbernya mana mas? kalo gak ada sumber berarti artikel sendiri dong……wuiiih mantep baru disindir kang jenang aja langsung ndadi pintere:mrgreen: padahal sing nyindir gur posting pilem seko youtube hihihi mblaayuuuuuuuu

    • Lambang says:

      Wah iya, lupa mencantumkan.
      Sumbernya Reuter, Antara atau CNN.
      Lah koq jadi seperti Kompas dan Detik yang nulisnya juga cuman kek gitu. Menyamarkan sumber, biar ngga ditinggalkan teman-teman pembaca.😉

      Kang Jenang ojo disindir lho, nanti kalau dikeluarkan ilmu Ki Ageng Suryomentaram sama ilmu Sunan Bonang, bisa horeg gogrog kabeh sak tanah Jawa ini. Gunung-gunung berterbangan dan air laut mendidih.:mrgreen:

    • S™J says:

      muahahahaha… kuping virtual saya berdengung… langsung deh cek blog mas lambang😎

  4. Gentole says:

    yang menjadi keberatan saya tas berbagai teknik “pengembangan” spiritual yang dikaitkan dengan sains adalah teknikalisasi dari spiritualitas itu sendiri; seolah-olah pengalaman mengada dalam berbagai bentuknya itu adalah sebuah variabel yang bisa diukur dan kemudian direkayasa; seolah-olah setiap orang bila melakukan hal yang sama akan mendapatkan hal yang sama juga. kesannya reduktif dan satu dimensi. ini pendapat/perasaan saya aja sih.

    ceritanya bagus; kirain mereka berdua mau ikut mati.😀

    • Lambang says:

      Ada benarnya juga pendapat mas. Pengalaman spiritual setiap orang tidak akan bisa sama. Mungkin seperti orang-orang yang merasa telah melihat Tuhan, kalau ditelusuri lebih lanjut imajinasi itu pasti ada hubungannya dengan informasi dan memori di masa lalu, entah yang berada di alam sadar maupun di alam bawah sadar.🙂

  5. apakah kita akan menyalahkan orang yang turun itu?
    salahkah menikmati keindahan?
    bukankah hidup memang harus berjalan seperti itu?
    ada pengorban dan juga ada yang di korbankan?
    entahlah…….

  6. m4stono says:

    kalo samadi itu menurut kamuse simbah…halaah…sudah mencapai telenging cipta….kalo kundalini sudah mencapai cakra ajna maka meditasinya sudah samadi….

    kalo rahsa itu rahasiaNya…..pusatnya ya dihati…dibalik kalbu itu ada rahsa dibalik rahsa itu ndak ada apa2…tapi ini versi bocor alus lho:mrgreen:

    • S™J says:

      kundalini menurut saya adalah simbol kesadaran. mulai dari kesadaran pantat sampai ubun-ubun. jadi intinya adalah ingin mencapai pencerahan akal. ini teori asal aja….😎

  7. Lambang says:

    Sepertinya memang begitu Kang. Referensi Kejawen ngga terlalu banyak yang tertulis sih, jadinya ya masih banyak yang perlu interpretasi dari gurunya atau di-interpretasi-kan sendiri.🙂

  8. m4stono says:

    sebenarnya banyak lho referensi kejawen itu…tapi yg valid ya dari keraton, walopun kraton ya tidak bisa berperan sbg MUI halal/haram…kesulitannya adalah simbah2 dulu itu memberi wejangan kebanyakn kedalam sebuah kidung, suluk, serat atau tembang…ya kan tahu sendiri bagaimana wujudnya itu mirip2 puisi lah…sedangkan tata caranya spt membangkitkan/mengaktifkan S45P, ngelmu sastro jendra itu biasanya ilmu2 sinengker dan turun temurun tidak boleh ditulis/disebar luaskan …katanya….tapi kalo ngelmu2 kanoman itu sekarang ya banyak yg ditulis…..tapi inti dari ngelmu kejawen itu satu “tekan opo ora” dari situ ditarik kesimpulan bahwa tujuannya satu, tata lakunya bisa beda2 tergantung gurunya….tapi ironisnya sekarang ini ilmu2 kebatinan/kejawen hanya buat nyari nomer buntut dsb yg bersifat keduniaan sesaat😦

    • Lambang says:

      Yang saya sering denger ya untuk memandikan keris, mantenan, selapanan, pawang hujan, mencari titik sumur bor dan memindahkan batu angker.
      Oiya ngomong-ngomong soal batu angker, kenapa makhluk ghoib di Indonesia ini seneng kepala kerbau? Lha mbok kepala ikan kakap satu truk kan lebih enak..:mrgreen:

  9. Fitri says:

    Enggak ngerti aku.

