Tragedi Kiyai Liberal, Akhir Hayatnya Memilukan

“Apa!? kamu hamil?!” Pak tua itu terbelalak mendengar pengakuan putri bungsu yang dicintainya. Dia langsung berdiri dan memburu ke arah sang putri, mengangkat tangannya tinggi-tinggi, siap mendaratkan tamparannya, tapi…

“Jangan Paa… sabaar..!” istrinya menjerit sambil berusaha menghalangi dengan memeluk erat tubuh gadis kesayangannya. Sang bapak pun mengurungkan niatnya, tapi nampak jelas kemarahan dan kekecewaan luar biasa menguasai dirinya. Tubuhnya bergetar, matanya merah melotot, menatap tajam ke arah putrinya.

“Siapa!? Siapa yang berbuat kurang ajar begini, hah??” bentaknya tiba-tiba.

Sang putri hanya terdiam, terisak dan menyembunyikan wajahnya dalam pelukan sang ibu.

“Ya Allahhh… kenapa ini terjadi pada keluargakuu..?? Aku yang ditokohkan orang sebagai cendekiawan muslim terkemuka di negeri ini, hanya membesarkan seorang pelacur!!!” Orang tua itu mengeluh dan mengomel seolah ingin memuntahkan seluruh kekesalan dan kekecewaan dari ubun-ubunnya. Sementara, sambil terus memeluk anaknya, sang istri berusaha menenangkan suasana.

“Istigfar Paa, siapa sih yang pelacur? Anak kita kan hanya korban…” belum selesai si istri berbicara, “Korban apa? Wong dia sengaja melakukannya!!!” Pak tua yang masih kesal itu kini bertambah marah mendengar istrinya berusaha membela sang anak.

Suasana langsung hening, sang istri hanya menunduk, tidak mampu berkata apa-apa. Sejenak kemudian lelaki tua itu menarik kursi ke arah istri dan anaknya yang masih saling berpelukan, dan menghempaskan tubuhnya yang mulai renta itu.

“Ufhhh…, kenapa kau lakukan ini, Nak?” nada bicaranya nampak mulai menurun. Lalu dia menunduk sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan keriputnya, seakan tindakan itu bisa menutupi rasa malu yang akan dipikulnya ketika tersiar kabar di media massa infotaintment, “Putri Cendikiawan Muslim Terkemuka, Hamil di Luar Nikah dengan Pemuda Kristen.”

“Pokoknya, kamu harus dicambuk seratus kali!” tiba-tiba dia berucap tegas. Istrinya yang sedari tadi diam, serta-merta menoleh ke arahnya sambil mengernyitkan dahi.

“Apa, Pa? Dicambuk? Bukannya papa pernah bilang cambuk itu hukuman primitif yang tidak pantas untuk diberlakukan lagi? Papa juga sering menulis di buku dan berbagai media bahwa hudud itu sudah tidak relevan dan ketinggalan zaman?!” sang istri memberanikan diri untuk angkat bicara.

Mendengar itu, sang cendekiawan pun semakin terhenyak ke kursinya, dia pun terdiam tak tahu harus bagaimana.

*****

Semenjak kejadian itu, kini lelaki tua tujuh puluh tahunan itu terkulai lemah di atas pembaringan sebuah ruangan gawat darurat sebuah rumah sakit ibu kota. Dia mengalami depresi yang cukup berat. Dalam dirinya terjadi pertentangan batin yang hebat. Dia sadar bahwa selama ini dia terdepan meneriakkan keabsahan nikah beda agama, meneriakkan slogan  anti penerapan syariat Islam, menentang jilbab dan menyatakan jilbab bukan ajaran Islam tapi tradisi Arab. “Itu budaya orang Arab, bukan budaya Islam!” tegasnya setiap saat ketika memberikan mata kuliah di depan mahasiswanya.

Tapi, kini nuraninya berontak ketika menyaksikan kedua putri-putrinya menyingkap aurat, berpakaian minim dan sudah tidak seakidah lagi dengannya. Dia ingin menyuruh mereka istiqamah dalam syariat Islam, hidup dalam rumah tangga islami,  dan menutup aurat seperti yang diperintahkan Al Quran, tapi apa daya nasi sudah menjadi bubur. Kedua putrinya justru jadi orang yang gigih mengamalkan ideologi sekuler liberalnya.

