Koreksi Arah Kiblat

arah_kiblat.jpgMenurut berita dari Okezone, MUI akan membahas arah kiblat pada bulan Pebruari mendatang. Di bawah ini saya sampaikan beberapa informasi yang terkait terhadap koreksi arah kiblat itu, dan beberapa pembahasan saya terhadap artikel tersebut.

.

Berita 1: Arah Kiblat Bergeser, MUI Jatim Dukung Depag Jateng

Surabaya, NU Online, 16 Oktober 2009
Terkait pergeseran lempengan bumi yang berpengaruh terhadap perubahan arah kiblat masjid, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surabaya menyatakan siap mendukung Departemen Agama (Depag) Jawa Tengah untuk melakukan sertifikasi arah kiblat.

Sesuai informasi dari Depag Jateng, arah kiblat masjid di kawasan Jateng telah mengalami pergeseran karena adanya pergeseran lempengan bumi. hal ini ditandai dengan peristiwa gempa bumi sebagaimana terjadi di beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Jawa Tengah pada saat gempa di Yogya atau Cilacap beberapa tahun silam.

Ketua MUI Jatim, KH Abdusshomad Bukhori, mengatakan, tidak ada masalah untuk menentukan kembali arah kiblat asalkan dilakukan dengan ilmu falaq untuk menentukan arah kiblat.

“Kalau di Jawa Tengah pernah ada gempa bumi sehingga ada kemungkinan perubahan arah kiblat, karena ada pergeseran lempengan bumi. Tapi kalau di Jatim, kondisinya relatif aman. Alhamdulillah tak ada perubahan geografis, sehingga MUI Jatim masih belum menentukan sikap atas perubahan arah kiblat itu,” terang Bukhori, Jum’at (16/10).

Menurut Bukhori, arus ada perhitungan yang matang dari para ahli yang memiliki kemampuan dalam menentukan arah kiblat, yakni yang menguasai ilmu falaq dan fiqih. MUI akan melihat perkembangan hasil dari sertifikasi tersebut untuk menentukan kebijakan masjid yang ada di Jatim.

“Kalau memang kebenaran arah kiblat sudah berubah, MUI Jatim juga akan melakukan perubahan arah kiblat. Karena kiblat merupakan isyarat umat Muslim untuk membangun satu misi dan visi untuk bersatu menegakkan ajaran agama Islam,” tegas Bukhori.

Lebih lanjut, Bukhori menjelaskan, pada zaman wali arah kiblat memang ke barat, namun agak menyerong ke arah kanan. Setidaknya masjid tua tersebut terletak di setiap alun-alun kabupaten/kota seperti masjid Agung Demak, Masjid Kauman Semarang, dan lain-lain.

Jumlah masjid di Jateng saat ini mencapai 39.478 bangunan. Sedangkan jumlah umat Islam di Jawa Tengah mencapai 32 juta orang. Untuk wilayah Jatim, terdapat sekitar 38 ribu masjid dan untuk musholla jumlahnya diatas seratus ribu bangunan. (min)

sumber: NU Online ( nu.or.id )

==================================

Berita 2: Menurut Pakar Gempa ITS, Pergeseran Arah Kiblat Sangat Mungkin

Senin, 21 Desember 2009, 19:18 WIB
SURABAYA — Pakar gempa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Dr Amien Widodo, mengatakan akibat gempa yang datang bertubi-tubi kemungkinan besar terjadi pergeseran arah kiblat di sejumlah masjid di Indonesia. Alasanya, gempa yang terjadi telah terjadi pergeseran tanah di Indonesia sekitar tujuh cm per tahun.

”Sangat mungkin terjadi pergeseran arah kiblat, karena akibat gempa ini ada pergeseran tanah di Indonesia sekitar tujuh cm pertahun,” ungkap Amien Widodo saat seminar ancaman gempa di Surabaya dan sekitarnya di ruang rektorat ITS Senin (21/12).

Dijelaskan Amien, secara tektonik posisi ka’bah tidak berubah tetapi akibat gempa yang terjadi di belahan bumi ini masjid yang mengelilinginya bisa bergerak dan berubah posisi. Artinya pusat kiblat berada di ka’bah yang tidak terpengaruh oleh gempa seperti yang terjadi di Indonesia. ”Kalau ka’bahnya tidak terjadi pergeseran tetapi masjid di sekelilingnya yang berputar,” jelasnya.