    • Lambang says:

      Hehe.. dek Fitri ngga ngertinya yang mana? Artikelnya atau komen tentang Kejawen-nya itu?
      Kalau Kejawen, bisa berguru ke KangTono. Beliau itu penjaganya semua gunung dan hutan yang ada di Jawa Tengah.:mrgreen:

      • m4stono says:

        🙄 ih ge’er banget sih…kamsudnya gak mudeng artikelnya…apa komengnya yah? hmmmm

        saya itu penunggu dampar kencana saya sendiri yaitu kasur kapuk nan lusuh yg biasa saya tiduri dengan bantal penuh iler tentunya:mrgreen: juga penunggu WC tempat mencari inspirasi huahahahahah

        kalo belajar kejawen itu sama mas siti jenang aja…wong dia muridnya langsung ki ageng suryomentaram je…katanya…lempar bola😆 kalo belajar ilmu sulap sama mas lambang yg seorang ilusionis kelas wahid, david copperfield aja kalah lho kalo dikasih kata2 mutiara “semua hanya ilusi persepsi dan imajinasi” bakalan klepek2 tuh si david….huahahahahah…kalo mau belajar ngelamun yg nggak2 khususnya miyabi ya sama saya saja dijamin maknyuss :mrgreen:

      • S™J says:

        iya betull… *propokasi

      • Lambang says:

        Hihi… lha koq dianggep GR tho.. padahal karena adiknya ngga ngerti, ya Kangmas-nya jadi simpati dan nanya. *halah*

        Nah kan bener kata mas Jenang, KangTono kalau tidur suka ngiler. *belokin arah*

  10. eMina says:

    jd rumit sekali ya.
    klo saya berpikir sekarang, kadang2 love is sucks,,,salah ga ya…

    • Lambang says:

      Salah mbak.
      Mungkin ada persepsi yang salah tentang kasih, atau belum pernah merasakan kasih yang sejati dan abadi.
      *bisa dibeli di Toko Abadi sebelah, lagi discount*

  11. sikapsamin says:

    Tapi…memang begitu yang telah ‘ditetapkan Alloh’
    Itulah jawaban yang ‘pas’ berdasarkan paradigma “KASIH versi Imam SAMUDERA”
    Dengan demikian 99% berkurang menjadi 98%…ini menurut terawangan ilmune mbah Sableng…hi..hi..hi..mblayuuu daripada gundhulku ketibhan watu…

    • Lambang says:

      Padahal tak tulis 99% itu untuk menjaring siapa yang merasa ngga salah menjawab.
      Hihi… lumayan… ternyata dapet tiga, mas LP, mas STMJ dan mas Samin.:mrgreen:
      *lagi kumat jahilnya*

      • fanny says:

        sudah diduga jawabannya spt itu krn ada kaitan dg wkt. btw, susah banget koment di sini ya?

      • fanny says:

        akhirnya bisa koment juga tapi…duh ini sudah coba ke 4 kali nih. teganya wordpress. padahal kemarin2 bisa lho.

        btw, teletubbiesnya yg warna apa, mas? ha ha ha..baru tahu kalo ogut jail dan bandel, tapi bandel utk kebaikan lho. halaaah..emang ada bandel utk kebaikan? ‘ngelirik si LP.’ kabuuurr

  12. fanny says:

    jawaban yg cerdas. Sudah saya duga akan ke arah sana. krn ini kaitannya dg wkt yg sangat berharga.

    btw, teletubbiesnya yg ungu, merah,ijo ato kuning ya? ha haha…baru tahu kalo saya tuh ‘bandel and suka jail’? itu yg ngajarin si lovepasswor. ‘ngelirik Oom lope” kabuuurr…..

  13. fanny says:

    sudah saya duga pasti akan spt itu jawabannya. krn berkaitan dg wkt. btw, teletubiesnya yg warna apa? baru tahu ya kalo saya bandel dan jail. hehhee..

  14. fanny says:

    mas Lambang, saya sudah 3 kali koment tapi kok gak muncul ya?

  15. Lambang says:

    Ternyata ada tiga yang ketangkep satpam mbak.
    Sepertinya komen di WordPress sama dengan kalau komen di Blogspot, cukup isi nama, email dan URL. Tapi kenapa sulit yah? Jangan-jangan wordpress pasang rambu tertentu untuk pengunjung yang masa lalunya terbukti jahil.😆

  16. Fitri says:

    Enggak ngerti artikel dan komentarnya. Bingung dah.