Dengan busana gaul ala artis MTV, kini putrinya terjerumus kepada perbuatan zina dengan pemuda non muslim. Nuraninya menuntut untuk menjatuhkan hukuman sesuai dengan syariat Islam. Karena dia sangat mengerti bahwa hukuman di dunia akan membebaskan sang putri dari hukuman yang lebih dahsyat di akhirat nanti.

“Nak, walau bagaimana, kamu adalah seorang muslimah, jika terlanjur melakukan zina, kamu harus bertobat dan dihukum dengan hukuman yang telah ditetapkan oleh Islam.” Entah untuk ke berapa kalinya dia mengatakan itu pada sang putri. Karena tuntutan nuraninya, dia selalu mencoba meyakinkan putrinya agar mau menjalani hukuman cambuk dan pengasingan.

Hingga suatu ketika, saat saat sang putri membesuknya, dia mencoba membujuk putrinya. Tak disangka-sangka sang putri langsung berkata, “Ya sudah, kalau memang dalam Islam seperti itu, aku mau masuk Kristen aja!”

“Apaaa?!” bak disambar petir, pak tua itu langsung terlonjak berdiri. Matanya melotot seolah mau copot. “Kamu sudah gila, ya? Kalo kamu masuk Kristen, kamu berarti Murtad!! Kamu kafir dan…” Ia tak sanggup lagi meneruskan kata-katanya, karena amarahnya sudah membumbung tinggi. Dengan suara menggelegar dia hardik sang putri yang langsung terdiam, menggigil ketakutan.

“Apa nggak salah denger nih, Pa?” tiba-tiba putri sulungnya yang kebetulan sedang berkunjung, angkat bicara membela adiknya. “Papa ngomong apa sih, murtad.. kafir… Hak Diana dong Pa, untuk masuk Kristen, karena dia sudah merasa tidak cocok dengan Islam. Agama kan, wilayah privat yang tidak bisa dicampuri orang lain. Pindah agama ke Kristen adalah wilayah privat Diana. Papa tidak bisa, dong… ikut campur!”

“Jangan asal ngomong kamu, Len!!” pak tua itu langsung membentaknya.

“Dengar Lena, sebenarnya papa tidak pernah merestui kamu menikah dengan orang Kafir itu. Haram hukumnya muslimah menikah dengan orang kafir!!”

“Sekarang papa berani bilang begitu, lalu kenapa papa selama ini sibuk menulis di buku dan berbagai media bahwa semua agama itu sama kebenarannya? Untuk apa papa berkoar-koar semua pemeluk agama akan masuk surga? Itu semua bohong? Iya, Pa? Papa selama ini hanya menipu orang banyak dengan semua tulisan dan ucapan Papa itu?” Lena memberondong sang ayah yang sudah tua dan sedang sakit itu dengan berbagai pertanyaan yang sangat menyudutkan.

“Diaamm..!!!” dia semakin kalap mendengar ocehan sang putri sulung.

“Kenapa Lena harus diam? Lena kan hanya mengulang ucapan-ucapan yang Papa ajarkan!” Si sulung tidak mau kalah, balas membentak. “Asal Papa tahu, sekarang aku sudah ikut agama Mas Yudha, aku sudah masuk agama Budha!”

“Apaa?! … beraninya kamu murtad Lena.. kamu sudah kafir, akan masuk neraka… darahmu sekarang halal ditumpahkan… akan aku bun… aaaakhhh!”

“Pa..pa..istigfar pa…, istigfaaar!!!” Sang istri berusaha menenangkan suaminya yang berteriak-teriak mengigau. Lelaki itu terus meronta-ronta sambil berteriak tak karuan. “Susteer… tolong susteer..” Sang istri pun menjerit histeris. Tak lama kemudian berdatanganlah beberapa perawat laki-laki, memegangi tangan dan kakinya sampai dia tenang kembali.

“Ahh.. hhh..hhh” lelaki itu nampak terengah, nafasnya memburu..

“Tenang Pak, istigfar..” salah seorang perawat terus berusaha menenangkannya.

Lelaki tua itu pun berangsur tenang, perlahan dia membuka kedua bola matanya, memandang sekelilingnya. Nampak olehnya sang istri yang masih menyisakan cemas di wajahnya. Kedua biji matanya menyapu sekeliling ruangan itu, namun tak didapatinya kedua orang putrinya.