Dia berharap agar daerah yang rawan gempa atau yang pernah dilanda bencana gempa untuk mengecek kembali posisi arah kiblat menggunakan kompas. Agar tidak terjadi keragu-raguan dalam menjalankan ibadah sholat. ”Bisa dilihat dengan kompas, kalau memang terjadi perubahan bisa dengan hanya menggeser shofnya kan,” tuturnya. [………]

Abdushomat berharap para pakar gempa segera melakukan riset terkait dengan pergeseran arah kiblat pasca gempa yang melanda di sejumlah wilayah di Indonesia. Sebab MUI sebagai lembaga penegak syariat Islam tidak ingin hal ini akan menjadi polemik yang tidak menguntungkan umat Islam. ”Kami sangat berharap adanya kesepakatan itu agar isue ini tidak menggelinding dan merugikan umat Islam. Dan kami siap melakukan pembicaraan jika memang dibutuhkan,” pintanya. uki/kpo

Sumber: Republika

==================================

Berita 3: MUI Temanggung Himbau Masyarakat Sesuaikan Arah Kiblat

Selasa 19 Januari 2010.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Temanggung mengimbau kepada umat Islam di daerahnya untuk menyesuaikan arah kiblat yang benar, menyusul penelitian Kantor Depag setempat yang diperkirakan banyak masjid di wilayah ini melenceng dari arah kiblat. [……]

Berdasarkan penelitian Kantor Depag Temanggung, sekitar 70 persen masjid di daerah tersebut tidak menghadap kiblat. Kebanyakan lurus ke barat atau melenceng tiga hingga 40 derajat ke arah selatan posisi Kabah. [……]

Sebelumnya, Kasi Urusan Agama Islam Kantor Depag Temanggung, Yusuf Purwanto mengatakan, sekitar 70 persen masjid di Kabupaten Temanggung tidak mengarah ke kiblat. [……]

Menurut dia, dalam menentukan arah kiblat, selisih satu derajat saja dari Indonesia, jika ditarik garis lurus ke Mekah, bergeser 110 derajat. Padahal ada yang melenceng sampai 40 derajat, artinya masdjid tersebut mengarah ke Afrika Tengah atau Afrika Selatan.

sumber: Republika

==================================

Berita 4: MUI Akan Membahas Arah Kiblat Februari Mendatang

Sabtu,23 Januari 2010 – 02:19

Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub (Wakli Ketua Komsii Fatwa MUI):
“Dan di Indonesia, karena kita berada di sebelah timur Ka’bah, maka kiblat kita adalah menghadap ke barat, bukan menghadap ke Ka’bah. Maka kita sholat asal menghadap ke barat, sah solatnya.”

Abdul Kadir Karding (Ketua Komisi VIII DPR-RI) menegaskan bahwa munculnya perubahan arah kiblat bukan karena pergeseran lempeng bumi, namun karena adanya perhitungan ulang dengan alat bernama theodolit dan satelit GPS yang lebih modern dan canggih, oleh beberapa intelektual muslim. Selama ini masyarakat muslim Indonesia berpatokan dalam menentukan kiblat dengan cara konvensional, sehingga perhitungan tersebut menjadi tidak begitu akurat. Lanjut Abdul Kadir, “Mestinya tidak berubah kiblatnya, jadi dia memang sejak awal keliru atau kurang tepat di dalam membangun mesjid itu atau musholla atau langgar. Karena dulu sebagian besar masyarakat kita membangun mesjid, membangun langgar dan musholla itu kan pokoknya madep barat.”
Menurut Abdul Kadir perubahan akibat perhitungan ini perhitungan ini tidak hanya satu sampai delapan derajat, bahkan ada pula yang berubah sampai 24 derajat. Dari data yang dirilis oleh Bimas Islam, dari 193.000 mesjid di seluruh Indonesia, baru 18 mesjid yang sudah diperbaiki arah kiblatnya.

Sumber: Okezone Video

==================================

Pembahasan ke 1:

Menurut pakar gempa ITS, akibat gempa ini ada pergeseran tanah di Indonesia sekitar tujuh cm per tahun. Sekarang kita ambil kondisi yang paling ekstrim, yaitu pergeseran 100 centimeter per bulan dengan arah tegak lurus terhadap arah kiblat. Ambil jangka waktu 100 tahun, sehingga total pergeseran tanah adalah 100 x 12 x 100 = 120.000 cm = 1200 meter. Jadi kita asumsikan dalam 100 tahun terakhir ini ada pergeseran tanah tegak lurus arah kiblat sejauh 1200 meter = 1.2 kilometer.

Sekarang kita hitung berapa jarak dari Indonesia, atau Jakarta, ke Mekkah. Kita gunakan fasilitas Google Map Distance Calculator. Tentukan titik awal di Jakarta, kemudian tentukan titik akhir di Mekkah, maka ditemukan jarak sejauh 8000 kilometer (dibulatkan). Anggaplah ada kesalahan 10% yang muncul karena aplikasi, karena lengkungan bumi, dan kesalahan pengukuran saya karena tidak tepat meng-kliknya. Jadi jarak Jakarta – Mekkah menjadi 8000 – 800 = 7200 kilometer.