    • Lambang says:

      Hehe.. ya enda papa dik. Kita perlu ngerti semuanya koq. Hidup ini kan baru asik kalau kita lengkapi dengan berbagai imajinasi. *halah*

  17. batjoe says:

    saya suka kalimat fed backnya (umpan balik)
    TERBUKTI!!!!!!!

    ayo siapa yang ndak percaya sini endase tak palu huhahahahahaha..

    sore mas lamb… kangen dengan artikelnya di email tapi belum ada lagi yang bisa ditanyakan heheheheh
    soalnya sama saja 1+1 = 2 kata saya
    katanya sibungsu 1+1 = 11
    lho kok bisa?? dia bilang bisa coba papah buka jari telunjuk sama tengah jadinya dua juga kan tapi bisa sebelas kan…
    wes mumet karo ank sableng mas hihihihihi

  18. batjoe says:

    sekarang saya mau tanya nich serius nich ya???
    kemarin bicara ttg halal dan haram, bagaimna kalau tidak sempet atau sempet masuk neraka atau surga..

    nah diatas kan 2 oran tuh keluar dari bis terus batu ngantem bis terus dia bilang “mereka harusnya dibus tersebut agar bus tdk trjadi kecelakan”
    waktu!!!!

    waktu yang bagaimana sih kang harus kita perbaikin? sekarang? besok atau yang lampu?

    monggo kang tak tunggu ya serius nich

    • Lambang says:

      Waktu yang kita ketahui ya hanya waktu sekarang ini. Waktu masa lalu hanya kenangan, dan waktu masa depan hanya angan-angan.
      Makanya banyak wejangan para sesepuh yang mengatakan gunakan waktu sebaik-sebaiknya selama masih mampu.

      Jadi hindari ngeblog, hindari ngomen, dan hindari bersantai-santai. Ngeblog itu bener-bener pekerjaan yang membuang waktu dan ngga jelas hasilnya. Paling cuma kemampuan ngetik jadi lancar. Emang mau jadi tukang ketik kecamatan?

      Kalau ngga ada kerjaan, mindahin lemari aja dari depan ke belakang. Kalau udah selesai, pindahin lagi dari belakang ke depan.

      Hihi… ngajarin tapi sendirinya ngeblog…😆

  19. m4stono says:

    walah malah saya blom baca artikelnya…ntar baca2 dulu…hhhmmmmm….

    kalo saya pilih tetap keluar bis dengan Ngatemi saya…alesannya :

    1.cuaca bagus buat liat2 pemandangan dan nyanyi2 ala pilem india

    2.saya ndak bisa liat masa depan….kan taunya mo ketiban batu setelah batu itu jatuh dan menimpa bis….jadi buat apa berandai andai wong sudah terjadi…adanya sesal datang kemudian

    3. bisa jadi batu itu jatuh karena getaran dari si bis itu…jadi kalo saya tetep tinggal didalam maka saya juga ikutan mati

    4. kalopun toh saya tahu masa depan maka saya juga tetep keluar bis dengan alesan biar bisa mengurangi populasi dunia

    5. karena pernyataan “Kami berharap kami berada di dalam bus itu” itu tidak cocok dengan jawaban diatas maka semua jawabannya anggap saja tidak ada:mrgreen:

    • Lambang says:

      Na, jawaban yang paling bagus ini.
      Jadi terlihat imajinasinya sangat luas.
      *sapa dulu dong, buto dilawan*

      Tapi yang jawaban nomor 1 itu kurang cocok, karena gunungnya itu di Padalarang, gunung kapur. Jadi ngga ada daun buat dipegang-pegang atau digigit-gigit.:mrgreen:

      • m4stono says:

        ooo gitu yah…kirain di alas roban….kalo di alas roban kan enak, ada pohon jati utk sembunyi, bisa maen petak umpet ama celeng…..sekalian ama putri celengnya yg konon ayune uleng2an…tapi ya tetep aja celeng:mrgreen:

  20. G3mbel says:

    ini postingan bagus nih , bisa jadi bahan untuk olahraga…😆
    .
    begini mas, ini kasus sepasang kekasih, bis beserta seluruh penumpangnya dan batu besar itu di pandang dalam kerangka apa…? jawabannya hanya ada dua kerangka fisis atau kerangka metafisis. 😕
    .
    kerangka fisis
    .
    kita mengasumsikan bahwa batu besar itu pasti akan jatuh menimpa jalan dengan alasan bahwa ada penyebab pasti bahwa batu harus mengelinding dan jatuh menimpa jalan.
    .
    untuk penyebab batu jatuh kita kesampingkan dulu sebab jika harus dilibatkan tentu masalahnya bisa sangat rumit.
    .
    kita coba pakai variable waktu dan jarak. diketahui bahwa 30 menit sebelum batu jatuh ada sebuah bis yang melaju konstan dengan kecepatan 80 km/jam. (
    titik ini di pakai sebagai titik acuan )
    .
    pada menit ke 20 sebelum batu jatuh menimpa jalan ada sepasang kekasih dalam bis yang sedang asik memadu kasih . mereka berdua terpesona memandang keindahan gunung kapur yang ada di Padalarang sehingga pada menit ke -7 mereka berdua memutuskan turun dari bis untuk menikmati keindahan panorama gunung kapur.