“Ma.. apa.. d..Di..ana jj..jadi masuk kk..Kristen?” mulutnya bergetar, dengan suara yang amat lemah dia berusaha bertanya ke istrinya. Setelah terdiam beberapa saat, bingung harus menjawab apa, sang istri pun memberanikan diri untuk mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

..Kepalanya terkulai lemas, tatapannya kosong, perlahan dia pun kembali memejamkan mata… tiba-tiba.. dia teringat sebuah hadits Nabi yang dulu sangat dihafalnya sejak kecil…

“Fhhhhh…” lelaki itu menghembuskan nafas kuat-kuat, seolah ingin melepaskan semua beban di dadanya. Kepalanya terkulai lemas, tatapannya kosong, perlahan dia pun kembali memejamkan mata… tiba-tiba.. dia teringat sebuah hadits Nabi yang dulu sangat dihafalnya sejak kecil… “Apabila anak Adam meninggal dunia, terputus seluruh amalannya kecuali tiga perkara… Ilmu yang bermanfaat, shadaqah jariah, dan anak shaleh yang akan mendoakan..” Dia langsung membelalakkan matanya, “Anak yang shalehhh…” mulutnya berdesis. “Aku tidak punya anak yang shaleeeh… kedua putri ku telah murtaaad!!.. aahhh, siapa nanti yang akan mendoakanku?? Hik..hik..hik..” dia pun terisak, tubuhnya berguncang hebat menahan isakan tangis penyesalannya.

***

Sang cendekiawan tertunduk menatap tajam ke arah gundukan tanah yang masih merah tempat istrinya dibaringkan untuk selama-lamanya. Tanpa disangka, istrinya yang segar-bugar, mendahuluinya menemui sang Khaliq. Sementara sang cendekiawan tua yang belum bisa mengatasi depresi berat itu masih bertahan hidup, meski sakit-sakitan. Kini, tinggallah Kyai Liberal ini dengan dua orang putrinya.

Tiba-tiba dia tersentak, teringat kedua putrinya kini beda agama dengannya, berarti hanya dia sendiri yang muslim.

Ketika hendak beranjak berdiri. Tanpa sengaja bola matanya terpaku pada sebuah nisan berlambang salib, tak jauh dari makam istrinya. “Ya Allah, bila aku mati nanti, akankah namaku terpampang di batu nisan seperti di makam salib itu?” [azz@hra/voa-islam.com]

Sumber: voa-islam.com
Gambar: voa-islam.com
Google Similarity Search Result pada tgl 05-Jan-10 : 4 articles.

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Islam, Kehidupan, Pencerahan, Renungan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

24 Responses to Tragedi Kiyai Liberal, Akhir Hayatnya Memilukan

  1. m4stono says:

    lha emang kalo murtad trus mau apa? kalo masih muslim apa juga lebih baik?:mrgreen: ….jadi teringat ada seorang tokoh yg mengatakan kira2 gini “mending menjadi rakyat muslim yg bodoh ketimbang menjadi rakyat yg pandai dan cerdas tapi atheis” ini keknya bernuansa politis karena diucapin pas menjelang pemilu:mrgreen: kalo gak salah lho ya…..

    kalo milih menjadi orang muslim yg bodoh ketimbang pandai atheis ntar lama2 menjadi bodoh kapir dan bisa bodoh atheis juga:mrgreen: karena dgn kebodohan hanya menjadi “alat” pemuka agama dgn dalih “aku lebih tahu agama dari kamu maka kamu harus ikut aku” karena lama2 ndak kuat juga dengan kemisikinan, kebodohan tapi tetap muslim tapi tidak bisa membuatnya lebih baik, dan lama2 bisa bunuh diri karena beban hidup, dan bisa murtad juga di iming2i indomi…..kalo bisa ya muslim yg pandai dan cerdas:mrgreen: gimana tanggapan pak professor Lambang P.hD ?:mrgreen:

    • Lambang says:

      Kalau menurut saya yang bodoh dan kapiran ini, manusia itu harus hidup dengan hatinya. *halah*

      Agama, keyakinan, spiritual, ritual dan lain-lain itu hanyalah alat untuk memperbaiki hati. Pinter dan bodoh itupun juga sarana untuk memperbaiki hati. Semakin cerdas seseorang, maka akan semakin banyak referensi yang digunakan sebelum melakukan sesuatu. Ucapan dan tindakannya menjadi terkontrol oleh berbagai referensi yang ada dalam otaknya.