Sekarang kita anggap Jakarta sebagai pusat lingkaran, dan Mekkah sebagai satu titik pada busur lingkaran. Berapa derajatkah pergerakan linier sejauh 1.2 kilometer dengan arah tegak lurus terhadap pusat lingkaran? Rumus sudut adalah 360 x displacement dibagi keliling = 360 x 1.2 / (2 x phi x 7200) = 0.00955414 derajat = 0.01 derajat (rounded). Surprise!

Jadi yang diributkan adalah hanya satu derajat dibagi dengan seratus. O mai gat! Pakar Indonesiaku…. Mosok kalah sama mantan ABG kek saya ini… hiks:

Lalu, statement Kasi Urusan Agama Islam Kantor Depag Temanggung yang mengatakan ini, “selisih satu derajat saja dari Indonesia, jika ditarik garis lurus ke Mekah, bergeser 110 derajat” dasarnya pakai rumus matematika dari mana? Lebih baik diam pada sesuatu yang bukan bidangnya. Diam adalah emas.

==================================

Pembahasan ke 2:

Abdul Kadir Karding menceritakan tentang perhitungan ulang dengan alat bernama theodolit dan satelit GPS yang lebih modern dan canggih. Sip ini. Theodolit itu ditemukan pada tahun 1864. Metode survey dengan triangulasi itu sudah ada sejak tahun 1853 walaupun masih dengan alat yang primitif. Menara Eiffel yang dibangun pada tahun 1930 itu jelas menggunakan theodolit untuk akurasi pemasangan space-frame nya.

Salah satu syarat mutlak pengukuran dengan theodolit adalah obyek yang akan diukur harus bisa dilihat melalui magnifier lens yang ada dalam alat tersebut. Apakah kiblat (ka’bah) bisa dilihat dari Indonesia? Jelas tidak. Lalu theodolit yang digunakan oleh intelektual muslim itu untuk apa? Barangkali itu jenis theodolit terbaru yang bisa dipancarkan ke satelit dan kemudian direfraksikan kembali ke bumi. Entahlah.

==================================

Pembahasan ke 3:

Apakah kalau arah kiblatnya tidak benar berarti sholatnya tidak sah? Biarlah itu dijawab olah para pakar agama. Saya tidak kompeten untuk menjawab itu. Yang jelas walaupun arahnya benarpun belum tentu sholatnya sah. Lebih baik diam pada sesuatu yang bukan bidangnya. Diam adalah emas.

Update: Cek arah kiblat bisa dilakukan dengan masuk ke site ini: http://www.qiblalocator.com

Dikemas oleh: Lambang (LambangMH.wordpress.com)

About Lambang MH

Pengamat kehidupan, pengamat kemanusiaan, pengamat spiritual, pengamat teknologi dan pengamat segala macam yang bisa diamati.
This entry was posted in Informasi, Islam, Renungan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

56 Responses to Koreksi Arah Kiblat

  1. m4stono says:

    dulu ketika pendirian mesjid agung demak para wali juga berselisih pendapat dgn arah kiblat, ada yg menggunakan metode melubangi salah satu sakanya CMIIW ala metode sunan bolong, dari lubang itu kelihatan ka’bahnya, ada juga yg berselisih “tidak usah terlalu pas ke arah ka’bah sebagai simbol umat islam dijawa tidak tunduk sepenuhnya dgn ulama2 mekkah”, lalu oleh sunan kalijaga diambil jalan tengahnya, yaitu dengan membenturkan puncak masjid dengan ka’bah, dan kesimpulannya walaupun tidak akurat menghadap ka’bah karena disengaja tapi esensi ibadah tetap ke “rumah” Allah…ya ini memang berbau mitologi yg agak ngayawara tapi intinya ya asalkan niatnya tidak bermaksud “mungkuri” ka’bah dan tetap menghadap barat ya ndak apa2……

    kalau saya dirumah ya pokoke madep kulon rodo digeser tengen sithik:mrgreen: wis embuh, mosok goro2 nggeser sak drajat gusti Allah ora trima, apa ya gusti Allah ki ndeso banget…..hihihihihi

  2. Lambang says:

    Kadang saya mikir juga dengan teori yang aneh-aneh gitu. Kalau ngga diikutin takut kuwalat (asumsinya kuwalat itu memang ada). Kalau diikutin koq ya nyleneh, tapi yang percaya ya jutaan orang tuh. Wis embuh lah…:mrgreen:

  3. tomy says:

    Nuwun sewu kula sing tiyang urakan mboten kalebet agama pundit mawon badhe munjuk atur dawuhipun simbah.
    Simbah dawuh menawi sembah-Hyang saenipun sujud kiblat sekawan murih mboten klentu anggenipun sujud malah dados mledingi silit marang Pepundhen. Kalih sujud marang panceripun pribadi inggih Gesang kita piyambak. Gusti anata maligi wonten diri kita pribadi.