    .
    pada menit ke 5 bis berhenti untuk menurunkan mereka berdua dan pada menit ke-2 bis melaju kembali.
    .
    tepat setelah 2 menit bis melaju kembali ( dari kondisi diamnya ) maka terjadilah kecelakan itu yang membuat sepasang kekasih itu terperanjat kaget melihat pemandangan itu. sehingga terucap kata Kami berharap kami berdua berada dalam bi situ .
    apa alasan mereka berdua mengucapkan hal demikian…? saya tidak tempe tahu:mrgreen:
    .
    kerangka metafisis
    .
    kalau dalam kerangka metafisis ini cukup berat soalnya pakai sudut pandang apalagi selain sudut pandang filsafat dan spiritualitas.
    .
    kalau pake prespektif filsafat tentu kita mau tidak mau membahas masalah free will dan determinisme.
    .
    nah kalau pake prespektif spiritualitas biasanya akan jatuh ke konsep takdir/karma. bahwa segala sesuatu itu tidak bisa terlepas dari hukum sebab akibat.
    .
    biar gampang ya pake sudut spiritualitas bahwa kejadian itu terjadi sesuai dengan karma/takdir seluruh penumpang dalam bis terkecuali dengan sepasang kekasih tadi yang memiliki karma yang tidak sejalan dengan penumpang lain yg seluruhnya mati tertimpa batu besar.
    .
    nah lain cerita kalau dalam bis itu ada kang Tono , mungkin saja pada menit ke- 20 kang Tono maksa turun karena kebelet pengen pipis dan menit ke-15 bis jalan kembali nah pada menit ke-5 bis gak bisa melanjutkan perjalanan karena terhalang oleh batu besar yang menutupi badan jalan oleh sebab lonsor.
    .
    para penumpang banyak yg menggerutu kesal dan kang Tono malah nyengir:mrgreen:
    .
    nah pertanyaannya kenapa kang Tono nyengir …?😆

    • m4stono says:

      jawabannya kenapa saya nyengir…karena bisa mbuat situ pake jawaban yg muter2 dan capek2 nulis panjang2…kalo capek….jawaban persisnya …untukku nyawaku, untukmu nyawamu…gitu aja repot…hihihihi :mrgreen:

  21. sikapsamin says:

    Ada lagi jawaban yang lebih menghemat huruf :

    “Emang Gue Pikirin”

  22. Lambang says:

    Nah ini enaknya olahraga dengan mas Gem. Selalu ditinjau dari dua sudut, fisis dan metafisis.

    Dari tinjauan fisis, pendapat KangTono ada benarnya. Ada kemungkinan getaran bis yang menyebabkan batu jatuh, karena kita tidak tahu persis ukuran batu dan batu berada di ketinggian mana sebelum jatuh. Jangan-jangan hanya 10 meter di atas bis. Tapi kalau lokasi batu misalnya lebih dari 50 meter di atas, mestinya getaran bis tidak mampu untuk menjatuhkan batu.

    Kalau dari tinjauan metafisis dan menganggap ada keterlibatan Tuhan di dalamnya, ya mungkin itu memang sudah karma/takdir. Tapi kalau menganggap hanya hukum alam yang berjalan dan Tuhan sudah melibatkan diri dalam hukum alam itu, maka itu hanyalah kebetulan saja (walaupun ada teori yang menyebutkan bahwa tidak ada yang kebetulan di alam ini, karena semua terjadi berdasarkan random pattern).