      Seperti biasa, saya pakai contoh, “Ada orang yang teriak-teriak bacok, bunuh, kapir….”
      Seandainya orang itu sedikit lebih pandai dan memiliki lebih banyak referensi, harusnya dia berpikir bahwa tikus sawah yang budhuk pileren-pun masih punya hak untuk hidup. Kenapa sesama manusia harus saling membunuh? Bukankah ini menunjukkan bahwa hatinya gelap. Hatinya telah hitam dan membatu sehingga tidak bisa merasakan empati yang seharusnya ada dalam hatinya. Banyak yang salah menafsirkan bahwa hati hitam itu hanya untuk urusan dengan Tuhan. Padahal menurut saya, untuk sesama manusia sangatlah penting kalau seseorang itu memiliki hati yang bersih dan bening.

      Saya yakin seseorang itu tetap akan “disikat” oleh Tuhan selama dia tidak melakukan ibadah horizontal, walaupun ibadah vertikalnya sudah setinggi menara Dubai di atas gunung Semeru.😀

  2. tomy says:

    Seringkali kami menghadapi permasalahan seperti ini sepasang anak muda yang beda agama & hamil diluar nikah….hanya di Indonesia mungkin dimana cinta seringkali harus dipisahkan karena beda keyakinan agama & saya gak tau juga apa hamil diluar nikah karena anak muda korban dari keadaan…
    Kedua orang tua mereka bersikukuh untuk mempertahankan iman (agama) anak mereka karena seringkali kita berpikir Tuhanmu adalah Iblisku dan murtadmu adalah hidayahku….

    Salah satu solusinya yang sering berhasil bagi mereka yang takut dengan dosa (Tuhan…lalu melembagakan ketakutan itu di dunia..)adalah dengan menakut-nakuti juga dengan dosa..terutama ayah si anak perempuan yang harus bertindak sebagai wali nikah..dosa terhadap kehidupan sang cucu bila nanti lahir…

    • Lambang says:

      Pernah saya baca kasus sejenis di jazirah Arab sana (lupa di negara mana), ada seorang Ayah yang membunuh anaknya hanya karena si anak pernah sekali keluar ke tempat umum tanpa menggunakan burka (jilbab full seluruh badan). Berita ini beredar luas di kalangan publik Amerika dan Eropa sehingga menimbulkan kesan baru tentang Islam. Makanya saya maklum kalau popularitas Islam sangat jatuh di mata dunia, dan ini jelas akan menimbulkan konflik agama yang baru. Ini akan seperti bola salju dan mungkin akan menjadi penyebab perang Dunia ke tiga.

  3. sikapsamin says:

    Dhawuhe…simbah,
    islam/muslim sejati iku : “SUMARAH lan SUMELEH” teges’e – SUMARAH sebagaimana Tuhan Ciptakan (as God’s-Create) dan SUMELEH sebagaimana Tuhan-Tetapkan (as God’s-Fitted) – gitu aja kok mbulet…
    Contoh-Jelasnya kaya kiye : SUMARAH sebagaimana Tuhan-Ciptakan menjadi ‘pohon’ serta SUMELEH sebagaimana Tuhan-Tetapkan menjadi pohon ‘kolang-kaling’…
    Pohon Kolang-kaling…ya berbuah kolang-kaling, ini islam/muslim sejati…

    Lha…kalau ‘pohon kolang-kaling’ kemudian ingin ber/di-ubah berbuah korma…ini yang namanya Bid’ah, Kapir, Murtad…Neraka-Jahanam
    Contoh lain…Sapi tiba2 ingin ber/di-ubah… berbentuk/berbunyi Onta, ini Bid’ah, Murtad, Kapir…Neraka Jahanam

    Mbuh nyambung mbuh nggak…suka2 sinyo to

    • Lambang says:

      Kalau SUMARAH, saya setuju karena manusia tidak bisa merubahnya. Diciptakan sebagai manusia, jelas ngga mungkin bisa berubah jadi onta atau kodok.:mrgreen:

      Tapi kalau SUMELEH, pengertian saya sumeleh itu pasrah dan nrimo ketentuanNya. Nah ini yang masih kontroversi. Mana yang dianggap ketentuan (takdir) dan mana yang dianggap hasil usaha pribadi.