    • Lambang says:

      Sami-sami mas. Sampun nganthos mledingin silit dhateng pepunden.🙂

      • tjak doel says:

        Maaf, maaf, ini cuma pikiran orang bodo. kalau kita menghitung pergeseran posisi koordinat tempat, kenapa kita tidak memperhitungkan lengkungan bumi juga?

      • Lambang MH says:

        Begini cara menghitung yang gampang cak.

        Bola dunia kita letakkan di meja, dan kota Jakarta diletakkan pada titik pertemuan antara bola dunia dan meja. Lalu kota Mekkah kita proyeksikan dari bola dunia tegak lurus meja arah ke bawah. Ketemu titik proyeksi kota Mekah di meja. Nah sudut antara garis Jakarta – proyeksi Mekkah dan garis proyeksi kutub Utara – Selatan itulah arah kiblat.

        Kalau mau lebih akurat ya harus pakai perhitungan matematis berdasarkan foto satelit terakhir.

        Salam.

  4. tomy says:

    Wah komen kula dianggep spam, njih nyuwun pangapunten sanget Mas Askimet

  5. qarrobin says:

    Kalo saya shalat di masjid dekat rumah, memang kiblat agak ke kiri dari arah jalan, tapi kalo dirumah saya ngadep lurus aja. Beda dikit ke kanan ga papa kale, asal niatnya seperti yang kanktono sebutkan diatas

    maaf mas lambang, lama ga mampir kesini
    salam takzim, ternyata mas lambang lebih tua dari saya

    • m4stono says:

      baru tahu ya….wakakakakaka…kalo sama mas qarrobin mungkin selisih 12 tahunan, kalo sama saya mas lambang lebih tua 20 tahunan….gitu kira2… kalo percaya :mrgreen:

    • Lambang says:

      Menurut saya juga sama. Yang penting niatnya saja. Soal arah itu kan untuk keseragaman saja.

      Salam kembali mas. Kalau saya ngga cantumkan tahun lahir di profil fesbuk mungkin masih dianggap ABG yang baru lulus SMA yah. Hihi… nyesel juga tak bocorin di profil.:mrgreen:

      Kalau KangTono itu masih SMP, wong kemana-mana masih pakai celana pendek.🙂

      • m4stono says:

        lho kok tahu kalo sy suka pake celana pendek…..jangan2 mas lambang ini paranormal terkenal…reg spasi…..hiiiii atuuuut ntar disantet lagi :mrgreen:

  6. wow.. tulisannya komplit banget euy, jadi bisa banyak belajar nih.. thanks.. ^^

  7. sikapsamin says:

    Seandainya saja…al ‘illah tetap al ‘illah = yang melingkupi/meresapi seluruh isi alam-semesta… dan tidak diinnovasikan menjadi Allah…maka koreksi arah kiblat tidak perlu ada…

    “kemanapun engkau menghadap…engkau akan berhadapan/menemukan wajah tuhan”

    bahkan disetiap butir atom ada al ‘illah…
    itulah…mengapa elektron mengelilingi proton
    jadi…setiap butir atom adalah rumah al ‘illah

    maaf saya kurang mengerti dg ‘arah kiblat’ tsb

    salam…al ‘illah

    ======================
    :: Wah, kalau di dalam atom ada al ‘illah, ya sesuai dengan persepsi dan imajinasi masing-masing saja.🙂
    ======================

  8. sang_pertapa says:

    mungkin kebanyakan orang2 itu masih menganggap bahwa tuhan itu sosok raja yang punya kerajaan surga, otoriter, harus ditakuti, tidak kenal kompromi dll, sehingga mereka takut andaikan sholat sampai gak pas menghadapnya bisa2 akan mendapat rapor merah dan tidak direkomendasikan masuk ke surga sehingga mereka tidak dapat merasakan pesta khamar dan pesta sex dgn 72 bidadari he…he..he..

  9. sikapsamin says:

    Akur banget…Sang Pertama
    saking jahiliyahnya, diakhiratpun masih membayangkan bidadari…emang masih Mau?!?