    Kalau Kangtono kemudian nyengir, itu jelas ada beliau senang karena ada hubungannya dengan pengurangan populasi dunia.:mrgreen:

    Na, kalau pendapat mas Samin dan KangTono masih bisa disingkat lagi dengan penghematan huruf menjadi EGP, dan sepertinya ini sesuai dengan kalimat sakti KangTono, “untukku nyawaku, untukmu nyawamu.”:mrgreen:

    Jadi inget cerita waktu ada kesemrawutan calon haji yang mati terinjak-injak di terowongan Mina beberapa tahun yang lalu. Ada beberapa saksi yang merasa diangkat dan diterbangkan oleh makhluk tinggi besar dan dipindahkan ke tempat aman. Apakah ada kesalahan Tuhan dalam “rancangan dan penciptaan bencana” pada waktu itu sehingga perlu menurunkan tim penyelamat untuk mencomoti orang yang harus diselamatkan? Masih belum jelas. Kalau hanya ditinjau dari sisi iman sudah jelas maksudnya agar orang yang terselamatkan itu semakin beriman.😎

  23. G3mbel says:

    4. kalopun toh saya tahu masa depan saya juga tetep keluar bis dengan alesan biar mengurangi populasi dunia.:mrgreen:

    .
    waah kayaknya KangTono n mas Lambang tuh gak baca tuntas uraian kasus yang saya jelaskan diatas. 😦
    .
    kemungkinan kejadian itu hanya ada tiga kemungkinan ( di tinjau bahwa alam itu bersifat deterministik dan manusia itu memiliki free will )
    .
    1. Batu akan jatuh setelah bis lewat jika sepasang kekasih itu batal turun dari bis.
    2. Batu akan jatuh menimpa bis dan semua penumpang tewas termasuk KangTono oleh karena 3 menit terbuang untuk menurunkan sepasang kekasih itu
    3. Batu akan jatuh sebelum bis lewat sebab 8 menit waktu terbuang, yang masing-masing 3 menit untuk sepasang kekasih dan 5 menit untuk nungguin pipisnya KangTono 😆
    .
    jadi jawaban KangTono no 4 tuh sangat tidak relevan ama tujuan ( mengurangi populasi dunia ) mestinya kalau bermaksud mengurangi populasi dunia seharusnya KangTono jangan turun dari bis sebab jika KangTono turun dan sepasang kekasih turun juga maka semuanya akan selamat. :mrgreen:
    .
    curiga nih kayaknya ada yang nilai rapor matematiknya kebakaran 😆

    • Lambang says:

      Sebetulnya sih jawaban saya masih berada di jalur yang benar.

      Dari sisi fisis, hitungan matematika itu bisa dianggap benar kalau menit jatuhnya batu tidak boleh berubah. Padahal ada kemungkinan batu itu jatuh karena pengaruh getaran bis (seperti kata KangTono). Jadi rumusan matematikanya dianggap sudah tidak berlaku lagi dan diganti dengan rumusan fisika.🙂

      Dari sisi metafisis, dan untuk gampangnya katanya mau memakai perspektif spiritualitas, maka disimpulkan bahwa kejadian itu terjadi sesuai dengan karma/takdir. Padahal takdir itu jelas sumbernya dari Tuhan, wong definisi takdir itu baru muncul di Al Qur’an. Nah kalau analisa logika gini duhubungkan dengan Tuhan ya ngga bakalan nyambung.:mrgreen:

  24. G3mbel says:

    maaf mas Lambang, si mas ini kayaknya hobi mengaitkan segala sesuatu itu dengan Tuhan, sehingga bicara takdir dan kiamat pun Tuhan mesti di bawa-bawa , bagi saya pribadi sikap seperti ini sungguh gak sopan beneran.
    .
    itu sama saja dengan tidak tahu “diri” sekaligus tidak mengenal-Nya.🙂
    .
    ini cuma versi saya aja kok yg sangat di jamin kesesatannya :mrgreen:

    • Lambang says:

      Hehe.. itu sebetulnya salah satu metoda yang saya gunakan untuk memancing pendapat orang lain. Saya buat dulu kesan seolah saya sejalan dengan mereka, dikit-dikit pakai Tuhan gitu, setelah itu akan saya sodori pertanyaan atau pernyataan yang mengaburkan kembali pendapat sebelumnya, dengan tujuan untuk membuka pemikiran ke arah yang “out of box thinking”.

      Bagi umat Islam yang merasa sudah ada di jalan yang lurus, mereka jelas berpendapat bahwa Tuhan itu sebagai sosok hakim dan pengamat, dan kalau ada “something wrong” lalu Tuhan turun tangan dan memperbaiki. Ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa Tuhan kurang mampu dalam perencanaan dan penciptaan.

      Mereka juga berpendapat bahwa Tuhan itu mengatur segalanya, mulai dari lahir, jodoh, rejeki, dan mati. Kalau kita jauh dari Tuhan, maka Tuhan juga jauh dari kita. Kita juga harus berbaik-baik kepada Tuhan agar Tuhan juga baik kepada kita. Ini secara tidak langsung juga menunjukkan bahwa Tuhan itu pendendam dan kurang bijak.