      Seperti biasa, pakai contoh lagi. Contohnya Michael Jackson atau Imaniar Noorsaid yang dididik sangat keras oleh ayahnya sehingga menjadi penyanyi yang ngetop. Ini adalah usaha yang bertentangan dengan SUMELEH itu, dan hasilnya luar biasa.

      Apakah jika tidak SUMELEH itu tidak baik? Menurut saya SUMELEH itu jalan hidup kejawen yang sangat dipengaruhi oleh Islam, bahwa manusia itu harus pasrah kepada qadha dan qadr dari Tuhan. Sebetulnya SUMELEH itu bisa diterapkan tapi tergantung pada posisi dimana kita berada. Kalau posisi kita hanya sebagai pegawai yang merasa sudah mentok dan pas-pasan, merasa tidak ada jalan lain, jalan terakhir ya hanya bisa SUMELEH.

      Tapi kalau kita sebagai pimpinan atau enterpreneur, ya harus tegas dan keras. Tidak boleh SUMELEH. Dan Gajah Mada sudah membuktikan itu demi kejayaan Majapahit. Begitu juga dengan Soekarno, Mahathir Mohammad, dan Yasser Arafat.

      Padahal mau pilih SUMELEH atau tidak, ya tergantung pola pikir kita sendiri. Gampang menyerah atau memiliki semangat tinggi untuk maju.

      Salam SINYOKU!

  4. tomy says:

    Saya yakin seseorang itu tetap akan “disikat” oleh Tuhan selama dia tidak melakukan ibadah horizontal, walaupun ibadah vertikalnya sudah setinggi menara Dubai di atas gunung Semeru

    manusia benar adalah makhluk subyek maka dalam setiap perjalanan hidupnya akan selalu mencoba memaknai kembali eksistensinya, dimana akan memperoleh kepenuhan hanya dalam hubungan sosialnya dengan manusia lain, subyektivitas-subyektivitas yang lain.
    Inilah pengajaran berharga yang diwariskan Socrates juga Guru Bangsa kita Gus Dur

    Sebutir nasi hasil dari saling hubungan semua manusia
    http://tomyarjunanto.wordpress.com/2010/01/05/tri-jana-upaya/

  5. sikapsamin says:

    Lha…Gajah Mada atau Soekarno, seandainya mereka lupa akan SUMELEHnya…bisa2 berjuang bukan utk kejayaan Majapahit atau NKRI…tapi untuk kejayaan Arab Saudi atau Mongol… Ini contoh misal lho…
    Sekali lagi…SUMELEH saya kaitkan/terjemahkan dalam ‘as God’s Fitted’…(fitrah)
    Gajah Mada, Soekarno telah ‘as God’s Fitted’ sebagai Putera-Nuswantara…

    Sumangga dipun lanjut

    Salam…SUMELEH

    • Lambang says:

      Sepertinya kita memang berbeda persepsi tentang SUMELEH itu.:mrgreen:

      Menurut mas Samin SUMELEH adalah fitrah, dan manusia harus menjalani hidup sesuai fitrahnya. Dan sepertinya fitrah ini diartikan sebagai hak dan kewajiban yang berbeda-beda dari setiap manusia. Masalahnya sampai kapanpun kita tidak pernah tahu fitrah kita itu bagaimana, seperti apa dan akan menjadi apa. Kecuali kalau fitrah yang dimaksudkan adalah hak dan kewajiban yang bisa berubah-ubah sepanjang hidupnya sesuai dengan posisi/jabatannya saat ini.