  10. sikapsamin says:

    Maaf…ralat, seharusnya Sang Pertapa

  11. Lambang says:

    @Sang Pertapa:
    Kelihatannya memang ada sebagian yang menganggap seperti itu. Sampai ada kasus pembakaran gereja di Malaysia dan dan demo bawa pentungan sambil teriak-teriak menyebut nama Tuhan. Tuhannya rada budeg kali.:mrgreen:

    @Mas Samin:
    Lha yang mbayangin bahwa di surga itu pasti dapat bidadari jelas dari dunia pikirannya udah ngeres melulu. Biasanya terpancar dari mukanya, sedikit mesum gitu.🙂

  12. m4stono says:

    “selisih satu derajat saja dari Indonesia, jika ditarik garis lurus ke Mekah, bergeser 110 derajat”

    mungkin yg dimaksud adalah bergeser 110 km dari mekkah :mrgreen: konon katanya kalo di jawa itu candi2 kiblatnya di gunung lawu

  13. Lambang says:

    Kelihatannya memang yang dimaksud adalah kilometer Kang. Hasil hitungan saya 0.01 derajat itu 1.2 km. Berarti kalau 1 derajat sama dengan 120 km. Beda tipislah. Tapi kalau pembahasan arah kiblat kemudian menjadi agenda besar (proyek besar) untuk pengukuran ulang seluruh masjid kan jadi aneh. Cukup diterbitkan saja tabel yang berisi daftar nama kota dan arah kiblatnya sekian derajat dari Utara magnit bumi. Biar masing-masing menyesuaikan sendiri dan ngga perlu disertifikasi. Toh persentase sholat di masjid itu sangat kecil dibanding sholat di kantor atau rumah. Kecuali bagi penunggu masjid.

    Kalau candi di Jawa itu saya belum tahu kenapa harus mengarah ke Gunung Lawu. Jangan-jangan ada enerji besar di sana.🙂

  14. m4stono says:

    kalo candi2 dijawa itu memang kiblatnya di gunung lawu….katanya lho wong saya blom pernah surpey….kan konon katanya dulu ceritanya adalah kerajaan pertama di pulau jawa itu di gunung lawu, tepatnya adalah dewa wisnu yg turun dari kahyangan langsung mendirikan kerajaannya di pulau jawa….jangan2 dewa wisnu ini adalah makhluk luar angkasa yah, kalo manut potonya kang sitijenang itu berkulit biru atau ber ras biru…..hmmmmm :mrgreen:

  15. adi isa says:

    yang penting esensinya, iya nggak mas?

  16. olanuxer says:

    yang penting sholat mengahadap ke barat. dan jangan gak sholat

  17. koreksi arah kiblat penting. tetapi koreksi terhadap sholat kita jauh lebih penting.

  18. Lambang says:

    Mas Adi: Bener mas.

    @Olanuxer: Kurang tepat. Yang penting ngadep kiblat.

    Mas Bani M: koreksi terhadap perilaku lebih penting lagi mas.🙂

  19. Artikel yang bagus nih…………
    la wong ka’bah aja pernah banjir, hancur “dibom” oleh perang masa Umawi melawan pasukan Abdullah bin Zuber koq???? Jadi seandainya hancur pun tokh tidak merusak apa2, wong cuma bangunan kubus.
    Bukankah qibla dalam bahasa arab berarti sathr , yaitu arah????
    Menarik juga kalo Nu ribut dengan arah kiblat (kami biasa ribut masalah kentungan atau bedug dalam memanggil adzan!). Setahu saya, sebagai insider NU yah……NU lebih ribet dengan membaca tradisi daripada teks Qur’an atau hadits (dalam batas tertentu maka saya bis “paham” fatwa haram rebounding dan ojek..he..he..he!!), sebaliknya yg teks minded justru sering ribet dengan hal2 begitu. Contoh: Nu tidak pernah ribet sebeleumnya dengan arah kiblat, tapi Muhammadiyah yg menggeser arah kiblat sejak masa Kh Ahmad Dahlan!)….
    Ini hal kedua yg kebalik setelah fatwa ru’ya atau hisab..wkwkwkwwkwkw…..
    Nah di Suriname, orang2 Jawa malah lebih sreg sholat mengahdap ke barat…sampe kedatangan kaum puritan dari Jawa!
    la apa Amerika memang barat atau timur nya Arab ya??
    la bukankah Qur’an menyebut bahwa ketakwaan bukanlah menghadap ke barat atau ke timur…. hayo??

  20. Lambang says:

    Padahal kalau dikaji secara logika, menghadap ke timur bisa juga ya, walaupun lebih jauh tapi sampai juga ke ka’bah. Untuk Indonesia mungkin harus dipilih jarak yang terdekat. Bagaimana dengan lokasi yang persis berada di tengah antara barat dan timur ka’bah?
    Terlalu mendalami teks terkadang memang menyesatkan juga.😀

  21. sikapsamin says:

    Lha…saya baru ingat pernah baca artikel disatu majalah-(lupa sih, wong sekitar th.1990an)-, bahwa dijalan protokol dikota Lima/Peru(kalau nggak salah), berdiri dua bangunan mesjid bersebrangan sisi jalan, namun saat pelaksanaan shalat, dimesjid yang satu menghadap kebarat sementara dimesjid seberang jalan menghadap ketimur.
    Artikel ini benar ada dan pernah saya baca dlm majalah terkemuka Indonesia.
    Dlm artikel tsb dijelaskan mengapa faktanya demikian, namun kali ini saya buat tebak2an diantara rekan2 blogger…