      Secara pribadi, saya tidak berada di jalur pemikiran seperti itu. Saya lebih cocok dengan konsep Panentheism yang menyebutkan bahwa semuanya adalah bagian Tuhan. Ini kemudian saya tambahkan dengan pemahaman bahwa semua alam semesta dan isinya ini adalah evolusi bagian dari Tuhan. Oleh karena itu, sampai saat ini tidak ada yang bisa membuktikan bahwa doa bisa dikabulkan saat ini juga. Jadi kalau ada orang yang merasa bahwa doanya dikabulkan itu juga salah persepsi. Sebetulnya pancaran enerji positif dialah yang membuat keinginannya menjadi kenyataan. Bukan Tuhan. Tetapi ini kan tidak sesuai dengan scripture dan karena blog saya menggunakan nama Islam, maka saya terpaksa seolah setuju bahwa Tuhan itu menjadi hakim dan supervisor.
      *makanya mau pindah blog biar lebih bebas berkreasi*

      Oiya, kalau ada orang yang merasa sudah mengenal diri dan sudah mengenal-Nya, saya pikir ngga beda jauh dengan saya, mengenalnya hanya berdasarkan ilusi, imajinasi dan persepsi saja. Dijamin tidak ada bukti apapun yang menunjukkan bahwa Tuhan itu ada, kecuali hanya bukti imajinasi dan bukti persepsi. Termasuk juga orang-orang yang pernah masuk ke alam gaib sana dan sampai di langit ke tujuh, yang muncul di sana-pun hanyalah refleksi dari imajinasinya yang dianggap sudah mewujud, padahal ya begitulah.

      ini versi saya yang ngga dijamin kebenarannya juga koq:mrgreen:

  25. G3mbel says:

    hehehe…
    .
    penyaksiaan itu hanya sampai pada manifestasi Tuhan yang paling puncaknya saja ( manifestasi absolute ) tapi bukan pada wujud mutlaknya.
    .
    kalaulah ada mahluk yg paling sempurna yg diberi nama manusia tapi bukan manusia yang kesempurnaannya melampaui semesta mahluk lainnya dari mulai derajat terendah sampai tertinggi. maka dia itu mustahil mampu melihat “keatas” ( wujud mutlak Tuhan tapi hanya mampu menyaksikan “kebawah” yaitu manifestasi wujud tuhan di semesta alam ( alam semesta yang tak terhitung jumlahnya baik yang fisis terlebih lagi yang metafisis serta supra metafisis ) dan dia mampu melihat keterpaduan dalam keterpisahan, perbedaan dalam persamaan , semesta wujud dalam ketiadaan. dan yang terpenting adalah kemanunggalan ( satu ada pada semua, satu meliputi semua, satu ada diantara semua )
    .
    jadi sudahlah wacana Tuhan itu diakhiri sampai manifestasi mutlaknya saja yang pastinya itu bukan wujud tuhan yang asli tapi hanya sekedar manifestasinya saja. jadi kalau orang sudah sampai ke level sini terserahlah dia mau mengaku atau di cap apapun sudah gak berpengaruh lagi, la wong eksistensinya saja sudah tak terdefinisi jadi mau atheis, theis, pantheisme, satanisme, iblisme, budha,zoroasterisme, hinduisme, islam gadungan islam , kristus, avatar, bodohisme, atau apapun sudah tak berpengaruh samasekali 😆
    .
    sama seperti orang yang kesadarannya masih berada di alam fisis dia itu hanya mampu menyaksikan semesta bentuk materi tapi mustahil bisa menyaksikan wujud mutlak materi yaitu satu bentuk energi tunggal yang definit dan begitu mengerikan sebab selalu dalam keadaan terus berubah dalam samudra bentuk yang tak terhitung jumlahnya.
    .
    jadi seterusnya kita bicara hanya pada wilayah tingkat pusaran energi saja mengacu pada esensi. dan bicara masalah bentuk nyata saja terkait dalam masalah persepsi. dan perlu diketahui bahwa pusaran energi terendah itu adalah energi yang mewujud dalam bentuk materi .
    .
    nah kita mengenal gradasi energi dari yang terendah sampai yang tertinggi kalau kita pake metapora fisis kita pasti kenal dengan gradasi warna contoh warna biru . kita mengenal dan bisa membedakan biru paling muda sampai biru paling tua hingga nantinya berubah menjadi warna violet.
    .
    begitupun dengan gradasi cahaya kita mengenal cahaya di alam fisis dari mulai cahaya paling redup sampai cahaya paling terang sehingga mata tak mampu lagi melihatnya sebab panjang gelombangnya semakin pendek hingga cahaya alam materi itu sirna berganti wujud bentuk alam metafisis.
    .
    ruang yang tak terjangkau cahaya maka akan tampak kegelapan. meskipun sebenarnya bisa menjadi cahaya terang jika sudah berada dalam dimensi lain.
    .
    alam materi itu bisa dikatagorikan alam tergelap jika mengacu pada sumber semesta cahaya. sebab letaknya berada paling jauh.
    .
    maka dalam perjalanan pun manusia mustahil melampaui penjara alam materi ini sehingga satu2 nya jalan yang paling memukinkan yaitu perjalanan masuk ke dalam diri.
    .
    dan hal yang dilakukan sebenarnya hanya melepas pakaian satu persatu dari mulai pakaian terluar hingga pakaian terakhir hingga akhirnya telanjang tanpa sehelai pakaian pun😆
    .
    anehnya setiap kali pakaian itu di lepas wujud diri itu semakin membesar dan terus membesar mencakup dan meliputi segala alam yang dilewatinya.😆
    .
    terkait dengan masalah 7 lapis langit saya lebih mampu menerimanya sebagai metaphora saja bukan dalam pengertian literal sebab 7 lapisan langit bisa di wakili dengan 7 pusaran sumber energi yang berada dalam tubuh halusnya manusia yang mewujud dalam tubuh kasarnya ( jasad ) . ini pun bukan satu kepastian hanya sebatas metaphora saja sebab bentuk sebenarnya yang langsung dapat kita rasakan adalah tingkat kesadaran akan “diri”, di mulai dari yg terendah sampai paling puncak dari yang puncak.