      Menurut saya SUMELEH adalah rasa pasrah dan nrimo terhadap yang disebut fitrah itu. Fitrah ini saya artikan sama juga dengan takdir, nasib, qadha, atau qadr. Padahal takdir bisa diubah kalau kita mau, kecuali lahir dan mati.
      *jadi inget kata Mama Lorenzo, takdir tidak bisa diubah, tetapi nasib Anda bisa diubah. Ini kata bersayap, karena takdir dan nasib itu menurut KBBI sama artinya.*🙂

      Coba kita tunggu pendapat para ahli bahasa Jawa yang lain, seperti mas Tomy, KangTono, dan mas Jenang, barangkali ada masukan baru.🙂

      Sebagai contoh, misalnya saya ini blogger yang pingin jadi pemimpin rakyat. Apakah fitrah saya ini hanya menjadi blogger atau pemimpin? Saya ngga bakalan tahu. Lalu apa yang harus saya lakukan? Cukup pasrah sebagai blogger (sesuai fitrahnya saat ini) dan menunggu mukjizat agar bisa jadi pemimpin, atau memperdalam ilmu dan merintis jalan untuk menuju cita-cita sebagai pemimpin?

      Tetapi begitu menjadi pemimpin, ya harus bekerja sebagaimana seharusnya pemimpin. Harus ada target dan cita-cita, dan harus berjuang menuju itu. Kalau ini yang dimaksud mas Samin, ya artinya menjalankan hak dan kewajiban, dan ini keknya bukan SUMELEH ya..:mrgreen:

      Tapi itu semua hanya pendapat saya dan boleh saja pendapat mas Samin berbeda.

      Silahkan dilanjut…

      Salam Sumlehe!

      • tomy says:

        Saya Cuma bisa ngomyang begini :
        Manusia hidup untuk MENJADI
        Tak bisa tidak menjadi
        Dia hanya gagal karena telah terbelenggu persepsi
        Soaring like an eagle
        We are not a chicken at all

      • S™J says:

        sumarah artinya pasrah (surrender), ini menurut salah satu pelaku kejawen aliran sumarah yg saya kenal & konsisten dgn yg di situsnya. maknanya sih katanya nih, penyerahan total terhadap kehidupan, dalam arti sesuai kaidah hukum alam, sebab-akibat, dsb. tapi mungkin ada penafsiran lain. kalo sumeleh itu kata dasarnya kan ‘seleh’. berarti ada yg mesti ‘diletakkan’ pada tempat semestinya. soal apa itu, penafsirannya bisa beda2 masing2 orang mungkin.😎

  6. Assalamu’alaikum,
    Mas Lambang apa kabar, walau agak terlambat, saya ingin mengucapkan selamat Tahun Baru, semoga ditahun ini, semakin bertambah ketakwaan kita kepada Allah Swt, dan semoga kita bisa lebih sukses dari tahun sebelumnya. Maaf, saya lama absen ngeblog, jadi baru sempat berkunjung sekarang. (Dewi Yana)

  7. adi isa says:

    selamat tahun baru 2010
    semoga semakin sukses dan berjaya dalam hidup, karir dan ngeblog…🙂

  8. Yang-Kung says:

    Salam damai dan sejahtera mas Lambang.Sungguh sangat menarik kisah diatas dan menggelitik nurani kita.
    Kalau kita melihat taman bunga di kebun alangkah indahnya ciptaan Tuhan,berbagai bentuk dan warna bunga tumbuh bersama dengan penuh keindahan dan pesona.Kupu2 dan lebah2 dengan penuh sukacita beterbangan di atasnya menikmati hidup yang penuh damai.Sungguh kita bersyukur atas semua ciptaan Tuhan.
    *namun….,karena perbedaan keyakinan dan pandangan…,manusia sebagai makhluk paling sempurna yang memiliki akal budi dan bisa berpikir jauh ke depan menjadi berubah akal.Mengapa…,menapa….???

    salam rahayu.

  9. Fitri says:

    Saya sudah baca artikel ini di blog kabarnet.

  10. batjoe says:

    wah mantapazz mas artikelnya..

  11. Ibeng says:

    Waah !
    mau komentar apaya !
    lumayan buat pencerahan !

  12. siska says:

    Inspiring banget…

  13. cahyomulyo says:

    nyampleng

  14. umiaceh says:

    non fiksi

  15. rendi says:

    dasar agama/iman sejak kecil sangat menentuka bg pola pikir seseorang,,,pondasi yang bengkok maka bangunannyapun pasti akan bengkok,,dipaksakan luruspun gkbs,,bisa-bisa malah patah,,seperti itu pad akhirnya tergantung pad orang tua dlm memberikan dasar/akar,,akar lurus dan kuat akan baik,,mskipun pohonnya bengkok akan mudah meluruskan krna akarnnya sebenarnya lurus,,gmn mas lambang?salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s