    Salam…NEBAK

    • m4stono says:

      kalo itu sih gampang ditebak….tapi kalo manut praduga tak bersalah lho ya:mrgreen:

      mesjid yg kiblatnya ke barat itu pas dibalik kabah agak kebarat dikit kira2 1 meter, sedangkan yg madep timur itu ya pas dibalik kabah agak ketimur dikit kira2 1,001 meter….lho peru aja punya pemetaan yg sangat akurat hingga ke milimeter mosok indonesia kalah:mrgreen:

      intinya penyeragaman arah kiblat itu perlu supaya yg sholat itu tidak pating slebar di mesjid, ada yg madep barat, ada yg timur, ada yg madep atas, ada yg madep bawah dsb, lha repotnya kalo yg madep barat sama timur itu adhep2an ya sirahe bisa jedhukan….hihihihihi

    • Lambang says:

      Sebetulnya penyeragaman tanpa perlu harus menghadap ke kiblat juga bisa. Seperti di gereja atau nonton konser aja, semua menghadap sang tokoh di depan.
      Tapi yah aturannya begitu, udah paten dan ngga bisa di-nego…:mrgreen:

  22. sikapsamin says:

    Analisa praduganya memang tak bersalah, hanya ruwetnya agak berlebihan.
    Ok, jelasnya orang yg shalat dikedua mesjid yg berseberangan tsb saling membelakangi…

    Sayang…anda blm beruntung. Try think again…

    • m4stono says:

      halah itu to, jelasnya ya kiblatnya sudah beda kali, satunya ka’bah satunya lagi mungkin gunung lawu….hihihihihi

    • Lambang says:

      Ooo.. mungkin satu lagi manasik haji, menghadap ke kubus buatan, satu lagi sholat beneran. Keknya bener nih jawabannya…😀

  23. sikapsamin says:

    Lha…analisa yg ini jelas ngawur, yg pertama tadi malah hampir mendekati
    Kali ini saya tidak plesetan lho…
    Dalam artikel tsb penjelasannya sangat logis, jelas, ilmiah, faktual, terukur hanya dalam Satu Kalimat Pendek

  24. sikapsamin says:

    Wooo…malah kiblate ganti macbook…hihihi
    pokok’e jawaban’e tak buka suk Setu…nek durung ana sing bisa njawab… Artinya saya sampaikan sesuai penjelasan dlm artikel tsb.

    Salam…MIKIR

  25. Lambang says:

    Saya tahu jawabannya mas Samin.

    Kan jawaban KangTono dianggap sudah mendekati. Kalau jawaban saya, satu menghadap ke timur agak ke utara, satu lagi menghadap ke barat agak selatan. Kenapa bisa begitu? Karena agama Islam dibawa masuk oleh orang-orang Iran, Arab dan Pakistan yang sudah terbiasa sholat menghadap barat agak selatan. Sebagai catatan, Mekkah adalah di sisi barat Arab Saudi, jadi sebagian besar orang arab juga menghadap ke barat. Sedangkan Islam lain yang bukan dari Iran dan Pakistan tidak mau seperti itu. Mereka mengambil arah terdekat yaitu timur agak ke utara.

    Wis, pasti betul…. mana macbook-nya… hehe…

  26. Deva says:

    Wah rumah tuhan kok dari batu ya dan kecil lagi apa bedanya menghadap ke patung sama aja nyembah berhala kalau aku sih kiblatnya kemana aja lha wong menghadap kemana saja itu adalah wajahNya.
    lebih baik kekiblat sang Aku didalam aku

    • batjoe says:

      aku siapa dan didalam aku siaapa lagi????

      wah mulai rame kiblatnya pada muter-muter….

    • ahmed shahi kusuma says:

      @Deva
      salam kenal.Trima kasih telah kesasar ke blog teman baru saya yg cute ini….
      Ijinkan saya untuk menanggapi sampeyan
      Saya rasakan tidak ada agama di dunia ini yang memiliki konsep berhala seperti itu….
      Dalam buku Agama2 di Dunia, cetakan Obor karya Huston Smith disebutkan, orang2 non Hindu sering keliru menghayati penggunaan patung dewa2 sebagai penyembahan berhala, padahal bukan!
      Bagi orang Hindu , itu adalah proses pencitraan!
      Demikan juga Budha dengan patung Bunda Marianya yang diarak ramai pun itu bukan penyembahan berhala, atau juga kaum BUdha dengan patung Budha, maupun tembok ratapan yang mesra dicium Yahudi Israel.
      Nah semangat kaum muslim malah bangunan kubus itu sudah pernah hancur, atau apapun ya gak masalah, jadi kalo bangunan itu gak ada yang arahnya aja koq, sante aja!
      Saya setuju dengan anda dasar rasaning ati ada di hati…
      Itu yang dibabarkan oleh :
      Sadhu Hindu dengan ucapan, AHAM BRAHMAN ASMI (Aku dan Tuhan adalah satu)
      Yesus, sang guru Budhis itu , dengan ucapan,” Aku dan bapa adalah satu”
      Al Hallaj,” Aku adalah Al haq (tuhan)”
      Semuanya itu adalah para mistikus seperti anda juga yang merasakan Tuhan di dada!
      Salam kenal!