    .
    adapun dengan masalah persepsi saya tekankan bahwa persepsi itu mustahil ada jika tanpa realitas. sama seperti kita mempersepsikan realitas fisik dengan panca indra maka kita pun bisa menyaksikan realitas alam metapisis sama jelasnya dengan realitas alam fisis bahkan jika sudah sampai d sini maka realitas fisis itu seolah sirna binasa.
    .
    terkait dengan do’a itu hanya sebatas bentuk pemeliharaan tentang tentang entitas yang ada dalam diri manusia yaitu hal yang di kenal dengan nama “harapan”. dan manusia yang sudah tidak memiliki nyala harapan dalam dirinya maka dirinya seolah ada dalam kegelapan tak bertepi. jadi harapan itu bisa di umpamakan sebagai cahaya.
    .
    diri tanpa cahaya pasti akan diselimuti kegelapan makanya do’a itu diperuntukan bagi orang awam saja orang yang pengetahuannya belum mencukupi untuk menjangkau realitas yang lebih tinggi sehingga mereka terhindar dari sikap putus asa.
    .
    pada manusia yang sudah mencapai derajat kesempurnaan, bukan do’a lagi tapi kata.
    .
    jadi kata2nya bisa menjadi sabda yang dengan hanya dengan ucapan saja / bahkan lintasan hati saja bisa membuat suatu keajaiban yakni mengubah hukum alam fisis. sebab hal ini sangat wajar karena eksistensi diri sejatinya sudah melampaui alam fisis, metafisis bahkan supra metafisis yang lebih dekat dengan keilahian. salahsatu contoh yang fenomenal adalah Isa/Jesus yang di kenal dengan kalam ilahi atau di kenal dengan anak Allah yang mana eksistensinya sangat dekat dengan keilahian meskipun dia pakaian terluarnya ( jasad ) sama seperti manusia lainnya. tapi bisa di katakana dia itu manusia suci atau manusia sebagai manifestasi tuhan.
    .
    nah kalau membahas tentang Jesus/Isa tentu akan jauh lebih jelas jika kita membahas konsepsi “cinta” secara utuh dan menyeluruh. dan hal ini ntar kita bahas pada episode diskusi tentang “cinta” diblog saya. sebab kalau blog ini kan rencananya akan di tutup alias dilikuidasi😆
    .
    jadi bukti sementara untuk indikasi progress perjalanan diri ini adalah dari intensitas pengetahuan yang datang entah darimana…?🙄 ,
    .
    pada samasekali tidak membaca buku atau di kasih tau. Cuma melihat saja ke dalam diri dan semuanya ada di sana. namun yang paling sulit itu sebenarnya, ya mewakili dalam bentuk kata dan kalimatnya saja.
    .
    terus bisa di deteksi lagi melalui tingkat kesadaran serta stabilitas emosi yang semakin kokoh dan tenang.
    .
    ditambah lagi dengan intensitas penglihatan yang semakin cerah sehingga tidak sulit memahami segala sesuatu. dan pikiran tentunya sudah mati alias sudah dalam kondisi stabil tenang dan tidak bergejolak lagi.
    .
    hati akan terasa damai dan merasakan kepuasan dan kebahagiaan di segala kondisi. sudah terlepas dari hukum ada dan tiada.
    .
    demikianlah ciri ideal dari progres perjalanan.
    .
    sudah ah cape ngetiknya terlalu panjang
    .
    .