    • Lambang says:

      Mas Ahmed, kemana aja koq jarang ke sini. Saya jadi ngga ada sparring partner nih dengan sesama open-minded people.

      @Deva itu menganggap patung dan batu itu berhala. Artinya Maha Diam dan tidak bisa menolong siapapun yang menyembahnya.

      Padahal kalau kita pakai logika (jangan pakai iman dulu yah), Tuhan yang sering kita jadikan tempat curhat itu tidak bisa dibuktikan bisa menolong seketika. Tidak bisa dibuktikan bahwa doa itu bisa menimbulkan efek seketika. Berbagai excuse selalu dibuat jika efek tersebut tidak muncul.

      Jadi intinya ya hanya perubahan dari penyembahan angan-angan berbentuk batu atau berhala, menjadi penyembahan angan-angan berbentuk imajinasi dan persepsi. Makanya kemudian muncul idiom semacam “menyembah Aku di dalam aku”, atau “Anna al Haaq”.

      Sah-sah saja dari sisi keimanan. Wong Tuhan itu hanya diperlukan kalau kita sedang butuh curhat. Kita menyembah dan melakukan ritual apapun itu hanya perwujudan ketakutan (arti lain dari penghambaan) bahwa curhatnya lain kali tidak akan diterima karena adanya berbagai sanksi dalam kitab jika tidak patuh kepada Tuhan.

    • Iya ….
      Saya juga gag nyembah Ka’bah, saya hanya mematuhi perintah-Nya untuk menghadapkan diri menuju Masjidil Haram, seperti yang udah Dia diperintah didalam kitab suci yang diberi-Nya.
      Salam kenal bro!

  27. Faisal, M.Ag. says:

    Sebenarnya saat ini tidak sulit untuk menentukan arah kiblat. Kita punya buku/alat yang hanya sekitar 2 menit bisa tentukan arah kiblat dari seluruh wilayah Indonesia. Ada daftar azimuth kiblat setiap kota/kabupaten. Bisa hubungi kami, Faisal, M.Ag. 085263860880.

    ======================
    :: Wah, bagus ituh. Kalau hanya dua menit, tentu biayanya ngga terlalu mahal ya… apalagi kalau dihitung pakai billing rate Bappenas… hehe…🙂
    ======================

  28. Filar Biru says:

    wah ini tulisan bagus mas lambang
    aduh maaf ya mas kalo baru sekarang berkunjung lagi
    bagaimana keadaannya?

    salam

    ======================
    :: Hai mas Blue… apa kabar… udah lama nih saya ngga blogwalking kemana-mana… maklumlah kakinya lagi sakit… cantengan…
    Nanti saya usahakan untuk mampir lagi ke blog mas Blue.

    Salam.
    ======================

  29. alta says:

    salut dengan tulisan ini, paling tidak pembahasan yang mulai ramai di kalangan muslim, dapat diantisipasi dengan multi disiplin (ilmu), kalopun urusan arah kiblat menjadi masalah yang besar menurut orang2 yang ngurusi agama *depag, saya pikir wajar saja, mengingat mereka yang merasa dan selama ini dianggap bertanggunjawab urusan ibadah muslim indonesia, walaupun saya pikir urusan ibadah itu tetap hak setiap individu dengan segala kemampuannya masing-masing.
    kembali urusan kiblat, yang saya pahami, alasan utama kenapa solat menghadap kiblat (dan ini mungkin yang membedakan dengan agama lain) adalah salah satunya untuk penyimbolan kebersatuan umat islam di seluruh dunia (karenanya semua muslim adalah saudara), dan bukan urusan solat menghadap batu yang dibuat oleh nabi Ibrahim, kalau kita lirik ke sejarah, dulu solat tidak menghadap ka’bah, tapi masjid aqsa. Ketika nabi Muhammad (sollallohu alaihi wasallam) sedang solat di sebuah masjid lalu beliau mendapat perintah untuk merubah arah solatnya dari menghadap masjid aqsa ke menghadap ka’bah, setengah dari solat beliau lalu diarahkan ke ka’bah (wallahu a’lam, begitu cerita yang saya dapat) sehingga akhirnya masjid tersebut disebut sebagai masjid kiblatain (sayang saya lupa, masjid mana yang dimaksud). Kemudian Allah juga memberi kemudahan bagi umatnya dalam banyak urusan ibadah termasuk solat, apalagi urusan kiblat, umat islam dipersilahkan untuk solat menghadap arah yang dianggapnya “paling mendekati” kiblat pada saat dia tidak tahu arah kiblat (ketika sedang di daerah asing)begitu juga ketika sedang solat di kendaraan besar seperti kapal pesiar dsb, karena yang terpenting adalah solatnya. satu hal lagi, kalau kita lihat di qur’an, (secara explisit) tuhan sudah menjelaskan bahwa pada akhirnya masjid yang ada di luar pulau mekkah memang harus mereset arah kiblatnya, sebagaimana dijelaskan oleh al-qur’an bahwa pulau2 bergerak seperti awan, dan memang kita lihat apa yang terjadi (evidence)

    Kesimpulan saya sendiri;
    pertama; arah kiblat memang harus dikoreksi lagi, tapi tidak harus menjadikan itu sebagai sebuah proyek besar depag untuk mensertifikasi semua mesjid dan musolla di indonesia, (setuju dengan satu usul di atas, cukup sediakan tabel keterangan kota mana menghadap ke arah mana) apalagi kalau proyeknya ngabisin duit puluhan milyar, (mending duitnya buat saya aja untuk biaya kuliah)
    kedua; yang terpenting adalah laksanakan solat semampunya, (artinya semaksimal yang dia mampu [kondisinya] dan dia tahu [aturannya]), tidak kemudian karena alasan ragu dengan arah kiblat lantas moh solat, hee
    Wallahu a’lam.. semoga tidak salah, kalau salah bisa kena semprit mas Lambang, diam adalah emas
    salam kenal mas…
    wassalam…

  30. Lambang says:

    Salam kenal kembali mas Alta.

    Saya setuju bahwa hal semacam ini memang masuk dalam lingkup pekerjaan Depag. Harusnya Depag cukup menerbitkan buku petunjuk arah kiblat beserta tabel arah untuk setiap kecamatan di Indonesia. Mau diikuti silahkan, mau tidak juga bebas. Ngga perlu ada sertifikasi. Apalagi kalau asumsinya tiap 5 tahun arah kiblat berubah, jelas sertifikasi ini akan menjadi proyek rutin lima-tahunan yang menghabiskan dana besar.

    Sebetulnya saya pingin banget Depag itu menyelesaikan PR-nya yang sejak jaman baheula tidak pernah tersentuh, “membuat Hadist resmi versi Pemerintah Indonesia”. Kira-kira apakah mereka mampu melakukan itu? Mosok negara dengan jumlah umat Islam terbesar tidak punya hadist resmi versi pemerintah atau Majelis Agama? Mosok kita harus mengacu pada hadist terbitan swasta yang isinya sebagian simpang siur acakadul. Lha Qur’an versi pemerintah dengan versi swasta aja bisa beda tafsirnya, apalagi hadist yang tebalnya bisa 10 kali buku telepon itu. Harus ada terbitan resmi pemerintah agar acakadulnya itu bisa dikurangi dan bisa dijadikan referensi para penceramah yang kadang juga seenak udelnya mencomot sembarang potongan hadist untuk mendukung argumennya.

  31. gus henandri says:

    iling lan waspada
    gusti allah kawruh dening
    apa wae ning donya lan akherat
    iku mau cuman sak titik
    kawruhe gusti allah luweh ombo dening kawruhe
    jalma manungsa

    lahaula wala quwata illah billah bill aliyil adhim.

  32. Jardiyanto says:

    Alhamd… dari kecil dulu pas ngaji udah di kasih tahu bahwa arah kiblatnya arah barat geser kekanan. Subhanallah… Allah maha mendengar segala doa, jadi jangan takut tantang ibadah kita yang telah lalu. Allah maha melihat dan mendengar.

  33. Pawiro Midin says:

    Terlihat sekali bukan, bagaimana kemampuan cara berpikir kita, hal -hal remeh temeh gitu aja di ributkan yang pentingkan essensi dari kiblat itu sendiri. begitulah kalau keagaaman terjebak pada hal-hal luaran.

    ingat kisah menjelang sholat I’d, para ulama kita masih repot memperdebatkan hilal dengan mengukur derajat dan posisi bulan, sementara peradapan lain yang kita anggap kapir, sudah mulai menginjakkan kaki di bulan, kabarnya konon mulai menanami singkong di bulan. memang payah agama kita yang satu ini …….

  34. SIP!
    Tetap share pengetahuan, bang admin. Biar orang bilang apapun, atau bahkan ada yang sok pinter, dan bang admin gag bisa njawab…
    Yah… setidaknya kita udah ngasih tau.

    Tetep share ilmu bang!!!
    Innallaaha ma’akum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s