    .
    salam perjalanan semoga kita sama-sama tersesat ke jalan yang benar 😆

  26. Lambang says:

    Wua ini komennya lebih panjang lagi. Bisa jadi empat artikel nih.

    Ada sharing pendapat saya di sini.

    ..tapi mustahil bisa menyaksikan wujud mutlak materi yaitu satu bentuk energi tunggal yang definit dan begitu mengerikan sebab selalu dalam keadaan terus berubah dalam samudra bentuk yang tak terhitung jumlahnya.

    Energi tunggal ini masih berupa hipotesa para ahli dan sampai saat ini masih belum bisa di-indera walaupun dengan peralatan canggih. Salah satunya yang sedang dilakukan sekarang adalah menggunakan Large Hadron Collider itu, untuk melihat bagaimana kelakuan single-proton kalau diberi energi mekanis sangat besar.

    ..adapun dengan masalah persepsi saya tekankan bahwa persepsi itu mustahil ada jika tanpa realitas. sama seperti kita mempersepsikan realitas fisik dengan panca indra maka kita pun bisa menyaksikan realitas alam metapisis sama jelasnya dengan realitas alam fisis bahkan jika sudah sampai d sini maka realitas fisis itu seolah sirna binasa.

    Saya pernah diskusi dengan satu kelompok pelaku spiritual yang semuanya sudah bisa mengalami out-of-body experience. Ini mungkin istilah lain dari ngrogo sukmo atau mi’raj. Lalu ditentukan satu target, dan malamnya semua berangkat. Apa yang dialami masing-masing di sana itu sangat berbeda jauh, walaupun targetnya sama. Malam berikutnya didiskusikan dan akhirnya diperoleh kesimpulan bahwa pengalaman hidup masing-masing itu sangat berpengaruh dalam pembentukan realitas maya di alam sana. Jadi walaupun masing-masing merasakan itu sangat nyata, bisa dilihat, bisa dipegang, bisa dicium baunya, bisa dirasakan, tetapi disimpulkan bahwa itu hanyalah imajinasi yang mewujud menjadi seolah nyata. Tidak menutup kemungkinan mas Gem punya pengalaman yang berbeda dan bisa menyimpulkan bahwa itu adalah realitas yang sesungguhnya. Benar-benar realitas, dan menjadi pengalaman yang sama bagi setiap orang.

    jadi kata2nya bisa menjadi sabda yang dengan hanya dengan ucapan saja / bahkan lintasan hati saja bisa membuat suatu keajaiban yakni mengubah hukum alam fisis

    Hipotesa inipun juga pernah kita bahas di kelompok itu. Ternyata pada saat diri sudah menjadi Aku (atau Tuhan kecil), yang sudah mampu mencapai kun-fayakun, masih ada keterbatasan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Contohnya pada saat akan menghentikan semburan Lapindo, maka mendadak muncul pemahaman (anggap saja sejenis bisikan gaib gitu) bahwa penutupan itu bisa menimbulkan bencana baru di lain tempat dan hukum fisis yang ada tidak boleh diganggu. Aktivitas kita bisa menimbulkan ketidak-seimbangan baru dan itu bisa menjadi bencana. Makanya walaupun sudah sampai tingkatan kun-fayakun, tetep ngga bisa sak-karepe dewe. Ada aturan universal yang harus diikuti. Hukum Fisika Tuhan tidak akan bisa diubah. Membelah laut Merah, mengeluarkan air dari batu, dan menghidupkan orang mati itu masih bisa dinalar dengan hukum fisika. Referensi tentang aturan universal ini bisa dilihat di Google tentang OOBE (Out of Body Experience) atau NDE (Near Death Experience). Isinya ngga beda jauh dengan cerita teman-teman tadi.

    Semoga kita terbimbing kearah pemahaman yang lebih benar.😆

  27. murid awam says:

    tertawa2 sendiri q baca komen2 diatas, muncul pemahaman baru dan beda dari yang saya pelajari tentang kehidupan. ternyata hidup ini beda dari yang saya persepsikan selama ini, kira2 buku apa yang buku yang bagus untuk di baca tentang kehipan. murid perlu bimbingan, salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s